Jurgen Klopp adalah salah satu pelatih tersukses saat ini. Bersama Borussia Dortmund, ia meraih 2 trofi Bundesliga, 2 trofi DFL-Supercup, dan 1 trofi DFB-Pokal. Di Liverpool, Klopp berhasil juara di 4 kompetisi bergengsi, yakni Premier League, Liga Champions, UEFA Super Cup, dan Piala Dunia Antarklub.
Salah satu kunci dari kesuksesan Jurgen Klopp adalah taktik gegenpressing. Klopp boleh saja jadi pelatih yang mempopulerkan ‘gegenpressing’. Namun, pelatih Jerman berusia 53 tahun itu bukanlah orang yang menemukan taktik tersebut. Adalah Ralf Rangnick, sang inovator yang menemukannya dan yang pertama kali memperkenalkan ‘gegenpressing’.
Ya, Ralf Rangnick adalah ‘bapak gegenpressing’. Banyak pelatih top dunia yang menerapkan atau terinspirasi dari taktik tersebut. Selain Jurgen Klopp, Thomas Tuchel ,dan Julian Nagelsmann adalah pelatih top dunia yang mengaplikasikan gegenpressing pada timnya. Selain mereka, hampir seluruh pelatih yang pernah menangani New York Red Bulls, Red Bull Bragantino, RB Salzburg, dan RB Leipzig juga menerapkan gegenpressing.
The Godfather of Gegenpressing. The Professor. The TRUTH.
Ralf Rangnick to Manchester United, Let’s Dance🇩🇪 pic.twitter.com/NYvy1rqoOV
— Lyés (@WholeLottaLyes) November 25, 2021
Daftar Isi
Jadi, siapa sebenarnya Ralf Rangnick ini?
Secara prestasi, Rangnick bukanlah sosok bergelimang trofi. Sepanjang kariernya, ia baru memenangi 7 trofi, tapi hanya 4 trofi yang terhitung prestisius. Rangnick meraih Piala Intertoto 2000 bersama Stuttgart serta menjuarai DFL-Ligapokal 2005, DFL-Supercup 2011, dan DFB-Pokal 2011 bersama Schalke.
Akan tetapi, justru kesuksesan Rangnick kala menangani Hoffenheim yang membuat namanya melambung. Rangnick ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim pada 2007 silam. Saat itu, Hoffenheim masih berkompetisi di divisi 3.
Hebatnya, dengan kendali penuh Rangnick, Hoffenheim selalu berhasil promosi di tiap tahunnya hingga mentas di Bundesliga pada musim 2008/2009. Di musim pertamanya, Hoffenheim secara mengejutkan mampu finish di posisi 7.
Ralf Rangnick achieved back-to-back promotions after taking over at Hoffenheim in 2006, helping them reach the Bundesliga for the first time.
They finished 7th in their debut season. 💪 pic.twitter.com/l0kMTJbKCe
— Squawka Football (@Squawka) November 25, 2021
Selain memberi perubahan dalam gaya bermain, Rangnick juga mengatur urusan teknis dan non-teknis klub, termasuk kebijakan transfer klub dan meremajakan skuad Hoffenheim. Kesuksesannya bersama Hoffenheim itulah yang membuat Red Bull kepincut untuk memakai jasa Rangnick. Ia akhirnya direkrut Red Bull pada 2012 lalu sebagai sporting director untuk RB Salzburg dan RB Leipzig.
Hal pertama yang dilakukan Rangnick adalah membentuk konsep dan menanamkan DNA ke dalam klub sesuai gaya main yang ia inginkan. Dasar permainan yang ia tanamkan di dua klub Red Bull itu tentu saja gegenpressing.
Oleh karena itulah, klub yang berafiliasi dengan Red Bull punya kemiripan gaya permainan. Wajar, sebab semua hal itu diatur sedemikian rupa oleh Ralf Rangnick. Konsep dan identitas yang Rangnick tanamkan itu terbukti sukses besar.
Yang paling terlihat tentu kesuksesan RB Leipzig. Rangnick datang 3 tahun setelah Leipzig terbentuk dan masih berada di divisi 4. Perubahan perlahan dilakukan Rangnick, termasuk mengganti pelatih yang sevisi dengannya. Hasilnya, Leipzig hanya butuh 4 tahun untuk promosi ke Bundesliga.
Ralf Rangnick in his first season with RB Leipzig helped the team to get promoted to Bundesliga.
In the second time (2018/19) as Leipzig coach, Rangnick’s side qualified for Champions League pic.twitter.com/KiBXl70bXM
— VBET News (@VBETnews) November 25, 2021
Lalu, bagaimana awal mula Rangnick mengembangkan gegenpressing?
Rangnick terjun ke dunia kepelatihan di tahun 1983 dengan menjadi pemain-pelatih di klub divisi 6 Liga Jerman, FC Viktoria Backnang. Di klub itulah Rangncik pertama kali mulai mengembangkan filosofi taktiknya.
Pada Februari 1983, tim asuhan Rangnick bertemu dengan Dynamo Kiev asuhan Valeriy Lobanovskyi. Perbedaan level jelas menjadikan tim Rangnick kalah total, tetapi ia belajar satu hal. Para pemain Dynamo Kiev tak henti-hentinya melakukan pressing sepanjang laga.
“Kiev adalah tim pertama yang pernah saya lawan yang memberi tekanan secara sistematis. Itu adalah pencerahan sepakbola saya. Saya mengerti bahwa ada cara bermain yang berbeda.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari bundesliga.com
Lobanovskyi bukanlah satu-satunya inspirasi Ralf Rangnick. Selain pelatih legendaris Ukraina itu, gaya permainan Rangnick juga dipengaruhi oleh Arrigo Sacchi. Dari pelatih legendaris AC Milan itu, Rangnick mengadopsi sistem zonal marking.
Bersama kawannya, Helmut Groß, Rangnick kemudian menulis manual pelatihannya sendiri dan mulai mengembangkan taktik atraktif yang kini kita kenal sebagai gegenpressing. Rangnick baru benar-benar mengungkap taktik tersebut ke publik di tahun 1998 setelah ia sukses membawa SSV Ulm promosi ke divisi 2. Saat menjadi pelatih SSV Ulm itulah Rangnick melatih salah satu pemain yang kini sukses menjadi pelatih top dunia: Thomas Tuchel.
How a pre-season game against Valeriy Lobanovskyi inspired Ralf Rangnick’s philosophy ⚽ pic.twitter.com/G2DZyTsM0O
— The Coaches’ Voice (@CoachesVoice) December 19, 2019
Lalu, seperti apa sebenarnya gegenpressing yang dikembangkan Ralf Rangnick itu?
“Gaya yang kami berdua (Rangnick dan Helmut Gross) suka adalah jenis sepak bola yang sangat proaktif. Ini adalah sepak bola dengan tekanan tinggi dan tekanan balik dengan serangan balik yang cepat dan proaktif.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.
Gegenpressing adalah frasa dalam bahasa Jerman, atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan istilah counter-pressing. Alih-alih membentuk ulang formasi atau kembali ke garis pertahanan, pemain akan mencoba memenangkan kembali penguasaan bola agar bisa segera masuk kembali ke fase menyerang.
Dalam pengaplikasiannya, pemain tak serta merta langsung mengerubungi pemain lawan yang membawa bola, tetapi juga menjaga opsi umpan di sekitar lawan dengan tetap memberi tekanan secara intens dan sistematis. Konon kabarnya, dalam waktu 8 detik pemain dituntut harus berhasil merebut kembali penguasaan bola. Lalu, dalam 10 detik, mereka harus mencapai gawang lawan.
Itulah konsep dasar gegenpressing ala Ralf Rangnick yang menginspirasi banyak pelatih top dunia saat ini, termasuk Jurgen Klopp. Meski tak secara langsung dilatih Rangnick, Klopp mengakui bahwa Rangnick adalah orang yang memberi pengaruh besar kedalam taktiknya.
“Tim Hoffenheim saya bermain melawan Borussia Dortmund milik Jurgen pada tahun 2008. Kami mengalahkan mereka 4-1 dan Jurgen mengatakan seminggu kemudian, bahwa gaya kami persis seperti yang dia inginkan untuk bermain bersama Dortmund.”, kata Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.
Dengan inovasinya yang visioner, wajar bila Rangncik disebut sebagai manajer paling berpengaruh di Jerman saat ini. Secara terang-terangan, Klopp juga menyebut Rangnick sebagai salah satu pelatih terbaik Jerman saat ini.
Rangnick tak hanya merevolusi taktik, tapi juga manajemen klub. Selain mengatur filosofi klub, saat bekerja sebagai sporting director untuk Red Bull, Rangnick juga mengatur kebijakan transfer. Dialah otak dibalik skuad muda RB Salzburg dan RB Leipzig yang siap dijual dengan harga mahal.
👑The godfather of German football.
✍️ Mentor to Klopp, Nagelsmann and Tuchel.
🧠 Developed the famous Gegenpress.
📈 Influential in RB Leipzig’s rise.
Manchester United have potentially pulled off a masterstroke with Ralf Rangnick… 🇩🇪🙌 #MUFC pic.twitter.com/6MGRJPwwwK
— Man United News (@ManUtdMEN) November 26, 2021
Ralf Rangnick, Pelatih Interim Manchester United
Rentetan jasa dan kesuksesan itulah yang membuat Manchester United kepincut dengan Ralf Rangnick. Terbaru, Rangnick dikabarkan telah setuju untuk meninggalkan jabatannya sebagai ‘manager of sports and development’ di Lokomotiv Moskwa untuk menerima tawaran Setan Merah. Ia akan menjadi pelatih interim MU selama 6 bulan ke depan untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Ole Gunner Solskjaer.
MU bukan klub Liga Inggris pertama yang pernah menawar Rangnick. Pada bulan Januari lalu, ia pernah menolak tawaran Chelsea untuk jadi pelatih sementara The Blues. Lalu, kenapa ia sekarang mau menerima pinangan MU?
Usut punya usut, setelah 6 bulan menjabat sebagai pelatih interim, Rangnick akan menerima peran ‘konsultan’ mulai Juni 2022 hingga 2024. Konon kabarnya, peran tersebut setara dengan managing director yang punya kekuaasan besar, baik di dalam maupun di luar lapangan, termasuk pengembangan pemain dan transfer pemain.
Manchester United confirmed to Ralf Rangnick his ‘consultancy’ role from June 2022 until 2024 – but Ralf would be interested in taking the full time manager role if offered. 🔴🇩🇪 #MUFC
Rangnick’s camp working on work permit. It’s taking time – he’s planning to arrive next week. pic.twitter.com/jjGGVXMWZ2
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) November 26, 2021
Dilihat dari CV-nya, Rangnick memang lebih cocok untuk mengemban role yang lebih tinggi ketimbang sekadar menjadi pelatih yang kewenangannya sangat terbatas. Pekerjaannya di tim-tim milik Red Bull jadi buktinya. Dari 2012 hingga 2020, ia menjabat sebagai ‘director of football’ sebelum naik jabatan sebagai ‘head of sport and development’. Selama masa jabatannya, nilai pasar klub Red Bull naik dari 120 juta euro menjadi 1,2 miliar euro.
Dalam masa tersebut, Rangnick juga hanya beberapa kali turun gunung menjadi pelatih. Sisanya, ia mengemban peran yang jauh lebih tinggi, termasuk menghasilkan pelatih-pelatih top dunia, seperti Marco Rose, Jesse Marsch, Roger Schmidt, Adi Hutter, hingga Julian Nagelsmann. Bergabung ke MU juga membuat Rangnick bertemu 3 muridnya, yakni Thomas Tuchel, Ralph Hasenhuttl, dan tentu saja Jurgen Klopp.
Nama-nama yg pernah bekerja dengan Rangnick & jabatannya skr via The Athletic. Apakah nama-nama ini yg akan dia bawa untuk jadi manager selanjutnya?
Yup, Rangnick statusnya nanti interim. Wajar, 8 tahun di Red Bull pun hanya 2 tahun dia turun gunung jadi manajer. pic.twitter.com/fyZS577bGv
— Ruang Taktik (@ruangtaktik) November 26, 2021
Penunjukan Rangnick akan jadi angin segar untuk Manchester United. Akhirnya, setelah sekian purnama, mereka punya manajer baru yang kaya akan taktik. Gaya permainan yang lebih terorganisir, disiplin, dan rapi sangat bisa diharapkan.
Melihat dari gaya taktiknya, para pemain MU mesti memberi energi lebih di lapangan, utamanya saat menerapkan pressing intens. Jika tidak, siapa saja yang malas-malasan, siap-siap ditendang Rangnick. Sebagai pelatih, formasi favoritnya adalah 4-2-2-2. Namun, Rangnick juga akrab dengan formasi 4-3-3.
Penujukan Rangnick sebagai pelatih interim dan kemudian menjadi konsultan adalah sebauh peningkatan untuk Manchester United. Namun, di sisi lain, ini adalah sebuah perjudian besar. Pasalnya, menangani MU jadi pengalaman pertama Rangnick menangani tim besar Eropa.
Sebuah pekerjaan yang tak mudah, sebab ia mesti berhadapan dengan ego tinggi para pemain MU dan mesti berurusan dengan fans Setan Merah yang punya tuntutan dan ekspektasi tinggi. Terlepas dari itu, akan sangat disayangkan apabila melewatkan kesempatan dilatih oleh seorang pelatih yang dijuluki ‘profesor’. Kehadirannya bakal mengubah wajah manajemen MU menjadi jauh lebih benar dan visioner.
Menarik untuk disimak bagaimana kiprah selanjutnya dari Ralf Rangncik di Premier League. Ia tinggal menunggu izin kerjanya turun sebelum mulai membenahi bobroknya Manchester United.
Jurgen Klopp on Ralf Rangnick: “Unfortunately a good coach is coming to England, to Manchester United! He’s a really experienced manager, built two clubs from nowhere”. 🇩🇪 #MUFC
“Man United will be organised on the pitch. That’s obviously not good news for other teams”. #LFC pic.twitter.com/WMG4lHQW7r
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) November 26, 2021
“Sayangnya seorang pelatih bagus akan datang ke Inggris, ke Manchester United! Dia adalah manajer yang sangat berpengalaman, membangun dua klub entah dari mana dengan Hoffenheim dan RB Leipzig. United akan terorganisir di lapangan. Itu jelas bukan kabar baik bagi tim lain”, ujar Jurgen Klopp dikutip dari ESPN.
***
Sumber Referensi: ESPN, Givemesport, Bundesliga, The Coaches’ Voice 1, The Coaches’ Voice 2, Peluit Panjang.


