Saat Pep Guardiola Selamatkan Karir Thiago Alcantara dari Kehancuran

spot_img

Sebelum musim 2024/25 dimulai, kita dikejutkan dengan keberadaan Thiago Alcantara di kamp latihan Barcelona. Thiago ternyata hadir untuk mendampingi Hansi Flick sebagai asisten pelatih. Posisi itu diambil Thiago usai dirinya menyatakan pensiun dari sepakbola profesional di akhir musim 2023/24.

Meski pada akhirnya Thiago tidak melanjutkan kebersamaannya dengan Barca karena satu dan lain hal, momen ini memancing ingatan di masa lalu. Kemunculannya di kamp latihan Barcelona terbilang mengejutkan karena sebelumnya Thiago pernah memiliki hubungan yang rumit dengan raksasa La Liga tersebut.

Ya, sebelum meraih kesuksesan di Bayern Munchen dan Liverpool, Thiago merupakan pemain lulusan La Masia. Meski memiliki talenta yang luar biasa, Thiago ternyata tak begitu dihargai oleh klub Catalan tersebut. Benarkah demikian? Berikut adalah kisah saat Thiago Alcantara terbuang dari skuad Barcelona.

Lulusan La Masia

Menjadi putra seorang pesepakbola asal Brazil, yakni Mazinho membuat pemain yang memiliki nama lengkap sebagai Thiago Alcântara do Nascimento itu memiliki DNA sepakbola yang sangat kental. Saat ayahnya berkarir di Spanyol, Thiago pun langsung didaftarkan ke akademi terbaik di dunia, La Masia.

Meski begitu, akademi Barcelona bukan sekolah sepakbola pertama bagi Thiago. Sebelumnya, dirinya juga sudah pernah bergabung dengan beberapa klub seperti Flamengo, Kelme, hingga Ureca, menyesuaikan pekerjaan ayahnya. Maka dari itu, dirinya terbilang telat untuk masuk La Masia. Dia baru bergabung di usianya yang sudah remaja, yakni 14 tahun. 

Sudah berpengalaman di usia muda, Thiago tak butuh waktu lama untuk menembus skuad utama. Setidaknya, Thiago hanya butuh waktu tiga tahun untuk menarik perhatian petinggi klub Barcelona. Alhasil, dirinya mendapat kesempatan untuk masuk skuad utama di usianya yang kala itu masih 17 tahun. Dirinya dinilai jadi yang terbaik dibandingkan rekan-rekan seusianya kala itu.

Diberi Debut Oleh Pep Guardiola

Pada 17 Mei 2009, Thiago Alcantara akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di skuad utama La Blaugrana. Dibawa oleh Pep Guardiola ke skuad yang menghadapi Real Mallorca pada ajang La Liga musim 2008/09, Thiago diturunkan pada menit ke-74 menggantikan Eidur Gudjohnsen. Sayangnya, di satu-satunya penampilan Thiago musim itu, ia mengalami kekalahan 2-1 dari Mallorca.

Di musim 2009/10, Pep Guardiola mulai beberapa kali memasukan Thiago ke skuad utama Barcelona. Di musim itu, Thiago mendapat kesempatan starter pertamanya di laga Copa Del Rey melawan Sevilla. Ini merupakan keputusan yang berani dari Pep. Selain karena butuh kemenangan, Sevilla bukan lawan yang remeh. Alhasil, Thiago kembali gagal memberikan kemenangan untuk La Blaugrana.

Barcelona kalah 2-1 atas Sevilla di leg perdana 16 besar Copa Del Rey. Namun, Pep masih menaruh harap pada Thiago. Sang pemain pun kembali diberi menit bermain di ajang La Liga. Kala itu, Thiago diturunkan sebagai pemain pengganti saat Barcelona sudah unggul 3-0 atas Racing.

Meski hanya bermain selama 14 menit, Thiago berhasil menunjukan permainan yang ciamik. Selain menciptakan beberapa umpan sukses, Thiago berhasil mencatatkan namanya di papan skor. Dengan tambahan satu golnya, El Barca akhirnya menang 4-0 di laga tersebut.

Musim itu jadi musim yang luar biasa bagi Barcelona. Mereka mengakhiri musim 2009/10 dengan gelar Juara La Liga mengalahkan rival terkuatnya Real Madrid. Meski hanya tampil sekali di musim 2009/10, Thiago Alcantara tetap berhak menjadi penerima medali juara La Liga. Musim itu jadi awal dari kisah asam bersama Barcelona.

Menggeser Xavi dan Iniesta

Walaupun minim kesempatan, Pep Guardiola yakin betul bahwa Thiago Alcantara memiliki talenta yang luar biasa. Pelatih asal Spanyol itu pun akhirnya mendaftarkan Thiago sebagai salah satu pemain di skuad Barcelona musim 2010/11.

Lagi-lagi, ini jadi langkah yang ekstrim dilakukan. Beberapa petinggi klub bahkan sampai mempertanyakan keputusan Pep. Bagaimana tidak? Musim itu, Barcelona masih memiliki nama-nama besar seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Seydou Keita, dan Javier Mascherano. Pep bahkan baru saja mempromosikan Sergio Busquets musim lalu. Lantas, mau dimainkan dimana Thiago?

Bukan Pep Guardiola namanya jika tidak mempunyai rencana yang bagus untuk setiap pemainnya. Pada awal musim 2010/11, Pep menjadikan Thiago sebagai pemain rotasi untuk menjaga kebugaran Xavi dan Iniesta yang baru pulang dari Piala Dunia 2010 bersama Timnas Spanyol. Tapi perlahan namun pasti, Thiago justru mulai menggeser mereka di lini tengah Barca.

Momen itu terjadi di paruh kedua musim 2010/11. Sejak Bulan April hingga Mei 2011, Thiago mulai sering dimainkan sebagai starter. Pemain sekaliber Xavi dan Iniesta sampai-sampai harus terbiasa duduk di bangku cadangan karena adanya Thiago. Padahal kita tahu sendiri, Iniesta dan Xavi baru saja membawa Timnas Spanyol juara Piala Dunia 2010.

Melihat hasil yang positif, Pep Guardiola pun mulai menambah jam terbang Thiago di musim 2011/12. Bukan lagi sebagai pelapis Xavi dan Iniesta, Thiago digunakan sebagai gelandang inti di dalam skema yang diusungnya. Pep merasa bahwa gaya bermain Thiago seperti gabungan antara Xavi dan Iniesta. Ketimbang menurunkan Xavi dan Iniesta, Pep merasa memainkan satu Thiago saja sudah cukup dan mampu menghemat ruang di starting line up.

Pep Hengkang ke Bayern Munchen

Musim 2011/12 tercatat sebagai musim terbaik bagi Thiago Alcantara. Dirinya mencatatkan lebih dari 1800 menit penampilan di La Liga musim tersebut. Dirinya dengan permanen menggeser posisi Andres Iniesta sebagai gelandang utama Barcelona. Cedera robek otot yang dialami Iniesta seakan jadi momen dimana Thiago menunjukan siapa dia sebenarnya.

Tampil sebanyak 45 laga di semua kompetisi, Thiago mencatatkan delapan assist dan mencetak empat gol. Mencapai statistik itu di skuad Barcelona adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Mengingat usianya kala itu masih 20 tahun. Dengan performa yang luar biasa itu, Pep meminta Barca untuk menghadiahinya kontrak profesional.

Sialnya, setelah teken kontrak Pep Guardiola justru hengkang dari Barcelona. Ada beberapa alasan yang membuat Pep meninggalkan klub yang telah membesarkan namanya itu. Satu alasan yang paling kuat adalah, hubungan buruk dengan manajemen dan sang pelatih ingin mencari tantangan baru di luar Spanyol. 

Beberapa media lebih menganggap bahwa Pep tak merasa nyaman dengan tekanan yang didapatkan selama menukangi Barca. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa kekalahan dari Chelsea di semifinal Liga Champions dianggap sebagai titik awal mengapa Pep ingin hengkang. Dirinya merasa bahwa kondisi tim sudah tak kondusif dan powernya di ruang ganti menjadi lemah.

Namun, apapun alasan yang keluar dari mulut Pep, itu sama sekali bukan jawaban yang diinginkan oleh Thiago Alcantara. Ia merasa kehilangan sosok paling penting dalam karirnya. Karena hanya Pep lah yang percaya akan kemampuannya. Dan benar saja, di musim 2012/13 posisi Thiago Alcantara di skuad utama Barcelona sudah tak sama seperti di era Pep Guardiola.

Thiago Mulai Kesulitan

Barcelona tak ambil pusing untuk mencari pengganti Pep. Mereka langsung menunjuk asistennya, yakni Tito Vilanova sebagai nakhoda tim yang baru. Meski telah menjadi asisten Pep Guardiola selama bertahun-tahun, ternyata Tito memiliki pendapat yang berbeda tentang keberadaan Thiago Alcantara di skuad utama.

Pelatih yang juga berkebangsaan Spanyol itu merasa bahwa Thiago terlalu muda untuk mengemban tugas berat di lini tengah La Blaugrana. Toh, Tito tak memiliki kepentingan untuk mempertahankan Thiago di tim. Saat itu Tito masih percaya dengan Xavi dan Iniesta. Jadi ngapain repot-repot mengandalkan pemain muda yang performanya belum konsisten.

Di bawah asuhan Tito Vilanova, trio lini tengah Barcelona kembali ke setelan pabrik. Barca kembali mengandalkan duet Xavi dan Iniesta. Posisi gelandang bertahan yang awalnya diisi oleh Javier Mascherano pun praktis jatuh ke tangan Sergio Busquets, bukan Thiago. Jadi sudah tidak ada tempat lagi untuk Thiago.

Terlebih, kebijakan Barcelona untuk mendatangkan Cesc Fabregas dari Arsenal semakin memastikan bahwa Tito tidak membutuhkan kehadiran Thiago Alcantara lagi. Tito lebih menggemari gaya permainan Fabregas yang menurutnya lebih matang dalam pengambilan keputusan dan kreatif saat membantu serangan daripada Thiago.

Itu bukan kondisi yang menguntungkan bagi Thiago. Bakatnya bisa terbuang percuma bila terus menjadi pemain pelapis. Situasi yang dialami Thiago di Barcelona membuat membuat banyak klub mengajukan penawaran untuk mendatangkannya. Di akhir musim 2012/13, banyak rumor yang mengaitkan dirinya dengan beberapa klub top Eropa seperti Bayern Munchen dan Manchester United.

Menyusul Pep ke Jerman

Pep Guardiola yang berada di Jerman pun mulai menghubungi Thiago. Pep bertanya apa yang terjadi padanya di Spanyol? Thiago senang bisa menjadi bagian sejarah di Barcelona. Tapi, ketika Pep pergi, ia merasa kebahagiaannya juga ikut pergi bersama Pep. Thiago merasa potensinya terhalang oleh banyaknya pemain bintang di Barcelona. Dirinya tidak bisa mendapat menit bermain sebanyak yang dia inginkan.

Mendengar itu, Pep pun membujuk sang pemain untuk bergabung dengan Bayern Munchen. Thiago pun tertarik dengan tawaran sang pelatih. Pep meminta manajemen untuk mempelajari kemungkinan untuk mendatangkan Thiago meski kontraknya masih panjang. Setelah diteliti, ternyata Thiago memiliki klausul pelepasan yang sangat murah, yakni 18 juta euro. Itu adalah angka yang kecil untuk ukuran pemain bertalenta sepertinya.

Padahal pada awal penandatanganan kontrak di tahun 2011, Thiago memiliki klausul pelepasan di angka 90 juta euro. Tapi, karena ada klausul tentang menit bermain, angka tersebut turun secara drastis di tahun 2013. Dilansir Marca, nilai tersebut anjlok hingga hanya 18 juta euro ketika Thiago tidak bermain dalam jumlah menit tertentu pada musim 2012/13.

Thiago pun akhirnya merampungkan transfer ke Bayern Munchen dengan biaya 25 juta euro pada tahun 2013. Kepindahan tersebut memancing banyak media untuk berkomentar. Bahkan, Bleacherreport dengan berani menyebut transfer Thiago ke Munchen bakal jadi penyesalan besar bagi manajemen klub Catalan.

Selain itu, hal ini menunjukkan betapa tidak kompetennya tim manajemen dari presiden Barcelona saat itu, Sandro Rosell. Karena sudah kehilangan Pep Guardiola dan seorang gelandang yang digadang-gadang bakal menjadi penerus Xavi Hernandez suatu saat nanti hanya dalam dua tahun.

Jadi Andalan dan Memenangkan Banyak Gelar

Berusaha move on dari Barcelona, sehari setelah kedatangannya ke Bayern Munchen Thiago Alcantara mengungkapkan kalimat yang menarik. Ia berkata bahwa meninggalkan Barcelona yang merupakan klub masa kecilnya, adalah keputusan sulit. Tapi reuni bersama Pep Guardiola yang bisa dibilang sebagai sosok berjasa yang mengangkat pamornya adalah hasrat yang tak tertahankan.

Tapi jika kalian berpikir bahwa Thiago akan langsung nyetel di Bayern Munchen, kalian salah. Karena permainan yang diusung Pep Guardiola di Bayern sangat berbeda dengan di Barca. Pep butuh beberapa waktu untuk memaksimalkan peran Thiago dalam skuadnya. Setidaknya Pep berusaha menyelamatkan potensinya agar tak terbenam di Barcelona.

Pep membentuk permainan Thiago agar sesuai dengan karakter permainan Bayern dan sepakbola Jerman. Pep terus bekerja keras mengasah kemampuan pengambilan keputusan Thiago. Karena kelemahannya itulah Thiago kalah saing dengan Fabregas yang baru saja didatangkan Barcelona.

Upaya Pep Guardiola pun tak sia-sia. Thiago kemudian bisa berkembang sebagai sosok sentral di lini tengah Bayern Munchen. Sejak bergabung bersama raksasa Bundesliga itu, Thiago berkontribusi banyak. Dirinya bahkan membawa Die Roten menjuarai Bundesliga sebanyak tujuh kali secara beruntun, sejak 2013/14 hingga 2019/20. 

Bahkan, saat Pep Guardiola pergi meninggalkan Bayern Munchen pada akhir musim 2015/16, Thiago Alcantara masih menjadi pilihan utama di skuad Bayern Munchen. Dirinya selalu mengemban peran vital di era Carlo Ancelotti, pelatih yang menggantikan peran Pep di Munchen.

Menolak Barca dan Juara UCL

Melihat perkembangan yang signifikan di Bayern Munchen, Barcelona pun kembali menunjukan ketertarikan padanya tahun 2018. Bahkan, Lionel Messi secara terbuka menginginkan Thiago kembali bermain untuk Barca. Tapi Thiago sepertinya sudah tidak melihat Barcelona sebagai tempat yang nyaman baginya.

Kabarnya, Barcelona ingin menjadikan Thiago sebagai pengganti Iniesta yang kala itu memilih untuk hengkang. Tapi Thiago memilih untuk tetap bertahan di Bayern Munchen. Di sisi lain, justru beredar isu bahwa Thiago lebih berminat gabung Real Madrid atau Atletico Madrid jika harus kembali ke Spanyol. Itu jadi salah satu sikapnya karena merasa kecewa dengan sikap Barca di masa lalu.

Keputusan Thiago untuk bertahan setahun lagi di Bayern Munchen terbukti tepat. Di era kepemimpinan Hansi Flick, Thiago berperan penting dalam pencapaian Die Roten menjuarai Liga Champions musim 2019/20. Meski ini bukan trofi UCL pertamanya, trofi ini justru lebih berkesan karena Thiago benar-benar memperjuangkannya, tidak seperti di Barcelona dulu.

Sumber: 90min, BR, Football Espana, Bundesliga, Antara News

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru