Banyak yang sudah tahu bahwa era Jurgen Klopp adalah era kebangkitan Liverpool. Memang, di bawah tangan dingin Klopp, Liverpool disulap jadi sebuah klub yang bisa kembali bersaing dalam perebutan gelar Premier League. Bahkan di tingkat eropa dengan merengkuh gelar Champions League.
Meskipun begitu, masih ingatkah bagaimana hebatnya Liverpool di era 2000-an awal? Ya Liverpool punya era kejayaan mereka bahkan sebelum era keajaiban istanbul pada tahun 2005. Memang Di 2000-an awal, Liga Inggris sedang dikuasai oleh dua poros kekuatan. Yaitu Manchester United dan Arsenal. Dengan rivalitas Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger yang panas itu.
Tapi di tahun 2001, Liverpool pernah secara perkasa mengangkat lima piala sekaligus. Ya, di musim 2000/01 mereka meraih mini treble, yaitu FA Cup, Worthington Cup yang sekarang berganti nama menjadi Carabao Cup, dan Europa League. Kemudian di awal musim 2001/02 the reds mengawinkan tiga gelar itu dengan dua gelar lainnya. Yaitu UEFA Super Cup dan Community Shield.
The Trophy haul of Liverpool FC in 2001. @LFCBoston @LFCMostar @LFC @LFCXtra pic.twitter.com/rvNwdIPV2x
— “YNWA” The Story of Liverpool FC (@LFCHistoryShow) December 5, 2015
Sebelum ada yang protes soal treble yang diraih Liverpool itu bukanlah treble yang sesungguhnya, kalian memang benar. Namun, mendapatkan tiga gelar, apalagi ditambah dua piala lagi dalam satu tahun adalah pencapaian yang impresif. Meskipun itu tanpa gelar Liga Champions dan Liga Inggris. Jadi bagaimana proses dan perjalanan The Reds mendapatkan lima Piala dalam satu tahun itu?
Daftar Isi
Mengenal Gerard Houllier
Sebelum itu, ada baiknya kita mengenal Gerard Houllier, sang pelatih Liverpool saat itu. Ia awalnya bekerja sama dengan legenda Liverpool, Roy Evans sebagai manajer klub. Tapi di tahun 1998 Roy Evans yang sudah melatih sejak tahun 1994 mengundurkan diri dan Houllier memegang kendali penuh di kursi kepelatihan.
On This Day in 1998 Gerard Houllier became joint-manager of Liverpool. After four months he took sole charge and led us to a UEFA Cup, FA Cup, two League Cups and a UEFA Super Cup.
All Reds will be forever grateful for everything he did for the club
— The Anfield Wrap (@TheAnfieldWrap) July 16, 2021
Di Liverpool, Houllier memiliki andil besar dalam proses modernisasi klub. Ia juga dikenal pintar dalam memoles bakat pemain muda. Ia berjasa dalam pengembangan talenta muda seperti Michael Owen dan Steven Gerrard. Owen bahkan sampai bisa mendapatkan Ballon d’Or di usia muda.
Terlepas dari itu sebenarnya ada misi penting dibalik penunjukan Houllier sebagai pelatih. Yaitu mengembalikan kejayaan Liverpool di kancah Eropa. Tapi kesuksesan tidak datang begitu saja. Musim-musim pertamanya di Anfield, ia hanya bisa finis tidak lebih tinggi dari peringkat tiga Liga Inggris. Kejayaan Gerard Houllier bersama liverpool datang tiga musim setelahnya, yaitu di musim 2000/01.
Piala Liga
Trofi pertama yang dimenangkan adalah Piala Liga Inggris yang saat itu masih bernama Worthington Cup. Kalau sekarang, kompetisi itu bernama Carabao Cup. Perjalanan Liverpool di Piala Liga langsung diawali bertemu dengan Chelsea. Robbie Fowler jadi pahlawan di pertandingan itu setelah mencetak gol di babak tambahan waktu.
Kemudian di ronde berikutnya, mereka berhasil mengalahkan Stoke City dengan skor telak 8-0 dengan Fowler mencetak hattrick. Di perempat final, Liverpool mengalahkan Fulham dengan skor 3-0. Tiga gol itu tercipta dari babak tambahan waktu.
Untuk babak semifinal, Piala Liga saat itu menggunakan sistem dua leg. Di leg pertama, Liverpool menderita kekalahan melawan klub kasta kedua, Crystal Palace. Tapi mereka bisa membalasnya di leg kedua di Anfield dengan skor telak 5-0.
Tibalah mereka di partai final, dimana Birmingham sudah menanti mereka. Birmingham sendiri adalah tim kuda hitam yang tidak banyak menyangka bisa sampai ke final pada saat itu. Sebab, Birmingham saat itu merupakan klub yang berada di peringkat kelima kasta kedua Liga Inggris.
Tapi ternyata mereka bisa memberikan perlawanan. Setelah pertandingan berakhir dengan skor 1 sama berkat gol dari Robbie Fowler dan Darren Purse, laga dilanjutkan ke babak adu penalti. Tapi untungnya Liverpool punya penendang penalti ulung. Ditambah sang kiper, Sander Westerveld yang menyelamatkan dua tendangan penalti dari pemain Birmingham. Sekaligus membuat Liverpool keluar sebagai juara.
[📚🔴] HISTORIA #LIVERPOOL
🏆 𝗧𝗮𝗹 𝗱𝗶́𝗮 𝗰𝗼𝗺𝗼 𝗵𝗼𝘆2️⃣0️⃣0️⃣1⃣
🏟️ Se cumplen 2️⃣1⃣ que ganábamos Worthington Cup ante el #BCFC.
📆 25/02/2001
⚽ #LFC 1 (5) – 1 @BCFC (4)📝 Primer trofeo de la era Houllier con @Carra23 y @sawe74 como actores principales. pic.twitter.com/7IgWMrq829
— EstoEsAnfield ⭐⭐⭐⭐⭐⭐ (19🏆) (@estoesanfield_) February 25, 2022
Memang, Piala Liga bukanlah piala yang begitu bergengsi di tanah Britania Raya. Tapi banyak yang percaya, kemenangan ini lah yang menjadi pijakan kepercayaan diri anak asuh Houllier.
FA Cup
Tiga bulan setelah merengkuh gelar Piala Liga, the reds kembali menyabet gelar juara. Kali ini lebih bergengsi dari sebelumnya, yaitu FA Cup musim 2000/2001. Ini bakal jadi final Piala FA yang paling dikenang oleh fans the reds. Pasalnya mereka mengalahkan Arsenal di laga final yang dramatis.
Arsenal saat itu diperkuat oleh pemain top kelas Eropa seperti Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires, dan lainnya. Ditambah tangan dingin dari Arsene Wenger yang meracik strategi. Sebelum sampai ke final, Arsenal juga sudah teruji dengan mengalahkan Tottenham, Blackburn Rovers, dan Chelsea di babak sebelumnya.
Keperkasaan Arsenal terbukti setelah mereka unggul terlebih dahulu di menit ke-73. Penonton saat itu menduga Arsenal akan menjadi juaranya. Tapi Michael Owen secara heroik mencetak dua gol balasan di menit ke-83 dan 88. Dua gol itu cukup untuk mengakhiri laga dengan kemenangan. Ini adalah gelar FA Cup pertama mereka dalam 9 tahun.
Marcus Babbel. Liverpool. FA Cup & treble winner 2001. #Liverpool #LFC #Cardiff #FACup #Germany ❤️ pic.twitter.com/WHDy7bPXBd
— “YNWA” The Story of Liverpool FC (@LFCHistoryShow) April 9, 2022
UEFA Europa League
Setelah mendapatkan dua piala di tangan, kini hanya tersisa satu trofi lagi yang berada di depan mata. Liverpool yang berada di peringkat ketiga, sudah tidak bisa mengejar Manchester United yang berada di puncak klasemen liga Inggris. Jadi satu-satunya trofi yang bisa melengkapi gelar treble adalah Europa League.
Liverpool sampai ke laga final Europa League setelah melalui pertarungan yang panjang. Setelah mengalahkan AS Roma di babak perdelapan final, kemudian menghempaskan FC Porto di perempat final, dan menghempaskan Barcelona di babak semifinal. Steven Gerrard CS siap menghadapi Deportivo Alaves di partai final.
Alaves memang bukan klub yang dikenal, bahkan di kompetisi kasta kedua eropa tersebut. Tapi bukan berarti mereka tanpa perlawanan. Liverpool bisa unggul 2-0, lalu skor berubah menjadi 3-1, kemudian Alaves mampu menyamakan kedudukan menjadi 3 sama.
Drama tidak berhenti sampai situ, setelah skor berubah lagi menjadi 4-4 sebelum peluit panjang dibunyikan. Pertandingan dilanjutkan dengan sistem golden goal yang sebenarnya problematik. Di menit ke-116, Delfi Geli yang malang mencetak gol bunuh diri. Dengan gol itu, Liverpool keluar jadi juara. Lengkap sudah mini treble winner mereka di musim itu.
Gérard Houllier en 2001 c’est la Coupe de l’UEFA, la Supercoupe de l’UEFA, la Coupe d’Angleterre, la Coupe de la Ligue (ainsi qu’en 2003) et le Community Shield.
Mais c’est surtout celui qui a lancé le meilleur Box to Box de l’histoire et la Légende de Liverpool.Merci coach. 🕯 pic.twitter.com/EKydGp9HCh
— Le Duc de Normandie (@DucNormandie) December 14, 2020
The Treble Heroes
Treble winner ini memang tidak se-bergengsi milik Manchester United di tahun 1999. Bahkan treble winner milik Liverpool ini menjadi bahan olok-olokan para fans rival. Mereka menyebutnya sebagai “Mickey Mouse Treble” dan “Plastic Treble”, mengacu kepada ketiga piala tersebut bukanlah kompetisi yang dianggap serius.
United fans made this banner about Liverpool’s treble in 2001. How times change… pic.twitter.com/6CmBtV0v9B
— Rousing The Kop (@RousingTheKop) May 24, 2017
Tapi tetap saja, itu impresif. Dan Gerard Houllier tidak bisa meraihnya tanpa bantuan dari anak asuhnya. Selain Jamie Carragher dan Robbie Fowler yang memang sudah familiar di telinga publik Anfield, ada juga beberapa nama baru.
Seperti Markus Babbel yang musim itu baru didatangkan dari Bayern Munchen. Babbel dengan cepat mampu beradaptasi dan menjelma jadi bek sayap yang sangat konsisten. Kemudian juga ada Gary McAllister, yang ketika pindah ke Liverpool sudah berusia 35 tahun.
Tapi ia menjadi contoh pembelian bebas agen yang baik untuk klub-klub lain. Dengan pengalamannya, ia langsung jadi pemain favorit para fans. Terlebih lagi setelah penampilan apiknya di laga melawan Everton dan Barcelona.
Kemudian tentu saja ada duet anak emas Michael Owen dan Steven Gerrard. Kisah kedua anak itu tidak usah diceritakan lagi. Gerrard berhasil disulap jadi legenda Liverpool. Sementara Michael Owen mampu menyihir dunia, sampai akhirnya di tahun itu mampu mendapatkan Ballon d’Or ketika usianya baru 22 tahun. Mengalahkan Raul Gonzalez, Oliver Kahn, dan David Beckham.
Kawinkan dengan Dua Trofi Lain
Setelah melakukan parade besar-besaran di kota Liverpool dengan tiga pialanya. The Reds masih lapar. Di musim setelahnya, mereka punya kesempatan untuk mengawinkan gelar treble dengan dua trofi lain yang ada di depan mata. Pada tanggal 12 Agustus 2001, Liverpool menghadapi pemenang Liga, Manchester United untuk memperebutkan gelar Community Shield.
Meski tidak menurunkan penyerang andalan mereka, Robbie Fowler, The Reds masih bisa menang dengan skor 2-1. Gol pertama hadir ketika laga baru berjalan dua menit lewat tendangan penalti McAllister. Kemudian di menit ke-16, Michael Owen mampu menggandakan keunggulan. MU hanya bisa membalas lewat gol dari van Nistelrooy di menit ke-51. Pertandingan pun berakhir dengan Liverpool sebagai juaranya.
2001 Sami Hyypia lifts the Community Shield after @LFC beat Utd 2-1 in Cardiff pic.twitter.com/kUfrx5eRDd
— Firmino (@brazilegend10) March 2, 2020
Hanya 12 hari berselang, anak asuh Gerard Houllier mengangkat piala lagi. Kali ini gelar UEFA Super Cup yang mempertemukan juara Europa League dengan pemenang Liga Champions. Di situ, Liverpool berjumpa dengan Bayern Munchen.
Menghadapi juara kompetisi kasta tertinggi benua eropa, Liverpool justru mampu unggul lebih dulu. Bahkan mereka unggul tiga gol lewat gol dari John Arne Riise di menit ke-23, Emile Heskey di menit ke-45, dan Michael Owen di menit ke-46.
Pasukan the reds sempat panik ketika Bayern Munchen mampu mencetak dua gol balasan. Yaitu lewat gol dari Salihamidzic di menit ke-57 dan Jancker di menit ke-82. Tapi tidak ada gol tercipta setelah itu. Liverpool berhasil mengalahkan juara eropa dan melengkapi perolehan 5 piala mereka di tahun 2001.
Itu jadi tahun paling menyenangkan untuk menjadi fans Liverpool. Perjalanan panjang mengangkat 5 piala sekaligus di tahun 2001. Ini jadi pijakan awal kebangkitan Liverpool di era modern. Dimana Liverpool mendapatkan kembali harga dirinya di panggung Liga Inggris dan Eropa.
Sumber referensi: Daily, Guardian, Transfermarkt, Fandom, Anfield, Sky, UEFA


