Jelang laga Derby Manchester semalam, salah satu bek Manchester City, Kyle Walker mengingatkan kepada rekan-rekannya untuk menaruh perhatian lebih kepada Marcus Rashford. Bek yang memiliki kecepatan kilat itu menganggap Rashford akan menjadi mimpi buruk bagi City. Namun, peringatan itu ternyata cuma kecemasan berlebih saja.
Rashford justru jadi mimpi buruk bagi timnya sendiri. Aura keberadaannya begitu tipis. Kontribusinya terhadap lini serang Manchester United begitu minim. Ini bukan kali pertama. Itu sudah terjadi sepanjang musim 2023/24. Lantas mengapa Rashford jadi begini? Padahal musim lalu ia jadi tulang punggung United dalam urusan menjebol gawang lawan.
Daftar Isi
Menggila Musim Lalu
Menyebut Marcus Rashford tulang punggung dalam urusan mencetak gol di musim lalu tampaknya bukan hal yang berlebihan. Karena memang sang pemain menunjukan performa yang luar biasa musim 2022/23. Di saat Manchester United tak memiliki striker bernomor 9 murni, Rashford keluar sebagai pemecah kebuntuan.
Setelah hanya mencetak lima gol saja di musim 2021/22, Marcus Rashford bangkit ketika United ditangani Erik Ten Hag. Di musim perdananya, pelatih asal Belanda itu bak mengeluarkan United dari lembah kegelapan menuju jalan yang terang. Dan tentu saja Rashy jadi salah satu pemain yang ikut ngalap berkah dari kehadiran Ten Hag.
Di tangan pelatih berkepala plontos itu, perlahan namun pasti Rashford mengalami peningkatan performa. Di paruh pertama musim 2022/23, Rashford mungkin jarang mencetak gol. Tapi, di paruh kedua lain lagi ceritanya. Lonjakan performa Rashford mulai terlihat sejak dirinya diberi hukuman ringan oleh Ten Hag.
Karena telat menghadiri rapat tim jelang pertandingan melawan Wolves, Ten Hag mencadangkannya. Beberapa pengamat sepakbola memprediksi United bakal kesulitan di babak pertama jika tak memainkan Rashford sejak awal. Dan benar saja, United tak mencetak sebiji gol pun di babak pertama.
Memasuki babak kedua, Rashford pun masuk dan mencetak gol kemenangan untuk United. Setelah laga itu, aliran golnya makin deras. Rashford bak seekor burung yang baru dilepas dari sangkar. Rashford bahkan mencetak delapan gol dari delapan pertandingan berikutnya.
Erik ten Hag telah mengembalikan Rashford yang dulu dicintai publik United. Rashy mengakhiri musim 2022/23 dengan catatan 30 gol dan 11 assist di semua kompetisi. Pencapaian itu menjadikan pemain jebolan akademi Manchester United itu sebagai pemain United pertama yang mampu mencetak 30 gol dalam satu musim setelah Robin Van Persie musim 2012/13.
Penurunan Performa Musim Ini
Dengan catatan dan prestasi yang direngkuh oleh Marcus Rashford bersama Manchester United musim lalu, harapan fans kepadanya mulai membumbung tinggi. Biasalah, fans United itu mudah terlena. Kalau udah liat tim kesayangan main bagus dikit bawaannya pengen buru-buru tsunami trofi.
Padahal United sudah menyiapkan plot twist yang siap membuat para fans geleng-geleng. Memasuki musim 2023/24, lagi-lagi fans United dibuat kecewa oleh ekspektasinya sendiri. Dengan kompaknya, Manchester United dan Rashford sama-sama tampil buruk.
Ketajaman sang pemain sirna saat United memulai musim baru. Rashford seperti pemain yang berbeda di musim ini. Biasanya, ketika tumpul di mulut gawang, ia akan menciptakan peluang dan ruang bagi pemain lain. Tapi kali ini tidak. Ia benar-benar terlihat bermain tanpa visi dan misi yang jelas.
Performa Rashford benar-benar jauh dari perkiraan. Hingga pekan kesepuluh Liga Inggris, Rashford cuma bisa mencetak sebiji gol saja. Melihat performanya yang berbanding terbalik dengan musim lalu, orkestra cemoohan kepadanya pun mulai memenuhi seluruh kanal berita dan media sosial.
Faktor Kelelahan
Hanya selisih beberapa bulan saja, performa sang pemain bisa berbalik 180 derajat. Tentu ada sebab di balik itu. Sebagai disclaimer, mencetak gol bukan hanya masalah Rashford saja, melainkan masalah seluruh pemain MU.
Tapi, karena Rashford berstatus sebagai top skor klub musim lalu, tentu dengan baru mencetak satu gol di liga, ini jadi masalah besar baginya. Menurut apa yang diberitakan ESPN, kelelahan jadi salah satu penyebab penurunan performa Marcus Rashford bersama United musim ini.
Rashford hampir tak tergantikan di skuad utama Manchester United musim lalu. Ia mencatatkan 4.300 menit bermain di level klub. Angka yang cukup tinggi bagi pemain sepakbola. Belum lagi, United terus bermain di tiga kompetisi hingga pekan terakhir karena Rashford cs mencapai dua final di kompetisi Piala FA dan Carabao Cup.
Ditambah, Rashy juga menjadi langganan di skuad tim nasional asuhan Gareth Southgate. Pemain yang berusia 25 tahun itu membantu The Three Lions berjuang di Piala Dunia 2022 dan kualifikasi EURO 2024. Jadwal yang padat dan tenaga yang terus diforsir berdampak pada performanya musim ini. Hal serupa juga pernah dialami pemain-pemain Liverpool musim lalu.
Pengambilan Keputusan dan Akurasi Shooting
Selain kelelahan, Rashford juga bermasalah dengan rekan barunya, Rasmus Hojlund. Tenang, bukan berantem tapi emang kedua pemain ini belum menemukan ritme yang pas di lapangan. Rashford belum bisa mengerti apa mau Hojlund, begitupun sebaliknya.
Saat berduet dengan Hojlund, pengambilan keputusan Rashford cukup buruk. Ia kadang terlalu asik dengan dirinya sendiri. Kita sering melihat bola yang seharusnya diumpan justru terus diolah, diputar, digocek, dan akhirnya berhasil direbut oleh bek lawan.
Rashford lebih sering melakukan penetrasi ke kotak penalti dan diakhiri dengan shooting langsung ke gawang. Sayangnya, upayanya itu terlihat sia-sia karena akurasi tembakan Rashford sangat rendah. Menurut Fbref, dari 34 tembakan yang sudah dilepaskan Rashford, hanya tujuh yang tepat sasaran.
Itu berarti akurasinya hanya berada di angka 20%. Itu sangat buruk untuk penyerang yang musim lalu mampu mencetak 30 gol. Itu jadi statistik yang makin buruk apabila dibandingkan dengan penyerang-penyerang lain di Liga Inggris. Sebagai perbandingan saja, Alexander Isak telah mencetak enam gol untuk Newcastle United. Padahal ia baru mencatatkan 17 tembakan. Yang membedakan adalah akurasinya yang cukup tinggi, yakni 58%.
Putus Cinta
Selain kondisi tubuh dan skema permainan, permasalahan eksternal juga bisa mempengaruhi performa sang pemain. Hal ini juga tampaknya sedang dialami oleh Marcus Rashford. Persis sebelum musim 2023/24, Rashford baru saja mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih, Lucia Loi.
Dilansir Marca, pada bulan Juni, Rashford terlibat permasalahan dengan kekasihnya itu. Menurut laporan yang ada, Lucia bahkan sampai memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan sang pemain. Padahal keduanya sudah melangsungkan tunangan pada Mei tahun lalu. Kabarnya, perpisahan ini mempengaruhi mood bermain Rashford.
Posisinya di Skuad Utama Terancam?
Situasi ini telah memancing komentar sang pelatih, Erik Ten Hag. Menurutnya, meski Rashford sedang krisis kepercayaan diri karena kemampuan mencetak golnya sedang menurun, Ten Hag yakin Rashford masih bisa tampil lebih baik dari ini. Ia hanya perlu berusaha lebih keras baik saat latihan maupun di lapangan.
Sementara itu pelapis Rashford di posisi sayap kiri, Alejandro Garnacho terlihat lebih berbahaya ketika diberi kesempatan bermain dari bangku cadangan. Jika Rashford tak bisa menyelesaikan masalahnya, maka tak ada salahnya apabila Ten Hag memberinya waktu istirahat dan memberikan menit bermain lebih kepada Garnacho.
Sumber: Independent, ESPN, Sky Sport, Marca


