Kejuaraan sepak bola antar negara di Benua Afrika mendapatkan sambutan antusias dari masyarakat Kamerun. Dalam wawancara BBC kepada Frederick, seorang penjaga gawang di salah satu klub Kota Limbe tak sabar menanti dua bintang Liverpool, Mohamed Salah dan Sadio Mane berlaga di rumput hijau.
Seperti dendam, rasa penasaran harus dibayar tuntas. Rasa penasaran Frederick berstatus suporter layar kaca Liga Premier Inggris yang hanya bisa menyaksikan duo penyerang The Reds lewat televisi. Dengan gelaran Piala Afrika, ia berkesempatan menonton di stadion kedua idolanya saat tampil di lapangan hijau.
African football fans … the heart of our beautiful game. ♥️#TotalEnergiesAFCON2021 #AFCON2021 pic.twitter.com/pgM9do7mXA
— #TotalEnergiesAFCON2021 🏆 (@CAF_Online) January 9, 2022
“Kami orang Kamerun senang sekali dan menyambut orang-orang dari negara lain untuk turnamen hebat ini,” kata Frederick.
Kegirangan Frederick terlihat tak ada keganjilan dalam gelaran dua tahunan ini. Semua wajah berseri menyambut turnamen ini. Warga lokal berbondong-bondong menjual merchandise, dan para tamu membeli sesuai kesukaan dan isi dompetnya.
Masih tampak normal, yha. Sebab, penonton tidak perlu tahu. Karena bagi penonton, hajatan adalah rejeki nomplok. Dirayakan dengan suka cita, kadang kala sampai lupa daratan hingga cicilan.
Terdengar menyenangkan bukan? Namun siapa sangka, gelaran Piala Afrika tahun ini masih dalam bayang-bayang konflik sipil di Kamerun.
Bomber Sejak 2015
Setahun sebelum perhelatan Piala Afrika. Terjadi peristiwa peledakan bom IED di Buea dekat Kota Limbe. Bom diledakkan di salah satu universitas yang mengakibatkan 11 mahasiswa luka-luka.
IED merupakan alat peledak improvisasi. Bom yang dibuat dan ditempatkan di luar tindakan konvensional militer. Bahan pokoknya peledak militer berupa putaran artileri yang dilekatkan pada mekanisme peledakan. Alat ini sering digunakan sebagai “bom pinggir jalan” dan aksi teror berat atau perang asimetris yang tak lazim oleh para gerilyawan
Alat ini juga digunakan secara masif pimpinan AS dan Afghanistan oleh kelompok milisi sipil setempat, dan telah menyebabkan lebih dari 66% korban koalisi AS dalam perang tersebut.
Tahun 2020, juga terjadi serangan bom bunuh diri pada Selasa, 1 September yang menewaskan tujuh warga sipil di tempat pengungsian yang terletak di sebelah utara Kamerun dekat perbatasan Nigeria. Keamanan setempat memberi keterangan kepada media, bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh Boko Haram usai penggerebekan.
Tahun 2016 terjadi serangan bom bunuh diri di Kamerun. Insiden itu menewaskan 32 orang dan melukai 65 orang lainnya.
Ledakan tersebut terjadi terpisah di pasar serta gerbang Kota Bodo, wilayah timur laut Kamerun yang hanya terpisahkan sungai kecil dari Nigeria.
Di 2015, dua serangan bom bunuh diri di ibu kota kabupaten Kamerun bagian utara, Maroua. Peristiwa tersebut telah menewaskan setidaknya 13 orang.
Nyawa taubahnya titipan yang dikendalikan oleh Tuhan. Di wilayah perang, nyawa bagai kapas terbang ke arah kehidupan atau kematian. Pria-pria menggendong senapanan, sedangkan perempuan dan anak-anak jadi pesakitan di kamp pengungsian.
Ketimpangan Francophone dan Anglophone
Kamerun diperintah oleh mayoritas penutur bahasa Perancis. Penutur bahasa Inggris mayoritas hidup di bagian selatan. Pemisahan ini sebagai bentuk kepatuhan pada kondominium Perancis-Inggris tahun 1916.
Nasib Kamerun tak berubah usai Perang Dunia Kedua dan terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saat dikelola oleh Prancis maupun Inggris, kolonialisme masih berlanjut.
Kemerdekaan yang diimpikan tercapai oleh negara merdeka Kamerun dengan bahasa utama Prancis dan Kamerun bagian selatan berbahasa Inggris pada tanggal 1 Januari 1960. Pemisahan teritori dari koloni berdampak segregasi franchophone dan anglophone.
Francophone merujuk pada Frankofoni (Francophonie) mengacu pada komunitas global yang berbahasa Prancis. Frankofoni juga berkaitan dengan sebutan bagi wilayah atau negara yang merupakan bekas jajahan Prancis ataupun yang bukan merupakan bekas jajahan Prancis, jaringan organisasi atau komunitas baik yang berasal dari pemerintah secara resmi maupun berasal dari publik; negara; atau pihak-pihak komunitas tertentu yang memiliki kedekatan secara politik, bahasa, dan budaya secara erat dengan Prancis.
Kamerun berusaha untuk memperbaiki masalah internal dengan mengubah bentuk, menjadi Republik Kamerun pada tahun 1972. Nahas, bentuk berubah namun keberadaan kekuasaan dan hak prerogatif di tangan eksekutif justru jatuh ke tangan otoritarian.
Paul Biya yang kini berusia 84 tahun dan sekarang menjabat presiden di tahun ke-35. Otoritarianisme dipupuk dalam-dalam, tumbuhnya krisis ekonomi. Bercabang ke arah pemiskinan penduduk, korupsi, otonomi terbatas masyarakat, dan spionase terhadap separatis minoritas berbahasa Inggris. Perdamaian tanpa keadilan sosial adalah ilusi kata Gus Dur.
Geneva Braces For Large Protests Against Cameroon President.
Large numbers of police, many in riot gear, were posted outside a luxury Geneva hotel Saturday where Cameroon’s president is staying.https://t.co/byS83WNL13 pic.twitter.com/30K2DUMXNU
— Channels Television (@channelstv) June 29, 2019
Percikan berupa kecenderungan untuk hegemoni dan asimilasi di pihak para pemimpin yang berbahasa Prancis (franchophone) membuat beberapa pemimpin Anglophone mendesak perubahan pada konstitusi. Terjadi ketidakpercayaan berujung pada ketegangan, eksklusivitas serta menurunnya persatuan dan kohesi nasional.
Perasaan tersisihkan yang dialami oleh warga anglophone semakin diperkuat karena defisit infrastruktur di daerahnya, rendahnya keterwakilan warga negaranya dalam pemerintahan.
Kecemburuan itu memuncak pada tahun 2016. Anglophone menggugat dengan cara pemogokan oleh pengacara menuntut penerapan apa yang disebut “common law” pada sistem peradilan Anglo-Saxon dan penggunaan bahasa Inggris di pengadilan. Itu diikuti oleh pemogokan guru atas masalah bahasa yang sama. Sejak demonstrasi yang sebagian besar dilakukan oleh kaum muda telah berubah menjadi semakin politis dan penuh kekerasan. Kasus-kasus pembakaran gedung-gedung publik dan toko-toko telah meningkat.
Medio akhir 2017 gerakan nasionalis Ambazonian mengorganisir Front Persatuan Konsorsium Ambazonia Selatan Kamerun (SCACUF). SCACUF mendeklarasikan kemerdekaan wilayah anglophone sebagai Ambazonia pada 1 Oktober.
Reaksi Paul Biya Kepada Demonstran
Reaksi Biya terhadap protes sangat keras. Dia memberangus pers dan memutus akses internet ke daerah-daerah yang bersangkutan, dengan akibat yang mengerikan bagi perekonomian lokal. Kebrutalan polisi terhadap demonstran, yang telah mengakibatkan beberapa kematian, memicu kemarahan para pengunjuk rasa. Sebuah video yang menunjukkan polisi salah menangani demonstran di Buea pada akhir November mengejutkan negara dan pengamat di seluruh dunia.
We have the duty and opportunity to remind the world that we are a united and indomitable people.#PaulBiya#TotalEnergiesAFCON2021#CAN2021 #AFCON2021#TeamCameroon pic.twitter.com/ulcL6pxuCi
— President Paul BIYA (@PR_Paul_BIYA) January 9, 2022
“Jika mereka mulai kehilangan kendali, risikonya adalah semua perpecahan itu – agama, daerah dan etnis – mulai muncul kembali,” Ben Shepherd.
Biya yang berusia 84 tahun, sekarang di tahun ke-35 menjabat. Pemerintah Kamerun secara konsisten menanggapi protes damai dengan kekerasan dan aksi militer, kehilangan dukungan dan mendorong lebih banyak pemuda untuk mengangkat senjata.
Human Right Watch mendata pasukannya berperilaku tanpa hukuman, menargetkan warga sipil tak bersenjata di wilayah Anglophone, membakar desa, dan menyebabkan lebih dari 700.000 orang (dari 6 juta orang yang tinggal di sana) melarikan diri ke semak-semak atau tempat lain di negara ini. Puluhan ribu lainnya berada di pengasingan di negara tetangga seperti Nigeria dan sekitarnya.
Bola, Perang dan Afrika
Mengapa Otoritas Sepak Bola Afrika mengizinkan AFCON berlangsung di lingkungan yang tidak aman dan di bawah otoritas pemerintah yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap warganya?
Menggelar kompetisi di daerah rawan dapat dilihat dua sisi. Pertama, menyetorkan pemain ke “medan perang”. Artinya, kerusuhan antarsipil di Kamerun yang masih bergejolak akan memengaruhi keselamatan pemain dan official timnas.
Kedua, perhelatan ini dimaksudkan untuk menunjukkan pada khalayak. Bahwa kondisi di Kamerun baik-baik saja. Melalui Piala Afrika 2021, otoritas setempat ingin tampil sebagai penyelenggara yang mengedepankan keamanan dan mampu mengeliminasi isu “perang sipil di Kamerun”.
Kedua alasan tersebut dapat menjadi pro-kontra dalam penentuan tuan rumah Piala Afrika di negara yang sedang berkonflik.
“Medan Perang” pernah terjadi di semifinal Piala Afrika 2015 antara Ghana dan Guinea Khatulistiwa menyusul kerusuhan yang mengakibatkan pertandingan sempat terhenti selama lebih dari 30 menit.
7. 2015.
Semi Final this time. Equatorial Guinea aren’t as lucky vs Ghana where they trail 3 – 0 deep in the 2nd half. The home fans riot, invade the pitch & then a low flying helicopter hovers above w a policeman inside screaming 'shame!' on a megaphone https://t.co/QAm6XEAvtz pic.twitter.com/oa3IfTZ5cK— Eli (@ElMengem) June 21, 2019
Para pemain merunduk menghindari lemparan botol dari kawasan penonton, fans Ghana mencari perlindungan di belakang salah satu gawang.
Sebuah helikopter masuk ke lapangan dan polisi menggunakan gas air mata untuk mengatasi para suporter yang agresif.
“Itu bagaikan medan perang,” tulis Asosiasi Sepakbola Ghana (GFA) di twitternya, dan menyebut bahwa di dalam stadion telah terjadi “tindakan vandalisme yang barbar” dan “aksi kekerasan tidak beralasan.”
Membawa sepak bola ke “medan perang” bisa menimbulkan kesadaran untuk perdamaian. Pun melipatgandakan kekerasan karena sentimen yang lama terpendam. Kamerun tinggal mau membawa ke mana arah sepak bolanya.
https://youtu.be/lV4-a-Pngtk
Sumber: Worldbeyondwar, Wikipedia, BBC, The Anglophone Problem in Cameroon, Construction and deconstruction: Anglophones or Francophones, Deutsche Welle, DW, Football As A Vehicule Of National Integration: The Case Of Cameroon, Goal, Africa News, Aljazeer, UMY., Box2Box.


