Jika ingin bernostalgia tentang kejayaan timnas Argentina, 2010 bukanlah waktu yang tepat. Tapi jika ingin mengingat betapa gilanya Argentina di Piala Dunia, maka 2010 adalah waktu yang paling cocok. Oke, kata gila mungkin berlebihan. Tapi kata apalagi yang pas untuk menggambarkan langkah Argentina yang nekat merekrut Maradona menjadi pelatih di turnamen sepenting Piala Dunia?
Daftar Isi
Maradona Minim Pengalaman Melatih
Maradona memang legenda Albiceleste. Tidak ada keraguan dalam hal itu. Semua pendukung Argentina tahu bagaimana hebatnya Maradona membawa Argentina menjuarai Piala Dunia tahun 1986. Tapi Maradona adalah pribadi yang punya banyak masalah. Di Piala Dunia terakhirnya pada tahun 1994, Maradona bahkan kedapatan memakai Narkoba. Ia pun akhirnya harus dideportasi di tengah-tengah kompetisi.
Star player in 1986, disgraced in 1994, manager in 2010, fan in 2014 and 2018.
Diego Maradona has long been synonymous with the World Cup.@SamLee went to Argentina and found that the country’s favourite son still looms large over the class of 2022, two years on from his death.
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) December 7, 2022
Akibat dari gaya hidupnya yang tidak teratur itu juga berpengaruh pada kesehatannya. Bahkan di tahun 2004, banyak yang mengira Maradona akan meninggal dunia setelah terkena penyakit jantung. Maradona juga pernah masuk ke panti rehabilitasi di tahun 2007. Tapi, itu bukan satu-satunya alasan kenapa memilih Maradona sebagai pelatih Argentina adalah hal yang gila.
Melainkan, Maradona tidak punya pengalaman melatih sebelumnya. Atau lebih tepatnya, pengalaman melatihnya sangat minim. Sebelumnya terakhir kali dirinya menjadi pelatih adalah di dekade 90-an. Itu pun hanya sebentar. Maradona pernah melatih klub Deportivo Mandiyu dan Racing Club. Di kedua klub itu, ia hanya menjalani 23 pertandingan dan hanya pernah tiga kali menang.
Tidak ada alasan Argentina memilih Maradona sebagai pelatih. Apalagi jika dilihat kebelakang, tim tango sebenarnya tidak berada di posisi yang genting sehingga membutuhkan pergantian pelatih. Bersama pelatih sebelumnya, Alfio Basile Argentina menjalani 10 pertandingan terakhir mereka hanya dengan dua kali kekalahan.
🇦🇷 Nonostante non allenasse da più di 10 anni, nel 2008 Maradona venne chiamato dall’AFA a sostituire Alfio Basile come CT dell’Argentina.
🗯️ Basile si era dimesso in maniera “torbida” e si dice che Julio Grondona designò Maradona principalmente per una questione di marketing. pic.twitter.com/9hXtaURtqd
— Giacomo Cobianchi (@G_Cobianchi) October 27, 2022
Tapi, Argentina mengalami kekalahan 1-0 melawan Chile di salah satu laga tersebut. Itu dianggap sangat memalukan. Akhirnya Balise memutuskan untuk mengundurkan diri dan digantikan oleh Maradona di tahun 2008. Sekaligus untuk bersiap untuk berangkat ke Afrika Selatan.
Perjalanan Menuju Afrika Selatan
Begitulah bagaimana Argentina akhirnya merekrut Maradona sebagai sebagai pelatih baru. Kenapa Maradona? Mungkin federasi sepak bola Argentina berbekal keyakinan buta ingin sekali lagi memanfaatkan magis Maradona di Piala Dunia. Atau mungkin alasan marketing semata. Terlepas dari itu perjalanan Argentina di tangan Maradona sudah tidak terlalu meyakinkan sejak pertandingan kualifikasi.
Maradona secara mengejutkan bisa membawa tim tango berpesta gol di laga kualifikasi pertamanya. Argentina menang melawan Venezuela dengan skor 4-0. Itu tentu saja awal yang menggembirakan, sekaligus mengejutkan publik.
Di pertandingan setelahnya, Argentina dibantai 6-1 oleh Bolivia. Kekalahan itu tidak hanya memalukan, tapi membuat Argentina berada di posisi yang sulit. Mereka terlempar ke posisi 5 grup Conmebol yang berisikan 10 tim. Padahal untuk bisa langsung lolos ke putaran final Piala Dunia, mereka harus berada di empat besar.
Di pertandingan selanjutnya melawan Kolombia, Maradona mendapatkan cemoohan setelah memasukan Veron yang berusia 34 tahun kedalam starting lineup. Tapi Maradona bisa membawa Argentina menang dengan skor 1-0. Namun, Argentina masih saja berada di posisi kelima. Mereka harus bisa naik dengan dua laga tersisa.
Dua pertandingan terakhir itu dijalani Maradona dengan sangat dramatis. Yang pertama, melawan Peru. Argentina bisa menang berkat gol telat Martin Palermo di menit ke-94. Lalu di pertandingan setelahnya melawan Uruguay, Maradona kembali diselamatkan oleh gol telat di menit akhir. Kali ini Mario Bolatti yang mencetak gol di menit ke-84. Argentina pun bisa langsung lolos ke putaran final Piala Dunia 2010.
Paging through the archives I came across this radio story I did in 2010 about Maradona trying to return to glory as Argentina’s World Cup coach. I’d forgotten his belly slide across the River Plate field. Starts at 07:39 (cc @thackerpd ) https://t.co/yBVd5qy48E via @OnlyAGameNPR pic.twitter.com/Ms40QWVCRv
— Ian Mount (@IanMount) November 25, 2020
Kontroversi Pemilihan Skuad
Membawa Argentina berada dalam posisi bahaya ketika menjalani pertandingan kualifikasi membuat Maradona mendapatkan banyak kritikan. Tapi tidak sampai situ saja, Maradona mendatangkan kontroversi ketika mengumumkan skuad yang akan ia bawa ke Afrika Selatan. Lebih tepatnya, daftar nama yang ia pilih menimbulkan banyak pertanyaan.
Seperti tidak dipanggilnya Esteban Cambiasso dan Javier Zanetti dalam skuad final. Padahal kedua pemain itu baru saja menjalani musim yang mengagumkan bersama Inter Milan. Mereka juga menjadi bagian penting treble winner bersejarah Inter.
Dan yang jadi kontroversi adalah pemanggilan Ariel Garce. Jika kalian tidak tahu siapa Ariel Garce, jangan malu. Karena tidak ada yang tahu siapa itu Ariel Garce sebelum ia masuk daftar skuad Maradona. Ia adalah pemain bertahan dari klub lokal kelas papan tengah. Rumornya, Maradona memanggil Garce karena Maradona melihatnya dalam mimpi. Dalam mimpinya itu, Garce bersama mengangkat Piala Dunia bersama Argentina.
Easy choice =>Maradona
Reason =>Zanetti was left out, despite a treble-winning season with Inter & an unknown defender Ariel Garce was called up because Maradona had a dream that Argentina won the tournament, and Garce was the only player he could remember from that dream 😎😎😎 pic.twitter.com/qBdX93oEll— Sivan John 🇦🇷 (@SivanJohn_) April 12, 2020
Keanehan pemilihan skuad Maradona menjadi jelas ketika seorang jurnalis dari Argentina menjelaskan metode aneh Maradona. Dikutip dari Guardian, apa yang Maradona sejak pertama kali lakukan ketika mengambil alih Argentina adalah menetapkan satu orang sebagai kunci. Adn orang itu adalah itu adalah Javier Mascherano. Maradona juga berkata secara langsung “timnya nanti akan menjadi Mascherano ditambah 10 orang.”
Maradona dan Messi
Pemain lain yang jadi kunci bagi Maradona tentu saja Lionel Messi. Di tahun 2010, Messi adalah superstar baru setelah menjalani musim-musim menakjubkan bersama Barcelona. Ia juga baru saja mendapatkan Ballon d’Or di tahun 2009. Messi sudah menjadi pemain terbaik di dunia, sama seperti Maradona dulu. Hubungan mereka pun sangat erat selama gelaran turnamen.
Messi bahkan diberikan nomor punggung 10. Nomor punggung yang lekat dengan Maradona sebelumnya. Messi juga diberikan kepercayaan sebagai wakil kapten di Argentina. Ketika Mascherano tidak dimainkan di pertandingan ketiga fase grup, Messi lah yang mengenakan ban kapten.
Lionel Messi (Argentina) and Diego Maradona (head coach of Argentina)
FIFA World Cup South Africa2010,
Argentina vs Nigeria1-0 at Ellis Park Stadium
in Johannesburg, South Africa on 12 June 2010
photo by Masahde Tomikoshi/TOMIKOSHI PHOTOGRAPHY pic.twitter.com/yVawfD6NRY— tphoto (@tphoto2005) November 27, 2022
Maradona juga memberikan kebebasan kepada Messi dalam bermain. Ia mengatakan tidak ingin terpaku memasang Messi di ujung kanan. Maradona membebaskan Messi untuk berkreasi di lini serang tim tango. Ia bahkan berkata secara langsung, bahwa semua serangan harus bermula dari kaki Messi.
Memuncaki Grup
Pernyataan dari Maradona itu bisa berarti dua hal, entah ia memang mengakui kehebatan Messi di atas lapangan. Atau dirinya minim kemampuan dalam meracik formasi dan strategi. Tapi dari keanehannya sejak pemilihan skuad sebelumnya, halal hukumnya untuk menganggap Maradona sebenarnya memang tidak tahu apa yang ia lakukan sebagai manajer.
Meskipun begitu, kejutan lain terjadi ketika Piala Dunia dimulai. Kejutan terbesar malah. Argentina tergabung dalam Grup B bersama Nigeria, Korea Selatan dan Yunani. Maradona berhasil membawa tim tango finis sebagai pemuncak grup.
Mereka mengalahkan Nigeria dengan skor 1-0 di laga pembuka. Lalu membantai Korea Selatan dengan skor 4-1. Kemudian di laga pamungkas melawan Yunani, Albiceleste menuntaskannya dengan dua gol tanpa balas.
Meskipun begitu, Maradona tidak lepas dari kritik. Setelah kemenangan perdananya melawan Nigeria, Ia dinilai tidak memiliki kemampuan sebagai pelatih. Kritikan itu dilontarkan oleh legenda sepak bola Pele dan Michel Platini.
2010 World Cup: Argentina coach Diego Maradona tells Pele to ‘go back to the museum’ – http://tinyurl.com/24sdqml
— ESPN (@espn) June 16, 2010
Maradona membalas kritikan itu tidak kalah pedasnya. Ia berkata “Pele seharusnya kembali saja ke museum. Dan untuk Platini, kita semua tahu bagaimana orang Prancis itu. Mereka selalu menganggap lebih baik daripada yang lain.”
Akhir Perjalanan
Maradona tentu punya percaya diri yang tinggi setelah memuncaki fase grup. Ditambah, Argentina berhasil mengalahkan Meksiko di babak 16 besar. Kepercayaan diri Maradona berada di atas langit. Tapi, hasil yang tidak terlalu mengejutkan hadir di babak perempat final. Argentina dibantai oleh Jerman dengan skor 4-0.
🇩🇪 On this day 12 years ago, Germany defeated Argentina 4-0 in the quarter-finals of the 2010 World Cup.
⚽️ 20-year-old Thomas Müller scored the first goal in the 3rd minute. pic.twitter.com/5hQabL6R6A
— Bayern & Football (@MunichFanpage) July 3, 2022
Dengan begitu, berakhir lah rezim tangan tuhan di Argentina. Federasi sepak bola Argentina memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Maradona. Kiprah kepelatihan Maradona di Argentina memang banyak “cacat”nya. Ia bahkan membuat Messi tidak mencetak gol sama sekali sepanjang turnamen.
Maradona juga dinilai sudah menghilangkan permainan khas Amerika Latin yang mengandalkan kreativitas gelandang dalam diri Argentina. Itu setelah ia memutuskan untuk memanggil Veron yang sudah tua ketimbang Riquelme sebagai gelandang kreatif.
Setelah Piala Dunia, ia sempat mengambil pekerjaan manajerial di Uni Emirate Arab. Itu terasa seperti liburan daripada karir pelatihan yang profesional. Di tahun 2016, Maradona juga sempat ingin melatih Argentina kembali meskipun tidak dibayar. Itulah Maradona dengan kegilaannya. Bahkan setelah ia pensiun sebagai pemain, dirinya tetap memberikan hiburan kepada penikmat bola. Mau bagaimanapun, sebutan legenda tidak akan luntur dari namanya.


