Punya Akademi Mewah, Mengapa Pemain Didikan PSG Malah Bersinar di Klub Lain?

  • Whatsapp
Punya Akademi Mewah, Mengapa Pemain Didikan PSG Malah Bersinar di Klub Lain
Punya Akademi Mewah, Mengapa Pemain Didikan PSG Malah Bersinar di Klub Lain

Selain FC Barcelona, Ajax Amsterdam, Real Madrid, sampai Sporting Lisbon, salah satu tim dari sudut kota Paris juga memiliki akademi yang layak dipuji. Paris Saint Germain, selain punya kumpulan pemain berkelas dalam skuadnya, juga memiliki sisi berlian lainnya dari segi akademi.

Paris Saint Germain memahami betul bahwa akademi menjadi bagian penting dari klub untuk membina para bibit muda yang dipersiapkan sebagai tulang punggung di masa mendatang. Oleh sebab itu, mereka mengoptimalkan sistem akademi untuk bisa menghasilkan banyak pemain berkualitas.

Akademi Paris Saint Germain diklaim sebagai akademi terbaik dan terbesar yang terletak di Paris. Bahkan akademi tersebut pernah dinobatkan sebagai yang terbaik di Prancis dengan mengalahkan Lyon. Setiap tahunnya, dilaporkan ada sekitar 2500 siswa yang menimba ilmu disana. Terdapat sejumlah kelas usia, seperti 5-7 tahun, 7-11 tahun, hingga 11-16 tahun.

Frédéric Longuépée, yang sempat menjadi general manajer bisnis PSG mengatakan bila klub asal Paris tersebut serius membangun akademi sepakbola guna menelurkan banyak bakat berkelas. Dikatakan, akademi menjadi salah satu proyek besar klub yang menampung banyak pemain muda berkualitas agar memiliki kesempatan latihan dan menunjukkan bakatnya di hadapan para pelatih.

Akademi PSG sendiri memiliki 50 pelatih yang memimpin setiap sesi latihan setiap hari. Dikabarkan, setiap anak memiliki dua kesempatan latihan dalam sepekan. Mereka nantinya bakal mendapat materi sepakbola dasar dan diminta untuk menunjukkan kehebatan melalui pertandingan mini lima lawan lima.

Dari segi fasilitas, tidak perlu ditanyakan lagi seberapa mewah peralatan dan tempat latihan yang berada disana. Terdapat fasilitas seperti ruang kebugaran dan area pemulihan, ruang perawatan medis, kantor administrasi dan ruang pertemuan. Sementara itu, bila dilihat dari sisi pendidikan, terdapat ruang kelas, ruang komputer, laboratorium, pusat dokumentasi dan informasi, ruang staf, ruang tamu, ruang perawatan dan lain sebagainya.

Ketika bertanding, stadion milik akademi Paris Saint Germain juga cukup untuk menampung sebanyak 5000 penonton. Hal itu menunjukkan bahwa manajemen PSG memang serius untuk membentuk pemain-pemain muda berbakat.

Dengan fasilitas mewah, pelatihan terbaik, serta, jaminan yang bakal didapat setelah menimba ilmu disana, siapa saja pemain jebolan akademi PSG yang berhasil menembus panggung persepakbolaan dunia?

Lulusan Terbaik Akademi PSG

Pertama adalah Kingsley Coman. Pemain berusia 25 tahun itu merupakan jebolan akademi PSG. Dia memiliki banyak bakat istimewa hingga membuatnya banyak diminati oleh banyak klub besar Eropa. Salah satu prestasi terbaiknya adalah, Kingsley Coman telah berhasil memenangkan lima gelar liga berhasil tiga klub berbeda di usianya yang baru menginjak 20 tahun ketika itu.

Sayangnya, Kingsley Coman tidak mendapat banyak kesempatan tampil di tim utama PSG hingga membuat harus hijrah ke Juventus. Saat ini, di usia 25 tahun Coman tercatat sebagai pemain FC Bayern dan tercatat sebagai pemain yang turut sumbangkan tiga trofi dalam satu musim kompetisi.

Berikutnya ada nama Matteo Guendouzi. Ketika Matteo Guendouzi tampil gemilang di Emirates Stadium pada awal musim 2018/19, banyak yang mengira bila bakatnya tetap tidak akan mampu menembus persepakbolaan Inggris. Namun nyatanya, dia mendapat banyak perhatian dan sering kali diturunkan di tim utama. Malah, dia berhasil persembahkan satu trofi Piala FA untuk tim asal London tersebut.

Matteo Guendouzi yang bergabung dengan akademi PSG sejak tahun 2005 di usia enam tahun, kini telah melanjutkan perjalanannya di tim asal Prancis. Bukan bersama PSG, namun bersama Marseille.

Selanjutnya ada Moussa Dembele yang kini tercatat sebagai pemain Lyon. Bermain di akademi PSG dalam rentang usia 2004 sampai 2012, Moussa Dembele melakoni perjalanan yang cukup panjang. Dia pernah bermain untuk Fulham sebelum akhirnya meraih banyak gelar bersama Celtic. Bahkan pada musim lalu, pemain ini juga tampil sebagai juara La Liga bersama Atletico Madrid.

Beberapa nama hebat lainnya adalah Adrien Rabiot yang kita tahu tampil bersama timnas Prancis di ajang Piala Eropa 2020, Mamadou Sakho yang sempat jadi andalan Liverpool, Christopher Nkunku yang kini tercatat sebagai pemain RB Leipzig, sampai Patrice Evra yang menjadi legenda Manchester United dan Juventus.

Bila diperhatikan, banyak pemain didikan akademi PSG yang justru berjaya bersama tim lain, dan tidak memberi kejayaan bagi klub itu sendiri. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Mengapa PSG Tak Pakai Jasa Pemain Akademi Sendiri?

Pertama, dijelaskan bila tidak adanya jalur menuju tim utama. Sekalinya seorang pemain muda dimasukkan ke dalam tim utama, mereka akan sangat sulit mendapat waktu bermain. Di PSG, banyak pemain jebolan dari akademi tersebut menerangkan bila untuk bisa tampil di tim utama, mereka harus memiliki kemampuan yang benar-benar superior.

Christopher Nkunku yang kini tampil untuk RB Leipzig mengatakan kalau dia tidak pernah diberi kepercayaan untuk unjuk kebolehan di tim utama. Terlebih, posisinya cenderung berada di lini depan. Hal itu akan semakin menambah tingkat kesulitan pemain muda untuk tampil di tim utama.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Odsonne Edouard yang kini lebih memilih untuk tampil bersama Celtic di usia 23 tahun.

“Menjadi starter di Paris itu sulit, terutama di posisi menyerang seperti ku. Jika kami berpikir bahwa kami siap bermain, kami harus bermain. Tidak ada gunanya menunggu,”

“Itu sebabnya begitu banyak pemain muda seperti ku memutuskan untuk mengambil jalur lain agar bisa mendapatkan waktu bermain dan mengekspresikan diri.” (via espn)

Alasan berikutnya dan yang paling sering diketahui orang adalah, PSG, melalui sang pemilik asal Qatar, lebih menyukai pemain-pemain yang berlabel bintang. Misalnya saja Kylian Mbappe sampai Neymar Jr.

PSG membutuhkan nama-nama besar untuk meningkatkan citra klub. Selain itu, hal tersebut juga dilakukan untuk meraih pendapatan yang didambakan, dimana itu bisa didapat dari penjualan merchandise serta kerjasama sponsor.

PSG disebut tidak ingin menempuh rute alami seperti yang dilakukan Ajax Amsterdam, yang mendasarkan segalanya pada akademi.

Luis Fernandez, yang merupakan bagian dari sejarah klub, sempat menjadi kepala akademi pada tahun 2017 namun hanya bertahan selama setahun. Dia memilih hengkang karena merasa kecewa dengan tujuan klub sebenarnya.

“Para pemain muda bukan prioritas lagi,”

“Mereka akan melihat konsekuensinya. Tim cadangan disingkirkan. Aku tidak tahu apa tujuan dari kebijakan pemuda klub, karena saat ini; mereka menyingkirkan para pemain muda.”

Tanggapan PSG

Menanggapi hal tersebut, Paris Saint Germain melalui sang direktur, Leonardo, mengakui bila untuk mendapat tempat di tim utama bagi para pemain muda memang sulit. Namun inti dari masalah ini tidak terletak disitu.

Leonardo menilai bila sejumlah klub di Eropa sengaja menyodorkan kontrak kepada para pemain muda dengan janji janji manis dalam beberapa tahun ke depan. Klub-klub tersebut, terutama yang berkompetisi di Bundesliga, bahkan dikatakan sampai mendatangi rumah para pemain dan bertemu orang tua mereka untuk menawarkan proyek yang dianggap menggiurkan.

Menyedihkannya lagi, menurut Leonardo, para pemain yang masih berusia muda itu menganggap bila tampil bersama tim lain yang memberi tawaran tersebut adalah surga. Mereka bisa mendapat kesempatan tanpa mengetahui pasti apa yang jadi rencana PSG di kemudian hari.

Pemain Muda Terbaik PSG Saat Ini

Saat ini, PSG masih memiliki sejumlah pemain muda yang dianggap bisa bersinar di kemudian hari.

Mereka adalah Kays Ruiz-Atil, yang pada musim lalu berhasil membawa PSG U-19 menjuarai dua kompetisi junior di Prancis, yaitu Liga Prancis dan Piala Prancis. Pernah tampil bersama tim senior sebanyak tujuh kali, pemain yang bisa beroperasi sebagai gelandang serang dan sayap kiri ini siap diandalkan di tim utama bila memang dibutuhkan.

Berikutnya adalah Timothee Pembele yang kita tahu memiliki kemampuan terbaik dalam menjaga pertahanan tim. Masih berusia 18 tahun dan punya potensi besar, akan sangat disayangkan bila pemain sepertinya harus dilepas ke klub lain.

Nama yang tak kalah hebat adalah Bandiougou Fadiga. Pemain yang beroperasi di lini tengah ini perlu diberi banyak kesempatan bermain agar bisa memaksimalkan bakat yang dimiliki.

Kemudian, nama paling populer diantara yang lain adalah Xavi Simons. Didatangkan dari tim muda Barcelona, pemain berusia 18 tahun ini punya kemampuan terbaik dalam membangun serangan. Sering disebut sebagai gelandang masa depan, akan jadi kerugian besar bila PSG sampai kehilangan talentanya.

 

Sumber referensi: espn, squawka, antara, goal, idntimes

Pos terkait