Piala Eropa 2020 menjadi ajang pembuktian Gianluigi Donnarumma sebagai salah satu kiper terbaik dunia. Tak hanya sukses mengantar timnas Italia menjadi juara, penampilan impresifnya sejak babak grup hingga partai final juga berhasil membuatnya terpilih sebagai peraih penghargaan Player of The Tournament.
Akan tetapi, nasib Gianluigi Donnarumma perlahan-lahan berubah setelah gelaran Piala Eropa 2020 berakhir. Penyebabnya adalah keputusannya yang menolak perpanjangan kontrak dari AC Milan dan lebih memilih pergi secara gratis dari klub yang telah membesarkannya itu.
Donnarumma kemudian menerima pingangan PSG yang memberinya gaji selangit hingga 12 juta euro pertahun, dua kali lipat dari gaji yang ia dapat di Milan. Singkat kata, kiper 23 tahun itu lebih memilih uang ketimbang kesetiaan. Namun, Donnarumma beralasan bahwa musim panas kemarin adalah waktu yang tepat baginya untuk melangkah maju.
“Saya menghabiskan delapan tahun di Milan dan saya mengalami saat-saat indah di sana. Tapi hidup terdiri dari pilihan, kami memiliki ambisi yang berbeda. Saya perlu berubah untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi yang terkuat,” kata Donnarumma kepada Corriere dello Sport, dikutip dari SempreMilan.
✅ Win Euro 2020
✅ Sign for PSGWhat a few days for Gianluigi Donnarumma! pic.twitter.com/TkbQEUVVuC
— ESPN FC (@ESPNFC) July 14, 2021
Akibat keputusannya itu, Donnarumma langsung dibenci pendukung Milan yang dahulu begitu mencintainya. Kepergiannya dari San Siro juga membuat fans rossoneri begitu sakit hati dan merasa dikhianati. Mungkin karena hal itulah, kini nasib Donnarumma tak sebaik saat di Milan.
Daftar Isi
Donnarumma Bukan Kiper Utama PSG
Di awal kariernya di PSG, Donnarumma kesulitan menembus starting eleven Les Parisiens. Pelatih Mauricio Pochettino lebih sering memasang Keylor Navas sebagai kiper utama PSG. Alhasil, Donnarumma yang berstatus kiper terbaik Serie A dan Euro 2020 cuma jadi ban serep Keylor Navas.
Sejauh ini, kiper timnas Italia itu baru tampil 12 kali di Ligue 1 dan sudah 4 kali mencatat clean sheets. Jumlah tersebut masih kalah dengan menit bermain Keylor Navas. Mantan kiper Real Madrid itu sudah tampil sebanyak 17 kali di Ligue 1 dengan 7 kali mencatat clean sheets.
Harus bergantian tampil dengan Navas jelas membuat menit bermain Donnarumma turun drastis, kontras dengan apa yang ia dapat di AC Milan yang selalu memainkannya sebagai kiper utama. Situasi itu sempat memunculkan rumor kalau Donnarumma merasa tak betah di Prancis.
Donnarumma about his competition with Navas: “It doesn’t affect my performances but it ‘disturbs’ me. It’s not easy because I was used to playing as starter and sometimes it hurts to be on the bench, but I’m sure the situation will be resolved”, he told @TNTSportsBR. 🇮🇹🇫🇷 #PSG pic.twitter.com/p5hfB4WNmP
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) November 13, 2021
Namun, rumor tersebut perlahan sirna seiring dengan kesempatan bermain yang mulai Donnarumma dapatkan, khususnya di kompetisi Liga Champions Eropa. Ya, menit bermain Donnarumma lebih banyak di Liga Champions. Sayangnya, begitu menit bermainnya meningkat dan mendapat kesempatan bermain sebagai kiper utama PSG, nasib kiper timnas Italia itu malah tambah tragis.
Donnarumma Dituding Sebagai Biang Keladi Kekalahan PSG di Liga Champions
Mendapat menit bermain yang lebih banyak di Liga Champions rasanya malah jadi bumerang bagi karier Donnarumma di PSG. Tampil 3 kali di babak grup, secara mengejutkan, Mauricio Pochettino juga memainkan Donnarumma untuk melawan Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions.
Sukses membantu PSG menang di leg pertama, Donnarumma kembali dipercaya Pochettino untuk tampil di leg kedua saat PSG bertandang ke Santiago Bernabeu. Keputusan tersebut tentu mengejutkan. Pasalnya, Pochettino malah mengesampingkan Keylor Navas yang jauh lebih berpengelaman dan sangat mengenal para pemain Madrid beserta atmosfer Santiago Bernabeu.
Benar saja, laga leg kedua babak 16 besar jadi bencana bagi Gianluigi Donnarumma. Di menit ke-61, ia membuat sebuah blunder fatal. Akibat berlama-lama dengan bola di kakinya, Benzema yang bertindak sebagai pressing forward berhasil merebut bola dari kaki Donnarumma dan kemudian membawa Madrid menyamakan kedudukan.
Akibat blunder fatalnya itu, Donnarumma kemudian ditunding sebagai biang keladi tersingkirnya PSG dari Liga Champions musim ini. Bahkan, majalah L’Equipe sampai menjulukinya sebagai “penggali kubur PSG”.
Bagaimana tidak, blunder tersebut jadi awal petaka PSG di Santiago Bernabeu. Sebab, beberapa menit berselang, gawang Donnarumma kembali jebol dua kali oleh Karim Benzema yang sukses mengubah skor agregat menjadi kemenangan untuk Madrid.
Blunder di laga melawan Madrid sepertinya juga mempengaruhi mental Donnarumma. Kembali dimainkan saat PSG bertandang ke markas AS Monaco, penampilan kiper bertinggi badan 196 cm itu sungguh memprihatinkan. Kembali, gawang yang ia kawal jebol 3 kali.
Di laga tersebut, Donnarumma juga gagal menepis sepakan penalti Wissan Ben Yedder dengan sempurna. Sudah menebak arah tembakan dengan tepat, tepisan Donnarumma malah masuk ke gawangnya sendiri.
The last 15 days of Gianluigi Donnarumma:
❌ 3-1 loss from Real Madrid and out from Champions League.
❌ 3-0 loss from AS Monaco in Ligue 1.
❌ 1-0 loss from Macedonia and out from 2022 World Cup. pic.twitter.com/zmKoASQLEs— Football Factly (@FootballFactly) March 25, 2022
Donnarumma Disalahkan atas Kegagalan Italia Lolos ke Piala Dunia 2022
Sudah jatuh tertimpa tangga. Sembilan hari berselang, Gianluigi Donnarumma kembali menerima nasib sial. Tampil di laga semifinal playoff kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Makedonia Utara, Donnarumma gagal membawa timnas Italia lolos ke Piala Dunia Qatar.
Lagi-lagi, setelah dituding sebagai biang tersingkirnya PSG di Liga Champions, Donnarumma kembali dituding sebagai salah satu biang keladi kekalahan Italia dari Makedonia Utara. Gol kemenangan Makedonia Utara memang bukan salah Donnarumma sepenuhnya. Namun, menilik posisinya sebagai kiper, Donnarumma tentu sasaran paling empuk untuk disalahkan.
Pendukung Italia yang murka kepada Donnarumma sebetulnya punya alasan yang cukup masuk akal. Pasalnya, sepakan Aleksandar Trajkovski di menit ke-92 adalah tembakan tepat sasaran kedua yang ia hadapi di laga tersebut. Ironisnya, Donnarumma gagal bereaksi cepat dan sepakan jarak jauh itu kemudian berbuah petaka bagi Gli Azzurri.
Gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2022 dan dituding sebagai biang keladi kekalahan timnya atas Makedonia Utara agaknya menjadi puncak dari rentetan kesialan Gianluigi Donnarumma. Bisa dibilang kalau Donnarumma juga sedang mendapatkan karma, sebab kesialan-kesialan tadi ia dapatkan pasca meninggalkan AC Milan.
Mungkin, rentenan nasib buruk itu memang benar-benar karma. Sebab, nasib serupa juga diterima dua mantan rekannya di Milan. Siapa lagi kalau bukan Hakan Calhanoglu dan Franck Kessie. Dua pemain yang mengikuti jejak Donnarumma yang menolak perpanjangan kontrak dari Milan juga gagal membawa negaranya lolos ke Piala Dunia 2022.
Status Donnarumma Sebagai Kiper Terbaik di Dunia Mulai Diragukan
Rentetan karma yang tengah didapat Gianluigi Donnarumma ini jadi bukti sahih bahwa keputusannya yang menolak perpanjangan kontrak di Milan dan lebih memilih hengkang ke PSG adalah sebuah keputusan yang salah. Itu pula yang diyakini mantan pelatih legendaris AC Milan, Arrigo Sacchi.
Sebelumnya, pada 2017 silam, Sacchi bahkan pernah mengingatkan Donnarumma untuk tidak meninggalkan Milan bila tak mau menyesal di kemudian hari. Kini, nasihat itu sepertinya terbukti dan Sacchi dengan tegas juga mengkritik Donnarumma yang ia nilai lebih memilih uang.
“Donnarumma salah memilih uang. Saya memberi tahu orang tuanya bahwa dia harus tinggal di Milan, bukan karena rasa terima kasih tetapi karena itu adalah tempat yang sempurna untuk terus tumbuh dewasa. PSG tidak punya rencana, uang tidak cukup untuk menang,” kata Arrigo Sacchi kepada Corriere della Sera, dikutip dari sportsmax.tv.
Arrigo Sacchi: “Donnarumma was wrong to choose money.” I told his parents he had to stay in Milan, not out of gratitude but because it was the perfect place to continue growing up. PSG have no plan, money is not enough to win.” pic.twitter.com/VwDOA4ZdVb
— GFS Sports (@gfs_sports) March 20, 2022
Kini, rentatan karma yang Gianluigi Donnarumma terima pasca meninggalkan Milan juga menyisakan pertanyaan besar. Pasalnya, beberapa blunder yang ia buat, khususnya di sepanjang bulan Maret ini membuat statusnya sebagai salah satu kiper terbaik dunia mulai diragukan.
Sekadar info, Donnarumma adalah peraih penghargaan Yashin Trophy 2021, IFFHS World’s Best Goalkeeper 2021, Globe Soccer Awards 2021 untuk kategori kiper terbaik, dan masuk dalam susunan pemain terbaik FIFA FIFPro World11.
Rentetan penghargaan tadi sebenarnya juga jadi bukti betapa berbakatnya Donnarumma. Terlepas dari karma yang kini sedang ia terima, Donnarumma bukanlah kiper yang buruk. Namun, semua orang juga tahu bahwa ia hanya melakukan kesalahan besar dengan lebih memilih pinangan gaji selangit dari PSG.
Melihat dari segi kualitas dan usianya, Gianluigi Donnarumma mungkin akan tetap menjadi kiper nomor satu Italia. Namun, karena rentetan kesalahan yang sudah ia buat, Donnarumma sepertinya harus berusaha memenangkan kembali hati orang-orang yang sudah pernah ia sakiti.
***
Referensi: Football Italia, Sempre Milan, Bola, Football Italia, Sportsmax.


