Liverpool memang unggul dalam segala aspek di laga final Liga Champions 2022 kemarin. Namun, satu yang tak bisa diungguli oleh Liverpool, ya, jumlah gol. Selagi masih ada Thibaut Courtois, mau serangan model apa aja, pasti bisa dimentahkan oleh penjaga gawang asal Belgia tersebut.
Malam di Paris jadi malam yang tak terlupakan bagi Courtois. Dengan gagahnya ia menggagalkan peluang-peluang yang diciptakan oleh duo andalan lini depan Liverpool, Sadio Mane dan Mo Salah. Jadi, bukan suatu hal yang aneh apabila kita menyebut Cortoa merupakan salah satu alasan El Real mampu merengkuh trofi Liga Champions ke-14 mereka.
Bahkan, sinar Courtois lebih menyilaukan dari sang pencetak gol kemenangan, Vinicius Junior. Performa Courtois di bawah mistar mengingatkan akan para pendahulunya yang juga menyuguhkan penampilan yang luar biasa di partai final. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
Jerzy Dudek vs AC Milan 2005
Nama pertama muncul dari salah satu laga final paling ikonik antara AC Milan dan Liverpool di Istanbul, Turki. Saking ikoniknya partai puncak yang terjadi pada tahun 2005 itu disebut dengan The Miracle of Istanbul.
Tentu jika membicarakan Miracle of Istanbul, tak akan pernah lengkap jika tak memasukan nama Jerzy Dudek ke dalam topik pembahasan. Dudek jadi pahlawan Liverpool di laga yang harus diselesaikan melalui adu penalti itu.
Dudek yang menghadapi skuad bertabur bintang milik AC Milan, dibuat kewalahan di babak pertama. Bahkan ia harus memungut bola dari gawangnya sendiri sebanyak tiga kali.
Di babak kedua semua berubah. Entah kalimat motivasi apa yang dikatakan Rafa Benitez saat di ruang ganti, sehingga membuat Dudek menatap babak kedua seakan pertarungan baru saja dimulai.
Seperti terlahir kembali, Dudek berkali-kali membendung gempuran Shevchenko CS. Performa Dudek yang membaik membuat semangat tim meningkat. Sang kapten, Steven Gerrard hadir dengan gol penyeimbang.
Setelah itu, gol-gol lain pun berdatangan. Mungkin ini keajaiban yang mereka maksud. Liverpool berhasil menyamakan kedudukan dan ini jadi kesempatan kedua bagi The Reds.
Mungkin aksi yang paling ikonik dari Dudek adalah ketika Ia melakukan double save krusial yang sekaligus menggagalkan peluang 99% milik Shevchenko. Penyelamatan yang sangat berharga itu membuat pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Dudek berhasil menepis tendangan Andrea Pirlo, itu membuat Liverpool memegang kendali. Meski di kesempatan berikutnya Arne Riise gagal, Dudek hanya perlu menggagalkan satu tendangan lagi untuk mengunci kemenangan.
Berharap Dudek tertipu, Shevchenko yang ditunjuk sebagai penendang terakhir, justru meletakan bola ke tengah. Tepisan Dudek mengakhiri pertarungan. Liverpool keluar sebagai juara dengan skor 2-3.
Van Der Sar vs Chelsea 2008
Maju ke tahun 2008 kita disuguhkan dengan final all England. Laga yang dimainkan di Moskow itu mempertemukan Manchester United dengan klub asal London, Chelsea. Laga yang berakhir dengan adu penalti tersebut jadi panggung yang sempurna bagi Edwin van der Sar.
Sebetulnya, Van der Sar tak memiliki catatan yang bagus dalam adu penalti. Ia bahkan kerap mengalami kekalahan adu penalti seperti yang ia alami di final Liga Champions 1996 kala ia masih membela Ajax dan saat Piala Dunia 1998 kala Timnas Belanda harus mengakui keunggulan Brazil di semifinal.
Namun, laga kali ini jadi momen kebangkitan The Flying Dutchman melawan kegagalan masa lalu. Meski banyak yang beranggapan bahwa adu penalti hanya tentang peruntungan, namun Van der Sar tak menjadi pahlawan hanya dengan mengandalkan keberuntungan saja. Ia menggunakan seluruh pengalaman dan pengetahuannya untuk menang.
Dilansir FourFourTwo tahun 2017, sebelum laga final, van der Sar telah banyak mempelajari penalti pemain Chelsea melalui DVD. Bahkan ia sempat mempelajari 40 tendangan yang berbeda milik Frank Lampard.
Selain itu, ia juga membuat catatan khusus untuk beberapa pemain Chelsea. Terutama tentang penalti milik Nicolas Anelka yang hampir semuanya selalu diarahkan ke bagian kanan kiper.
⏪ 2008 final penalty shoot-out…
🔴 Edwin van der Sar the Manchester United hero as Sir Alex Ferguson secured his second Champions League title 🏆#UCL | #MondayMotivation | @ManUtd pic.twitter.com/MHFl6eywMr
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) February 8, 2021
Akan tetapi, tampaknya Chelsea juga telah mempelajari bagaimana cara Van der Sar menghadapi tendangan penalti. Mereka tahu bahwa Van der Sar lebih sering menjatuhkan badan ke kanan daripada ke kiri.
Dan benar saja, hampir semua penendang Chelsea menendang ke arah kiri. Namun, entah karena keberuntungan atau sudah dipelajari melalui DVD, terpelesetnya John Terry seperti sudah dinanti oleh Van der Sar. United berbalik memegang kendali setelah Ryan Giggs sukses menundukkan Petr Cech.
Anelka jadi pemain terakhir yang harus dihadapi oleh Van der Sar. Berbekal catatan khususnya, Van der Sar berhasil menebak tendangan Anelka. United pun keluar sebagai juara.
Petr Cech vs Bayern Munchen 2012
Empat tahun berselang, giliran Petr Cech yang menunjukan tajinya sebagai salah satu kiper terbaik di dunia. Beda halnya dengan Van der Sar, kiper Republik Ceko itu justru dikenal karena kehebatannya menahan tendangan penalti.
Final Liga Champions 2012 jadi salah satu buktinya. The Blues yang dihadapkan dengan sebuah kemustahilan lantaran banyak faktor non teknis yang tak berpihak pada Chelsea. Seperti hanya dipimpin oleh pelatih sementara dan bermain tanpa beberapa pemain kunci, termasuk Branislav Ivanovic, Ramires, dan John Terry.
Tanpa John Terry di lini bertahan, Cech jatuh bangun mengamankan gawang The Blues. Pertahanan Chelsea diobok-obok oleh duo sayap Franck Ribery dan Arjen Robben. Dalam laga tersebut, Cech melakukan 6 penyelamatan, termasuk menggagalkan tendangan penalti Robben di babak perpanjangan.
Bak memberikan isyarat, kegagalan Robben menginspirasi Cech untuk menepis lebih banyak penalti. Dan benar saja, dalam babak adu penalti, Cech tak hanya menepis satu atau dua penalti, melainkan tiga penalti dari pemain Bayern Munchen.
Penyelamatan Cech memberi Drogba kesempatan untuk memenangkan trofi bagi Chelsea. Sebagai penendang terakhir, eksekusi penaltinya mulus menembus jala Manuel Neuer. Itu jadi kali pertama Chelsea memenangkan trofi Liga Champions.
Thibaut Courtois vs Liverpool 2022
Kesuksesan Real Madrid di Liga Champions 2022 tak lepas dari penampilan cemerlang sang kiper, Thibaut Courtois.
Aksi Courtois diawali dengan penyelamatannya pada menit 16. Kala itu dirinya menggagalkan tembakan dari Mohamed Salah. Tak tanggung-tanggung, Salah melakukan tiga kali percobaan di babak pertama, dan semuanya bisa digagalkan oleh Courtois.
Praktis, setelah Madrid unggul, Liverpool mengambil alih jalannya pertandingan. Sadio Mane yang tak mau kalah juga melakukan tendangan on target. Namun, dengan reflek yang bagus, semua tendangan Mane dan Salah berhasil dikantongi Courtois.
Selain itu, keputusan-keputusan yang diambil Courtois cukup tepat. Ia tahu kapan waktunya untuk keluar memotong umpan silang atau memetik bola di udara dan kapan waktunya ia harus berdiam di garis gawang untuk menghalau bola.
Pengambilan keputusan merupakan atribut penting bagi seorang penjaga gawang. Pasti para penjaga gawang tahu bahwa ada hukum tak tertulis di mana haram hukumnya bagi penjaga gawang keluar dari kotak kecil, namun tak mendapatkan bola.
Berkat aksinya itu, Courtois berhasil mencetak rekor baru. Ia menjadi penjaga gawang pertama yang berhasil membuat sembilan penyelamatan di partai final Liga Champions. Menurut Opta, jumlah tersebut terbanyak sejak final Liga Champions 2003/2004.
https://youtu.be/6vsvzA028VE
Sumber: Foottheball, UEFA, FourFourTwo, Libero


