Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang menyaksikan tentang bagaimana Clarence Seedorf membawa bola. Pria kekar dengan senyum merekah lebar tak pernah ketinggalan untuk melakukan perayaan di atas lapangan. Dia yang beroperasi di lini tengah tak pernah berhenti melewati setiap kaki yang dihadapi.
Seedorf, dikenal sebagai salah satu legenda, yang keberadaannya mungkin kurang diperhatikan. Hal itu terasa wajar, mengingat Seedorf bermain dengan banyak sekali pemain legenda. Dia banyak mendapat pelajaran dari pendahulunya. Oleh sebab itu, dia tumbuh menjadi seorang pemain besar dengan segudang pengalaman.
Disamping terus bermain bersama para pemain legenda, langkah Seedorf juga dibangun dengan hasrat nya untuk terus mempelajari aspek taktikal dalam sepak bola demi membantu timnya. Seedorf dikenal sebagai pemain dengan jiwa kepemimpinan tinggi, selain punya skill mumpuni. Ia kerap terlibat dalam sebuah pemecahan masalah yang tengah dihadapi tim. Seedorf selalu datang dengan kharisma. Ia layak dijadikan sebagai panutan, ketika menyoal tentang karakter aslinya.
Seedorf merupakan pemain keturunan Suriname yang telah banyak ciptakan cerita di belantika sepak bola Eropa. Seedorf lahir dari keluarga pesepakbola, dimana ayahnya, Johann Seedorf, merupakan seorang mantan pesepakbola yang pada akhirnya menjadi seorang agen. Seedorf memulai menimba ilmu ketika ia baru berusia enam tahun. Saat itu, ia masuk ke dalam akademi tim lokal bernama VV AS ’80 dan Real Almere.
Setelah bermain dalam waktu yang cukup lama, Seedorf akhirnya ditemukan oleh pemandu bakat Ajax Amsterdam. Memulai karir sebagai produk akademi Ajax Amsterdam, Seedorf bermain di posisi gelandang kanan. Seedorf dianggap sebagai pemain muda paling berbakat setelah diberi kepercayaan untuk memulai debut profesional pada usia 16 tahun 242 hari. Dengan usia tersebut, dirinya pun dinobatkan sebagai pemain termuda yang memulai debut dengan Ajax Amsterdam.
Tak butuh waktu lama bagi Seedorf untuk kesankan pelatih. Fisik kokoh serta ketahanan luar biasa yang dimiliki, membuat pelatih Louis van Gaal, tak ragu untuk memasukkan Seedorf ke tim utama.
Bermain untuk Die Amsterdammers, Seedorf tampil bersama Frank Rijkaard dan Edgar Davids dalam pakem 3-3-4 khas Louis van Gaal. Seedorf menjadi salah satu pemain tak tergantikan dan sukses meraih banyak gelar.
Pada musim 193/94, Seedorf menjadi bagian dari Ajax yang berhasil memenangkan treble domestik. Ketika itu, gelar Eredivisie , yang Piala KNVB dan Piala super Belanda berhasil dimasukkan ke dalam lemari piala. Di musim berikutnya, perannya di lini tengah semakin gahar. Seedorf yang dikenal punya kekuatan tendangan luar biasa sukses membantu Ajax memenangkan trofi Liga Champions Eropa.
Meraih kesuksesan besar di usia muda membuat Seedorf tertantang untuk berkarir diluar Belanda. Pada akhirnya, ia memilih untuk tidak memperpanjang kontrak di Ajax dan bergabung dengan dengan Sampdoria. Ketika ia, ia menandatangani kontrak selama setahun bersama tim asal Italia.
Meski gagal persembahkan gelar apapun, kontribusinya dalam 32 pertandingan berhasil membawa il Samp bercokol di posisi ke delapan klasemen akhir. Kehebatan dan kekuatan yang dimiliki Seedorf pun pada akhirnya diminati oleh klub sekaliber Real Madrid.
Klub asal Spanyol itu dikatakannya telah memberikan cerita tak terlupakan. Melansir dari akun instagram pribadinya, Seedorf membagikan pengalaman tak terlupakan yang membuat dirinya berseragam Real Madrid. Diceritakan, Los Blancos ternyata sudah tergila-gila pada talenta Seedorf sejak mantan pemain berambut gimbal itu berusia 14 tahun.
Namun, niat Madrid tersebut harus ditunda lantaran Seedorf tak mendapat izin dari kedua orang tuanya. Seedorf diminta menyelesaikan dulu pendidikannya di Belanda sebelum bermain sepak bola di luar negeri.
Setelah itu, sebuah pengalaman tak terlupakan ia dapatkan. Seedorf mengungkapkan kisah aneh bagaimana ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Real Madrid. Rupanya proses itu terjadi setelah ia dikejutkan oleh seorang Fabio Capello di sebuah tempat parkir mobil.
Ketika itu, Capello yang masih menjadi manajer AC Milan, sedang dalam proses kepindahan menuju Real Madrid.
“Saat aku bermain di Italia, setelah pertandingan terakhir musim itu, aku berada di tempat parkir [mobil] stadion.”
“Kemudian aku mendengar suara memanggilku: ‘Hai Clarence [Seedorf], mau bergabung bersamaku di Real Madrid?’” ucap Seedorf menirukan perkataan pria tersebut waktu itu.
Ia lantas spontan menjawab,
“Ya, aku ingin.”
Seedorf kemudian mengungkapkan pria yang mendatanginya di parkiran mobil untuk ‘meminangnya’ ke Madrid.
“Itu adalah suara Fabio Capello, dan sisanya menjadi sejarah,” kenang Seedorf.
Melalui sebuah obrolan di tempat parkir itu, Seedorf akhirnya resmi berseragam el Real pada 1996. Lagi-lagi, tak butuh waktu lama bagi Seedorf untuk menjadi pemain andalan. Pada musim pertamanya, ia ikut membawa Los Blancos menjadi juara La Liga Spanyol. Kemudian, pada musim berikutnya, ia berhasil membawa Madrid meraih trofi Liga Champions Eropa.
Namun begitu, cerita Seedorf dengan Real Madrid tak berakhir manis. Dia terpinggirkan di skuad Real Madrid yang ditangani oleh Guus Hiddink. Dia yang tak punya banyak kesempatan pun akhirnya memilih bergabung dengan Inter Milan, melalui kesepakatan sebesar 23 juta euro. Sayang, karirnya di Inter Milan tak berjalan mulus, hingga membuatnya pindah ke tim sekota, AC Milan.
Bersama AC Milan, Seedorf temui masa terbaiknya. Dia menjadi pelengkap dalam komposisi lini tengah I Rossoneri, yang sebelumnya sudah diisi Gennaro Gattuso, Manuel Rui Costa, Andrea Pirlo. Kuartet ini menjadi kunci Milan menyegel titel Liga Champions di musim 2002/03.
Seedorf menjadi pemain serbaguna di Milan. Dia bahkan sempat mengakomodir kreativitas Kaka dan Rui Costa, dengan diminta untuk bermain lebih ke dalam. Tanpa kesulitan, Seedorf mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
Sempat menjadi bagian dari kegagalan menyakitkan Milan di final Liga Champions 2005, Seedorf kembali membawa tim berjuluk I Rossoneri berdiri tegak di panggung juara. Ketika itu, di tahun 2007, kembali berhadapan dengan Liverpool, Seedorf turut membantu Milan membalaskan dendam di partai final Liga Champions Eropa.
Praktis, trofi itu menjadi yang keempat baginya, bersama tiga tim berbeda.
Setelah sepuluh tahun membela panji merah-hitam, Seedorf akhirnya hengkang ke Botafogo sebelum akhirnya putuskan pensiun pada tahun 2014. Total, Seedorf telah memenangkan sebanyak 21 trofi sepanjang karir.
Untuk segala hal yang telah dipersembahkannya diatas lapangan, Seedorf layak disebut sebagai salah satu legenda sepak bola.


