SANGAR! Pemain Ini Raih EURO dan Liga Champions dalam SETAHUN

spot_img

Gelar Juara Liga Champions dan Piala Eropa adalah dua gelar prestisius Benua Biru yang tak mudah diraih oleh satu pemain dalam satu musim sekaligus. Akan tetapi setelah ditelusuri sejarahnya, ternyata sudah tercatat beberapa pemain yang sukses meraih dua gelar prestisius tersebut dalam satu musim. Siapa saja sih pemain tersebut?

Kwartet PSV dan Belanda 1987/88

Yang pertama ada kwartet PSV Eindhoven asal Negeri Kincir Angin yakni Hans Van Breukelen, Berry van Aerle, Gerald Vanenburg, dan Ronald Koeman. Mereka tergabung di skuad PSV Eindhoven racikan Guus Hiddink pada musim 1987/88.

Kesuksesan PSV musim tersebut tak main-main. Mereka meraih treble winner yakni juara Eredivisie, Piala KNVB, dan Liga Champions. Kwartet tersebut bahkan mampu menjadi elemen inti bagi kesuksesan PSV.

PSV dibangun berdasarkan soliditas pertahanan, semangat tim, dan fleksibilitas. Hans van Breukelen adalah penjaga gawang yang solid. Perannya di Final Liga Champions begitu berpengaruh. Tepisannya menjadi penentu kemenangan PSV atas Benfica di babak adu penalti sekaligus membawa gelar juara bagi PSV.

Lalu peran bek sayap kanan agresif Berry Van Aerle yang sempat dijuluki “Turbo Berry” karena kecepatannya. Sedangkan di sektor gelandang ada peran penjelajah Gerald Vanenburg yang mampu menjadi jenderal di lini tengah.

Kwartet tersebut kebetulan sama-sama dari Belanda. Tak khayal kalau kemudian mereka juga masuk dalam jajaran skuad De Oranje asuhan Rinus Michel yang dipersiapkan menuju Euro 1988 di Jerman Barat.

Meski pada masa Euro 1988, Belanda terkenal dan berjaya dengan nama-nama beken seperti Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco Van Basten, namun kwartet PSV tadi berperan penting di dalam sistem Total Football ala Rinus Michel.

Contohnya, salah satu sumbangan gol Ronald Koeman ke gawang tuan rumah Jerman Barat di babak semifinal yang mengantarkan Belanda ke final. Pada akhirnya De Oranje mampu meraih gelar juara Euro 1988 setelah mengalahkan Uni Soviet 2-0 di final.

Christian Karembeu dan Nicolas Anelka (Real Madrid dan Prancis 2000)

Yang berikutnya ada duo Prancis yang memperkuat Real Madrid di tahun 2000, yakni Christian Karembeu dan Nicolas Anelka. Karembeu adalah gelandang bertahan berambut gimbal yang saat itu menjadi bagian dari skuad El Real asuhan Vicente Del Bosque. Sementara Anelka adalah striker muda yang baru didatangkan dari Arsenal.

Peran kedua pemain tersebut di Los Blancos memang hanya pelapis belaka. Karembeu masih kalah saing dengan Fernando Redondo, Guti, maupun McManaman. Tapi ia juga punya sumbangsih satu gol di babak grup pertama Liga Champions ketika melawan Molde.

Lalu kalau Anelka, di bawah bayang-bayang lini depan striker senior seperti Raul dan Morientes namun ia mampu mencetak 7 gol di semua kompetisi bagi El Real. Melangkahnya El Real ke final ketika mengalahkan Munchen, juga berkat sumbangan gol dari Anelka.

Meski Anelka mandul di final dan Karembeu tidak bermain, bagaimanapun perjuangan mereka musim tersebut sedikit berpengaruh dalam membawa Los Merengues merengkuh trofi si kuping besar musim 1999/00.

Sumbangsih mereka di Real Madrid kemudian dicatat oleh pelatih timnas Prancis, Roger Lamerre untuk masuk skuad Le Blues di Euro 2000. Namun peran Anelka dan Karembeu tak sebagus di Real Madrid. Tapi di timnas, Anelka tak mampu cetak gol maupun assist satupun, sedangkan Karembeu malah hanya main sekali saja.

Anelka masih kalah saing dengan Dugarry, Henry, maupun Trezeguet. Sedangkan Karembeu kalah saing dengan pemain seperti Djorkaeff, Petit, Vieira, maupun Deschamps. Namun beruntungnya, mereka ikut bahagia menjadi bagian skuad juara Le Blues merayakan pesta kemenangan atas Italia lewat Golden Goal dari Trezeguet.

Juan Mata dan Fernando Torres (Chelsea dan Spanyol 2012)

Yang berikutnya ada duo timnas Spanyol yang berseragam Chelsea di tahun 2012, yakni Fernando Torres dan Juan Mata. Dua pemain tersebut adalah bagian penting The Blues racikan caretaker Italia Roberto Di Matteo.

Juan Mata adalah gelandang kreatif yang baru saja didatangkan dari Valencia musim tersebut. Sedangkan Torres sudah menjadi tandem bagai Drogba di lini depan The Blues. Mata bagaimanapun ketika itu menjadi orkestrasi lini tengah Chelsea menemani Lampard, Essien, Obi Mikel, maupun Ramires.

Catatannya lumayan, 2 gol dan 3 assist di Liga Champions. Termasuk sumbangsih assist-nya yang berbuah gol bagi Drogba di final melawan Munchen. Catatan bagi Torres lebih berpengaruh lagi. Yang paling diingat tentu gol aneh bin ajaibnya ketika melawan Barcelona di babak semifinal leg 2. Bagaimanapun gol itu menggugurkan Barcelona ke final.

Jadi bagian penting skuad meraih gelar Liga Champions Chelsea setelah mengalahkan Munchen di 2012, jadi modal penting bagi Mata dan Torres. Ia dipanggil masuk skuad La Furia Roja racikan Vicente Del Bosque di Euro 2012.

Benar-benar tidak salah Del Bosque memanggil dua pemain The Blues tersebut. Keduanya mampu berpengaruh terhadap kesuksesan La Furia Roja raih mahkota Euro 2012. Bahkan Mata dan Torres menjadi pencetak gol bagi kemenangan telak 4-0 Spanyol atas Italia di final.

Pepe dan Cristiano Ronaldo (Real Madrid Dan Portugal 2016)

Yang berikutnya ada duo pemain Timnas Portugal yang berseragam Real Madrid tahun 2016, yakni Pepe dan Cristiano Ronaldo. Pepe, seorang bek yang tak kenal kompromi menjadi partner sukses Varane di bawah racikan pelatih Zinedine Zidane.

Bayangkan secara catatan selama Liga Champions 2015/16, pertahanan Los Blancos hanya jebol empat kali saja. Hal itu menunjukkan betapa kokohnya pertahanan yang dikomandoi oleh bek plontos tersebut.

Kalau CR7 jangan ditanya lagi. Ia adalah salah satu bintang penting yang membentuk Trio BBC bersama Benzema, dan Bale. Torehannya pun spektakuler di Liga Champions, yakni 16 gol dan 4 assist. Golnya yang paling diingat adalah hattrick-nya di babak perempat final leg kedua melawan Wolfsburg. Hattrick-nya tersebut bahkan mampu meloloskan El Real ke semifinal dengan agregat tips 3-2.

Berkat peran duo Madrid tersebut, gelar Liga Champions diraih oleh El Real pada tahun 2016. Penalti penentu CR7 di babak adu tos-tosan, mampu menenggelamkan rival sekota mereka Atletico Madrid.

Tuah kesuksesan Pepe dan CR7 di El Real berlanjut ke Timnas Portugal. Sempat tak diunggulkan di Euro 2016, namun pasukan racikan Fernando Santos mampu tampil mengejutkan.

Pepe sebagai partner Ricardo Carvalho maupun Jose Fonte, mampu menjadi pilar lini belakang solid Portugal. Sedangkan sumbangan total tiga gol CR7, serta motivasi ikoniknya di pinggir lapangan ketika final melawan Prancis, mampu berbuah trofi Henry Delaunay untuk bagi Portugal.

Emerson dan Jorginho (Chelsea dan Italia 2020)

Yang terakhir ada duo Timnas Italia yang berseragam Chelsea di musim 2020/21, yakni Emerson Palmieri dan Jorginho. Emerson tak dipungkiri bek kiri pelapis dari Ben Chilwell di musim tersebut. Namun salah satu gol sumbangannya kala mengandaskan Atletico Madrid di leg 2 babak 16 besar Liga Champions, juga penting bagi laju asuhan Thomas Tuchel.

Berbeda dengan Jorginho. Jorginho adalah metronom andalan Tuchel mengawal solidnya lini tengah The Blues bersama Kante. Tuchel sampai bersyukur mempunyai mesin penggerak permainan seperti Jorginho.

Perannya memang tak terlihat. Hanya 1 gol dan 1 assist di Liga Champions. Namun umpan-umpan progresinya, serta pembacaan tempo permainan, berguna bagi kedalaman lini pertahanan The Blues. Kemenangan 1-0 Chelsea atas Manchester City di final Lisbon juga salah satunya berkat kedalaman lini tengah yang dijaga Jorginho.

Tak khayal kemudian Jorginho juga diandalkan oleh pelatih Roberto Mancini mengisi lini tengah Gli Azzurri bersama Verratti, Locatelli, dan Barella di Euro 2020. Tak lupa rekannya Emerson juga dipanggil, meski hanya sebagai pelapis Spinazzola. Tuah Emerson juga ternyata berdampak dalam mengisi kekosongan peran bek kiri inti Gli Azzuri yang ditinggalkan Spinazzola karena cedera di babak perempat final.

Ya, peran dua punggawa Chelsea tersebut akhirnya berbuah manis di Final Wembley. Mereka akhirnya mampu merasakan indahnya mengangkat trofi Henry Delaunay saat mengalahkan tuan rumah Inggris di babak adu penalti.

https://youtu.be/QTfAJRw-HZA 

Sumber Referensi : planetfootball, uefa, transfermarkt, uefa, goal.com, uefa

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru