Resmi Dipecat! Kenapa Aston Villa Tega Menyingkirkan Gerrard?

spot_img

Steven Gerrard harus rela jadi kambing hitam dari rentetan hasil buruk yang diterima Aston Villa pada awal musim 2022/23 ini. Setelah tekanan dari fans terus mengganggu, Gerrard akhirnya resmi menyusul Scott Parker, Thomas Tuchel, dan Bruno Lage sebagai pelatih yang didepak dari Liga Inggris musim ini.

Gerrard diberhentikan dari posisinya sebagai manajer Villa menyusul kekalahan telak 3-0 atas Fulham. Pemecatan Gerrard itu sudah terprediksi sejak klub yang ia tangani itu mengalami rangkaian performa buruk sehingga terlempar ke papan bawah klasemen Liga Inggris. 

Terlebih skuad racikan mantan punggawa Liverpool itu hanya meraih sembilan poin dari 11 pertandingan. Namun, apakah alasan itu sudah cukup untuk menyingkirkan Gerrard dari kursi kepelatihan? Tentu tidak. Problem Gerrard bersama klub yang bermarkas di Villa Park itu nyatanya tak sesederhana itu.

Musim Perdana Tak Mengesankan

Sebelum di Aston Villa, Gerrard sukses bersama Rangers. Ia datang ke Rangers, sepenuhnya untuk meningkatkan performa tim. Menciptakan iklim yang baru dan mengembalikan kejayaan Rangers yang telah lama hilang. Namun, ketika kembali ke tanah kelahirannya ceritanya menjadi lain.

Gerrard datang di saat Aston Villa tengah terpuruk setelah Dean Smith tak mampu mengerek performa tim di awal musim 2021/22. Memulai laga perdana pada akhir November, Gerrard memberikan kesan manis bagi para fans. Skuad racikannya berhasil menundukan Brighton dengan skor 2-0.

Setelah kemenangan perdana itu, asa Villa pun seperti hidup kembali. Bahkan, dari lima pertandingan awal Liga Inggris, Aston Villa versi Gerrard hanya menelan dua kekalahan saja. Itu pun ia dapat ketika melawan klub-klub big six macam Manchester City dan Liverpool.

Namun, kegembiraan tak bertahan lama. Gerrard yang sedang meraba-raba kekuatan klub berusaha membongkar pasang formasi dan starting line up guna mencari susunan pemain terbaik. Namun, hal itu justru membuat anak asuhnya terseok-seok lantaran terus menerima hasil kurang memuaskan.

Gerrard hanya mampu membawa tim yang bermarkas di Villa Park itu finis di posisi ke-14 klasemen Premier League musim 2021/2022. Catatan yang semakin menegaskan gagalnya Gerrard adalah persentase kemenangan di musim pertamanya. 

Seperti yang dicatat oleh Optus Sport, musim lalu Aston Villa sudah mengoleksi 13 kekalahan dari 28 laga di bawah Gerrard. Persentase kemenangan Gerrard di Aston Villa hanya 35%. Itu catatan yang sama dengan Gary Neville ketika dipecat oleh Valencia beberapa tahun lalu. Kesimpulannya, kemampuan manajerial Gerrard ini dianggap selevel dengan Neville.

Strategi Transfer Jadi Penyakit Tahunan Villa

Menyambut musim 2022/23, Aston Villa mengeluarkan uang hingga 70 juta euro atau setara dengan Rp1 triliun untuk belanja pemain baru. Pemain termahal yang dibeli Villa adalah bek tengah Diogo Carlos yang ditebus dengan mahar 31 juta euro (Rp475 miliar) dari Sevilla. Beberapa media justru meyakini bahwa Gerrard sebetulnya hanya menginginkan klub untuk mempermanenkan Philippe Coutinho dari Barcelona. Nggak muluk-muluk.

Sayangnya, firasat Gerrard kalau Coutinho bisa kembali menemukan performa terbaiknya bersama Villa meleset. Dari 10 laga yang sudah dimainkan musim ini, Coutinho sama sekali belum mencetak gol.

Selisih paham soal transfer antara manajemen dan manajer bukan hal yang baru bagi Villa. Sejak tahun 2010-an, Villa memang nggak becus ngurus transfer. Mereka membentuk Komite Transfer untuk keperluan transfer pemain, namun adanya komite transfer justru mengesampingkan peran seorang pelatih dalam memilih pemain. Karena komite inilah yang nanti mengambil keputusan tentang siapa yang pantas dibeli dan tidak.

Selain Gerrard, Martin O’Neill dan Tim Sherwood jadi pelatih yang pernah merasakan kebijakan ngawur ini. Sherwood pernah mengajukan beberapa nama yang diyakini bisa mendongkrak performa klub, namun manajemen justru mendatangkan beberapa pemain lain di luar daftar. O’Neill? lebih parah lagi. Ia kecewa dan mengundurkan diri pada 2010 karena klub melego James Milner dan Ashley Young tanpa persetujuannya.

Rangkaian Performa Buruk

Gerrard resmi bekerja untuk Aston Villa pada November 2021. Dari periode itu hingga laga melawan Fulham kemarin, Gerrard telah memimpin 39 laga Aston Villa. Hasilnya? Bisa dibilang buruk.

Gerrard hanya mampu meraih 12 kemenangan dari 39 laga yang dimainkan. Sementara dari 11 pertandingan awal musim 2022/23, mantan kapten Timnas Inggris ini hanya mampu memenangkan dua laga bersama Villa. Ia hanya mengumpulkan 9 poin dari 11 pertandingan tersebut. 

Aston Villa di bawah Gerrard juga memiliki permasalahan dalam urusan mencetak gol. Selama ditangani Gerrard, The Villans hanya mencetak 45 gol dan kebobolan 53 kali. Semua hasil buruk ini mengerucut pada anggapan bahwa Gerrard merupakan pelatih kaku dan miskin taktik. Namun apakah benar demikian? 

Di Rangers, Gerrard sebetulnya terbiasa menggunakan formasi 4-3-3. Namun, ketika berada di Aston Villa, ia sulit melakukan hal itu karena stok striker yang terbatas. Di Aston Villa Gerrard sering menggunakan skema dua striker, mengandalkan Ollie Watkins dan Danny Ings. Mudah ditebak, itu tidak berjalan dengan mulus.

Gerrard akhirnya kembali ke fitrahnya dan memaksa bermain dengan tiga striker, tapi lini depan Villa tampil kurang kompak. Kemistri antara satu dengan yang lain belum terjalin dengan baik. Hal itu mengakibatkan tumpulnya lini depan Villa. Hingga 11 pertandingan yang sudah dimainkan, Watkins, Baily, hingga Ramsey masih sama-sama mengantongi sebiji gol saja.

Di satu sisi, materi pemain Villa sebetulnya tak buruk-buruk amat. Namun, Gerrard masih ragu. gelontoran dana yang sudah dikeluarkan klub pada awal musim belum dimanfaatkan dengan baik oleh Gerrard. Sebab ia terpaku pada sistemnya sewaktu di Rangers.

Siapa yang Pantas Gantikan Gerrard?

Tampaknya sudah tak ada jalan kembali bagi Gerrard, pihak klub sudah mengetuk palu dan menyatakan bahwa Gerrard sudah bukan pelatih Aston Villa lagi. Namun, jadwal kompetisi yang sedang padat, Villa harus bergerak cepat untuk mencari pengganti Gerrard. 

Seperti yang diberitakan Sportingnews, beberapa nama telah dikaitkan untuk mengisi posisi manajerial Aston Villa. Salah satunya adalah Mauricio Pochettino. Mantan manajer Spurs itu telah menganggur setelah dipecat oleh PSG pada musim panas lalu. Pochettino dianggap cocok karena Liga Inggris bukanlah kompetisi yang asing baginya. Selain melatih Spurs, ia juga pernah menukangi Southampton.

Namun, apabila berbicara soal pengalaman di Liga Inggris, nama Sean Dyche tak boleh dilewatkan. Mungkin mantan pelatih Burnley itu tak menampilkan sepakbola yang menghibur, tapi dengan biaya yang lebih murah ia diyakini mampu mendapatkan hasil maksimal dari materi pemain yang dimiliki Villa.

Jika Villa ingin hasil instan, mungkin mereka bisa mempertimbangkan Thomas Tuchel yang baru dipecat Chelsea beberapa pekan lalu. Tuchel cukup mahir meracik tim secara dadakan. Kemampuan Tuchel dalam meramu strategi sebagai pelatih dadakan terbukti dengan satu trofi Liga Champions musim 2020/21 bersama Chelsea. Well, siapa nih yang bakal menggantikan sang Hokage Gerrard?

Sumber: The Athletic, Sportingnews, BBC, Skysport, Fandom

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru