Setelah 7 Tahun Lamanya! Menyambut Kembalinya AC Milan Di Panggung Eropa

  • Whatsapp
Setelah 7 Tahun Lamanya Menyambut Kembalinya AC Milan Di Panggung Eropa

Perasaan riang gembira menyelimuti hati para penggawa AC Milan, usai mereka berhasil mengalahkan Atalanta di laga pamungkas kompetisi Serie A. Berkat kemenangan 2-0 atas tim asal Bergamo tersebut, Milan berhasil finish di posisi runner up pada musim ini, dengan raihan 79 poin. Selain menjadi posisi terbaik mereka dalam nyaris 10 tahun lamanya, Milan juga berhak atas satu tiket Liga Champions Eropa.

Selain finish sebagai runner up dan lolos ke kompetisi Eropa, Milan juga punya catatan prestise lainnya. Pada musim ini, Milan menjadi tim yang tampil apik kala bertandang ke markas lawan. Mereka mampu memenangi 16 laga tandangnya termasuk melawan Atalanta. Selain itu, klub yang bermarkas di San Siro juga resmi menutup musim 2020/21 dengan rekor tanpa kebobolan alias clean sheet di lima laga terakhirnya. Mereka berhasil meraih kemenangan 2-0 melawan Benevento, 3-0 melawan Juventus, 7-0 melawan Torino, 0-0 melawan Cagliari, dan 2-0 melawan Atalanta.

Bacaan Lainnya

Yang tak boleh dilupakan, AC Milan membawa serta nama Italia bersama dengan Juventus dan Inter Milan. Tiga tim yang disebut-sebut sebagai yang terbaik di Italia itu akhirnya bisa kembali tampil bersama di kompetisi Liga Champions, setelah terakhir kali terjadi pada musim 2009/10.

Kembalinya Milan ke ajang prestise tersebut tentu membuat semua menoleh. Sang raja Italia dengan torehan tujuh Liga Champions Eropa sudah tujuh tahun lamanya absen dari kompetisi tersebut. Maka wajar bila pada akhirnya para suporter merayakannya secara luar biasa di markas AC Milan. Mereka berdiri sambil bernyanyi sekaligus membentuk tulisan “Milan is Back”.

Mereka berkumpul dengan memperlihatkan gesture luar biasa sebagai tanda terima kasih kepada manajemen karena telah mengembalikan Milan ke tempat yang seharusnya. Acara kumpul bersama ini juga dihadiri oleh legenda sekaligus direktur klub, Paolo Maldini.

“Kami lolos setelah bertahun-tahun, itu prestasi penting. Namun ini cuma titik awal,”

“Ini seharusnya bukan menjadi garis finish, tapi titik awal untuk membangun. Kami senang, tapi Milan harus jadi tim yang stabil di Liga Champions, jadi kami bisa bersaing secara ekonomi dengan klub lain.”

“Itu akan butuh waktu dan banyak hal, tapi ini adalah langkah pertama yang sangat penting,” ujar Maldini kepada Milan TV.

Meski para pemain, staf, dan seluruh penggemar merasa sangat bahagia, mereka juga tidak boleh hanyut dalam euforia begitu saja. Pasalnya, AC Milan yang langsung lolos ke fase grup berada di pot 4, dimana posisi tersebut berpotensi membuat mereka bertemu dengan klub-klub kuat yang berada di pot 1, 2, dan 3. Ditempatkannya Milan di pot 4 memang terasa sangat wajar, mengingat mereka sudah lama tidak tampil di kompetisi Eropa dan belum mampu berbuat banyak ketika tampil di ajang kelas dua.

Terakhir Kali Tampil di UCL Tujuh Tahun Lalu

Ya, seperti yang sudah disinggung, El Diavolo terakhir kali tampil di kompetisi tertinggi Eropa pada tujuh tahun silam, atau pada musim 2013/14. Ketika itu, kiprah mereka bahkan terbilang sangat memprihatinkan. Di musim terakhir Milan tampil di Liga Champions, mereka harus berjuang lebih dulu dengan melewati babak play off karena hanya finis di peringkat 3 Liga Italia 2012/13.

Meski berhasil menyingkirkan PSV di babak play off dan masuk ke fase grup, mereka kemudian bergabung bersama Barcelona, Ajax Amsterdam, dan Celtic di grup H, yang kita tahu memiliki kiprah terbaik di liganya masing-masing. Milan melewati perjalanan yang sangat sulit dan nyaris tidak lolos dari jeratan para lawan.

Mereka gagal mengalahkan Ajax dan FC Barcelona dalam dua laga. Beruntung, dalam dua laga melawan Celtic, Milan mampu berbicara banyak. Raihan enam poin yang ditambah dengan 3 poin hasil dari 3 laga imbang lantas membuat Milan mengoleksi 9 poin dan duduk di posisi runner up.

Milan lolos ke fase knock-out sebagai peringkat 2 Grup H di bawah Barcelona dan bertemu dengan Atletico Madrid yang masih berada di puncak performa di babak 16 besar. Seperti diketahui, Atletico di musim tersebut berhasil keluar sebagai juara La Liga.

Dalam dua laga, Milan tak sekalipun mampu meraih kemenangan. Di leg pertama, mereka harus menelan kekalahan satu nol lewat gol Diego Costa. Lalu di pertemuan kedua, Vicente Calderon menjadi neraka bagi Milan, setelah mereka kalah telak dengan skor 4-1. Satu-satunya gol yang dilesatkan Milan ke gawang Atletico pada saat itu diciptakan oleh Ricardo Kaka.

Sejak kalah agregat 1-5 dari Atletico, Milan belum mampu lagi tampil di kompetisi tersebut, sebelum akhirnya pada musim ini, harapan itu datang kembali.

Persiapan Panjang

Dalam prosesnya kembali ke kompetisi Liga Champions Eropa, Milan telah melewati banyak sekali hal.

Harapan mulai tampak nyata ketika pada tahun 2018, Milan berpindah kepada kepemilikan baru. Mereka mulai menata masa depan hingga menerima hasil positif meski secara perlahan. Perusahaan investasi asal Amerika, Elliott Management Corporation, mengambil alih kepemilikan Milan dari Yonghong Li, pebisnis China, yang gagal membangun proyek di Milan.

Milan yang sempat terkena masalah Financial Fair Play bisa bernafas lega setelah Elliott menggelontorkan dana senilai 50 juta euro untuk mengatasi itu semua. Selain itu mereka juga membongkar jajaran direksi Milan, dengan menunjuk Ivan Gazidis sebagai CEO dan Paolo Maldini yang ditunjuk sebagai direktur strategi dan pengembangan olahraga.

Setelah Leonardo yang sebelumnya duduk di manajemen Milan putuskan untuk hengkang ke PSG, Maldini lalu mengisi posisi pria Brasil sebagai direktur teknik.

“Direktur teknik memiliki dua peran. Aku bekerja di kantor. Bursa transfer terbuka sepanjang tahun. Aku bertemu dengan agen dan orang yang bekerja di dunia ini (transfer). Lalu ada peran yang berhubungan dengan sepakbola. Aku datang ke pertandingan. Kami memiliki hubungan dekat dengan tim. Lalu aku pergi ke pertandingan,” ujar Maldini.

Yang tak kalah penting, Milan melalui Ivan Gazidis juga memperbaiki proses transfer tim. Dia menunjuk Geoffrey Moncada sebagai kepala pemandu bakat. Sebagai informasi, Geoffrey yang sebelumnya bekerja untuk Monaco merupakan sosok yang menemukan bakat Kylian Mbappe.

Tugas Geoffrey yang tidak hanya datang dan menonton pertandingan namun juga melakukan analisa mendalam terhadap seorang pemain, nantinya akan mengirimkan informasi kepada Maldini. Bila dinilai oke, maka Maldini akan melakukan tugasnya yaitu meyakinkan seorang pemain untuk bergabung dengan Milan. Contoh dua nama hebat yang tenggelam dalam keanggunan Maldini adalah Sandro Tonali dan Theo Hernandez.

Selain itu, masih ada nama hebat lainnya, termasuk Simon Kjaer, Zlatan Ibrahimovic, Fikayo Tomori, dan yang terbaru Mike Maignan.

Mayoritas dari pemain tersebut mengaku sangat terkesan dengan penawaran yang diajukan Maldini. Mereka memandang Maldini sebagai sosok luar biasa dalam sepakbola, sehingga tidak sulit untuk membubuhkan tanda tangan di kertas kontrak.

Maldini, dalam hal ini menggabungkan para pemain berbakat yang penuh pengalaman dengan para pemain muda yang penuh talenta. Simon Kjaer dan Zlatan Ibrahimovic memberi pengaruh mental yang begitu luar biasa. Bisa dirasakan ketika dua pemain tersebut tampil di atas lapangan. Ketegasan serta kehebatan yang dimiliki mampu membuat Milan bangkit ke era kejayaan.

Khusus Ibrahimovic, pemain asal Swedia itu memberi lebih dari sekadar efek positif bagi Milan. Di usia yang sudah menyentuh angka 40 tahun, Zlatan mampu menjadi pemain dengan koleksi gol terbanyak di Milan. Lebih dari itu, seperti yang sudah dijelaskan, dia menjadi sosok yang mampu mengangkat mental para pemain Milan untuk selalu mengejar kemenangan dalam setiap kesempatan.

Lalu, Milan juga memiliki banyak pemain muda, yang tidak sedikit dari mereka datang berkat kepiawaian Paolo Maldini. Misalnya saja Ismael Bennacer, Rafael Leao, sampai Jens Petter Hauge.

Pergerakan transfer Milan tak hanya menyoal tentang pembelian pemain saja, namun juga penjualan yang dianggap cemerlang. Mereka melepas pemain yang dianggap kurang berkontribusi bagi tim seperti Andre Silva, Suso, Ricardo Rodriguez, sampai Lucas Biglia yang pada akhirnya berhasil menghemat anggaran gaji pemain di angka 12,6 juta euro.

Selain deretan pemain berbakat yang didatangkan, penandatanganan Stefano Pioli sebagai allenatore baru juga panas mendapat tepukan. Meski tidak sedikit keputusan dari sang pelatih yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan tim pada musim ini, harus diakui bila Pioli menjadi salah satu sosok penting dibalik kebangkitan Milan.

Menjadi tim dengan raihan poin tertinggi usai pandemi, sempat muncul sebagai tim yang bakal memenangkan kompetisi domestik, hingga pada akhirnya berhasil lolos ke kompetisi tertinggi, resmi sudah Milan bangkit setelah tujuh tahun lamanya berdiam diri.

Sumber referensi: Panditfootball 1, Panditfootball 2, Akurat, Bolasport, Sportsnet

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *