Revierderby : Bara Api Kebencian Di Antara Dortmund dengan Schalke 04

spot_img

Jerman merupakan salah satu negara sepak bola terbesar di dunia. Sejarah mencatat, Jerman telah memenangkan piala dunia sebanyak 4 kali dan meraih piala eropa 3 kali. Torehan tersebut menandakan bahwa tim nasional Jerman adalah tim yang sangat luar biasa. Tak hanya tim nasionalnya, kompetisi sepak bolanya pun sangat menakjubkan

Liga Jerman atau biasa disebut dengan Bundesliga merupakan salah satu kompetisi terbaik di eropa. Sama seperti liga-liga top eropa lainnya, Bundesliga juga menyajikan pertandingan derby bertensi tinggi. Di kompetisi itu juga kerap menghadirkan laga derby yang kental dengan aroma panas.

Beberapa laga derbi yang terjadi di Jerman antara lain : Nordderby (Derby Utara), yang mempertemukan Hamburg vs Bremen, Südgipfel (Derby Selatan) antara Stuttgart vs Bayern, Derby Bavaria yang melibatkan tiga tim yakni Bayern Munchen, Augsburg dan Ingolstadt. Lalu ada Derby Rhein-Main yaitu Frankfurt vs Mainz vs Darmstadt, dan ada juga Derby Rheinland yakni FC Koln vs Borussia Moenchengladbach.

Akan tetapi dari semua laga derby tersebut, kurang lengkap rasanya jika tak menyebut Derby Ruhr atau Revierderby. Revierderby adalah pertandingan derby terbesar di Jerman. Laga yang mempertemukan Dortmund melawan Schalke 04 (Syalke Nul Vir) ini merupakan laga paling menarik untuk ditonton di Jerman.

Revierderby sebenarnya bukan istilah eksklusif untuk menyebut laga antara Dortmund kontra Schalke. Revierderby adalah nama dari seluruh laga yang melibatkan klub-klub dari distrik Ruhr, termasuk Bochum, Duisburg, dan Rot-Weiss Essen. Namun, laga antara Dortmund vs Schalke adalah yang terbesar dan terpanas.

Dortmund vs Schalke adalah acuan ideal sebuah partai derby di Bundesliga. Yang mana dalam sejarahnya selalu penuh dengan persaingan, penuh kebencian dan sesekali penuh dengan kekerasan. Jika melihat pada derby-derby lain, munculnya masalah selalu bermula pada perbedaan historis, kelas sosial, agama, ideologi, ras, dan sebagainya.

Tetapi, jalan cerita yang berbeda terjadi dalam persaingan Schalke dan Dortmund. Rivalitas kedua tim ini terjadi bukan karena faktor perbedaan tapi mutlak akibat faktor iri, dengki dan benci. Revierderby adalah persaingan antara kaum proletar melawan kaum proletar yang memiliki ideologi dan pendapatan yang sama.

Dortmund dan Schalke merupakan representasi romantika klub kelas pekerja. Dortmund dan kota tempat Schalke bernaung (Gelsenkirchen) adalah dua kota industri tambang batu bara terbesar di negeri Hitler. Dortmund sendiri kemudian berkembang menjadi kota industri baja, sedangkan kota Gelsenkirchen tetap setia dengan tambang batu baranya.

Sejatinya, jarak kedua kota tersebut hanyalah 32 km. Namun, kedekatan itu nyatanya sama sekali tidak terasa di atas lapangan hijau. Level kebencian di antara kedua belah pihak, khususnya para fans, sama tingginya dengan rasa cinta mereka terhadap entitas masing-masing. Sebuah bara api yang membuat kedua kubu tak sudi untuk melangkah secara berdampingan.

Saling benci di antara kedua klub begitu kuat sehingga menyebut nama lawan menjadi sesuatu yang nyaris haram di antara keduanya. Sebagai gantinya, setiap kelompok suporter memiliki nama sendiri untuk tim lawan; dan nama tersebut bukanlah nama yang menarik, tapi justru cenderung merendahkan.

Dalam persaingan di atas lapangan, Dortmund mungkin berada di atas angin dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi, pada awal rivalitas keduanya, Schalke lebih mendominasi atas Dortmund. Pada 1925, Schalke menang 4-2 atas Dortmund dalam pertandingan kompetitif pertama antara kedua tim. Kemenangan Schalke pada laga itu menjadi penentu dominasi mereka atas Die Borussen dalam 18 tahun berikutnya.

Pada tiga kesempatan pertama, Schalke selalu memenangkan pertandingan atas Dortmund. Bahkan, mereka sukses menghajar Dortmund 7-2 dalam perjumpaan tahun 1927.

Tak dapat dipungkiri, bahwa Schalke kala itu begitu dominan atas Dortmund. Pasalnya, pada era sebelum perang dunia kedua, Schalke merupakan klub terhebat di Jerman. Mereka sangat populer dengan permainan operan dari kaki ke kaki yang dikenal dengan sebutan Schalker Kreisel. Rentang waktu antara 1934 hingga 1942, Schalke sukses meraih enam trofi kompetisi sepakbola Jerman.

Pasca perang dunia kedua, kemenangan 3-2 atas Schalke di final Liga Jerman 1946/47 dipandang sebagai titik balik bangkitnya Dortmund. Sejak itu, Dortmund lebih berkuasa atas Schalke. Pada era Oberliga (nama Liga Jerman saat itu), yang berlangsung dari 1947 – 1963,  Dortmund sudah berhasil unggul atas Schalke. Dari 32 laga, klub berwarna khas kuning hitam itu menang 15 kali dan 10 kali kalah.

Ketika era Bundesliga dimulai pada tahun 1963, Dortmund pun membukanya dengan dominasi total atas Schalke. Dari 10 laga awal di kompetisi kasta teratas Jerman itu, Dortmund memenangkan delapan laga di antaranya.

Seiring meningkatnya rivalitas, ada pertandingan legendaris pada september 1963 yang membuat persaingan keduanya semakin memanas. Saat itu, klub berjuluk The Royal Blues memimpin pertandingan di depan 40 ribu pasang mata di Stadion Rote Erde, Dortmund, melalui gol Hans Pirkner pada babak pertama. Gol itu memancing para suporter Schalke menyerbu lapangan. Alhasil, polisi harus mengerahkan anjing penjaga untuk mengendalikan situasi dan kondisi.

Akan tetapi, niat untuk menghalau penonton yang masuk tidak berjalan sesuai ekspektasi, pasalnya anjing yang diketahui bernama Rex itu malah menggigit punggawa Schalke, yaitu Friedel Rausch di bagian belakang, dan Gerd Neuser yang digigit pada bagian paha.

Agar bisa melanjutkan pertandingan, kedua pemain harus menerima suntikan tetanus dari dokter timnya.

Konon, anjing itu bukan milik polisi. Tapi sebenarnya dibawa oleh seorang suporter Die Borussen yang berpura-pura menjadi polisi untuk mendapatkan akses ke lapangan. Usai laga, Dortmund mengirimkan sekuntum bunga dan uang 500 Deutsche Mark atau setara Rp 4 juta sebagai permintaan maaf kepada korban.

Pertandingan itu sendiri berakhir imbang 1-1 dan Schalke pun merespon laga itu dengan maskot baru.

Pada Januari 1970, Gunter Siebert, presiden Schalke waktu itu menyewa singa dari kebun binatang untuk menemani para pemain keluar lorong pada awal laga dan berdiri di sekeliling lapangan. Beruntung, tidak ada gigitan jilid kedua.

Meski rivalitas antar dua raksasa di Distrik Ruhr ini sangat besar, namun masih ada rasa saling menghormati di antara kedua kesebelasan tersebut. Pada beberapa kesempatan, keduanya bahkan telah saling membantu secara finansial. Contoh paling terkenal datang ketika Dortmund dililit hutang setelah alami degradasi pada 1974.

Pada waktu itu, Dortmund mengundang Schalke sebagai lawan tanding untuk meresmikan Stadion Westfalen (Sekarang Signal Iduna Park) yang dibangun untuk ajang Piala Dunia 1974. Bahkan The Royal Blues menyetujui keuntungan tiket laga itu diserahkan semuanya untuk Dortmund yang sedang dirundung masalah finansial. Pada gilirannya, Schalke mengundang Dortmund untuk meresmikan Auf Schalke Arena yang sekarang bernama Veltins Arena pada 2001.

Momen persatuan lainnya adalah ketika kedua tim merayakan kesuksesan mereka di kompetisi eropa pada 1997. Saat itu, Schalke meraih gelar Piala UEFA usai menaklukkan Inter Milan. Sedangkan, Dortmund merengkuh trofi Liga Champions setelah mengalahkan wakil Italia lainnya, Juventus. Dua prestasi bergengsi dari kedua tim itu membuat Legenda Jerman dan Bayern Munchen Franz Beckenbauer (Beckenbawer) mengatakan “jantung sepakbola Jerman berdetak di Ruhr.”.

Pasca milenium baru, salah satu pertandingan Revierderby yang sulit terlupakan bagi fans kedua tim terjadi di pekan 33 musim 2006/07. Kondisi kedua tim saat itu bertolak belakang, di mana Dortmund tercecer di zona degradasi sepanjang musim, sementara Schalke berada di zona atas dan memiliki peluang merebut titel Bundesliga untuk kali pertama dalam 49 tahun.

Bertanding di markas Dortmund, Schalke butuh kemenangan guna menjaga selisih angkanya dari kejaran Stuttgart. Di lain sisi, Die Borussen mempunyai motivasi untuk menggagalkan impian tetangganya itu. Dan kenyataannya, Dortmund berhasil memenangkan laga lewat gol dari Alexander Frei dan Ebi Smolarek. Kekalahan 2-0 itu membuat Schalke pada akhirnya gagal meraih gelar Bundesliga 2006/07.

Hasil pertandingan itu dijadikan fans Dortmund untuk mengejek orang-orang Gelsenkirchen karena memperpanjang kekeringan gelar selama puluhan tahun. Para fans membentangkan spanduk bertuliskan : “Seumur hidup tanpa perisai di tangan Anda”.

Sampai sejauh ini, Schalke memang belum pernah mendapatkan piala berbentuk perisai sejak Bundesliga digelar pada 1963. Secara statistik, di ajang Bundesliga, kedua tim telah bertemu sebanyak 96 kali, dengan Dortmund menang 34 dan Schalke menang 32 serta sisanya berakhir imbang.

Sumber Referensi: Bundesliga.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru