Merayakan Pemecatan Ole dari Manchester United

  • Whatsapp
Merayakan Pemecatan Ole dari Manchester United
Merayakan Pemecatan Ole dari Manchester United

Menjadi fans klub besar yang penuh dengan sejarah, tapi selama empat tahun terakhir malah melempem itu ibarat makan siomay tapi isinya pare semua. Pahit. Begitulah mungkin yang dirasakan Manchester United semenjak Ole Gunnar Solskjaer masuk menggantikan Jose Mourinho musim 2018/19.

Memang benar Ole adalah mantan pemain Manchester United yang punya kiprah tak dapat diremehkan. Ia bahkan menjadi pahlawan Manchester United saat final Liga Champions tahun 1999. Golnya membuat The Red Devils meraih trofi.

Namun saat dia menukangi MU, berada di posisi yang dulunya saat ia bermain ditempati Sir Alex Ferguson, 360 derajat berbeda. Ole memang jago membawa MU juara lewat kakinya. Tapi ia boleh dibilang gagal membawa Setan Merah juara melalui taktiknya.

Saat jadi pemain, Ole sangat hebat. Tapi saat dia menjadi pelatih, justru membuat para fans MU sambat. Bayangkan! Empat tahun saudara-saudara. Empat tahun Ole Gunnar Solskjaer tak mampu memberi satupun trofi untuk Manchester United.

Padahal Ole punya segalanya, termasuk tentu saja pemain yang hebat sekaligus mahal. MU, boleh dibilang memiliki skuad yang sangat mewah. Ole dianugerahi itu, tapi dia tak sadar. Namun, awalnya fans tetap sabar. Mungkin semua itu butuh waktu, butuh proses.

Meskipun sebetulnya proses itu bisa lebih cepat, mengingat kedalaman skuad Manchester United sangat potensial. Sayangnya, Ole tak sanggup melakukan itu. Tapi para fans tetap juga sabar.

Para fans mulai berpikir positif kalau mungkin saja Ole ini tipikal pelatih seperti Sir Alex Ferguson. Butuh waktu yang agak lama untuk berproses. Membangun skuad Manchester United pilih tanding. Akan tetapi, empat tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menunggu.

Ironisnya, Ole tak mampu mempersembahkan sebiji pun trofi. Ole Gunnar Solskjaer sebenarnya memiliki satu kesempatan untuk meraih itu. Trofi Europa League 2020/21 nyaris saja menambah koleksi piala di lemari Manchester United biar nggak kosong-kosong amat. Namun, anak asuh Ole Gunnar Solskjaer mesti tunduk di hadapan Villarreal. Dan nahasnya lagi, Manchester United kalah di babak tos-tosan alias adu penalti.

Musim 2021/22

Jelang musim 2021/22, Manchester United sungguh membuat fans mereka berdecak kagum. Fans, awalnya mulai yakin, mungkin di musim 2021/22 inilah Ole menunjukkan kehebatannya menjadi seorang pelatih. Betapa tidak? Para pemain beken yang tentu saja mahal didatangkan.

Mari kita menyebutnya satu per satu. Raphael Varane yang dibeli dari Real Madrid dengan banderol sekitar 47 juta euro atau kira-kira Rp 796 miliar. Lalu, Jadon Sancho yang diboyong dari Borussia Dortmund seharga 90 juta euro atau sekitar Rp 1,4 triliun. Dan Cristiano Ronaldo yang diangkut dari Turin dengan budget 23 juta euro atau Rp 371 miliar.

Disamping itu, jangan lupa MU juga masih punya bek mahal, Harry Maguire yang harganya 80 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,5 triliun. Setan Merah juga punya gelandang 40 juta pounds atau sekitar Rp 791 miliar, Donny Van de Beek. Yhaaa kalau didaftar banyak banget, dan jadi kayak laporan harga pemain MU doang nanti.

Intinya, Manchester United memiliki skuad mewah musim ini. Namun inti dari segala inti, Ole tak mampu berbuat banyak dengan skuad yang menghabiskan duit banyak. Kekalahan demi kekalahan justru menghampiri Manchester United di Premier League musim ini.

Setan Merah keok dari Leicester City 4-2. Manchester United juga remuk di tangan anak asuh Jurgen Klopp 5-0. Beberapa hari berselang, giliran Pep Guardiola yang menunjukkan kemenangan bagi MU hanya mimpi. United kalah 0-2 dari City.

Teranyar, Sabtu (20/11), anak asuh Claudio Ranieri menyadarkan bahwa MU tak lebih dari sekadar klub Football League One yang nyasar ke Premier League. MU kalah 1-4 atas Watford. Iya, Watford, senior MU di papan bawah Premier League.

Berkali-kali Diminta Out

Kiprah yang cenderung buruk bikin Ole Gunnar Solskjaer selalu diminta untuk out. Biasanya menunggu, kalau Manchester United kalah #oleout bakal makin nyaring terdengar. Apalagi kalau MU kalah besar, ditambah musuh yang dihadapi, secara materi pemain, jauh di bawah United.

Berkali-kali Ole diminta keluar dan legowo meninggalkan kursi kepelatihan Manchester United. Tapi sayangnya, berkali-kali itu pula Ole masih kelihatan di bench pemain MU. Sampai-sampai banyak yang menaruh curiga, meski dalam konteks guyon, bahwa Ole punya orang dalam.

Meski begitu, harus diakui, meminta Ole untuk out wajar belaka. Toh, di negeri ribuan kilometer dari Inggris, pelatih yang jelas memiliki progres pun masih bisa terancam untuk dipecat. Bahkan ada klub yang gonta-ganti pelatih, kendati prestasi pelatih lama juga bukan ala kadarnya.

Memecat Ole Bukan Solusi, Tapi Perlu

Pada akhirnya suara #oleout tidak hanya semacam bisik-bisik tetangga. Ole betul-betul ditendang dari Manchester United. Perkaranya, karena Ole berperan penting dalam kekalahan memalukan Manchester United atas Watford. Hal itu juga secara nggak langsung memperlihatkan bahwa buzzer #oleout lebih perkasa sekaligus realistis ketimbang buzzer #olestay.

Wartawan kenamaan, Fabrizio Romano sudah memberitakan itu. Bahkan akun resmi Manchester United di Twitter dan postingan website resmi klub juga sudah memberikan woro-woro, bahwa Ole sudah tidak mempunyai kesempatan buat ketawa-ketiwi lagi di kursi pelatih MU. Ini jelas kabar yang membahagiakan, terutama bagi para fans Setan Merah.

Meskipun, entah mau mengakuinya atau tidak, memecat Ole Gunnar Solskjaer bukan solusi terbaik. Karena siapapun yang menjadi pengganti Ole, berarti ia akan menerapkan sistem baru. Sementara, Manchester United bukan tipikal klub yang mudah dibongkar pasang.

Belum lagi, jika manajemen Setan Merah belum juga berbenah. Maksudnya, para petinggi klub masih kayak PSSI, nggak tahu sepak bola. Nggak punya perencanaan yang jelas bagi Manchester United. Maka, bukan mustahil kalau Manchester United akan kembali menunaikan ibadah puasa gelar.

Namun, mempertahankan Ole seperti masuk ke lubang yang sama. Entah Ole yang fakir taktik, atau memang dirinya yang tak mampu mengkomunikasikan taktiknya ke pemain. Sehingga para pemain sulit menerapkan taktik Ole di sebuah pertandingan. Yang jelas, ada masalah dengan cara Ole melatih.

Walaupun bukan solusi terbaik, memecat Ole Gunnar Solskjaer juga perlu. Apalagi tampak kalau Ole memang menjadi satu di antara sekian faktor Manchester United bagai kerupuk kena angin: melempem. Apa pun itu, patut disyukuri.

Barangkali, momentum pemecatan Ole dari Manchester United juga bisa menjadi kesempatan bagi fans MU yang jarang bersyukur untuk bersyukur. Setidaknya, satu noda sudah dibersihkan.

Kalau perlu, dan memang perlu, pemecatan Ole dari Manchester United ini mesti dirayakan. Apalagi ini adalah penantian panjang, dan harapan banyak fans MU. Atur saja siapa yang mau bikin nasi tumpeng, cari orkes dangdut, dan yang joget. Urusan pelawak sudah ada, dan tanpa disebut pun, kamu tahu siapa orangnya.

Sumber referensi: goal.com, manutd.com, TheFlanker

Pos terkait