Promosi ke Ligue 1! Perjuangan Saint Etienne Bangkit dari Kasta Kedua

spot_img

Sebelum didominasi oleh Paris Saint-Germain seperti sekarang ini ataupun Olympique Lyon di awal era 2000an, kompetisi kasta teratas Liga Prancis, Ligue 1, lebih dulu dikuasai oleh sebuah klub bernama AS Saint-Étienne. Klub legendaris yang berjuluk “Les Verts” alias “The Greens” tersebut adalah mantan raja Liga Prancis.

Saint-Etienne mendominasi Liga Prancis di era 60an hingga 70an. Total, 10 trofi Ligue 1, 6 Coupe de France, dan 5 Trophée des Champions berhasil menjadikan Saint-Etienne sebagai klub tersukses pada masanya.

Akan tetapi, catatan trofi tersebut hanyalah kesuksesan masa lalu yang sudah terpendam dalam sejarah. Tak lama selepas memasang bintang di atas logo mereka pasca meraih titel Ligue 1 kesepuluh di musim 1981, Saint-Etienne jatuh dalam keterpurukan.

Tak lagi bersaing untuk memperebutkan titel juara, Les Verts bertransformasi menjadi klub yang berjuang keras mempertahankan eksistensinya di kasta teratas Liga Prancis. Beragam problematika, khususnya masalah keuangan, membuat Saint-Etienne mengalami 3 periode pengasingan di Divisi 2, tepatnya pada 1984-1986, 1996-1999, dan 2001-2004.

Saint-Etienne baru kembali ke jalur papan atas ketika menunjuk Christophe Galtier sebagai pelatih kepala. Galtier menjadi pelatih Saint-Etienne pada periode Desember 2009 hingga Mei 2017. Di bawah asuhan Galtier, Saint-Etienne sempat rutin mentas di Liga Europa dan sukses memenangkan Coupe de la Ligue pada musim 2012/2013 yang menjadi trofi pertama Saint-Etienne dalam kurun waktu 32 tahun terakhir.

Sayangnya, selepas Galtier hengkang, prestasi Saint-Etienne kembali mengalami pasang surut. Di bawah asuhan Jean-Louis Gasset, Saint-Etienne sempat finish di peringkat 4 pada musim 2018/2019. Semusim kemudian, di bawah kendali pelatih Claude Puel, Saint-Etienne yang secara mengejutkan mencapai final Coupe de France nyaris terdegradasi dari Ligue 1.

Kala itu, Les Verts memang sukses menghindari degradasi. Akan tetapi, bencana menyedihkan yang susah payah mereka hindari itu akhirnya terjadi juga di musim 2021/2022.

Saint-Etienne Degradasi Lagi, Fans Marah dan Ricuh

Kisah terdegradasi Saint-Etienne terbilang menyedihkan. Selama beberapa tahun sebelum terdegradasi, Saint-Etienne mendapat beberapa tawaran menggiurkan. Les Verts yang memang lemah secara ekonomi bisa dibilang sangat membutuhkan uang hasil dari penjualan klub untuk menyelamatkan eksistensi mereka.

Namun, dua pimpinan tertinggi mereka, Roland Romeyer dan Bernard Caiazzo selalu menolak tawaran yang datang. Dua figur ini selalu menunggu tawaran tinggi yang sesuai dengan selera mereka dan enggan untuk menyuntikkan dana besar kepada klubnya sendiri.

Situasi itu membuat Saint-Etienne memulai musim 2021/2022 dengan 0 transfer. Tak ada satupun pemain anyar yang datang. Meski skuadnya tak berubah, dengan materi pemain seperti Wahbi Khazri, Ryad Boudebouz, Romain Hamouma, Harold Moukoudi, hingga Timothée Kolodziejczak, di atas kertas Saint-Etienne harusnya bisa bertahan.

Akan tetapi, nasib berkata lain. Juara 10 kali Ligue 1 Prancis ini memulai musim 2021/2022 dengan rekor buruk. Dalam 12 pertandingan pertamanya, Saint-Etienne tak sekalipun sanggup meraih kemenangan. Bahkan, dari pekan keempat hingga kedelapan, mereka menderita 5 kekalahan beruntun.

Saint-Etienne kemudian berhasil meraih 2 kemenangan kontra Clermont dan Troyes di awal bulan November. Namun, pada akhirnya, pelatih Claude Puel dipecat usai Saint-Etienne kalah telak 5-0 atas Rennes di pekan ke-17.

Pascal Dupraz kemudian ditunjuk sebagai suksesor Claude Puel. Pengalaman Dupraz yang pernah menyelamatkan Evian dan Toulouse dari degradasi menjadi alasannya. Penampilan Les Verts memang membaik. Tambahan 5 kemenangan berhasil menyelamatkan mereka dari degradasi langsung. Akan tetapi, Saint-Etienne yang finish di peringkat 18 harus menjalani laga play-off relegasi kontra AJ Auxerre.

Singkat cerita, pertandingan keduanya yang digelar dalam dua leg berakhir dengan skor agregat 2-2. Laga pun harus berlanjut di babak adu penalti. Sayangnya, kegagalan Ryad Boudebouz sebagai penendang pertama harus dibayar mahal. Saint-Etienne takluk dari Auxerre dengan skor akhir 4-5.

Hasil itupun memastikan Saint-Etienne turun kasta ke Ligue 2. Sebuah hasil menyedihkan yang memicu kemarahan fans yang memadati “Le Chaudron”. Fans Saint-Etienne yang dikenal loyal dan setia, tetapi juga kerap bertindak anarkis tersebut langsung tumpah ruah ke dalam lapangan. Mereka berlari dan mencoba berkumpul menuju terowongan saat para pemain dievakuasi dengan cepat.

Selain itu, para fans yang mengamuk juga melemparkan suar dan kembang api ke arah pemain. Di salah satu sisi tribun, fans juga kedapatan membakar kursi. Kekacauan tersebut juga membuat siaran TV harus dihentikan lebih cepat akibat para komentator yang kesulitan bernapas karena asap tebal.

Polisi anti huru hara yang diterjunkan kemudian terpaksa harus menggunakan gas air mata untuk membubarkan kekacauan tersebut. Pihak kepolisian setempat kemudian melaporkan bahwa ada 33 orang terluka, termasuk dua pemain Auxerre yang terjebak dalam kericuhan.

Buntut dari kericuhan tersebut membuat Saint-Etienne mendapat hukuman berupa pengurangan poin. Alhasil, Les Verts harus memulai Ligue 2 musim 2022/2023 dengan poin negatif 3. Tak hanya itu, mereka juga dihukum 4 pertandingan tanpa penonton.

Perjuangan Saint-Etienne Kembali ke Ligue 1

Terdegradasi ke kasta kedua dengan hukuman adalah fakta pahit yang harus ditelan Saint-Etienne. Meski punya skuad yang paling mahal di Ligue 2 kala itu, tetapi banyak pihak yang meyakini kalau Saint-Etienne tak akan sanggup untuk kembali ke kasta teratas dalam waktu yang singkat.

Prediksi tersebut mendekati kenyataan, bahkan bisa makin buruk. Di akhir paruh pertama musim 2022/2023, Les Verts terjerembab ke peringkat 18 Ligue 2. Artinya, mereka terancam terdegradasi ke kasta ketiga.

Akan tetapi, secara ajaib, Saint-Etienne berhasil membalikkan seluruh prediksi. Usai berhasil bangkit dan finish di peringkat 8 pada musim 2022/2023, Saint-Etienne berhasil kembali ke promosi kembali ke Ligue 1 di akhir musim 2023/2024.

Keajaiban tersebut berkat sentuhan dingin Olivier Dall’Oglio. Pelatih berusia 60 tahun tersebut datang pada 12 Desember 2023 untuk menggantikan Laurent Batlles yang dipecat. Kala itu, Saint-Etienne baru saja menderita 5 kekalahan beruntun yang membuat mereka terlempar dari peringkat kedua ke peringkat delapan dengan koleksi 24 poin, hasil dari 7 kali menang dan 7 kali kalah dalam 17 pertandingan.

Olivier Dall’Oglio adalah pelatih yang pernah membawa Dijon menembus Ligue 1 untuk kali pertama dalam sejarah. Ia juga pernah mendapat penghargaan sebagai pelatih terbaik di Ligue 2 pada tahun 2016 dan pernah dinominasikan sebagai pelatih terbaik di Ligue 1 pada tahun 2018.

Di bawah kendali Dall’Oglio, Saint-Etienne bermain dengan taktik 4-3-3 menyerang. Tak hanya sukses memperbaiki produktivitas tim, ia juga berhasil memperbaiki pertahanan Les Verts. Dari hanya menghasilkan 17 gol dalam 17 pertandingan, Saint-Etienne sukses menghasilkan 31 gol dalam 21 pertandingan. Sementara itu, rasio kebobolan mereka turun dari 1,06 perlaga jadi 0,6 perlaga.

Hasilnya, Saint-Etienne berhasil mengumpulkan tambahan 41 poin, hasil dari 12 kemenangan dan 5 hasil imbang dalam 21 pertandingan. Dengan hasil tersebut, Les Verts berhasil mengakhiri musim di peringkat ketiga.

Dengan demikian, mereka berhak langsung lolos ke babak semifinal play-off promosi. Di depan pendukungnya sendiri yang memadati Stade Geoffroy-Guichard, dua gol dari Irvin Cardona dan Nathanael Mbuku sukses membawa Saint-Etienne menang atas Rodez dan lolos ke partai final.

Di partai final yang menentukan nasib mereka, Saint-Etienne sudah dinanti oleh peringkat 16 Ligue 1, Fc Metz. Di atas kertas, Metz yang memiliki striker ganas asal Georgia, Georges Mikautadze, jelas lebih diunggulkan. Namun, dalam pertandingan leg pertama yang digelar di kandangnya sendiri, Saint-Etienne sukses mencuri kemenangan tipis 2-1.

Modal kemenangan tersebut membuat Les Verts datang ke kandang Fc Metz dengan lebih percaya diri. Pertandingan leg kedua tersebut juga seakan jadi milik tim tamu usai Fc Metz bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-7.

Namun, meski terus mendominasi laga dan banyak menghasilkan peluang, Saint-Etienne justru kecolongan 2 gol terlebih dahulu dan menutup babak pertama dengan skor 2-1. Di menit ke-64, Saint-Etienne sukses mengubah kedudukan menjadi 2-2. Sayangnya, gol tersebut dianulir VAR.

Hingga peluit akhir dibunyikan, tak ada gol lagi yang tercipta. Laga pun berlanjut ke babak extra time. Saat laga terlihat akan berlanjut ke adu penalti, striker pengganti Ibrahim Wadji berhasil mencetak gol krusial di menit ke-117 yang sukses mengirim kembali Saint-Etienne promosi kembali ke Ligue 1.

Gol tersebut disambut emosional oleh skuad Saint-Etienne dan para penggemarnya. Namun, di sisi lain, ketegangan tercipta di akhir laga. Para penggemar tuan rumah melempar minuman ke arah pemain Saint-Etienne yang tengah berselebrasi. Para steward pun terlibat saling dorong saat berusaha membawa para pemain Saint-Etienne keluar lapangan.

Meski diwarnai ketegangan di akhir laga, tetapi Saint-Etienne tetap berhak promosi kembali ke Ligue 1. Sebuah hasil yang sukses mengantar kembali Les Verts ke habitat asal mereka.

Dibeli Kilmer Sports Ventures, Saint-Etienne Jatuh ke Tangan yang Tepat

Sehari setelah memastikan promosi ke Ligue 1, kabar baik kembali diterima para fans Saint-Etienne. Setelah menanti cukup lama, akhirnya klub kesayangan mereka resmi diakuisisi oleh grup investasi asal Kanada, Kilmer Sports Ventures. Kepemilikan Bernard Caïazzo dan Roland Romeyer selama 2 dekade pun akhirnya berakhir.

Akuisisi tersebut memberi matahari baru bagi Saint-Etienne. Selama terdegradasi ke Ligue 2, status mereka sebagai raja Ligue 1 telah direbut oleh PSG. Meski begitu, kini Saint-Etienne rasanya telah jatuh ke tangan yang tepat.

Sejak Kilmer Sports Ventures resmi jadi pemilik Saint-Etienne, Ivan Gazidis yang jadi kepala bagian olahraga dari grup tersebut resmi menjadi presiden Saint-Etienne. Gazidis bukanlah sosok asing di dunia sepak bola. Ia adalah sosok yang berperan penting dalam berdirinya MLS dan merupakan mantan CEO Arsenal dan AC Milan.

Menarik untuk dinanti akan seperti apa sepak terjang Saint-Etienne di masa mendatang. Semoga saja mereka tak hanya sekadar mampir, tetapi kembali menjadi tim papan di kasta tertatas Liga Prancis.
***
Referensi: The Guardian, Ligue 1, GFNF, ESPN, Sport Business.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru