Gaya rambut gondrong, lugas, berposisi sebagai bek, itulah ciri-ciri Ricardo Calafiori yang sepintas mengingatkan kita pada bek-bek Italia era 90-an seperti Alessandro Nesta maupun Paolo Maldini.
Performa Calafiori di EURO 2024 bersama Gli Azzurri telah banyak menyita perhatian. Namun siapa sangka, untuk mencapai titik ini Calafiori sempat berada pada titik untuk mengakhiri karier sepakbolanya di usia belia.
The rise of Riccardo Calafiori, Italy’s new defensive hero: From career-threatening injury to Paolo Maldini comparisons at Euro 2024https://t.co/8nK9SLZKzN
— World Football (@FIFAWorld) June 20, 2024
Sebelum membahas perjalanan berliku Calafiori, baiknya football lovers subscribe dan nyalakan loncengnya dulu agar nggak ketinggalan konten menarik dari Starting Eleven Story.
Daftar Isi
AS Roma Sejak Kecil
Riccardo Calafiori merupakan anak kelahiran Roma, 19 Mei 2002. Sejak usia 9 tahun, ia sudah berstatus pemain akademi AS Roma. Sama seperti impian teman-temanya waktu kecil, Calafiori sudah punya mimpi bisa jadi pemain profesional Giallorossi. Calafiori kecil juga sudah punya cita-cita meraih gelar bersama klub tanah kelahirannya itu.
Saat menginjak usia 16 tahun, Calafiori makin dipandang sebagai salah satu prospek bek muda terbaik di Italia. Calafiori sudah mulai menunjukkan potensinya di AS Roma U-17 pada musim 2017/18. Saat itu Calafiori jadi kunci pertahanan AS Roma U-17 membawa pulang gelar Supercoppa Italiana U-17 dan Italian Youth Champions U-17.
Cedera
Berkat performanya tersebut, ia dipromosikan ke tim AS Roma U-19 musim berikutnya. Namun nahas, saat baru membela AS Roma U-19, kejadian yang tak pernah ia duga, menghampirinya.
Saat melakoni penampilan keduanya untuk Roma U-19 melawan Viktoria Plzen di UEFA Youth League, Oktober 2018, Calafiori jadi korban terjangan sepatu pemain Plzen, Vaclav Svoboda. Lutut kanan Calafiori terhantam keras oleh sepatu Svoboda.
#Roma youngster #Calafiori faces career-threatening injury https://t.co/9ZJzzLgHi0 pic.twitter.com/tgV7g0o7FA
— CalcioMercato (En) (@CmdotCom_En) October 4, 2018
Seluruh otot ligamen di persendian Calafiori sobek. Ketika melihat kondisinya, dokter menyatakan bahwa itu adalah cedera yang jarang terjadi. Bahkan menurut dokter yang menangani Calafiori saat itu, tipe cedera yang dialaminya lebih mirip cedera pembalap motor.
Lalu Calafiori pun diberitahu oleh dokter bahwa, jenis cedera tersebut bisa mengakhiri kariernya sebagai pesepakbola. Dokter bahkan menyuruh Calafiori untuk berhenti bermain bola lagi. Bagi pemuda yang pesimistis, kabar buruk tersebut pasti jadi pukulan mental. Perkataan dokter tersebut bisa saja membuat pemuda manapun menyerah pada keadaan.
Namun Calafiori tidak. Meski ia sadar akan absen cukup lama untuk masa pemulihan, namun keinginannya untuk kembali merumput tak pernah sirna. Ia masih punya banyak mimpi yang belum terwujud di dunia si kulit bundar.
Maka dari itu, selama mendekam di ranjang rumah sakit, ia selalu menanamkan rasa optimisme untuk bisa menang melawan cederanya tersebut. Calafiori absen hampir 300-an hari. Ia bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit Amerika Serikat agar penanganannya lebih optimal. Setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan dan segala macam operasi di AS, ia akhirnya bisa sembuh total.
#Calafiori ” De Rossi e tutti i compagni mi hanno aiutato molto dopo l’#Infortunio” <Rivista LA ROMA>
(https://t.co/w84Kayzphn) #ASRoma #DEROSSI #RomaTv pic.twitter.com/Y4NF9NtDD0
— RIVISTA LA ROMA (@rivistalaroma) October 1, 2019
Dicampakan Mourinho
Perjalanan karier Calafiori di lapangan hijau pun kembali dimulai di musim 2019/20. Calafiori yang sudah berusia 18 tahun, lalu dipanggil oleh pelatih Roma saat itu Paulo Fonseca untuk masuk dalam skuad senior. Saat itu, Fonseca mengaku ingin lebih melibatkan banyak pemain muda dalam skuadnya.
🤕In 2018, Riccardo Calafiori suffered a career-threatening knee injury that happens “once every 10 years”.
😍Now the 18-year-old left-back is scoring bangers for the Roma first-team while being linked with Man Utd, Juve & PSG.
This week’s #NxGn profile: https://t.co/pwvnC4Vrr4
— Tom Maston (@TomMaston) January 5, 2021
Fonseca pun memberinya debut Calafiori di Serie A saat melawan Juventus pada Agustus 2020. Hasilnya terbilang oke bagi seorang yang telah lama cedera. Calafiori mampu membantu Giallorossi meraih kemenangan. Pemain yang saat itu bernomor punggung 61 itu, turut andil atas terjadinya penalti bagi AS Roma yang dieksekusi dengan baik oleh Diego Perotti.
Sayangnya bagi Calafiori, Fonseca tak lagi melatih AS Roma pada musim 2021/22. Fonseca digantikan oleh Jose Mourinho. Seorang pelatih yang terkenal jarang memberikan menit bermain pada talenta muda. Tak heran jika pemain muda seperti Calafiori tak lagi mendapat tempat di skuad The Special One.
🔴🔵 Riccardo #Calafiori è Rossoblù!
📝 https://t.co/KDdpx1uB2t pic.twitter.com/ZNWiaSyUov
— Genoa CFC (@GenoaCFC) January 14, 2022
Calafiori pun memilih pergi. Pada Januari 2022, Ia dipinjamkan ke Genoa. Namun nasib bagi Calafiori. Saat ingin dapat kesempatan bermain lebih di Genoa, ia malah jarang dimainkan. Calafiori hanya tampil satu kali saja sebagai starter dan dua kali sebagai pemain pengganti. Calafiori pun menyesal. Ia lalu bimbang menentukan masa depannya.
Ke Swiss
Lantas, Calafiori pun dengan terpaksa menjajal peruntungan karier di luar Italia. Musim 2022/23 Calafiori ditawari kontrak oleh klub Swiss, FC Basel. Pelatih Basel saat itu Alexander Frei, ternyata sudah melirik potensi Calafiori sejak di AS Roma.
ℹ️ Riccardo Calafiori has picked up an injury in training. He suffered a tear in a muscle in his right thigh and will be out for a few weeks.
Speedy recovery, Riccardo! 🙏#FCBasel1893 #MirSinBasel pic.twitter.com/COALrcAwvm
— FC Basel 1893 🇬🇧 (@FC_Basel_en) September 7, 2022
Calafiori pun langsung menerimanya. Ia percaya pada proyek FC Basel yang banyak mengandalkan bakat-bakat muda untuk berkembang. Benar saja, Calafiori di Basel diberikan banyak menit bermain. Tercatat, Calafiori bermain sebanyak 34 kali. Sebagai bek sayap, Calafiori menorehkan satu gol dan tiga assist bagi Basel.
Tak lupa, Calafiori juga jadi bagian penting yang mengantarkan Basel melaju hingga babak semifinal UEFA Conference League. Berkat performa apiknya yang telah kembali, lalu Calafiori pun mendapat tawaran untuk pulang kampung. Bologna yang dilatih Thiago Motta kesengsem padanya. Rossoblu tak ragu membayar mahar 4 juta EURO ke Basel untuk bawa pulang Calafiori ke Italia.
Pulang Kampung
Bergabung di bawah arahan Thiago Motta pada akhirnya jadi pilihan tepat bagi Calafiori. Bersama Motta, karier Calafiori tambah melejit. Bakatnya dipoles dengan baik oleh Motta. Termasuk peran Motta menggeser Calafiori dari bek sayap ke bek tengah.
Calafiori tak masalah dengan posisi barunya tersebut di Bologna. Ia percaya penuh pada apa yang diyakini oleh Motta. Motta yakin pada kemampuan Calafiori. Sebagai tipe bek modern, ia dianggap bisa versatile.
Calafiori fra l’azzurro, l’azzurrino e la Champions: “Thiago Motta mi ha fatto scoprire un mondo nuovo” https://t.co/0oMZ2obcR5 pic.twitter.com/XaWugN9fUu
— Repubblica Bologna (@rep_bologna) March 20, 2024
Benar saja, sejak digeser sebagai bek tengah, performa Calafiori malah tambah meyakinkan. Tak hanya baik dalam hal duel dan menghalau bola, kemampuan build up-nya juga tak kalah baik. Hal tersebut cocok dengan taktik Motta yang menuntut beknya juga bisa aktif bantu serangan. Sebagai bukti, torehan lima assist-nya dalam semusim, tak bisa disamai oleh bek mana pun di Serie A.
Musim 2023/24, adalah musim yang menjanjikan bagi Bologna maupun Calafiori. Bologna sukses masuk UCL, sementara Calafiori makin dikenal sebagai bek muda potensial yang dilirik banyak klub besar.
🇮🇹 The best defender in Serie A ?
Riccardo Calafiori (Bologna, 21) is the highest rated centre-back in our Serie A Performance Index 🥇
• 93rd percentile for aerial duel %
• 92nd percentile for progressive runs
• 85th percentile for passes completed
• No Serie A player has… pic.twitter.com/cZpVJZyuNf— DataMB (@DataMB_) May 11, 2024
EURO 2024
Berkat penampilannya yang memukau di Bologna, pelatih Italia Luciano Spalletti pun memasukkannya dalam skuad timnas Italia di EURO 2024. Ketidakhadiran Acerbi dan Scalvini karena cedera, jadi berkah bagi Calafiori. Ia pun dipilih sebagai bek tengah utama menemani Bastoni.
Kesempatan pertama berlaga di EURO tak disia-siakan pria 22 tahun tersebut. Melawan Albania, ia tampil trengginas. Sampai-sampai ia dijuluki titisan Paolo Maldini. Di laga tersebut, Calafiori mencatatkan satu tekel, tiga intersep, dan tiga duel udara yang dimenangkan.
🇮🇹👏 Riccardo Calafiori (22) vs Albania…
• 100% aerial duels won
• 93% pass accuracy
• 5 recoveries
• 3 interceptions
• 2/2 dribbles completedSolid display. 🧱 #EURO2024 pic.twitter.com/udFauo44Bk
— EuroFoot (@eurofootcom) June 15, 2024
Gol Bunuh Diri dan Assist Penyelamat
Namun saat dipuji setinggi langit, Calafiori kembali mengalami nasib apes. Di laga kedua melawan Spanyol, sosok Calafiori yang tadinya jadi sorotan, berbalik menjadi pesakitan. Ia menciptakan gol bunuh diri yang membuat Gli Azzurri kalah dan harus berjuang hidup mati di laga terakhir melawan Kroasia.
A CALAFIORI OWN GOAL GIVES SPAIN THE LEAD OVER ITALY!!
WHAT A PLAY BY NICO WILLIAMS 🔥 pic.twitter.com/u089tGGdze
— ESPN FC (@ESPNFC) June 20, 2024
Menurut 90min, Calafiori jadi pemain Italia pertama yang mencetak gol bunuh diri sepanjang keikutsertaan Italia di EURO. Calafiori pun terpukul akan hal tersebut. Ia merasa berhutang besar pada negaranya. Namun yang bisa Calafiori lakukan hanya mengangkat moralnya kembali agar bisa bangkit melawan Kroasia.
Keajaiban pun terjadi. Keberanian Calafiori merangsek naik ke lini depan, mampu membuahkan assist yang disambut gol oleh Mattia Zaccagni. Gol tersebut meloloskan Italia ke babak 16 besar.
Dengan diiringi kata-kata puitis komentator Peter Drury di layar kaca, air mata pun menetes dari mata Calafiori pasca gol tersebut. Air mata bahagia Calafiori itu juga turut mewakili perasaan seluruh publik sepakbola Italia.
Per tutte le critiche ricevute per l’autogol, cost to cost e assist che ci porta a Berlino, chiedete scusa al soldato Calafiori #CroaziaItalia #Calafiori pic.twitter.com/xw6PZhlPf2
— Antonio (@AntoTrick) June 24, 2024
Calafiori memang tak bisa lepas dari air mata. Kisah perjalanan kariernya penuh dengan air mata. Dari cedera parah yang nyaris membuatnya pensiun dini, hingga dicampakan berkali-kali. Namun Calafiori orangnya kuat. Ia tetap bisa bangkit dan terbukti bisa sukses seperti sekarang ini. Forza Calafiori!
https://youtu.be/Y13P_9goqRM
Sumber Referensi : goal.com, onefootball, goal.com, footballitalia, forbes, romapress


