Perbedaan Direktur Teknik, Manajer, dan Pelatih di Sebuah Klub

  • Whatsapp

Dunia sepak bola tidak hanya sebatas pelatih dan pemain saja. Ada posisi-posisi lain dalam sebuah klub sepak bola yang juga tak kalah penting. Jujur saja, kamu sendiri juga terkadang bingung bukan kenapa ada pelatih kepala dan manajer di dalam satu klub sepak bola?

Bukankah pelatih juga bisa menjadi manajer? Lantas kenapa keduanya dibedakan? Tenang dulu. Nggak usah bingung dulu. Karena pelatih kepala dan manajer, di sebuah klub sepak bola, tentu saja berbeda perannya. Meskipun kadang kala masih susah untuk dibedakan antara manajer dan pelatih.

Namun, simpan dulu sebentar kebingungan itu. Karena masih ada satu lagi posisi yang kelihatannya memilih peran krusial di sebuah klub. Posisi itu adalah direktur teknik. Bagaimana coba itu? Ada manajer, pelatih, dan direktur teknik.

Baik manajer, pelatih, dan direktur teknik tentu punya tugasnya masing-masing. Jelas tidak mungkin suatu klub menugaskan manajer, direktur teknik, dan pelatih hanya untuk memenuhi klub saja. Atau sekadar buat penyerapan dana klub.

Nah, biar nggak bingung, mari kita mengenal apa sih perbedaan antara direktur teknik, manajer, dan pelatih di sebuah klub sepak bola. Apa saja perannya dan siapa yang paling berkuasa?

Direktur Teknik

Mari kita mulai dari direktur teknik. Yang mungkin saja menjadi jabatan yang baru diketahui banyak orang. Well, selain pelatih dan manajer, direktur teknik ini juga mempunyai peran penting di sebuah klub atau tim nasional.

Beberapa klub sudah memiliki direktur teknik masing-masing, termasuk lima klub di Liga Utama Inggris atau Premier League. Misalnya, Manchester United yang menunjuk Darren Flatcher sebagai direktur teknik, Maret 2021 lalu. Walaupun para fans Setan Merah kala itu justru menaruh sinisme, karena mereka belum mengerti apa urgensinya menunjuk direktur teknik.

Sementara untuk di level tim nasional, kita bisa ambil contoh Timnas Indonesia itu sendiri. PSSI telah memilih Indra Sjafri sebagai direktur teknik Tim Nasional, beberapa waktu lalu. Sebetulnya, apa peran dan fungsi direktur teknik? Sejak kapan itu mulai ada?

Direktur teknik dalam sepak bola sendiri mulai muncul di Eropa sekitar lebih dari tiga dekade lalu. Namun yang terbukti sukses adalah direktur teknik dari tingkat tim nasional, tepatnya dari Asosiasi Sepak bola Swiss yang menunjuk Hansruedi Hasler tahun 1995. Hasler, sebagai direktur teknik, diberi kekuasaan penuh, termasuk mengembangkan filosofi sepak bola Swiss.

Keberhasilan Swiss juara Piala Dunia U-17 tahun 2009, dikaitkan dengan keberhasilan restrukturisasi dasar sepak bola Swiss oleh Hasler. Nama-nama beken yang ikut membawa Swiss juara kala itu juga muncul. Sebut saja Granit Xhaka, Ricardo Rodriguez, dan Haris Seferovic.

Sementara, generasi emas Belgia juga tak bisa lepas dari peran direktur teknik mereka, Michel Sablon. Sablon sendiri juga merupakan mantan direktur teknik Ajax dan Barcelona. Ia digdaya menciptakan filosofi sepak bola yang ciamik dan menelurkan pemain-pemain hebat Eropa.

Di Premier League ada direktur teknik hebat yang dilupakan. Ia adalah Avram Grant dari Israel yang menjadi direktur teknik Portsmouth tahun 2006. Lalu di akhir musim, ia hengkang ke Chelsea, juga sebagai direktur teknik. Jadi, seberapa penting sih direktur teknik?

Direktur teknik Brighton, Ashworth punya jawabannya. Menurut Ashworth, pekerjaan direktur teknik itu menyangkut semua tentang klub. Perekrutan pemain, departemen olahraga dan kesehatan, akademi, peminjaman pemain, dan tim pria dan wanita di suatu klub.

“Prinsip direktur teknik, menurut saya untuk menjaga kepentingan jangka menengah dan panjang sebuah klub. Sekaligus memastikan klub terbangun sedemikian lupa. Hingga antar departemen bisa saling mendukung dan melengkapi,” kata Ashworth seperti dikutip TheFootballFaithfull.

Pernyataan direktur teknik Brighton, yang bergabung sejak 2018 itu bisa dipahami bahwa tugas direktur teknik intinya membangun filosofi bermain. Direktur teknik lah yang bertanggung jawab menciptakan budaya permainan di sebuah tim atau klub sepak bola. Ia juga memiliki peran untuk menjaga kontinuitas filosofi bermain tersebut.

Bisa dibilang, direktur teknik juga menjadi penghubung antar departemen. Misalnya, penghubung antara manajer dan dewan klub. Fungsinya itu tadi, menerapkan struktur bermain dan organisasi permainan yang mengakar.

Pelatih Kepala

Sementara, seorang pelatih, tentunya yang dimaksud adalah pelatih kepala memiliki wewenang yang terbatas di sebuah klub. Pelatih itu ibarat anak remaja yang tengah belajar. Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya di sekolah, sedangkan orang tuanya bertanggung jawab apa yang dia lakukan di luar sekolah.

Pelatih hanya diberi tugas memastikan klub yang ia latih tampil dalam performa menggembirakan. Supaya mendukung itu, pelatih diberikan kekuasaan untuk memilih line up klub sebelum bertanding. Ia juga yang mengatur formasi dan melatih para pemain dengan kadar rutinitas tertentu.

Mantan pelatih Tottenham Hotspur yang kini melatih Paris Saint-Germain, dan diisukan bakal menggantikan Ole di Manchester United, Mauricio Pochettino memberikan definisi tentang pelatih. Kata Poch, “Jika anda seorang pelatih tugas anda bermain lebih baik. Berusaha mengembangkan kinerja pemain dan meraih hasil positif”.

Manajer

Lantas, bagaimana dengan manajer? Di suatu klub sepak bola, manajer punya kekuasaan yang lebih luas ketimbang pelatih kepala. Seorang manajer klub sepak bola bebas memilih stafnya. Selain itu, manajer juga diberi keleluasaan untuk membeli atau menjual pemain.

Maka dari itu, menjadi manajer klub sepak bola punya konsekuensi besar. Sebab, ia bertanggung jawab atas maju atau tidaknya klub itu sendiri. Berbeda dengan pelatih, seorang manajer nggak harus mantan pemain sepak bola. Bahkan tak sedikit manajer yang bukan mantan pesepakbola, misalnya Andre Villas-Boas.

Klub-klub Eropa, apalagi Liga Inggris menerapkan sistem seorang manajer juga seorang pelatih. Jadi, ia bebas membeli dan menjual pemain yang sesuai taktiknya. Ambil contoh Thomas Tuchel di Chelsea yang menyusun formasi klub, melatih para pemain, dan sekaligus menendang pemain-pemain yang tidak masuk rencananya.

Tim-tim di Liga Inggris tidak memisahkan antara pelatih dan manajer karena takut pelatih tidak bisa dikontrol. Terlebih ketika berhadapan dengan media. Klub-klub di Liga Inggris khawatir jika yang disampaikan pelatih tidak sesuai dengan manajemen. Tentu saja seorang pelatih akan ditekan oleh manajer.

Boleh jadi, kalau diwawancarai media, seorang pelatih akan sulit untuk tidak merusak nama baik manajemen klub. Ia bukan mustahil bakal menyalahkan manajemen. Misalnya, kepala pelatih Sunderland tahun 2013, Paulo Di Canio yang melimpahkan kesalahan merekrut pemain pada direktur teknik dan manajer Sunderland, Roberto De Fanti dan Valentino Angeloni.

Akhirnya, Paulo Di Canio dipecat, meski baru menemani Sunderland di 13 pertandingan. Coba bayangkan kalau seorang pelatih juga manajer. Bagaimana mungkin dia bisa menyalahkan manajemen, wong manajernya dia sendiri?

Meskipun sebetulnya, kalau mau memisahkan antara manajer dan pelatih kepala bisa. Syaratnya, manajemen harus memberikan ruang yang cukup bagi pelatih menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan kata lain, jangan terlalu banyak ditekan.

Itu dia perbedaan direktur teknik, manajer, dan pelatih. Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah Shin Tae Yong itu manajer atau pelatih Timnas Indonesia? Lalu, filosofi apa yang dibangun Indra Sjafri sehingga dia pantas dijadikan direktur teknik timnas?

Sumber referensi: sportcraazy.com, thefootballfaithfull.com, panditfootball.com

Pos terkait