Lionel Messi baru saja menghadirkan prestasi lagi bagi Argentina. Setelah Piala Dunia 2022, kini Copa America 2024 pun berhasil ia dapat. Membantu Argentina meraih gelar secara beruntun bukan suatu hal yang biasa bagi Lionel Messi. Karena sebelum berada di titik ini, Messi begitu kesulitan untuk meraih satu trofi internasional untuk tanah kelahirannya itu.
Kegagalan, rasa sakit, hingga perasaan frustrasi harus ditelan bulat-bulat sebelum akhirnya bisa meraih prestasi bersama Argentina. Lantas, bagaimana perjalanan Messi melawan rasa sakit itu? Berikut kisah selengkapnya.
Daftar Isi
Kegagalan Messi di Piala Dunia
La Pulga menjalani debut di kompetisi akbar di Piala Dunia tahun 2006. Ia mencatatkan rekor sebagai pemain termuda dalam sejarah Argentina yang bermain di Piala Dunia saat itu. Sayangnya, di saat dirinya memulai karir internasional, di situ pula serangkaian kegagalan mulai mengiringi perjalanan hidupnya.
Argentina tersingkir di babak perempat final setelah kalah dari Jerman melalui skema adu penalti. Empat tahun berselang, Messi yang telah berevolusi menjadi salah satu pemain terbaik di dunia kembali dipanggil ke tim nasional Argentina yang akan berlaga di Piala Dunia 2010.
Tekanan yang dirasakan Messi lebih besar kali ini. Ia baru saja mendapatkan gelar Ballon d’Or pertamanya saat itu. Pun dengan Argentina yang kembali diunggulkan dalam edisi kali ini. Bagaimana tidak? Karena di Piala Dunia 2010, Albiceleste dilatih oleh sang legenda hidup, Diego Armando Maradona.
Alih-alih membawa Argentina juara, La Pulga bahkan tidak bisa mencetak sebiji gol pun di Piala Dunia 2010. Apakah di Piala Dunia 2014 nasib Argentina membaik? Sayangnya tidak. Nasib Messi malah makin nelangsa karena Argentina gagal di partai puncak. Ini jadi kekalahan paling menyakitkan bagi Messi.
Sebenarnya Argentina lebih banyak menciptakan peluang di pertandingan tersebut. Tapi tidak ada satu pun yang bersarang ke gawang Manuel Neuer. Jerman akhirnya bisa membalikan keadaan, setelah Joachim Loew memasukan sang supersub, Mario Gotze yang mencetak gol kemenangan di menit ke-113.
Kegagalan Messi di Copa America
Hasil yang tak jauh berbeda dialami Lionel Messi di Copa America. Padahal jika diingat-ingat lawan Argentina di Copa America terhitung lebih mudah. Paling Brazil dan Uruguay yang menjadi tim unggulan setiap tahunnya. Tapi ada saja faktor-faktor teknis dan non teknis yang membuat Messi harus menunda gelar juaranya.
Copa America 2007 menjadi ajang pertama baginya untuk tampil di kompetisi terbesar di Amerika Selatan. Berbeda seperti di Piala Dunia 2006, Lionel Messi saat itu sudah menjadi andalan di Timnas Argentina, menyusul performa gemilangnya bersama Barcelona.
Argentina asuhan Alfio Basile mencapai partai puncak dengan rekor sempurna, tak terkalahkan. Namun saat bertemu raja terakhir Brazil, Argentina keok dengan skor 3-0. Kegagalan berikutnya terjadi pada tahun 2011 ketika timnas Argentina bertindak sebagai tuan rumah.
Lionel Messi cs harus puas terhenti di babak perempat final. Argentina kalah dari Uruguay melalui babak adu penalti. Mirisnya lagi, Messi gagal mencatatkan namanya di papan skor. Messi nihil gol di edisi kali ini. Apakah Messi menyerah? Belum.
Kali ini Copa America dilaksanakan dua tahun beruntun, yakni 2015 dan 2016. Ini bisa jadi momentum yang pas untuk bangkit pasca kekalahan di final Piala Dunia 2014. Tapi, gelar juara yang diimpikan justru tinggal kenangan. Di kedua edisi itu, Messi menembus final. Tapi harapan meraih gelar pupus lantaran Argentina kalah di kedua final dari tim yang sama, yakni Chile.
Sempat Pensiun
Lionel Messi terus-terusan gagal di kompetisi internasional. Tak ada gelar yang bisa diraih. Yang ada tangisan demi tangisan meratapi nasib. Messi menjadi sasaran tembak akibat semua hasil tersebut. Penyerang mungil ini mendapat kritik pedas yang berujung dengan munculnya keputusan berani.
Messi yang saat itu baru berusia 29 tahun memutuskan untuk pensiun dari sepakbola internasional. Ini tentu jadi kabar yang menggemparkan bagi semua orang. Apalagi Argentina sedang bersiap untuk kualifikasi Piala Dunia 2018. Tapi apa boleh buat, kegagalan di Copa America 2016 begitu berpengaruh pada mentalnya.
Pemilik delapan gelar Ballon d’Or itu menjadi salah satu penendang penalti yang gagal di final Copa America 2016. Seusai laga, Messi mengumumkan ia pensiun dengan kata-kata yang penuh keputusasaan. Sepakbola membuatnya seperti karyawan yang dikejar deadline. Stres!
Namun, keputusan itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Banyak pihak yang meminta Lionel Messi untuk menarik ucapannya itu. Kawan hingga lawan langsung mengirimkan dukungan kepadanya. Publik Argentina bahkan sampai mengemis agar Messi tak pensiun dini. Mereka berkumpul di pusat kota sambil meneriaki namanya.
Upaya itu ternyata berhasil. Messi tidak jadi pensiun dan bersedia bermain lagi untuk Argentina yang mulai terlunta-lunta di babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Pada akhirnya, Messi memang mengantarkan Argentina ke putaran final Piala Dunia 2018. Tapi Dewi Fortuna tak kunjung berpihak pada Messi. Argentina kembali gagal.
Meraih Gelar Copa America 2021
Menuju Copa America 2021, situasinya semakin rumit. Seluruh masyarakat Argentina telah menjadi saksi bagaimana rentetan kegagalan Lionel Messi bersama Timnas Argentina. Nama Lionel Messi dalam beberapa tahun belakangan lebih sering terkena kritik ketimbang pujian melimpah.
Di tengah keputusasaan fans dan nyinyiran dari para haters, Messi memimpin Tim Tango dengan percaya bahwa badai akan berlalu. Tergabung bersama Uruguay, Paraguay, Chile, dan Bolivia, Argentina akhirnya berhasil mengumpulkan sepuluh poin. Itu sudah cukup untuk memastikan lolos ke babak selanjutnya sebagai juara Grup A.
Kondisi ini membuat Argentina harus menghadapi Ekuador di babak perempat final. Bintang Inter Miami itu memborong satu gol dan dua assist di laga tersebut. Berikutnya, mereka sukses kandaskan perlawanan Kolombia di semifinal melalui drama adu penalti setelah pada waktu normal, kedua tim hanya bermain imbang 1-1.
Tantangan sebenarnya baru tersaji di laga final. Kala itu, tantangan itu berwujud Timnas Brazil. Kegagalan kembali membayang-bayangi laju Messi. Karena kegagalan Argentina dalam menyabet gelar Copa America 2007 disebabkan oleh Tim Samba.
Argentina dan Brazil memulai laga dengan tensi tinggi. Lionel Messi dan Neymar pamer skill pada awal laga. Keduanya pun acap kali menjadi sasaran pelanggaran dari pemain-pemain yang diajak duel. Tapi Tam Tango sedikit unggul dengan solidnya pertahanan yang dikawal Nico Otamendi. Selain itu, Argentina juga tak habis-habisnya menebar ancaman melalui Angel Di Maria dan Lautaro Martinez.
Setelah 22 menit berlalu, gol baru tercipta dari kerjasama Rodrigo De Paul dan Angel Di Maria. Dengan teknik tinggi, Di Maria melepaskan tendangan lob untuk mengelabui penjaga gawang Brazil, Ederson. 1-0 untuk Argentina. Brazil sempat membalas serangan Argentina, tapi skor 1-0 tetap jadi akhir dari babak pertama.
Pada awal babak kedua, pelatih Brazil saat itu, Tite langsung merombak strategi permainan dengan memasukan Roberto Firmino dan menarik keluar Fred. Dengan tambahan pemain di lini depan, Brazil berusaha menambah intensitas untuk lebih menyerang. Sepuluh menit pertama, belum membuahkan hasil. Tite pun memasukan semua penyerang yang dimilikinya.
Dari Vinicius hingga Gabriel Barbosa, semuanya dimainkan dalam laga ini. Namun sayang, Emiliano Martinez terlalu tangguh di bawah mistar Argentina. Sempat ada tambahan waktu lima menit diberikan wasit. Tapi, tetap tidak ada gol yang tercipta. Argentina pun menang 1-0.
Lionel Messi resmi memberikan gelar Copa America pertamanya bagi Argentina. Kemenangan ini adalah segalanya bagi Messi. Tapi apakah Copa America 2021 adalah garis finis dari kisah manis Argentina? Tentu tidak. Ini justru jadi awal kebangkitan Albiceleste.
Berlanjut di Piala Dunia 2022
Bermodalkan juara Copa America 2021, Argentina terlihat lebih siap dari biasanya untuk mengikuti ajang Piala Dunia Qatar. Tanpa meremehkan Prancis atau Brazil, komposisi pemain dan kualitas mental, Argentina jadi salah satu yang terbaik di edisi tersebut. Seperti sudah sepatutnya mereka jadi tim terbaik di Piala Dunia 2022.
Meski demikian, Argentina gagal mengawali babak penyisihan grup dengan manis. Itu karena Argentina ditekuk oleh wakil Asia, Arab Saudi dengan skor 2-1. Awalnya tampak berjalan sesuai rencana bagi Argentina setelah Lionel Messi mencetak gol dari titik penalti di sepuluh menit awal. Tapi dua gol Arab Saudi di babak kedua telah mengejutkan Argentina, bahkan dunia sepakbola.
Namun, setelah itu Argentina bisa bangkit. Lionel Messi memimpin tim untuk menyapu bersih dua laga berikutnya melawan Meksiko dan Polandia dengan kemenangan. Ini membuktikan bahwa meski memiliki awal yang buruk, Argentina bisa mengatasi situasi sulit itu.
Di babak gugur, Argentina bermain kian ngotot. Determinasi setiap pemainnya hampir tak terbendung. Kerja keras setiap pemain terlihat sekali di kompetisi ini. Menghadapi Australia di babak 16 besar jadi laga ke-1000 bagi Messi. Pemain Inter Miami itu pun merayakannya dengan mencetak gol di menit ke-35.
Gol kedua Argentina lahir di babak kedua. Kali ini, aktornya adalah Julian Alvarez. The Next Sergio Aguero itu menggandakan keunggulan usai memanfaatkan kesalahan fatal di lini pertahanan Australia. The Socceroos sempat membalas satu gol di babak kedua. Tapi kemenangan Argentina sudah tak terelakan.
Drama terjadi di perempat final saat Argentina dihadang Belanda. Jika ada pertandingan Piala Dunia 2022 yang dapat dikategorikan sebagai drama terbaik, maka predikat tersebut sangat layak disematkan kepada laga ini. Karena laga antara Belanda dan Argentina sarat akan intrik dan kontroversi
Kedua tim saling berbalas gol. Hingga pada akhirnya laga berakhir dengan skor 2-2 di waktu normal. Adalah Wout Weghorst yang menjadi sosok dibalik tertundanya kemenangan Argentina. Masuk di babak kedua, dirinya berhasil mencetak dua gol yang masing-masing tercipta di menit ke-83 dan menit ke-11 injury time.
Karena tidak ada gol yang tercipta di dua kali 15 menit, siapa yang pulang harus ditentukan melalui adu penalti. Sepakan Virgil van Dijk dan Steven Berghuis sukses dimentahkan oleh Emi Martinez. Argentina pun menang usai eksekusi Lautaro Martinez memastikan skor akhir menjadi 4-3.
Juara Dunia
Di semifinal, Kroasia bukan masalah berarti bagi Argentina. Mereka bahkan menang dengan tiga gol tanpa balas. Messi kembali keluar sebagai pemain terbaik berkat satu gol dan satu assistnya di laga tersebut. Melaju ke final, Argentina sudah dinanti oleh sang juara bertahan, Prancis.
Meski begitu, Messi tak gentar. Mereka ingin menunjukan bahwa Argentina juga punya mental juara. Argentina mencoba memegang kendali permainan di awal babak pertama. Serangkaian ancaman pun dilancarkan anak asuh Lionel Scaloni, tetapi masih belum ada yang berbuah gol.
Gol baru tercipta di menit 21. Argentina mendapat hadiah penalti usai Di Maria dilanggar Ousmane Dembele di kotak terlarang. Messi yang menjadi algojo pun sukses memperdaya Hugo Lloris. Unggul lebih dulu tak langsung membuat Argentina puas diri. Mereka tetap melayangkan serangan demi serangan ke pertahanan Les Bleus.
Di Maria akhirnya berhasil menggandakan keunggulan lewat golnya pada menit ke-36. Tertinggal dua gol, Didier Deschamps mengambil keputusan mengejutkan dengan menarik keluar Olivier Giroud dan Dembele dan digantikan Randal Kolo Muani dan Marcus Thuram. Namun belum ada gol balasan di babak pertama.
Kembali dari kamar ganti, Prancis mencoba meningkatkan intensitas serangan mereka. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya membuahkan hasil juga. Prancis memperoleh hadiah penalti pada menit ke-79 usai Otamendi melanggar Kolo Muani. Mbappe yang menjadi eksekutor pun sukses menaklukkan Emiliano Martinez.
Hanya berselang sekian detik, Mbappe lagi-lagi menggetarkan jala gawang Dibu, kali ini lewat tembakan voli yang ciamik. Skor pun menjadi sama kuat 2-2. Skor ini pun berakhir hingga peluit panjang dibunyikan. Drama pun berlanjut di babak Extra Time. Argentina kembali unggul melalui aksi Lionel Messi yang memanfaatkan bola liar di mulut gawang.
Kemenangan di depan mata milik Argentina kembali pupus setelah Prancis mendapat hadiah penalti pada menit ke-117. Sebagai eksekutor, Mbappe pun sukses menyamakan skor menjadi 3-3. Laga kembali berlanjut ke babak adu penalti. Di babak ini, Kingsley Coman dan Aurelien Tchouameni gagal menyarangkan bola ke gawang Emi. Argentina pun keluar sebagai pemenang dengan skor 4-2.
Dengan gelar ini, Lionel Messi secara sah ‘menamatkan’ sepakbola. Ia meraih semua yang bisa diraihnya. Gemerlapnya karier Messi tak pernah bisa disangkal, bahkan oleh Cristiano Ronaldo sekalipun.
Back to Back Copa America
Meski sudah menamatkan sepakbola, tren positif Argentina tidak berhenti disitu. Mereka kembali tampil luar biasa di Copa America 2024. Lionel Messi cs tak terkalahkan hingga pada akhirnya menang 1-0 atas Kolombia di laga final. Meski absen menyumbangkan gol dan tak bermain penuh dalam laga final, La Pulga tetap jadi sosok paling berpengaruh di balik kesuksesan ini.
Tapi Messi tak akan bisa jika melalui semuanya sendirian. Jika tanpa bantuan kecerdasan taktik Lionel Scaloni, tekel-tekel bersih Lisandro Martinez, dan gol semata wayang Lautaro Martinez di laga final, status juara back to back Copa America tak akan disandang oleh Messi. Kini, dirinya bisa menutup karier sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
Sumber: BBC, Goal, Al-Jazeera, FIFA, Bola.net


