Perkasanya Brighton, Pembunuh Para Tim Raksasa

spot_img

Baru pekan pertama Liga Inggris digelar, sudah banyak kejutan berseliweran. Tak terkecuali tumbangnya Red Devils atas Brighton di Old Trafford. The Seagulls yang ditinggal para pemain kuncinya justru mampu kembali menunjukan tajinya sebagai sebuah klub pembunuh raksasa.

Klub berjersey putih biru dengan logo klub burung camar itu, tentu tak ujug-ujug tampil bagus. Mereka di bawah pemilik dan pelatih yang kompeten mampu berkembang menjadi salah satu klub yang solid di Liga Inggris.

Peran Tony Bloom

Seperti yang sudah diketahui khalayak luas, klub yang berasal dari kawasan pantai ini sejak 2009 dimiliki oleh seorang fans garis kerasnya, yakni Tony Bloom. Ia berprofesi sebagai penjudi profesional sekaligus pebisnis properti.

Nah, di bawah Bloom ini Brighton dibawa ke masa depan klub yang jelas. Dari mulai bangun stadion mereka yang jadi tahun 2011 bernama Amex (American Express Stadium) atau Falmer Stadium, hingga infrastruktur fasilitas latihan yang mumpuni juga ia bangun.

Memang, sejak dipegang Tony Bloom, belum ada prestasi atau trofi yang diraih. The Seagulls hanya menjuarai League One pada tahun 2011, dan menjadi runner-up Championship pada tahun 2017. Posisi runner-up itulah yang kemudian sukses mengantarkan The Seagulls promosi ke Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Selain itu, Bloom ini tak pelit kalau soal transfer. Sejak 2009 sampai sekarang, menurut media Brighton, Sussex Live, ia sudah banyak keluar kocek dari kantong pribadinya hingga sekitar 427 juta pounds demi menebus beberapa pemain yang dibutuhkan timnya.

Transfer Cerdas Brighton

Beberapa tahun terakhir, Tony Bloom dan manajemen juga berusaha keras dalam melakukan transfer yang efektif melalui metode Moneyball. Tony Bloom dulu bekerja keras menerapkan metode itu bersama-sama dengan direktur teknis, Dan Ashworth yang sekarang pindah ke Newcastle.

Sebagai contoh musim lalu, ia membawa Marc Cucurella dan Ennoc Mwepu. Pemain-pemain yang notabene jarang dikenal, tapi potensial dan berharga murah. Transfer cerdas Brighton ini terbukti dengan rataan usia pemain rekrutan mereka. Lihat saja dulu ketika rekrutan pemain muda berbakat mereka seperti Moises Caicedo, Tariq Lamptey, maupun Jakub Moder, semuanya berusia 21 tahun ke bawah ketika menandatangani kontrak dengan Brighton.

Di sisi lain, manajemen Brighton juga pandai melepas beberapa pemainnya dari musim lalu dengan keuntungan yang melimpah. Pemain macam Ben White dilego mahal 50 juta pounds ke Arsenal, lalu Dan Burn ke Newcastle. Begitupun musim ini, mereka terbukti mampu menghasilkan pemasukan besar melalui penjualan Marc Cucurella ke Chelsea maupun Yves Bissouma ke Spurs.

Peran Bloom kini memang tak sendiri dalam menggelar beberapa operasi transfer cerdas. Setelah ditinggal Dan Ashworth, musim ini ia bekerja dengan David Weir. Weir telah ditunjuk sebagai direktur teknis pengganti Ashworth. David Weir inilah yang musim ini memegang kendali penuh atas transfer Brighton. Termasuk penjualan menguntungkan Cucurella dan Bissouma serta mendapatkan pemuda berbakat pinjaman dari Chelsea, Lewi Colwill.

Graham Potter Dan Evolusi Strateginya

David Weir akan bekerjasama langsung dengan pelatih Graham Potter. Tapi kini Potter menjadi dipertanyakan para fans ketika para pemain kuncinya musim lalu ia lepas. Pertanyaan itu mungkin terjawab ketika menang melawan MU.

Graham Potter awalnya datang pada 2019/20. Ia ditunjuk menggantikan Chris Hutton. Meskipun di musim pertamanya tersebut hanya duduk di peringkat 15 dengan total 41 poin, itu merupakan catatan rekor poin dan gol tertinggi mereka selama berada di Liga Inggris.

Di musim kedua Potter, ia kembali mengantar The Seagulls mengumpulkan 41 poin. Namun, kali ini mereka finish di urutan ke-16. Dan lagi-lagi jadi catatan rekor baru Brighton di Liga Inggris diciptakan ketika mereka mampu menciptakan 12 kali clean sheet.

Di musim ketiganya 2021/22, Potter kembali melakukan progres yang signifikan. Pola permainan dan strateginya yang susah ditebak lawan mampu membawa The Seagulls duduk di posisi 9 klasemen. Sekali lagi ia mencatatkan rekor. Ini adalah peringkat terbaik mereka di Liga Inggris.

Tak hanya itu, musim lalu merupakan sampel sahih yang menunjukan bahwa racikan Potter ini adalah resep ampuh sebagai pembunuh para raksasa. Spurs dan Arsenal keok di kandang sendiri. Chelsea dua kali pertemuan tak bisa menang. Liverpool ditahan imbang di Anfield, serta MU yang dicukur 4-0.

Kini tuah itu kembali musim ini. Meskipun masih awal pekan, dengan kemenangan 2-1 di Old Trafford mereka kembali menasbihkan diri bahwa mereka adalah pembunuh para raksasa yang akan mengancam musim ini.

Tentu dalam menumbangkan para raksasa itu tak sembarangan. Ada sistem khusus yang diterapkan Potter. Ia sudah membangun sistem itu selama 3 musimnya bersama Brighton.
Aliran bola yang cepat dari kaki ke kaki, kombinasi crossing dan pemanfaatan ruang mampu Potter terapkan, meskipun kualitas pemainnya tak semewah klub-klub besar. Artinya, Potter ini bisa menggunakan kapasitas pemainnya sesuai kebutuhan.

Penerapan formasi Potter di Brighton juga sering berubah-ubah, dari 4-4-2 bisa menjadi 3-5-2, 3-4-3 ataupun 3-4-2-1. Fleksibilitas menjadi kunci pasukan Potter dalam bermain. Ini menandakan bahwa Potter mempunyai beberapa plan yang sudah disiapkan guna menyesuaikan lawan yang dihadapi.

Kadang juga tak terduga soal penempatan pemain. Kalau nonton penuh 90 menit Brighton bermain seperti melawan MU kemarin, para pemainnya terkadang berada di mana-mana atau saling mengisi. Mereka tidak terpaku berada dalam posisi tertentu. Ini menunjukan beberapa pemainnya juga memiliki kemampuan versatile yang tinggi di bawah Potter.

Target 10 Besar, Plus Pembunuh Raksasa

Dengan evolusi strategi Potter yang dibangunya sejak 2019, Brighton musim ini bukan tidak mungkin akan berada di 10 besar kembali meskipun pemain-pemain pentingnya sudah hengkang. Terbukti dengan sentuhan Potter di awal musim, mereka masih bisa memainkan sistem yang biasa mereka mainkan.

Sistem yang sudah dibangun lama oleh Potter ini akan terus berjalan walaupun pemain silih berganti. Apa yang dilakukannya dengan sang pemilik, Tony Bloom dalam membawa klub ini lebih baik, lama kelamaan mulai terwujud.

The Seagulls memang bukan tim yang penuh sejarah. Gelar mereka pun tak banyak. Mereka hanyalah klub medioker yang mencoba melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Dan sejauh ini mereka lakukan dengan sangat baik dan patut dicontoh klub lain.

Dengan modal musim lalu yang berpredikat sebagai pembunuh raksasa, menonton Brighton bermain di bawah Potter sembari menyulitkan tim-tim besar sudah cukup menjadi tontonan menarik yang bakal ditunggu musim ini. Mereka tak muluk-muluk soal gelar, syukur-syukur kalo mujur, tempat di Conference League mungkin bisa menjadi bonus bagi mereka musim ini.

https://youtu.be/yJs9xxCiBBo

Sumber Referensi : foottheball, theathletic, sussexlive, themastermindsite, brightonandhovealbion

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru