Klub Sepak bola Termiskin di Eropa, Tapi Punya Fans yang Militan

  • Whatsapp
Klub Sepak bola Termiskin di Eropa, Tapi Punya Fans yang Militan
Klub Sepak bola Termiskin di Eropa, Tapi Punya Fans yang Militan

Uang adalah segalanya. Apalagi bagi sebuah klub sepak bola. Satu klub sepak bola tentu membutuhkan uang untuk kebutuhan mereka. Membayar pemain, membayar official, pelatih, merenovasi stadion, dan lain sebagainya. Tanpa uang, klub susah berjalan apalagi buat berkembang.

Makin kaya sebuah klub sepak bola, jelas makin berkembang. Meskipun tentu saja membutuhkan waktu yang bisa jadi tidak sebentar. Tapi klub sudah terlanjur kaya, jadi tinggal bagaimana mengelolanya saja.

Kaya tapi seperti Manchester United, ya, sama saja. Atau ada juga kaya tapi seperti Paris Saint-Germain yang mau juara Liga Champions saja kerepotan. Ada lagi klub yang mendadak kaya, tapi harus merangkak dari zona degradasi, sebut saja Newcastle United.

Namun, kaya bukanlah syarat tunggal sebuah klub sepak bola bisa bertahan dan berkembang. Di luar klub-klub kaya seperti Manchester City, PSG, Chelsea, Real Madrid, Newcastle United, sampai Bayern Munchen, ada klub yang justru sanggup bertahan lama meski dalam keadaan miskin. Lalu, apa kuncinya?

Fans yang militan. Itu kuncinya. Nah, berikut ini starting eleven akan menyajikan klub-klub sepak bola termiskin di Eropa, tapi memiliki basis fans yang militan. Apa saja klub tersebut?

Plymouth Argyle

Plymouth Argyle bukan klub besar di Inggris. Klub yang bermarkas di Home Park itu menghuni di kasta ketiga Liga Inggris, English Football League One. Plymouth Argyle termasuk salah satu klub termiskin di dataran Inggris.

Total nilai skuadnya saja tak lebih dari 3,35 juta euro, kalau dirupiahkan kira-kira Rp 53,6 miliar. Jumlah yang tentu sedikit kalau di Inggris. Namun, jangan salah, meski menjadi klub miskin, Plymouth Argyle punya basis fans yang sangat militan.

Jika Plymouth Argyle bermain di kandang, sudah pasti 17 ribu kapasitas Home Park bakal terisi penuh. Militansi pendukung terbukti ketika Plymouth Argyle terdegradasi dari League One di tahun 2012, dan mendapat pengurangan 10 poin di musim berikutnya. Waktu itu, pendukung Plymouth Argyle tidak berkurang.

Mereka tetap setia mendukung dan membeli tiket untuk nonton langsung ke Home Park. Bahkan tingkat kehadiran penggemar Plymouth Argyle pernah menjadi yang terbaik keempat di League Two tahun 2012. Tak sekadar itu, belum lama ini, pendukung Plymouth Argyle menunjukkan militansinya ketika bertandang ke markas Charlton Athletic. Ketika Plymouth Argyle sudah kembali ke League One.

Pemain Plymouth Argyle, Jordan Houghton terkejut karena pertandingan tandang melawan Charlton Athletic dihadiri oleh 3.000 pendukung Plymouth Argyle. Itu artinya, lebih dari 11 persen dari 27 ribu kapasitas stadion Charlton Athletic adalah pendukung Plymouth Argyle.

Maka, kamu tidak perlu kaget kalau melihat klasemen English Football League One. Walaupun miskin, Playmouth Argyle hingga pekan ke-18 memuncaki klasemen League One. Plymouth Argyle mengungguli Wigan Athletic di posisi ketiga, dan Sunderland di tempat keenam.

Nottingham Forest

Menjuarai 2 kali Liga Champions Eropa. 1 kali menggondol gelar Premier League. 2 kali menjuarai FA Cup. 4 kali English League Cup atau sekarang bernama Carabao Cup. 1 kali memenangi UEFA Super Cup. Dan 1 kali merebut English Super Cup.

Trofi-trofi tersebut, walaupun diraih sebelum abad ke-20, bagaimanapun telah membuktikan Nottingham Forest pernah menjadi klub yang hebat. Namun, kamu harus tahu, Nottingham Forest termasuk salah satu klub termiskin di Eropa yang memiliki basis fans militan.

Total market values Nottingham Forest hanya 49,5 juta euro atau sekitar Rp 793 miliar. Namun, nasib Nottingham Forest terbilang naik turun. Klub yang kini bermain di kasta kedua Liga Inggris, EFL Championship itu pernah terdegradasi ke kasta ketiga tahun 2005.

Setelah itu Nottingham Forest seperti kehilangan keperuntungan. Nottingham Forest baru bisa kembali ke divisi dua di tahun 2008, ketika menjuarai League One. Terlepas dari itu, Nottingham Forest memiliki penggemar yang luar biasa.

Penggemar Nottingham Forest bahkan menjadi yang terbaik ketujuh di EFL Championship. Nottingham Forest memiliki lebih dari 500.000 penonton di stadion sejak pertama kali berdiri. Sementara, ketika bermain di kandang mereka, City Ground yang berkapasitas 30 ribu tempat duduk itu pasti akan dipenuhi pendukung Nottingham Forest.

TSG 1899 Hoffenheim

Siapa menyangka, TSG 1899 Hoffenheim, klub yang pada 20 November 2021 lalu mengalahkan RB Lepzig 2-0 di Bundesliga, termasuk klub miskin di Eropa. Dengan nilai skuad yang hanya 202 juta euro atau Rp 3,2 triliun, Hoffenheim mencoba bertahan di Bundesliga. Kendati demikian, Hoffenheim memiliki basis penggemar yang militan.

Apalagi Hoffenheim sendiri adalah klub yang berasal dari sebuah desa kecil di bagian barat daya Jerman. Tepatnya di dekat Sungai Rhine dan Neckar. Desa tersebut hanya berpenduduk 3.500 jiwa.

Namun kamu nggak usah kaget, kalau tahu ternyata ketika bermain di kandang, penggemar Hoffenheim yang hadir melebihi populasi desa. Kapasitas Rhein-Neckar Arena, markasnya Hoffenheim yang hanya 30 ribuan itu akan dipenuhi 28 ribu penggemar Hoffenheim ketika klub itu berlaga.

Kesuksesan Die Kraichgauer juga tak bisa lepas dari sosok Dietmar Hopp yang telah menyuntikkan dana ke klub kecil seperti Hoffenheim. Meskipun kelak Dietmar Hopp ini justru dibenci oleh para penggemar sepak bola Jerman. Hopp dianggap merusak tradisi Liga Jerman, ia dinilai melanggar aturan kepemilikan 50+1 untuk klub-klub Liga Jerman.

Stoke City

Bagi yang hobi nonton Liga Inggris, tentu tidak asing lagi dengan Stoke City. Ya, The Potters memang selalu punya tempat tersendiri di hati pencinta Premier League. Tapi, Stoke City bukanlah klub kaya, melainkan justru klub miskin.

Nilai skuad mereka saja hanya 58,3 juta euro atau Rp 934 miliar. Jadi, andaikan saja seluruh pemain The Potters dijual, satu orang Jack Grealish saja masih belum bisa terbeli. Stoke City mungkin miskin, tapi mereka punya fans yang sangat loyal.

Jika klub yang kini berada di kasta kedua Liga Inggris, EFL Championship bertanding, rata-rata akan dihadiri 4.639 penggemar. Selama 132 tahun, total pendukung yang mengikuti laga The Potters mencapai 612.370 penggemar. Kini, Stoke City berada di kasta kedua, tapi pendukung tetap ikut memenuhi Stadion Britannia, markasnya Stoke City.

Real Betis

Kalau membicarakan soal klub kaya di Liga Spanyol, jelas Real Madrid tak boleh luput dibahas. Tapi, bagaimana dengan klub miskin? Tentu tidak hanya satu. Akan tetapi yang memiliki fans loyal seperti Real Madrid, hanyalah Real Betis. Los Beticos kini memiliki nilai skuad yang hanya 220,7 juta euro atau Rp 3,5 triliun.

Meski nilai skuadnya masih kalah dari sang rival, Sevilla, Real Betis bisa diadu soal militansi penggemar. Setiap kali Los Beticos bertanding, para fans bakal membanjiri Estadio Benito Villamarin, markasnya Real Betis. Di divisi manapun Real Betis bermain, di situ pendukung selalu membanjiri. Hebatnya, ketika masih berada di Divisi Segunda, rata-rata kehadiran penggemar Real Betis di stadion masuk 50 besar Eropa.

Itulah tadi klub-klub miskin di Eropa, tapi memiliki penggemar yang militan. Ya, Eropa memang terkenal dengan negara-negara yang memiliki kekayaan yang mewah. Namun di antara itu, pasti ada negara miskin. Bahkan buktinya di negara-negara kaya di Eropa pun ada klub sepak bola miskin.

Sumber referensi: bleacherreport.com, plymouthherald.co.uk, stokesentinel.co.uk, transfermarkt.com

Pos terkait