Meski tergolong baru sebagai pelatih, Pep Guardiola telah melatih banyak legenda modern, termasuk Carles Puyol, Andrés Iniesta, Xavi , Samuel Eto’o dan Lionel Messi. Tetapi hanya ada satu pemain yang pernah dicapnya sebagai “pemain paling cerdas yang pernah dilatihnya”.
Dan itu bukan nama-nama yang telah disebutkan diatas. Sebaliknya, itu adalah Philipp Lahm, kapten Jerman yang memenangkan Piala Dunia dan seorang pemain yang tergolong sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Selama lebih dari satu dekade, Lahm tetap loyal di tim Bayern Munchen dan dalam perjalanannya telah mengoleksi 113 caps dan 5 gol untuk timnas Jerman, laga yang terakhir terjadi di final Piala Dunia yang dimenangkan Panser atas Argentina.
Bersama orang-orang seperti Franz Beckenbauer, Gerd Müller dan Paul Breitner, Philip Lahm akan tercatat dalam buku sejarah sebagai pemain hebat bagi klub dan negara; seorang pemain yang konsisten di lapangan dan seorang pria yang rendah hati dan pandai berbicara.
Lahm mengantarkan Die Bayern keluar sebagai juara Bundesliga musim 2016/17 yang sekaligus menjadi musim terakhirnya di dunia sepak bola. Pada tahun 2017 pula, Lahm dinobatkan sebagai pesepak bola terbaik Jerman. Sepanjang kariernya, hanya FC Bayern-lah klub tempat ia hidup, mulai dari pemain akademi, hingga kapten tim bergelimang prestasi.
Lahm mengawali karier juniornya sejak tahun 1995, namun ia baru menjadi pilihan utama di tim senior FC Bayern sepuluh tahun kemudian. Sebelumnya, pemain yang pada awalnya menjadi bek kiri ini kalah saing dengan pemain top di skuat seperti duo Prancis, Willy Sagnol dan Bixente Lizarazu.
Indeed. This is an 11-year-old Philipp Lahm back in 1995, his first time with Bayern. pic.twitter.com/AVGKD2yJWi
— Cristian Nyari (@Cnyari) December 31, 2014
Lahm memang sempat menjalani debutnya di tim senior FC Bayern pada tahun 2002 melawan Lens di ajang liga champions, namun ia hanya turun selama tiga menit, dan tak kunjung mendapatkan kesempatan kembali. Akhirnya, ia dipinjamkan ke VfB Stuttgart selama dua tahun yakni 2003 hingga 2005.
Di Vfb Stuttgart, Lahm mampu tampil cemerlang. Ia bahkan mendapatkan caps pertamanya di timnas senior Jerman dan mendapatkan tempat di Piala Eropa 2004. Sayangnya, ketika ia kembali ke FC Bayern awal musim 2005/06, Lahm harus menerima fakta bahwa ia harus bermain di tim B demi mengembalikan kebugarannya selepas terkena cedera ligamen.
On this day 12 years ago, Philipp #Lahm made his professional debut for VfB Stuttgart pic.twitter.com/XovmzmAZhf
— B/R Football (@brfootball) August 3, 2015
Namun di tim B, Lahm hanya tampil dalam dua pertandingan, setelah itu ia segera merumput bersama FC Bayern dan tampil reguler dengan 27 pertandingan di semua ajang musim 2005/06. Kala itu, Lahm masih bermain di posisi bek kiri.
Berkat penampilan apiknya, Jurgen Klinsmann selaku pelatih timnas Jerman memanggilnya untuk bermain di piala dunia 2006. Berusia 22 tahun, Lahm menjadi pilihan utama di sektor bek kiri, dalam tujuh pertandingan yang dijalani Jerman, Lahm bermain penuh tanpa pernah tergantikan.
9 years ago today, Philipp #Lahm scored the very first goal of the 2006 World Cup at the #AllianzArena. Remember it? pic.twitter.com/GcbXLdqT8e
— FC Bayern English (@FCBayernEN) June 10, 2015
Penampilan Lahm di tahun-tahun berikutnya semakin menunjukan kualitas yang mumpuni sebagai seorang pemain bertahan, dalam perjalanannya Lahm kemudian beralih kembali menjadi pemain yang cakap dan ulet di sektor bek kanan.
Cederanya Michael Ballack jelang piala dunia 2010, membuat Lahm diangkat sebagai kapten tim nasional, kemudian ia sukses memimpin rekan-rekannya tampil gemilang di piala dunia Afrika Selatan, yang mana Lahm membawa Der Panzer finis di tempat ketiga.
Sementara, di FC Bayern, Philip Lahm telah menjadi kapten klub sejak musim 2010/11 menggantikan Mark Van Bommel. Pemilik nomor punggung 21 itu dikenal sebagai pemain yang selalu berada di posisi yang pas dan di waktu yang tepat. Ia bisa mengatur tempo dengan tenang layaknya mantan jenderal lapangan tengah Barcelona, Xavi Hernandez.
Lahm juga dianugerahi kemampuan membaca permainan. Ia memiliki naluri untuk memahami secara persis apa yang akan terjadi tiga, lima atau 10 detik ke depan. Selain itu, pemain berpostur 170 cm itu juga tak jarang memberikan umpan matang dan bahkan bisa mencetak gol.
Lahm terkenal akan kepribadiannya yang cerdas, kalem, dan tak neko-neko, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Secara menakjubkan, ia mengakhiri kariernya tanpa pernah mendapat kartu merah satu kali pun, Hal ini terhitung luar biasa mengingat posisi Lahm adalah seorang pemain bertahan.
Sepanjang karirnya di dunia sepak bola, Lahm memiliki prestasi komplit. Bersama Bayern Munchen, dia berhasil meraih 8 gelar Bundesliga, enam trofi DFB-Pokal, satu gelar Liga Champions pada 2013 serta beberapa trofi lain seperti piala dunia klub maupun piala super jerman.
22 Trophy 0 kartu merah cukup sdh untuk menjadikanmu seoarang Legend,good bye Philip Lahm…tanpamu di PES waduh rawan sisi kanan Bayern pic.twitter.com/wwt7SrOIGU
— Yop’s (@YoppiAbus) May 21, 2017
Selain itu, dalam 13 musim bersama FC Bayern, Lahm telah membukukan 517 penampilan dan mencetak 16 gol di semua kompetisi. Dalam pentas Internasional, Trofi Piala Dunia Brasil 2014 menjadi gelar tertinggi yang telah dicapainya, kala itu ia memimpin rekan-rekannya berjaya di negeri samba.
Di balik gemerlap trofi yang telah diraih, Lahm adalah sosok langka dalam sejarah sepak bola Jerman. Ia memilih pensiun dari timnas Jerman saat berada di puncak kariernya.
Lahm mengumumkan pensiun dari timnas, sepekan setelah mengangkat trofi Piala Dunia yang digelar di Brasil. Saat itu, usianya baru menginjak 30 tahun. Usia yang terbilang muda jika dibandingkan dengan legenda timnas Jerman lainnya yang memutuskan pensiun di atas 35 tahun.
The Bayern Munich fans celebrate a club legend. A worthy tribute to Philip Lahm. pic.twitter.com/eOGOnmrI09
— Bolarinwa Olajide (@iambolar) May 20, 2017
Walaupun memiliki postur tubuh yang pendek, Lahm tetap mampu bermain baik dengan teknik tackling dan dribbling bolanya membuatnya mendapatkan panggilan Magic Dwarf atau Si Kurcaci Ajaib.
Di luar lapangan, ia jauh dari gosip-gosip miring. Di balik tubuhnya yang kecil, ia terbukti memiliki hati yang besar setelah diketahui bahwa ia memiliki badan amal sendiri yang bernama Philipp Lahm-Stiftung. Tak hanya itu, ia juga terdaftar sebagai duta FIFA untuk Hari AIDS sedunia, dan ia juga aktif memerangi homophobia di sepak bola.


