Setelah ditinggal Luis Milla, Persib Bandung justru kian melesat bak roket di Liga Indonesia. Media Malaysia, Makan Bola bahkan sampai menyoroti performa apik Maung Bandung. Tapi tunggu dulu, ngapain ya media luar negeri sampai repot-repot mengulas tentang klub asal Kota Kembang itu?
Ternyata gara-gara pelatihnya, yakni Bojan Hodak. Pelatih asal Kroasia itu ternyata memiliki reputasi baik di Negeri Jiran. Oleh karena itu, Hodak masih menjadi magnet bagi media-media Malaysia. Media asing memang layak untuk kagum, karena performa Persib memang kian tak terbendung di bawah asuhan Bojan Hodak. Lantas, bagaimana Hodak menyulap Persib jadi tim yang sulit dikalahkan di Liga Indonesia?
Daftar Isi
Pengganti Luis Milla
Bojan Hodak tak menangani Persib sejak awal musim. Pelatih asal Kroasia itu baru menukangi Maung Bandung beberapa pekan setelah Liga Indonesia bergulir. Itu karena Hodak ditunjuk untuk menggantikan Luis Milla yang tiba-tiba mengundurkan diri.
Kepergian Luis Milla cukup mengejutkan. Pelatih berdarah Spanyol itu tak menunjukan tanda-tanda kalau dirinya akan hengkang. Kabarnya, keluarga ditengarai jadi alasan utama mantan pelatih Timnas Indonesia itu hengkang pada Juli kemarin. Artinya, Milla meninggalkan Persib yang sudah ia bangun di pekan keempat Liga indonesia 2023/24.
Hodak tak langsung mewarisi posisi pelatih utama Persib. Selepas kepergian Milla, Maung Bandung sempat menjalani dua pertandingan melawan PSM Makassar dan Persik Kediri di bawah arahan Coach Yaya Sunarya terlebih dahulu. Laga melawan Bali United di pekan keenam jadi debut Hodak bersama klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu.
Maung Bandung Melesat
Selaku CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Teddy Tjahjono berharap kedatangan Bojan Hodak ini bisa meningkatkan level permainan Persib menjadi jauh lebih baik. Syukur-syukur masuk empat besar dan mengamankan satu tiket menuju babak Championship untuk memperebutkan gelar juara Liga Indonesia musim 2023/24.
Itu jelas jadi harapan seluruh elemen yang berada di Persib Bandung. Bagaimana tidak? Saat masih bersama Luis Milla, start Persib tak begitu bagus sehingga hanya bisa bersaing di papan bawah Liga Indonesia. Di tiga pekan awal, Maung Bandung bahkan belum mengantongi satu kemenangan pun. Mereka hanya meraih tiga poin setelah hanya meraih tiga hasil imbang.
Tapi setelah Bojan Hodak datang, harapan tersebut tampaknya bukan suatu hil yang mustahal untuk diwujudkan. Meski mengawali debutnya dengan tidak baik, yakni seri 0-0 dengan Bali United dan kalah 2-1 dari Persis Solo, Persib mulai membaik di pekan-pekan berikutnya.
Bojan Hodak membawa Persib Bandung melesat bak roket. Selama 16 pertandingan, Persib hanya menelan satu kali kekalahan. Sisanya, Persib mengantongi sembilan kemenangan dan lima hasil imbang.
Dengan raihan 38 poin, klub kebanggaan masyarakat Kota Bandung itu kini menduduki peringkat dua klasemen sementara Liga Indonesia. Persib hanya terpaut enam poin dari Borneo FC yang adem ayem di puncak klasemen. Namun, dengan format baru yang dipakai oleh Liga Indonesia, peluang Hodak membawa Persib juara liga masih sangat terbuka lebar.
Reputasi Bojan Hodak
Sorot media langsung tertuju ke Persib. Salah satu yang santer dibahas adalah siapa sebenarnya pelatih botak yang kini menangani Persib Bandung itu? Usut punya usut, Bojan Hodak ternyata bukan anak kemarin sore di persepakbolaan Asia.
Jauh sebelum melatih Persib Bandung, Hodak sudah malang melintang di persepakbolaan Asia Tenggara, khususnya Malaysia. Setelah menjadi asisten pelatih di Shandong Luneng, Hodak membangun reputasi sebagai pelatih utama di Liga Malaysia pada tahun 2012.
Berawal dari Kelantan FC, Hodak juga pernah menukangi Johor Darul Takzim, Kuala Lumpur FC, hingga Timnas Malaysia U-19. Prestasinya di sepakbola Negeri Jiran juga tak bisa dipandang remeh. Pelatih berusia 52 tahun itu meraih beberapa gelar bergengsi saat menukangi Kelantan FC. Ia mengantarkan Kelantan dua kali menjuarai Piala FA Malaysia tahun 2012 dan 2013 serta satu gelar Piala Malaysia tahun 2012.
Selain Malaysia, Hodak juga pernah melatih klub Liga Kamboja dan Liga Indonesia. Ya, Persib Bandung bukan klub Indonesia pertama yang pernah dilatih Hodak. Sebelumnya, pelatih asal Kroasia itu pernah menangani PSM Makassar pada tahun 2020. Sayangnya, kompetisi yang dihentikan karena Covid-19 membuat Hodak tak bertahan lama di Makassar. Ia hanya memimpin delapan pertandingan saja di PSM.
Perubahan yang Dilakukan Hodak
Selama karirnya menjadi pelatih, Bojan Hodak dikenal sebagai pelatih yang tak senang basa-basi dan cerdas dalam mengelola tim. Perubahan paling ketara yang dilakukannya bersama Persib Bandung adalah soal formasi tim di lapangan. Berbeda dengan Luis Milla yang lebih gemar dengan skema tiga bek, Hodak justru lebih sering mengandalkan skema empat bek dalam formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1.
Perubahan formasi memang terlihat sederhana, namun di sinilah poin paling krusial bagi tim. Bojan Hodak membaca kalau Persib kurang maksimal dengan skema tiga bek. Itu membuat pemain bek sayap jadi kelelahan karena harus mengcover area lapangan lebih banyak dari pemain lain.
Nah, setelah diganti menjadi empat bek, permainan Persib terlihat lebih solid dan terorganisir. Kehadiran pelatih asal Kroasia itu seakan membawa semangat dan harapan baru bagi klub berjuluk Maung Bandung. Itu bahkan sudah diakui oleh Nick Kuipers. Menurutnya, Bojan Hodak memang jarang berbicara, tapi skemanya memudahkan pemain untuk mencapai performa terbaik.
Lini bertahan juga jadi konsentrasi utama Hodak saat pertama kali menukangi Persib. Perubahan metode bertahan dari tiga bek menjadi empat bek membuat pertahanan Persib makin rapat. Keempat bek Persib terlihat lebih bisa mengcover area bertahan. Peningkatan kualitas dibuktikan dengan Persib yang baru kebobolan 15 gol dari 16 laga. Itu lebih baik ketimbang era Milla yang kebobolan sepuluh gol hanya dari empat laga.
Gaya Bermain Persib Di Bawah Hodak
Untuk gaya bermain, Hodak mengedepankan high press. Maka dari itu, ia mengandalkan kecepatan David Da Silva dan Levy Madinda, untuk memberikan tekanan dan membuat para bek lawan tak nyaman saat menguasai bola. Dengan strategi itu, Persib jadi salah satu tim paling rajin melakukan pressing di area permainan lawan.
Strategi ini terbilang efektif. Hal itu dibuktikan dengan beberapa gol Persib yang tercipta dari situasi di mana pemain Persib memenangkan bola di area lawan. Selain pressing tinggi, umpan silang dan skema bola mati jadi senjata mematikan Persib. Tentu ini harus didukung dengan pemain yang memiliki akurasi umpan sangat baik.
Untuk itu, Hodak mengandalkan Daisuke Sato, Rezaldi Hehanusa, Putu Gede, hingga Marc Klok untuk sering-sering melakukannya. Sayangnya, Putu Gede sudah tak lagi membela Persib di putaran kedua nanti karena mendapat panggilan tugas dari Bhayangkara FC. Posisinya akan digantikan oleh Henhen Herdiana.
Selain ketiga pemain itu, David Da Silva dan Ciro Alves jadi pemain yang paling diandalkan Hodak musim ini. Duo Brazil itu kerap merepotkan barisan pertahanan lawan melalui ketajaman, kecepatan dan kreativitasnya di lini depan. Jadi tak heran kalau keduanya sudah berkontribusi dalam 34 gol Persib musim ini.
Mengawali musim dengan buruk, Bojan Hodak telah menyulap Persib Bandung menjadi tim yang sulit dikalahkan di Liga Indonesia. Peluang untuk mengamankan gelar masih terbuka lebar. Jadi patut dinanti, apakah Persib bisa mempertahankan performa apiknya di putaran kedua atau tidak.
Sumber: VIVA, Bola, Suara, Liputan6, Ruang Taktik


