Politik “Cantera”, Tradisi Athletic Bilbao Melawan Modernitas

  • Whatsapp
Politik Cantera Tradisi Athletic Bilbao Melawan Modernitas
Politik Cantera Tradisi Athletic Bilbao Melawan Modernitas

Euskadi atau yang lebih populer dengan sebutan Basque Country begitu identik dengan Athletic Bilbao. Meski bukan satu-satunya klub La Liga dari Basque, Bilbao jauh lebih dikenal dari rivalnya. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan klub yang hanya merekrut pemain keturunan Basque saja.

Kebijakan tersebut bernama “Politik Cantera”. Istilah “Cantera” sendiri berasal dari filosofi Athletic Bilbao yang berbunyi, “Con cantera y aficion, no hace falta importacion.” Artinya, “Dengan talenta lokal dan dukungan suporter, impor pemain tak diperlukan.”

Bacaan Lainnya

Sejak kapan politik tersebut ditegakkan?

Setelah secara resmi bernama Athletic Club de Bilbao sejak 1903, Los Leones mulai berlaga dengan 100% pemain asli Basque pada musim kompetisi 1912/1913. Sejak saat itu, filosofi cantera terus ditegakkan klub yang berasal dari provinsi Biscay itu hingga hari ini.

Politik tersebut membuat Athletic Bilbao hanya merekrut pemain dari Basque saja. Dulunya, klub yang berjuluk Los Leones itu bahkan hanya mau merekrut pemain yang punya darah asli Basque dan yang terlahir di wilayah otonom tersebut.

Artinya, bila ada pemain yang punya keturunan Basque, tapi lahir di luar wilayah tersebut, mereka secara otomatis ditolak dan tak bisa bermain dengan seragam Athletic Bilbao. Alhasil kebijakan politik cantera tersebut dianggap rasis dan bertentangan dengan HAM.

Seiring dengan perkembangan zaman, Los Leones sedikit memodifikasi filosofinya itu. Pemain yang punya keturunan dengan Basque meski dilahirkan di luar Basque punya kesempatan untuk memperkuat Athletic Bilbao.

Kini, klub yang bermarkas di San Mames itu juga bersedia merekrut pemain berdarah Basque dari klub manapun. Pemain yang pernah menimba ilmu di salah satu klub Basque, meski dari tim rival juga dapat membela Athletic Bilbao.

Namun, perlu dipahami, bahwa politik tersebut tidak berlaku di sektor kepelatihan. Oleh karena itu, Athletic Bilbao pernah dilatih Marcelo Bielsa yang berkewarganegaraan Argentina dan kini sedang dilatih Marcelino Garcia Toral yang merupakan orang Asturias, bukan keturanan Basque.

Pertanyaannya, apa alasan Athletic Bilbao menerapkan politik tersebut dan mempertahankannya hingga hari ini?

Untuk mengetahuinya, mari kita tilik sedikit sejarah negara Spanyol. Negeri Matador dulu pernah dipimpin oleh seorang diktator kejam, yaitu Jenderal Fransisco Franco. Franco jadi pemimpin Spanyol pada 1939 hingga 1975. Selama masa kepemimpinannya itu, Franco punya kebijakan yang cukup diskriminatif.

Di bawah kekuasaan Franco, seluruh Spanyol mesti tunduk kepada kerajaan. Untuk itu, dia menghendaki homogenisasi budaya, tradisi, dan bahasa. Untuk mencapai hal tersebut, seluruh budaya, tradisi, dan bahasa yang tidak Spanyol akan diberangus.

Kebetulan, bersama Katalunya, Basque adalah salah satu wilayah otonom yang punya kekhasan budaya, tradisi, dan sejarah yang unik dibanding wilayah lain di Spanyol. Mereka juga punya bahasa daerahnya sendiri. Perbedaan itu coba dihanguskan oleh Franco yang punya paham fasis.

Alhasil, gelombang perlawanan terhadap rezim Franco tak terelakkan. Basque tak mau tunduk dengan Franco yang mau menghapus kekhasan mereka. Sebagai bentuk dukungannya kepada Basque, Athletic Bilbao memakai “politik cantera” untuk melawan kebijakan Franco sebagai bentuk nasionalisme mereka kepada etnisnya. Momen itulah yang semakin meyakinkan Athletic Bilbao untuk bangga dan mempertahankan kebijakannya.

Ketika diwawacarai The Guardian, mantan pelatih Athletic Bilbao, Gaizka Garitano juga mengaku demikian. Garitano menjelaskan makna filosofi “cantera” bagi dirinya dan bagi rakyat Basque. Baginya, “cantera” adalah sebuah kebanggan tersendiri.

“Kami sangat bangga melakukan banyak hal dengan cara ini. Menurut saya, kami adalah tim paling unik di dunia karena alasan ini dan kami sangat bangga. Ini adalah gaya kami dan kami tidak akan berubah karena sepanjang sejarah banyak hal berjalan dengan baik untuk kami dan kami harus melanjutkan dengan cara ini” kata Gaizka Garitano, mantan pelatih Los Leones dikutip dari mundodeportivo.com (13/8/2019).

Lalu, bagaimana politik “cantera” ini bekerja hingga mampu menghidupi Athletic Bilbao?

Fakta sejarah dan geografis wilayah Basque sedikit membantu Athletic Bilbao dalam membentuk kesebelasan yang kuat. Basque Country terletak dekat dengan Semenanjung Iberia dan kota Bilbao dulunya merupakan daerah industri yang maju.

Banyak pekerja imigran yang datang ke Bilbao, terutama dari Inggris. Alasan ini pula yang membuat orang-orang Basque menguasai 3 bahasa, bahasa Basque, Spanyol, dan Inggris. Banyaknya pekerja imigran dari Inggris juga memberi dampak kepada sepak bola.

Para pekerja imigran itulah yang memperkenalkan sepak bola kepada orang-orang Basque. Athletic Bilbao sendiri dibentuk oleh dua kelompok, yaitu pekerja imigran dari Inggris dan pelajar lokal yang pulang kampung setelah bersekolah ke Inggris. Jadi salah satu klub tertua dan yang pertama mengembangkan sepak bola di wilayahnya membuat kawasan Basque tak pernah kehabisan bakat sepak bola.

Athletic Bilbao sendiri tak menunggu bakat-bakat sepak bola muncul dari wilayahnya. Mereka bukan menunggu, melainkan menciptakannya. Los Leones sadar bahwa bila ingin mempertahankan filosofinya, maka mereka juga perlu melakukan aksi untuk menjaganya.

Aksi itu tertuang dalam pembuatan fasiltas latihan dan akademi klub yang didirikan sejak 1971. Los Leones mulai memproduksi sendiri para pemainnya melalui akademi klub yang terletak di Lezama, sekitar 15 km sebelah timur kota Bilbao. Sejak saat itu hingga detik ini, Lezama tak henti-hentinya memproduksi pemain berbakat dari wilayah Basque.

Lezama bukan sekadar fasilitas latihan dan akademi biasa. Berdiri di atas kompleks seluas 13 hektar, Lezama punya 4 lapangan rumput, 4 lapangan sintesis, 1 lapangan indoor, gymnasium, dan pusat medis. Selain itu, ada pula lapangan buatan dan ruang “goalkeepers’ cage” yang khusus dibuat untuk melatih penjaga gawang. Inilah sebab Athletic Bilbao mampu membuat rekor bermain sebanyak 483 pertandingan resmi beruntun dengan penjaga gawang lulusan Lezama.

Lezama jadi kandang bagi 17 tim yunior klub, baik tim pria maupun wanita, mulai dari U-11 hingga tim cadangan klub. Lezama juga jadi markas bagi tim Bilbao Athletic, yaitu tim B Athletic Bilbao yang berkompetisi di Segunda Division, liga kasta ketiga Spanyol. CD Basconia, tim afiliasi Athletic Bilbao yang jadi wadah untuk menampung pemain U-20 yang berlaga di Tercera Division, liga divisi 4 Spanyol juga bermarkas di Lezama.

Lebih lanjut, Jose Mari Amorrortu, mantan direktur olahraga Athletic Bilbao pernah mengungkap kepada The Guardian bahwa klubnya punya 20 pencari bakat dan 150 klub grassroots yang tersebar di seluruh provinsi Biscay. Mereka inilah yang ikut menyuplai pemain ke akademi Lezama. Berbagai fakta inilah yang membuat Athletic Bilbao tak sulit mencari pemain berbakat.

Sejatinya, yang memakai “Politik Cantera” tak cuma Athletic Bilbao saja. Kebanyakan klub besar di Spanyol juga punya kebijakan ini. Hanya saja, klub seperti Barcelona dengan La Masia-nya, Madrid dengan La Fabrica-nya, atau Atletico Madrid dan Valencia dengan tim mudanya cukup longgar dalam menerapkan kebijakan cantera.

Tak seperti klub lain, 85% skuad tim utama Athletic Bilbao berasal dari akademinya sendiri. Dulu, kebijakan “cantera” ala Bilbao juga pernah diterapkan rival abadinya, Real Sociedad. Namun, sejak 1989, politik “cantera” sudah mulai ditinggalkan Real Sociedad atas dasar kepentingan prestasi.

Politik Cantera itulah yang juga menolong Bilbao bertahan melawan kapitalisme sepak bola. Dengan tak henti-hentinya memproduksi pemain hebat di akademi Lezama, Athletic Bilbao juga dapat pemasukan dari penjualan pemainnya yang jadi incaran banyak klub.

Dengan kebijakan “cantera”, Athletic Bilbao berinvestasi dan hanya merekrut pemain Basque saja. Alhasil selama 10 tahun terakhir ini saja, mereka hanya menghabiskan 121 juta euro untuk transfer. Namun, pemasukan dari penjualan pemain mencapai 221 juta euro. Angka tersebut berasal dari penjualan beberapa pemain lulusan Lezama yang dipagari dengan klausul rilis yang fantastis.

Javi Martinez misalnya, dia dijual ke Bayern Munchen dengan harga 40 juta euro. Sementara Ander Herrera dijual ke Manchester United dengan mahar 36 juta euro. Namun, rekor penjualan termahal Athletic Bilbao masih dipegang Kepa Arrizabalaga yang dibeli Chelsea dengan harga 71 juta euro. Rekor itu memecahkan penjualan Aymeric Laporte ke Manchester City dengan harga 65 juta euro.

Pemasukan dari penjualan pemain itu dialihkan oleh pihak klub ke investasi fasilitas. Baik fasilitas latihan maupun akademi klub. Oleh karena itulah, akademi Lezama tergolong modern dan paling maju di Eropa. Los Leones juga berinvestasi ke stadion mereka Sam Mames. Kini, San Mames jadi stadion terbesar kedelapan di Spanyol dengan fasilitas modern.

Lantas, bagaimana pengaruh “politik cantera” terhadap prestasi Athletic Bilbao?

Alasan lain yang membuat Bilbao mempertahakan filosofinya adalah fakta bahwa Los Leones jadi salah satu tim yang belum pernah terdegradasi dari La Liga. Sejak Athletic Bilbao ikut mendirikan La Liga pada 1929, bersama Real Madrid dan Barcelona, mereka belum pernah turun kasta.

Los Leones sendiri jadi klub tersukses keempat di La Liga setelah Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid dengan koleksi 8 trofi La Liga. Sementara di ajang Copa del Rey, Los Leones jadi tim terbaik kedua setelah Barcelona dengan koleksi 23 piala Copa del Rey. Selain itu, Athletic Bilbao juga punya 2 trofi Supercopa de Espana dan pernah dua kali menjadi runner-up Liga Europa.

Di samping itu, timnas Spanyol rasanya juga perlu berterima kasih kepada Athletic Bilbao. Pasalnya, bakat-bakat terbaik mereka pernah membantu negara tersebut meraih prestasi di turnamen internasional. Saat menjuarai Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, timnas Spanyol terbantu oleh bakat-bakat Basque. Javi Martinez, Fernando Llorente, dan Xabi Alonso adalah orang Basque yang jadi penggawa timnas Spanyol saat itu.

Ternyata filosofi yang diusung Athletic Bilbao tak mempengaruhi prestasi mereka di atas lapangan. Memang, beberapa musim terakhir, saat sepak bola telah jadi industri dan zaman makin modern, prinsip Athletic Bilbao sempat terguncang.

Pada musim 2018/2019, pernah ada rumor Bilbao akan mengubah kebijakan politiknya. Namun, beradasarkan survei yang dilakukan El Mundo, sebanyak 76% penggemar klub lebih memilih melihat Athletic Bilbao terdegradasi ketimbang menghapus politik cantera-nya.

Pada akhirnya, Athletic Bilbao memilih bertahan dengan politik “cantera” yang sudah jadi tradisi mereka untuk melawan modernitas. Bagi Los Leones dan para pendukungnya, politik “cantera” bukan soal kebijakan etnis semata, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap identitas dan keluarga serta upaya menjaga mimpi talenta lokal agar senantiasa punya kesempatan menjadi pesepakbola profesional.

***
Sumber Referensi: Sportskeeda, Spanish Pro Football, Mundo Deportivo, The Guardian, Athletic Club

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *