Kabar duka itu datang dari Persipura Jayapura. Satu-satunya wakil Papua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia terpaksa harus terdegradasi ke kasta kedua Liga Indonesia.
Klub kebanggaan masyarakat Papua ini resmi terdegradasi meski telah meraih kemenangan 3-0 atas Persita Tangerang di laga putaran terakhir Liga Indonesia. Terdegradasinya Persipura sangat disayangkan.
Sebab, Persipura tercatat sebagai klub sepak bola paling sukses di Liga Indonesia. Lantas apa yang salah dari Persipura? Mengapa semua ini bisa terjadi?
Daftar Isi
Degradasi Pertama Kali Sejak 28 Tahun
Turunnya Persipura ke kasta kedua Liga Indonesia kali ini, menjadi yang pertama kali bagi Mutiara Hitam sejak era profesional Liga Indonesia dimulai musim 1994-1995. Bahkan selama 28 tahun era profesional, Persipura belum pernah mengalami turun kasta sama sekali.
28 Tahun berada di Kasta Tertinggi, Persipura Jayapura harus merasakan Pahitnya Degradasi Musim ini. 😭
Comeback Stronger, Mutiara Hitam🙏 pic.twitter.com/SbESy8l25Z
— Fakta Bola ⚽ (@FaktaSepakbola) March 31, 2022
Ketidakmampuan Persipura untuk bertahan di Liga 1 Indonesia, memastikan mereka jadi tim ketiga yang terdegradasi selain Persiraja banda Aceh dan Persela Lamongan.
Praktis, selepas pertandingan terakhir Persipura, ruang ganti pun berubah menjadi sunyi senyap. Para punggawa Mutiara Hitam mengalami kesedihan mendalam lantaran kemenangan atas Persita tidak cukup untuk menyelamatkan tim kebanggaan masyarakat Papua dari jurang degradasi.
Bahkan dikutip dari CNN, dalam sesi jumpa pers usai laga kemarin pelatih Persipura, Alfredo Vera mengatakan bahwa ruang ganti tim jadi hening. Tidak ada satu pun pemain yang berbicara di ruang ganti.
Persipura Sempat Kesulitan Dana
Sebetulnya tanda-tanda permasalahan Persipura sudah terlihat sejak awal tahun lalu. Manajemen Persipura bahkan sempat membubarkan skuad pada awal Januari 2021 lantaran permasalahan sponsor, imbas dari kompetisi yang tidak berjalan karena Covid-19.
Kesulitan Persipura untuk membiayai operasional tim sempat mengancam posisi klub di ajang AFC Cup. Persipura terancam tak bisa berpartisipasi di salah satu kompetisi antarklub terbesar di Asia itu.
Persipura baru mendapat angin segar di akhir Februari. PT Freeport Indonesia mengkonfirmasi bahwa mereka sepakat untuk kembali menjadi sponsor utama dari tim Mutiara Hitam.
Namun, sialnya AFC malah mengeluarkan pengumuman baru yang mempengaruhi keterlibatan Persipura dan Bali United sebagai perwakilan Indonesia di AFC Cup. Pada awal Juli lalu AFC mengkonfirmasi bahwa semua pertandingan Zona ASEAN Piala AFC 2021 dibatalkan karena kondisi forje majore.
Kehilangan Sosok Boaz Solossa
Singkat cerita, skuad Persipura berhasil dikumpulkan kembali untuk mempersiapkan tim untuk berjuang di Liga Indonesia musim 2021/22. Namun, ada yang aneh dalam daftar pemain yang dibawa Coach Jacksen F Tiago. Tidak ada nama Boaz Solossa di dalam skuad
Diduga lantaran beberapa masalah internal dan tindakan indisipliner, Persipura terpaksa harus mendepak Boaz yang juga selalu menjadi panutan di dalam tim. Praktis tim Mutiara Hitam sangat kehilangan sosok leader yang biasanya ada di diri Boaz
Selamat Bertambah Usia Kaka Boaz Solossa, Doa Terbaik Untuk Mu 🤲🏻#BorneoFC #Samarinda #Manyala #WeAreSamarindans #8orneo8erjaya pic.twitter.com/lpWbZDxoj3
— Borneo FC Samarinda (@BorneoSMR) March 16, 2022
Sejatinya Persipura masih memiliki nama-nama seperti Ian Louis Kabes dan Ricardo Salampessy yang merupakan pemain senior di tim. Namun, mereka belum mampu meningkatkan memotivasi tim yang mana dihuni banyak pemain-pemain muda potensial seperti Ramai Rumakiek, Brian Fatari hingga Todd Ferre.
Dengan usia mereka yang masih sangat muda, tentu mereka memerlukan adanya sosok role model yang dapat membimbing mereka agar bisa mengeluarkan potensi maksimal di setiap pertandingan.
Maka dari itu, banyak yang berspekulasi bahwa penurunan performa Persipura musim ini, tak terlepas dari faktor tidak adanya kaka Boci di dalam tim. Cukup aneh memang melihat Persipura Jayapura, tim asli Papua berlaga di kompetisi tanpa sosok ikonik Boaz Solossa.
Pemain Asing Kurang Greget
Perekrutan pemain asing Persipura pun terkesan seadanya. Padahal Persipura terkenal memiliki pemain asing yang cukup berkelas di setiap posisinya. Bahkan, tiga pemain asing eks Persipura ada yang dinaturalisasi agar bisa memperkuat Timnas Indonesia. Mereka adalah Beto Goncalves, Bio Paulin, dan Victor Igbonefo.
Tiga nama tersebut hanya contoh kecil dari pemain-pemain asing top milik Persipura, selain itu masih banyak pemain asing berkelas yang pernah bermain untuk Mutiara Hitam. Sedangkan untuk musim ini tercatat Persipura mendatangkan lima pemain asing.
Mereka adalah Henrique Motta yang dilepas pada pertengahan musim, Takuya Matsunaga, Yevhen Bokhashvili, Hedipo Conceicao dan yang teranyar Ramiro Fergonzi. Dari kelima nama tersebut, tak ada yang tampil mengesankan, bahkan torehan 8 gol Yevhen Bokhashvili kalah dengan catatan 9 gol milik Pahabol.
Telat Mengambil Keputusan
Performa dari Persipura yang sangat jauh dari ekspektasi, memancing legenda Persipura, Rully Nere untuk berkomentar. Ia turut prihatin dengan apa yang terjadi dengan Persipura saat ini. Sungguh ironis, melihat tim empat kali juara liga harus mengandalkan mukjizat agar tak tersingkir dari Liga.
Nasi sudah menjadi bubur, Persipura pun harus rela turun kasta mengikuti jejak klub-klub raksasa lainnya seperti Sriwijaya FC dan Semen Padang. Rully Nere menilai keputusan untuk mengganti Jacksen F Tiago dengan Alfredo Vera merupakan keputusan yang terlambat.
12 laga yang dipimpin Coach Jacksen, Persipura hanya memperoleh lima poin dan terbenam di posisi ke-17 zona degradasi. Persipura telah kehilangan momentum untuk melakukan perubahan. Yang jadi pertanyaan mengapa harus menunggu 12 pertandingan dulu baru mau mengganti pelatih.
𝗠𝗮𝗶𝗻: 𝟭𝟮𝘅
𝗠𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴: 𝟭𝘅
𝗜𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴: 𝟮𝘅
𝗞𝗮𝗹𝗮𝗵: 𝟵𝘅
𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁: 𝟭𝟳Jacksen F. Tiago resmi diberhentikan dari kursi panas Mutiara Hitam 😬 pic.twitter.com/09GWI9xVuI
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) November 19, 2021
“Masalah Persipura dimulai dari situ, jadi buat kembalikan mereka punya energi dan penampilan terbaik itu membutuhkan waktu,” kata Rully Nere dikutip dari Indosport.
Pengurangan Tiga Poin
Mungkin salah satu penyebab terbesar Persipura terdegradasi adalah sanksi pengurangan poin yang didapat oleh skuad Mutiara Hitam. Persipura mogok tanding saat laga tunda melawan Madura United pada pekan ke-22 Liga 1 2021/22 yang sejatinya berlangsung pada 21 Februari kemarin.
Manajemen Persipura tidak mengirimkan tim untuk datang bertanding lantaran hanya memiliki 14 pemain yang dinyatakan negatif Covid-19. Sementara sisanya masih dinyatakan positif dan beberapa sedang mengalami cedera.
Persipura sempat mengajukan banding, namun banding tersebut ditolak oleh komdis. Yang akhirnya Persipura harus turun ke posisi 16 kelasemen Liga Indonesia. Persipura tetap terdegradasi meski memiliki jumlah poin 36, sama dengan peringkat 15, Barito Putera.
Hal ini disebabkan karena Persipura kalah head to head dengan Barito. Persipura sendiri mengalami dua kali kekalahan selama bertemu Barito Putera di kompetisi BRI Liga 1 2021/22. Comeback Stronger Persipura!
https://youtu.be/H5-pMZzBza8
Sumber: The Flanker, Jpnn, Bolasport, Transfermarkt


