Akademi Manchester United pernah menjadi salah satu akademi paling populer di dunia. Ia juga disebut-sebut akademi terbaik, tidak hanya di Eropa melainkan juga seluruh dunia. Akademi Manchester United tak ubahnya seperti La Fabrica milik Real Madrid atau La Masia di Barcelona. Selain calon bintang yang dihasilkan, akademi MU juga menarik tak sedikit pemain.
La Masía, la fábrica de diamantes 💙❤️ pic.twitter.com/f7Nu5uUQhx
— Jean Naranjo (@JeanCnaranjo) October 22, 2023
Akademi MU itu bahkan pernah menjadi inspirasi bagi akademi-akademi lainnya di Inggris. Sayangnya, kepopuleran akademi United mulai menyusut. Tak banyak lagi pemain dilahirkan dari sana. Akademi Manchester United bahkan kini kalah dari akademi Cobham milik Chelsea maupun perkembangan akademi Manchester City yang luar biasa di tangan Sheikh Mansour.
Chelsea academy the best in the world!!! 💙 pic.twitter.com/tiw7qDeS8V
— Frank Khalid OBE (@FrankKhalidUK) October 24, 2023
Hal itu bertahan cukup lama. Hingga buntutnya MU kesulitan dalam meraih trofi. Namun, belakangan ini, akademi Manchester United ternyata mulai berbenah lagi. Ada banyak perubahan yang mulai diterapkan di salah satu akademi terbaik di dunia itu. Jadi, mungkinkah akademi Manchester United kembali berjaya seperti dahulu?
Daftar Isi
Perlunya Pembinaan Akademi
Pembinaan pemain akademi adalah salah satu elemen yang penting dalam sebuah industri sepakbola modern seperti sekarang ini. Selain menciptakan wadah untuk regenerasi sebuah klub, pembinaan pemain akademi juga akan dinilai dari sisi ekonomi.
Di Chelsea misalnya. Terbukti dengan pembinaan akademi yang sukses, mereka sudah banyak mendatangkan cuan dengan cara menjual beberapa pemain akademinya. Sebut saja yang terakhir ada Mason Mount yang dibeli MU.
Mason Mount loves Manchester United pic.twitter.com/rewZANj5R5
— TWO TERTY (@TwoTerty_) October 20, 2023
Manchester City juga serupa. Mereka juga sudah banyak cuan dari penjualan pemain akademinya. Terakhir Cole Palmer dijual mahal ke Chelsea atau Foden yang kini menjelma jadi salah satu kekuatan tim Pep Guardiola.
Cole Palmer: “I’m loving it here at Chelsea. Every day is good, even off the pitch with the lads. There’s a good vibe here and everything’s good, so I’m loving it.” pic.twitter.com/SXzs8Jo8qt
— Simon Phillips (@siphillipssport) October 24, 2023
Bagaimana Di MU?
Lalu kalau di MU bagaimana keadaannya? Menurut website resmi manutd.com, jatidiri MU sejak dulu itu adalah mengembangkan pemain muda. Tradisi itu bahkan sudah dimulai sejak tahun 1930 di bawah pemilik James W Gibson.
Dalam perjalanannya, MU pun terbukti konsisten memelihara tradisi akademinya. Salah satunya dengan menelurkan pemain seperti mendiang Sir Bobby Charlton maupun George Best. Lalu kemudian lahir juga pemain seperti Arthur Albiston maupun Mark Hughes.
🔴 Alguns dos jogadores que foram revelados pelo Manchester United:
— Curiosidades MUT (@CuriosidadesMUT) May 3, 2023
– Duncan Edwards
– Bobby Charlton
– George Best
– Mark Hughes
– Ryan Giggs
– David Beckham
– Paul Scholes
– Gary Neville
– Wes Brown
– Darren Fletcher
– Gerard Piqué
– Paul Pogba
– Marcus Rashford pic.twitter.com/jfZq7qtzjr
Tradisi itu kembali dilanjutkan sejak kedatangan Sir Alex Ferguson. Dikutip website manutd.com, sejak Fergie datang ke Old Trafford ia sudah mengatakan bahwa, pemain yang diproduksi klub akan selalu lebih baik daripada pemain yang dibeli. Prinsip yang dipegang Fergie itulah yang membuat akademi MU makin moncer dan ciptakan bintang-bintang berkelas.
Romantisme “Clash Of 92”
Namun dari sekian pemain yang dihasilkan dari akademi Manchester United, tentu yang paling membekas di hati para pecinta MU adalah para bintang jebolan dari “Clash of 92” seperti Nicky Butt, David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, maupun Neville bersaudara.
Ryan Giggs: 963 games, 35 trophies
— The Football Arena (@thefootyarena) October 21, 2023
Nicky Butt: 387 games, 14 trophies
David Beckham: 394 games, 12 trophies
Gary Neville: 602 games, 20 trophies
Phil Neville: 386 games, 14 trophies
Paul Scholes: 718 games, 25 trophies
LEGENDS. pic.twitter.com/yTE9FaropY
Produk sukses Fergie tersebut ternyata memunculkan romantisme tersendiri. Kesuksesan MU meraih treble winner di 1999 juga salah satunya berkat peran “Clash of 92”. Pasca kesuksesan “Clash of 92” itulah MU mulai rebranding akademinya sebagai akademi terbaik di Inggris. Namun sayang kepergian Sir Alex Ferguson justru membuat para pemain jebolan akademi United tak bertaji.
Penurunan Akademi Pasca Fergie
Tak banyak pemain akademi Manchester United yang masuk ke tim utama setelah kepergian Fergie. Padahal tim muda Manchester United masih cukup berprestasi. Tim U-21 bahkan juara di Premier League 2 musim 2015/16. Sementara tim U-18 yang terakhir kali hanya meraih FA Youth Cup tahun 2011, meraihnya lagi pada musim 2021/22.
Meski begitu, para pemain akademi MU masih kesulitan untuk menembus tim utama. Terbukti belakangan ini hanya segelintir pemain akademi yang mampu menembus tim utama dan bertahan di sana. Praktis hanya Scott McTominay dan Marcus Rashford yang kini bertahan dan jadi pilar di tim utama.
Manchester United Managers and their academy discovery 👶:
— UtdTruthful (@Utdtruthful) January 16, 2023
1️⃣ Louis Van Gaal 🤝 Marcus Rashford
2️⃣ José Mourinho 🤝 Scott Mctominay
3️⃣ Ole Gunnar Solskjaer 🤝 Mason Greenwood
4️⃣ Ralf Ragnick 🤝 Anthony Elanga
5️⃣ Erik Ten Hag 🤝 Alejandro Garnacho pic.twitter.com/qYIlLcJymV
Alih-alih memakai pemain akademinya sendiri, Manchester United justru membeli bakat muda dari luar, seperti Amad Diallo dan Fecundo Pellistri. Hal ini menjadi miris karena sebetulnya banyak akademi MU yang mengantre untuk menjadi andalan di tim utama.
Sancho this, #Antony that…
— MR1O (@imjustutd) September 10, 2023
It’s #Pellistri x Diallo time. 😈💫#MUFC pic.twitter.com/1myETjMhke
Sebut saja Dean Henderson, Fosu Mensah, Tuanzebe, Michael Keane, maupun Elanga. Beberapa dari mereka memang pada akhirnya masuk ke tim utama. Namun, tidak banyak yang bisa bertahan sampai sejauh ini sebagaimana Rashford dan McTominay.
Era Baru Akademi Pasca Datangnya Ten Hag
Angin segar kemudian berhembus ketika Manchester United mendatangkan Erik ten Hag musim lalu. Pelatih berkepala plontos ini punya rencana serius untuk mengorbitkan para pemain akademi Manchester United.
Perhatian besar mulai diperlihatkan Ten Hag pada peran pemain akademi. Ia ingin lebih memperhatikan para pemain akademi MU, tidak seperti pendahulunya. Maka dari itu kita bisa melihat banyak pemain akademi mulai menemukan tempatnya di skuad utama. Sebutlah misalnya Hannibal Mejbri, Garnacho, hingga Kobbie Mainoo.
Garnacho, Pellistri, Hannibal & Mainoo in training ahead of Copenhagen 💫📸 pic.twitter.com/doe7iYoPsV
— mufcmpb (@mufcMPB) October 23, 2023
Rencana Ten Hag untuk mengorbitkan para pemain akademi didukung oleh restrukturisasi akademi oleh manajemen Setan Merah. Ada para pelatih akademi yang sudah meninggalkan jabatannya, seperti Jim Skeldon, Brian Mcfarlane, Dave Bailey, Ronnie Cusick, dan Gavin Oliver.
🚨 | #mufc have had a mini clear-out of their academy, axing a total of five coaches. Jim Skeldon, Brian Mcfarlane, Dave Bailey, Ronnie Cusick and Gavin Oliver have all left.
— UtdDistrict (@UtdDistrict) September 19, 2023
United sources confirmed that a ‘small number’ of coaches have left the club which was part of a wider…
Merombak Staf Akademi
Menurut Ten Hag perlu nama-nama segar yang dianggapnya mampu membawa perubahan dalam pengembangan sektor akademi. Maka dari itu, dilansir Manchester Evening News, MU menunjuk tiga staf baru yang akan ditugaskan mengisi pos penting di akademi MU.
Yang pertama ada Ben Clarke dari Cardiff City. Clarke ini adalah mantan kepala perekrutan pemain akademi yang sukses di Cardiff selama enam tahun. Clarke nantinya akan ditugaskan juga sebagai kepala perekrutan pemain akademi di MU.
Manchester United are set to appoint Cardiff City’s Ben Clarke to a recruitment role – focusing on bringing the best young talent to their academy. #MUFC [@SportsPeteO] pic.twitter.com/7wHEyX4nhl
— MU REPORT 🔰 (@MUREPORT_) October 19, 2023
Lalu ada Callum Tongue yang didatangkan dari Ipswich Town. Tongue sudah berpengalaman membantu akademi Manchester City selama sembilan tahun sebagai staf sekaligus pencari bakat. Nantinya Tongue khusus ditugaskan untuk mencari talenta lokal Inggris bagi akademi MU.
Callum Tongue rejoint Manchester United en provenance d'Ipswich Town, où il était entraîneur U18, pour devenir responsable du recrutement local. Il a précédemment travaillé pour Manchester City pendant neuf ans en tant que coach et recruteur.
— Manchester United (@MUnitedFR) October 20, 2023
Ben Clarke quitte Cardiff City, où… pic.twitter.com/RqNvfTFgVD
Yang berikutnya MU menunjuk Finn O’leary dari Blackburn Rovers. O’Leary sebelumnya bekerja sebagai manajer operasi perekrutan pemain akademi di Blackburn. Kini ia akan ditugaskan sebagai asisten tim perekrutan talenta lokal Inggris bersama Tongue.
Ya, dengan sikap manajemen MU yang mau berbenah, maka perkembangan ke arah yang lebih maju dari akademi United, nampaknya bisa diharapkan. Jadi, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan akan muncul bintang-bintang baru lagi dari akademi mereka. Kita tunggu saja prosesnya.
Sumber Referensi : MEN 1, MEN 2, onefootball, goal, manutd.com, transfermarkt


