RB Leipzig, Rajanya Transfer dan Pengembangan Talenta Muda

  • Whatsapp
RB Leipzig, Rajanya Transfer dan Pengembangan Talenta Muda
RB Leipzig, Rajanya Transfer dan Pengembangan Talenta Muda

Perjalanan klub Bundesliga, RB Leipzig, menjadi salah satu yang paling menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Klub yang disponsori oleh minuman berenergi itu berhasil masuk ke jajaran elit Jerman, bahkan Eropa, meski dinilai tidak memiliki sejarah mentereng.

Tepat setelah produsen minuman berenergi tiba, RB Leipzig yang masuk dengan mencaplok nama SSV Markranstadt, memulai segalanya dari divisi amatir. Pada musim 2009/10, mereka memulai petualangan dari divisi lima Liga Jerman. Hanya semusim berkompetisi disana, RB Leipzig lalu berhasil naik ke divisi empat. Pada musim 2013/14 sendiri, nama mereka sudah sampai di kasta ketiga sepakbola Jerman.

Bacaan Lainnya

Tak butuh waktu lama, hanya semusim tampil disana, kompetisi Bundesliga 2 berhasil mereka raih. Hebatnya lagi, mereka hanya bertahan selama dua musim di sana sebelum akhirnya mentas di kompetisi tertinggi Jerman. Bahkan, pada musim 2019/20 kemarin, RB Leipzig yang berada di bawah asuhan Julian Nagelsmann berhasil melaju ke fase semifinal Liga Champions Eropa.

Kini, sudah enam tahun lamanya RB Leipzig jadi tim yang konsisten tampil di kompetisi Bundesliga. Tidak ada yang menyangka bila perjalanan mereka akan secepat ini. Faktanya, selain karena aliran dana yang dikucurkan terbilang cukup, mereka juga sangat ahli dalam hal jual beli pemain sekaligus mengembangkan bakat muda.

Lihat saja, kita kerap menyaksikan pergerakan klub tersebut yang begitu moncer meski banyak mengandalkan bakat muda. Faktor tersebut kemudian menjadi sangat krusial setelah klub memang memiliki jajaran manajemen yang tak kalah hebat dalam mengelola tim.

Lantas seperti apa cara mereka melakukannya?

Aturan Ralf Rangnick

Banyaknya pemain muda brilian yang datang dan pergi dari RB Leipzig mulanya hadir dari aturan yang diberlakukan Ralf Rangnick. RB Leipzig tak ubahnya jadi sebuah rumah yang dibangun Rangnick. Menurut Jan Schäfer yang kini menjabat sebagai manajer akademi RB Leipzig, sentuhan Rangnick telah menjadikan Leipzig sebagai tim yang mampu berkembang dengan lebih dulu mengumpulkan berlian muda.

Dalam kedatangannya pada 2012 lalu, Rangnick lebih dulu melakukan pertemuan dengan Mateschitz, selaku salah satu founder Red Bull, selama empat jam di Austria. Dari obrolan yang tersaji, ditemukan bahwa mantan bos Schalke dan Hoffenheim memiliki kecerdasan untuk menjadi seorang Direktur Olahraga.

Rangnick yang menjadi arsitek dari proyek yang telah direncanakan membuat segalanya berubah. Filosofinya yaitu mendatangkan pemain muda, mengembangkannya, untuk kemudian terserah mau dijadikan legenda atau dilepas dengan harga yang lebih besar. Satu poin penting dari cara kerja Rangnick adalah, RB Leipzig harus mendatangkan pemain yang berusia tidak lebih dari 24 tahun.

Pasalnya, dengan mendatangkan pemain yang masih berusia belia, akan lebih mudah untuk mengasah skillnya, setidaknya sampai mereka berusia matang. Selain itu, pemain muda juga dianggap lebih mudah diatur.

Apa yang jadi aturan pertama ini memang terus diusung oleh klub tersebut hingga sekarang. Menurut studi yang dilakukan CIES Football Observatory pada April 2019, usia rata-rata pemain Leipzig adalah 21 tahun dan 156 hari, menjadikan mereka sebagai perekrut pemain termuda dari klub mana pun di lima liga top Eropa.

Pada musim 2020/21 sendiri, menurut transfermarkt, rata-rata usia dari sebelas pemain anyar yang diboyong Leipzig adalah sekitar 20,8 tahun.

Aturan berikutnya yang tak kalah penting adalah, para pemain muda yang didatangkan setidaknya memiliki harga yang masih tergolong murah. Hal ini guna mengikuti cara Leipzig yang memang tidak tertarik untuk menghambur-hamburkan uang demi datangkan pemain yang mereka sebut bintang. Mereka ingin tetap menjaga finansial dengan melakukan cara tersebut.

Hal tersebut juga diakui langsung oleh Markus Krösche, mantan Direktur Olahraga Leipzig, yang mulai tahun ini resmi ditunjuk sebagai CEO Eintracht Frankfurt.

“Kami mencari pemain muda, berbakat, dan lapar,”

“Kami tidak bersedia membayar sejumlah besar uang untuk apa yang disebut bintang sepak bola, kami ingin menemukan dan mengembangkan bintang masa depan.” jelas Krosche. (via bbc)

Yang tak kalah penting, masih sesuai dengan aturan yang dibuat Rangnick, Leipzig tidak boleh asal mendatangkan pemain muda dan punya harga murah. Harus dilihat terlebih dahulu kualitas sang pemain. Bila mereka memang cocok dengan sistem permainan klub dan dinilai mudah beradaptasi, maka pemain tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar klub.

Dapatkan Pemain Dari Sistem Multi Club Ownership (MCO)

Menariknya, dalam mendapatkan pemain dengan kriteria yang telah ditentukan, Leipzig tidak terlalu sulit dalam melakukan hal itu. Mereka disebut tidak banyak mengambil pemain dari sistem akademi. Namun, Leipzig yang mengusung misi datangkan pemain muda untuk dikembangkan, sangat diuntungkan dengan fakta bahwa klub termasuk ke dalam tipe Multi Club Ownership, atau yang biasa disebut dengan MCO.

Sama seperti City Football Group yang dipelopori oleh Manchester City, Leipzig memanfaatkan sistem MCO untuk mendapatkan banyak pemain berbakat. Seperti diketahui, Leipzig merupakan klub yang disokong oleh sebuah perusahaan, yang mana perusahaan tersebut juga berinvestasi pada sejumlah klub yang tersebar di seluruh dunia. Diantaranya, Red Bull Salzburg (Austria), New York Red Bulls (Amerika Serikat), hingga Red Bull Bragantino (Brasil).

Selain punya jaringan yang sangat menguntungkan, Leipzig juga tidak perlu khawatir dengan kualitas pemain yang nantinya bakal didatangkan. Pasalnya, klub memiliki jaringan pemandu bakat buat Red Bull dengan kualitas memadai.

Seperti yang sudah dijelaskan, para pemain berkualitas tersebut akan mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Bila memang dianggap cocok dengan kebutuhan klub, maka mereka akan dipilih dan dikembangkan lebih lanjut. Namun bila sang pemain memang punya kualitas terbaik dan hanya butuh tempat untuk berkembang, maka biasanya klub hanya akan melakukan pertukaran atau mengirimkan pemain tersebut ke klub tertentu, yang pastinya masih berada dalam jaringan Red Bull.

Dari sistem ini, sudah ada bukti nyata yang banyak mendapat sanjungan dunia. Misalnya saja gelandang Hannes Wolf dan Amadou Haidara, dimana keduanya bertukar dari Salzburg ke Leipzig. Kemudian ada pemain Amerika Tyler Adams yang tiba di Leipzig pada Januari 2019 lalu.

Jangan lupakan pula nama Jesse Marsch, yang baru dipulangkan dari RB Salzburg untuk menggantikan peran yang ditinggal Julian Nagelsmann di kursi kepelatihan tim.

Bisnis Besar RB Leipzig

Semenjak bergabung dengan kompetisi Bundesliga pada 2016 silam, berkat visi pelatih sekaligus Direktur Olahraga Ralf Rangnick pada medio 2012-2019, yang telah tinggalkan warisan hingga pada akhirnya jadi pondasi klub, dalam sejarahnya Leipzig sudah berhasil mengumpulkan, mengembangkan, sekaligus menjual seorang pemain berbakat dengan harga mahal.

Sebut saja Naby Keita yang dijual ke Liverpool seharga 60 juta euro, setelah Leipzig mengontraknya seharga 29,75 juta euro dari RB Salzburg. Lalu ada nama Timo Werner yang didatangkan dari Stuttgart dengan biaya senilai 22,2 juta euro, untuk kemudian berani ditebus Chelsea seharga 53 juta euro.

Menyambut Musim Baru Dengan Transfer Cerdik Lainnya

Transfer cerdik RB Leipzig kemudian berlanjut sampai ke musim panas tahun ini, dimana mereka berhasil dapatkan dana besar, hasil dari penjualan Dayot Upamecano ke Bayern Munich senilai 42,5 juta euro, Ibrahima Konate ke Liverpool senilai 40 juta euro, hingga Marius Wolf senilai 9,5 juta euro ke Borussia Monchengladbach.

Yang tak kalah penting adalah penjualan senilai 25 juta euro yang dibayar FC Bayern untuk bisa dapatkan pelatih kepala mereka Julian Nagelsmann.

Meski klub tersebut banyak melepas pemain bintang, pada musim panas ini, dengan menggunakan uang hasil penjualan pemain sebelumnya, Leipzig berhasil dapatkan nama potensial sebagai pengganti, seperti Andre Silva (23 juta euro), Josko Gvardiol (18,8 juta euro), Angelino (18 juta euro), Mohamed Simakan (15 juta euro), Benjamin Henrichs (15 juta euro), hingga Caden Clark (1,82 juta euro), untuk arungi kompetisi musim depan.

Menyambut kompetisi musim depan, RB Leipzig bakal memulai era baru bersama Jesse Marsch. Memang benar bila sang pelatih baru punya tugas berat untuk terus lanjutkan kejayaan klub di kompetisi domestik maupun Eropa.

Namun dengan warisan yang ditinggal Ralf Rangnick, kejayaan klub dinilai akan terus bertahan.

Sumber referensi: Cityam, BBC, Marca, LaswordsonSport

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *