Apa yang terlintas dalam pikiran football lovers ketika mendengar tentang kompetisi kasta tertinggi sepakbola Italia, Serie A? Hanya beberapa tim yang bagus? Gaya permainan yang cenderung lambat dan membosankan? Atau layaknya liga petani yang juaranya sudah bisa diprediksi meski peluit kick off giornata pertama belum dibunyikan?
Pemahaman tentang Serie A semacam itu sudah usang. Hal seperti itu tak benar-benar terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Jadi mengapa masih ada yang berpendapat bahwa Serie A adalah salah satu kompetisi sepakbola yang membosankan di Eropa?
Tentu sangat keliru ketika menyamakan Serie A dengan liga-liga petani seperti Bundesliga milik Bayern Munchen atau Ligue 1 yang kini dikuasai oleh raksasa minyak melalui Paris Saint-Germain. Nah, berikut bukti bahwa Serie A bukanlah liga yang membosankan.
Daftar Isi
Menghasilkan 2 Juara yang Berbeda
Penurunan performa Juventus dalam dua tahun terakhir membuat persaingan gelar juara Serie A semakin menarik. Musim 2020-2021 melahirkan juara yang berbeda yaitu, Inter Milan. Inter jadi tim pertama di luar Juventus yang berhasil menjuarai kasta tertinggi sepakbola Italia dalam sepuluh tahun terakhir.
Menariknya, yang membawa Inter menjuarai Serie A adalah Antonio Conte, sosok yang mengawali dominasi Juventus di Serie A pada 2011-2012. Jadi, Conte yang mengawali, Conte juga yang mengakhiri.
Sempat menjadi buntut AC Milan di peringkat kedua klasemen Serie A, Inter Milan mampu tampil trengginas di paruh kedua musim 2020-2021. Mereka meraih 11 kemenangan beruntun sebelum akhirnya mengamankan gelar juara dengan empat laga tersisa.
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan Inter Milan meraih juara musim ini adalah solidnya lini belakang mereka. Dengan formasi tiga bek khas milik Conte, Milan jadi tim paling sedikit kebobolan dengan kebobolan 35 gol.
We the Champ19ns 🔴⚫
Casa Milan welcoming its heroes! 📢
Vi presentiamo i Campioni d’Italia! 📢#AlwaysWithYou #SempreMilan pic.twitter.com/skPK60nux9
— AC Milan (@acmilan) May 26, 2022
Sedangkan, musim ini giliran AC Milan, rival sekota Inter yang menjuarai Liga Italia. Ribuan fans tumpah ruah di jalanan kota Milan saat para penggawa AC Milan mengarak trofi scudetto ke-19 mereka.
Stefano Pioli jadi salah satu kunci sukses Milan meraih scudetto musim ini. Meski baru kehilangan Donnarumma dan Hakan Calhanoglu, Pioli tak banyak menuntut soal transfer. Dengan tangan dinginnya, ia menyulap beberapa pemain yang tadinya biasa-biasa saja seperti Leao dan Bennacer, menjadi luar biasa.
Dengan munculnya dua juara yang berbeda dalam dua musim terakhir, hal ini membuktikan bahwa Liga Italia bukan hanya soal Juventus. Bahkan, jika duo milan tak mampu menjaga performanya, mungkin saja Napoli atau bahkan AS Roma-nya Jose Mourinho yang meraih scudetto musim depan.
Persaingan Ketat Tak Kalah dengan Premier League
Persaingan dalam perebutan gelar juara Serie A pun tak kalah ketat dari persaingan di Liga Inggris. Sepanjang musim ini saja, fans dari duo Milan dibuat dag dig dug ser lantaran kedua kesebelasan harus melanjutkan persaingan gelar juara hingga pekan terakhir.
Mungkin yang masih membayang-bayangi kegagalan Inter untuk mempertahankan gelarnya adalah kekalahan dari Bologna di partai tunda yang dimainkan pada akhir April kemarin. Mungkin bisa dibilang laga tersebut jadi salah satu faktor gagalnya Inter menyalip AC Milan di tikungan terakhir.
Di laga tersebut, ketika kedudukan masih sama kuat 1-1, Ionut Radu yang menggantikan Handanovic di bawah mistar, justru melakukan blunder fatal. Ia gagal menyalurkan bola hasil lemparan kedalam Ivan Perisic. Bola hanya bergulir pelan di mulut gawang yang akhirnya dapat dimanfaatkan oleh Nicola Sansone.
Bahkan persaingan sengit juga terjadi di papan bawah. Di pekan terakhir, Salernitana dan Cagliari yang hanya memiliki selisih 2 poin, bersaing untuk menghindari finis di urutan ke 18 agar mereka tak menemani Venezia dan Genoa ke Serie B.
Cagliari yang berada di urutan 18 hanya butuh sekali menang saat melawan Venezia untuk bertukar posisi dengan Salernitana di peringkat 17. Namun sialnya, Cagliari tak mampu mengambil poin penuh di kandang Venezia. Mereka hanya mampu menahan tim juru kunci dengan skor 0-0.
🎟 #GenoaBologna aperta la prevendita:
– Gradinata Nord 2€
– Gradinata Sud 2€
– Distinti 5€
– Tribuna inferiore 19€ (9€ per under 16)
– Tribuna superba 40€👉 Maggiori informazioni https://t.co/vjbpKL0BAQ
🏟 Vi aspettiamo! 🔴🔵 pic.twitter.com/cQKPQG4iQ3
— Genoa CFC (@GenoaCFC) May 17, 2022
Akhirnya Cagliari lah yang menemani Genoa dan Venezia turun ke Serie B musim depan. Khusus untuk Genoa, ini kali pertama mereka mengalami degradasi setelah kurang lebih 15 tahun bertahan di kasta tertinggi sepakbola Italia.
Laga-laga tersebut jadi contoh kecil, bahwa persaingan di Serie A sangat ketat. Tim kecil tak melulu kalah oleh tim penantang gelar. Dan tim sarat akan sejarah, tak selamanya terus bertahan di kasta tertinggi. Siapa pun yang lengah, harus menerima konsekuensi.
Banyak Gol Tercipta
Pola permainan Serie A yang tadinya lambat dan cenderung mempertahankan keunggulan kecil hingga berakhirnya laga, kini telah berubah. Serie A bukan lagi liga yang seret dalam urusan mencetak gol. Bahkan pada musim 2019-2020, Serie A sempat jadi kompetisi paling produktif apabila dibandingkan dengan keempat liga top Eropa lainnya.
Dilansir dari jurnalis olahraga Adriano Del Monte, Tercatat ada 1.154 gol dari 380 pertandingan di Serie A musim 2019-2020. Dan jika dirata-rata 3,04 gol per pertandingan. Atalanta menjadi yang paling subur dengan 98 gol.
Ciro Immobile menjadi pemain yang paling banyak menyumbang gol di Liga Italia dengan torehan 36 gol. Catatan manis dari striker asal Lazio itu juga menjadikannya pemimpin daftar klasemen Sepatu Emas Eropa.
Liga Inggris berada di urutan kedua dengan 1.034 gol dari 380 pertandingan yang dimainkan. Jika diratakan, Liga Inggris menghasilkan 2,72 gol per pertandingan. Manchester City tim paling subur dengan 102 gol kala itu.
Sedangkan musim ini, Serie A tercatat telah menghasilkan gol sebanyak 1.089 dari 380 pertandingan. Dan jika di rata-rata Serie A menghasilkan 2,87 gol per laga. Lagi-lagi itu lebih tinggi dari Liga Inggris yang mencetak 1.071 gol dari 380 laga. Liga Inggris hanya menghasilkan 2,82 gol per laga.
Wakil Italia Menjuarai Kompetisi Eropa
Klub Serie A juga berprestasi di kompetisi Eropa, tepatnya di Conference League 2021-2022. AS Roma berhasil keluar jadi juara pertama di kompetisi yang tergolong masih baru tersebut.
Laga puncak itu mempertemukan Giallorossi dengan wakil Belanda, Feyenoord. Pertandingan berlangsung sengit sejak peluit babak pertama dibunyikan. Di mana Roma tampak lebih dominan di babak pertama.
Gol pun tercipta di menit 32, Giallorossi mencetak gol melalui aksi Nicolo Zaniolo. Pemain berumur 22 tahun tersebut menunjukkan reaksi cepat setelah menerima umpan terukur dari Gianluca Mancini sekaligus membawa Roma unggul.
The Special one, Jose Mourinho aliwapa
🏆Chelsea Kombe la kwanza la Ligi baada ya Miaka 50
🏆Inter Millan Kombe la kwanza la UEFA baaada ya Miaka 45
🏆Real Madrid Kombe la Kwanza la Copa Del Rey baada ya Miaka 22
🏆Jana kawapa Roma Kombe ya Ulaya baada ya zaidi ya Miaka 60. pic.twitter.com/s3Hns60d2l— Ayubu Madenge (@ayubu_madenge) May 26, 2022
Di babak kedua, Feyenoord berusaha menyamakan kedudukan melalui upaya Orkun Kokcu dan Cyriel Dessers. Sayang, Rui Patricio terlalu tangguh untuk ditaklukan oleh anak asuh Arne Slot.
Tentu, dengan adanya wakil Serie A yang menjuarai kompetisi Eropa, membuat liga-liga lain tak bisa menganggap remeh tim-tim Serie A musim depan. Untuk musim depan sendiri, Serie A akan mengirimkan 7 tim di kompetisi Eropa.
Empat tim Serie A yang meraih tiket ke Liga Champions musim depan adalah AC Milan, Inter Milan, Napoli, dan Juventus. Sedangkan dua tim yang meraih tiket ke Liga Europa adalah Lazio dan AS Roma.
Menariknya, Fiorentina juga akan kembali ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir. Mereka mengamankan satu tiket Conference League setelah mengalahkan Juventus 2-0 di pekan terakhir Serie A 2021/22.
https://youtu.be/Rjjcg63EGq8
Sumber: Breaking The Lines, Viva, Bleacherreport, Serie A


