“Jangan pernah main-main dengan saya”. Kalimat itu ibarat nyata terpampang di dahi seorang Pep Guardiola. Manajer Manchester City yang bertangan dingin sekaligus bermulut pedas. Pep Guardiola sejauh ini terkenal sebagai sosok pelatih yang jago mengolah taktik.
Boleh dikatakan, taktik Pep hanya bisa mentah oleh dirinya sendiri. Oleh ketidakyakinan dirinya sendiri. Karena Pep begitu luar biasa di tepi lapangan. Strateginya untuk membawa Manchester City ke final Liga Champions nyaris saja berhasil.
Keunggulan agregat 2-0 hampir saja melenggangkan City ke final Liga Champions Eropa. Namun, Real Madrid memang klub yang berbeda. Darah dan nadi Real Madrid memang sudah menyatu pada Liga Champions. Maka, kekalahanlah yang menimpa Pep dan Manchester City-nya.
Kekalahan ini membawa Pep ke jurang yang penuh dengan kritik. Lontaran-lontaran kritik yang datang padanya, seperti hujan di sore hari yang datangnya tak terduga. Hujan yang sangat perih ketika terkena kulit ari.
Daftar Isi
Kritik Datang dari Evra dan Berbatov
Kritik itu datang dari mantan pemain Manchester United, Patrice Evra. Pria Prancis itu sangat tajam mengkritik kegagalan Pep di Liga Champions untuk kesekian kalinya. Seperti dilansir Give Me Sport, Evra pada intinya menyindir Manchester City yang tidak punya figur pemimpin.
“City butuh figur pemimpin, tapi Guardiola tidak. Dia tidak ada kepribadian. Dia (Guardiola) pemimpinnya. Itu sebabnya ketika mereka dalam kesulitan mereka tidak mau,” kata Evra.
Evra secara tegas mengkritik soal Pep yang tidak bisa melatih timnya dengan kepribadian. Pep hanya ingin mengendalikan semua orang melalui kekuasaan yang diberikan padanya. Tentu ini adalah kritik yang bukan hanya tajam, tapi kurang berbobot dan sangat mudah untuk dibalas.
Sama seperti kritik yang dilontarkan mantan punggawa Manchester United lainnya, Dimitar Berbatov. Pria Bulgaria itu menyamakan nasib Manchester City yang kandas atas Real Madrid dengan kegagalan Bayern Munchen di final Liga Champions 1999 melawan Manchester United.
🗣 “I didn’t see when I played against them this kind of personality when we destroyed them.” 😅
Pep Guardiola responds to the comments from Dimitar Berbatov and Patrice Evra on him being unable to manage “big characters” pic.twitter.com/5JD8tixgH7
— Football Daily (@footballdaily) May 13, 2022
Namun, bagi Pep sendiri, dua kritik dari dua mantan pemain Setan Merah itu adalah kritik yang sepele. Kritik yang sangat mudah untuk dibalas oleh manajer berpaspor Spanyol tersebut. Pep dengan mulut pedasnya, dengan enteng membalikkan kritik itu pada kedua mantan pemain.
“Saya pernah melawan keduanya. Dan saya tidak melihat kepribadian seperti ini ketika kami (Barcelona) mengalahkan Manchester United di final Liga Champions,” tegas Pep.
Terbiasa Membalas Kritik
Barangkali pembalasan Pep atas kritik yang Evra dan Berbatov lontarkan itu sangat mengena. Bahkan bisa jadi langsung menyobek ulu hati kedua pemain tersebut. Dan bukan tidak mungkin kalau keduanya, ketika mendengar balasan itu akan tersenyum getir.
Evra dan Berbatov tampaknya telah salah sangka pada Pep. Atau minimal mereka tidak tahu, atau bahkan pura-pura tidak tahu kalau Pep adalah sosok yang punya lidah setajam pisau yang baru saja diasah. Ia sudah terbiasa membalas kritik dengan kritik balik.
Seorang penulis sepakbola, Marini Anggitya, dalam tulisannya di The Flanker menulis, bahwa bagi seorang Pep diam bukan berarti emas. Pep sudah terbiasa melawan siapa pun dan apa pun. Bahkan tiki-tika, yang orang mengira berasal dari dirinya pun, Pep mengkritiknya.
Dalam buku “Pep Confidential” karya Marti Perarnau, sebagaimana juga dikutip Marini Anggitya, Pep mengatakan bahwa dirinya benci umpan-umpan yang kelewat batas. Umpan yang kata banyak orang adalah tiki-taka itu.
Pep bahkan mengkritik itu sebagai sampah. Karena bagi Pep, mengumpan harus ada visi yang jelas. Visi itu tiada lain adalah mencetak gol. Dari situ kita bisa membaca bahwa ada yang keliru atas pemahaman orang terkait tiki-taka.
Orang-orang memang kerap kali menganggap bahwa tiki-taka adalah umpan-umpan belaka. Semakin banyak mengoper, penguasaan bola semakin baik. Dan mereka menganggap itu adalah permainan yang indah.
Namun, pikiran Pep bukan begitu. Ia menekankan bahwa mengumpan harus tetap memiliki tujuan. Dalam hal ini, kita bisa mengambil contoh ketika Manchester United dilatih Louis Van Gaal. Kala itu, United hanya mengumpan dan mengumpan, tanpa melakukan progresi maupun berusaha menciptakan gol.
I’m just gonna leave this page on LVG from Pep Confidential here… pic.twitter.com/Qw9ezQzIyL
— 🥷🏾 (@nteldn) October 28, 2015
Terbiasa Dikritik Penggemar
Sebagai manajer sebuah klub sepakbola, yang konon penggemarnya banyak, mendapat terpaan kritik adalah hal lumrah bagi Pep Guardiola. Ia sudah sangat sering dikritik oleh penggemar Manchester City. Apalagi kalau The Citizen gagal dan di situ terdapat celah untuk menghujani Pep dengan kritikan.
Seperti halnya, ketika Manchester City gagal ke final Piala FA, setelah di semifinal kalah atas Liverpool 3-2. Waktu itu, Pep mendapat kritik bertubi-tubi oleh para penggemar. Apa yang mereka kritik? Susunan pemain yang dipilih Pep.
Banyak penggemar City yang turun ke media sosial untuk mengkritik pemilihan pemain Pep. Yang kata mereka, kekuatannya tidak pantas turun di pertandingan tersebut. Misal, Pep yang lebih memilih Zack Steffen daripada Ederson yang pada akhirnya berujung kejadian yang memalukan.
Pep secara dingin menanggapi kritik dari penggemar. Tapi ia tetap tegas bahwa, dirinya memiliki alasan tersendiri dalam penyusunan pemain. “Mereka (pemain yang disusun Pep) sudah siap. Sementara Kevin belum, Gundogan belum. Saya mengerti, saya sudah berbicara dengan dokter dan fisioterapis saya,” kata Pep.
Menjawab Kritik dengan Sarkas dan Satire
Sebetulnya, ada banyak cara yang Pep lakukan untuk menjawab kritik terhadapnya. Dan karena Pep terkenal bermulut pedas, tak jarang ia membalas kritik dengan sarkas. Ia kerap menggunakan kata-kata pedas untuk menyakiti hati pihak yang mengkritiknya.
Seperti ketika Pep membalas kritik dari Evra dan Berbatov. Kalimat “Saya tidak pernah melihat kepribadian ketika kami mengalahkan Manchester United” adalah kalimat sarkas yang Pep sampaikan untuk menjawab kritik keduanya.
Pep juga menjawab kritik dengan satire atau sindiran halus. Ia mengatakan, dilansir SI, bahwa sangat tidak mungkin menurunkan pemain inti ketika mereka sedang tidak fit di semifinal Piala FA. Bagi Pep, masih mending kehilangan Piala FA daripada Premier League.
Karena ia tidak bisa membayangkan meraih tiga poin tanpa De Bruyne maupun Ilkay Gundogan. Secara tersirat, Pep ingin menyindir bahwa tidak perlu ngotot hanya untuk Piala FA, yang mungkin saja, bagi Pep bukanlah trofi prestisius. Setidaknya, tidak lebih bergengsi daripada Premier League.
https://youtu.be/eo0Z9GpCx60
Sumber referensi: The Flanker, SI, Give Me Sport, Manchestereveningnews


