Real Mallorca dan Gejolak Naik Turun yang Patut Mendapat Sanjungan

  • Whatsapp
Real Mallorca dan Gejolak Naik Turun yang Patut Mendapat Sanjungan
Real Mallorca dan Gejolak Naik Turun yang Patut Mendapat Sanjungan

Kompetisi sepakbola Spanyol tidak hanya menyoal tentang FC Barcelona dan Real Madrid saja. Apalagi untuk sekarang, dimana Barcelona yang mulai hilang kekuatan telah membuat banyak tim lainnya masuk ke dalam persaingan.

Diantara banyak nama yang terus membuat kompetisi La Liga kian memanas, ada Real Mallorca yang tidak boleh luput dari sorotan. Mallorca memang baru kembali berkompetisi di La Liga pada musim ini. Namun beberapa tahun sebelumnya, perjuangan yang dilakukan sangat layak mendapat penghargaan, apalagi bila menilik kiprah mereka sebagai salah satu tim paling bersejarah di La Liga.

Perjalanan Naik Turun Real Mallorca

Real Mallorca memiliki banyak masa naik turun. Di era 1990 an sampai 2000 an misalnya, klub yang kini dilatih Luis García Plaza beberapa kali muncul sebagai kuda hitam meski pada akhirnya apa yang telah dilakukan hilang dalam waktu yang cukup lama.

Hanya berhasil memenangi trofi Segunda Division pada musim 1959/60 dan 1964/65, Real Mallorca bangkit ketika mereka mendatangkan pelatih Hector Cuper pada tahun 1997, saat kembali pentas di La Liga usai terakhir kali terdegradasi pada tahun 1992.

Apa yang menjadi keterpurukan Real Mallorca di awal 90 an adalah karena mereka kehilangan pemain pilar semacam Miguel Angel Nadal yang hengkang ke Barcelona usai dipanggil timnas Spanyol pada tahun 1991.

Kembali ke Hector Cuper yang baru didatangkan, pelatih asal Argentina tersebut mampu memberi kejayaan bagi klub meski permainan yang ditampilkan tergolong sederhana. Banyak bertahan dan mencoba mencuri gol ketika tim lawan lengah.

Bersamaan dengan Cuper, pemain yang didatangkan seperti Enrique Romero, Ivan Campo, Vicente Engonga, dan Juan Carlos Valeron, juga sedikit banyak menjadi bagian dari era kebangkitan mereka di kompetisi La Liga. Terlebih ketika kiper Carlos Roa ikut didatangkan pada bursa transfer bulan Januari.

Di musim perdana nya, Hector Cuper berhasil membawa Real Mallorca duduk di tangga kelima plus mengantar klub ke partai final Copa del Rey. Sayang, mereka harus mengakui keunggulan FC Barcelona asuhan Louis van Gaal yang jadi lawan, lewat drama adu penalti.

Beruntung, ketika bertemu dengan tim yang sama di partai Piala Super Spanyol, Real Mallorca berhasil meraih kemenangan dalam dua laga, dimana pada leg pertama mereka mampu unggul dengan skor 2-1. Sementara di leg kedua, Real Mallorca juga berhasil unggul dengan skor tipis satu nol ketika tampil di hadapan 55 ribu penonton yang memadati Stadion Camp Nou.

Kemenangan di partai Piala Super Spanyol itu pun membuat mereka meraih trofi bergengsi pertama sepanjang sejarah klub.

Setelah momen bersejarah tersebut, Mallorca juga sempat tampil di partai final Piala Winners tahun 1999. Nahas mereka harus mengakui keunggulan Lazio dengan skor 1-2. Kekalahan itu pun lantas menjadi penanda era berhentinya generasi Hector Cuper yang gabung ke Valencia.

Beruntung di era 2000 an, muncul generasi baru yang tak kalah hebat. Bersamaan dengan nama Miguel Ángel Nadal yang dipulangkan dari FC Barcelona, Real Mallorca berhasil memunculkan nama Samuel Eto’o, Leo Franco, sampai Alvaro Novo yang dipromosikan dari tim junior.

Bersama pelatih Luis Aragones yang ditunjuk sang presiden baru Mateu Alemany, mentalitas para pemain Real Mallorca mulai terbentuk. Meski hanya semusim bertahan, Aragones mampu membuat para pemain tahu tentang kualitas mereka masing-masing. Terlebih bagi pasangan duet Samuel Eto’o dan Ariel Ibagaza yang sukses tampil superior dan membawa klub finish di posisi ketiga klasemen akhir musim 2000/01.

Sempat mengalami masa suram ketika ditinggal Aragones, Gregorio Manzano yang didatangkan pada musim panas 2002 berhasil mengembalikan mentalitas pemain Mallorca. Hasilnya, ledakan performa skuad Mallorca di tahun 2003 berujung pada gelar Copa del Rey pertama sepanjang sejarah, meski di liga mereka terseok dengan duduk di tangga ke sepuluh.

Setelah memainkan musim yang mengesankan itu, kembali, Real Mallorca berada pada masa yang tak diinginkan. Ibagaza dan Albert Riera hijrah ke Atletico Madrid dan Bordeaux. Kemudian ada Pandiani yang harus kembali ke Deportivo La Coruna. Mengandalkan Samuel Eto’o seorang pun tak cukup membuat mereka punya kekuatan besar.

Praktis, performa Eto’o yang disebut terlalu ciamik untuk tim sekelas Mallorca langsung di comot FC Barcelona pada tahun 2004. Dari situ, kilau cahaya Mallorca mulai meredup. Mereka jatuh ke jurang kehancuran sebelum akhirnya disebut mengalami masalah finansial pada tahun 2010.

Beruntung, Rafael Nadal dan Miguel Angel Nadal yang merupakan pamannya berbaik hati untuk ikut menanam saham, dengan bergabung dalam sebuah konsorsium yang melakukan investasi untuk menyelamatkan Real Mallorca yang terancam bangkrut.

Meski terselamatkan, performa Real Mallorca yang memang akrab dengan kesemenjanaan harus runtuh pada tahun 2013. Mereka terdegradasi ke divisi kedua dan dinyatakan jatuh ke divisi yang lebih curam di tahun 2017.

Lagi-lagi, keterpurukan itu tak lepas dari masalah finansial yang mereka hadapi.

Bangkit dan Bertahan di Era Pandemi

Di tengah masa suram mereka yang lebih dekat dengan lembah kehancuran, kemudian muncullah sekelompok pebisnis Amerika Serikat, Kanada, Inggris, hingga Jerman, yang membentuk konsorsium untuk menyelamatkan klub.

Sosok yang dimaksud adalah Andy Kohlberg, Robert Sarver, Steve Nash, Graeme Le Saux, Utz Claassen. Tiga diantara dari nama tersebut merupakan sosok populer, seperti Nash yang kita tahu adalah legenda NBA asal Kanada. Kemudian ada Le Saux yang merupakan mantan pesepakbola Liga Primer Inggris. Kemudian ada Andy Kohlberg yang kita tahu merupakan petenis profesional Amerika.

Untuk Robert Sarver dan Utz Claassen, dua nama itu merupakan pebisnis yang punya reputasi cemerlang. Sarver adalah pengusaha perumahan yang tercatat sebagai pemilik klub NBA, Phoenix Suns. Sedangkan Claassen adalah orang yang membantu anak perusahaan Volkswagen di Spanyol, SEAT.

Nama-nama hebat tersebut memiliki misi untuk memperbaiki klub agar nantinya, ketika berhasil kembali ke kasta tertinggi, mereka bisa lebih siap dalam menghadapi tantangan.

Guna melancarkan misi, ditunjuklah Maheta Molango sebagai CEO klub. Molango memang bukan sosok tersohor sebagai CEO klub. Akan tetapi, dia punya segala atribut yang dibutuhkan Mallorca, yakni pemahaman soal struktur klub dan hukum sepakbola, kemampuan komunikasi brilian, dan pengalaman sebagai seorang pemain profesional.

Ya, Maheta Molango merupakan sosok yang sempat tampil bersama sejumlah klub, termasuk Atletico Madrid dan Brighton di kompetisi Liga Primer Inggris.

Dia tidak ingin berkomentar banyak ketika ditanya tentang apa saja yang bakal dilakukan dalam beberapa tahun ke depan di klub, yang pasti, dia mengedepankan pandangan realistis guna mencapai tujuan yang diinginkan.

“Kami sadar bahwa kami bukan klub yang memiliki dana transfer besar seperti Real Madrid atau Barcelona, maka kami akan memaksimalkan talenta-talenta yang ada dari akademi, juga beberapa transfer pemain muda,” jelasnya.

Ya, memaksimalkan talenta dari akademi memang menjadi bagian dari cara Mallorca untuk kembali bangkit. Selain itu, perekrutan pemain muda juga dilakukan untuk menunjang proyek jangka panjang klub.

Lebih lanjut, Mallorca juga masuk ke dalam perbaikan kebijakan finansial. Sejak hari pertama kerja, Molango langsung memfokuskan sebagian besar anggaran untuk fasilitas latihan dan akademi klub. Yang tak kalah penting, dia juga menyesuaikan harga tiket kandang Mallorca agar sesuai dengan daya beli para penggemar.

Langkah yang dilakukan berhasil membuat sejumlah sponsor masuk hingga mampu menstabilkan keuangan klub secara perlahan. Sementara itu, tentang kebijakan penjualan tiket, Molango mendapat dukungan penuh dari para penggemar. Dengan harga tiket yang pas, jarang sekali ada bangku kosong setiap kali Mallorca melakoni laga kandang.

Hasilnya, hanya berselang tiga tahun setelah pengambilalihan kekuasaan di Mallorca, klub mampu promosi ke kasta tertinggi Spanyol, meski hanya bertahan selama semusim saja. Beruntung, pada musim 2021/22, Mallorca yang duduk di tangga kedua Segunda Division di musim sebelumnya berhasil kembali ke kompetisi dimana mereka akan kian mendapat banyak perhatian.

Andy Kohlberg yang jadi salah satu sosok penting dalam era baru Mallorca berkomentar bila para sosok di balik layar memang berkomitmen untuk membentuk budaya kemenangan. Selain itu, dia juga turut menyalurkan mentalitas atlet papan atas kepada para pemain Mallorca.

Ketika memasuki era pandemi, manajemen yang juga mengakui bila finansial mulai terganggu, terus memutar otak untuk bisa menyeimbangkan neraca keuangan. Buah dari pemikiran mereka, hadirlah sebuah inovasi tentang pembuatan konten eksklusif yang bisa dinikmati para penggemar.

Mereka yang memang ingin terus mempertahankan keterlibatan penggemar, membuat konten yang salah satunya diberi nama ‘Vamos a tu casa’ atau yang berarti ‘ayo pergi ke rumahmu’. Disini, Mallorca akan memberikan konten berupa tour stadion secara online, dimana para penggemar akan dibuat seolah-olah tengah berkeliling secara langsung di markas klub kesayangan.

Dalam konten tersebut, para penggemar juga bisa menikmati tayangan eksklusif lainnya seperti mengikuti tim yang akan bertanding dari hotel menuju stadion, suasana setelah pertandingan, dan tayangan tentang komentar para pemain kunci mengenai hasil pertandingan dalam kemasan yang berbeda.

Sementara itu, terdapat juga konten yang lebih panjang dalam bentuk dokumenter dengan judul ‘We miss you: The sound of silence’. Konten ini secara keseluruhan berisi tentang pengalaman bertanding sepakbola tanpa penonton.

Mallorca yang bergerak di platform Youtube melalui konten menarik nan eksklusif, berhasil menjadi tim ketiga di Spanyol setelah Real Madrid dan FC Barcelona dengan penonton terbanyak.

Strategi pemasaran yang dilakukan Mallorca memang pantas diacungi jempol. Tidak ingin kembali merasakan krisis finansial, mereka mencoba untuk menjangkau penggemar di seluruh dunia dengan cara mendatangkan pemain-pemain asing dari enam konfederasi anggota FIFA. Bahkan, untuk menarik wisatawan Jepang dan Korea Selatan yang kita tahu punya minat besar terhadap sepakbola, mereka mendatangkan pemain potensial sekaliber Takefusa Kubo dan Lee Kang-in.

“Fakta bahwa kami bisa mendapatkan keuntungan dan melakukan beberapa hal serupa dengan apa yang kami lakukan dengan Kubo di Jepang atau Kang-in di Korea, atau Matthew Hoppe di AS. Ini menjadi semacam lapisan gula pada kue yang menjadi daya tarik tambahan,” ucap Kohlberg.

Bersama pelatih Luis Garcia Plaza pada musim ini, bakat pemain akademi, perekrutan pemain muda potensial, dan ditambah dengan keberadaan sejumlah pemain berpengalaman, membuat Mallorca punya pergerakan yang disegani. Dengan latihan yang intens, para pemain bisa menampilkan pergerakan bola cepat, dominasi permainan, dan membuat skema serangan yang tak kalah mengesankan.

Satu rahasia lain dari sang pelatih dalam menjaga kestabilan para pemainnya adalah, Mallorca turut mengedepankan pola hidup teratur dan sangat disiplin guna memastikan mereka agar tetap berada dalam kondisi terbaiknya.

Berbekal nilai sejarah yang tidak bisa disingkirkan serta keseriusan sosok di balik layar yang terus berusaha melakukan banyak hal, semua tentu menginginkan bila Mallorca bisa menjadi tim yang punya kekuatan yang diharapkan, meski harus diakui memang, bila itu bukan perkara mudah bak membalikkan telapak tangan.

Sumber referensi: 1news, Kumparan, News Letter La Liga, Tirto, Republik, Skor

Pos terkait