Pep Guardiola dan Eksperimennya yang Belum Berhasil di Liga Champions

  • Whatsapp
Pep Guardiola dan Eksperimennya yang Belum Berhasil di Liga Champions
Pep Guardiola dan Eksperimennya yang Belum Berhasil di Liga Champions

Pep Guardiola. Tak ada yang menyangkal kalau pelatih asal Spanyol itu adalah salah satu pelatih tersukses di dunia saat ini. Hingga akhir musim 2020/2021, total sudah 31 gelar juara yang ia menangkan sejak debut sebagai pelatih pada 2008 silam.

Awal karier Guardiola sebagai pelatih juga sangat impresif. Naik pangkat dari tim B untuk menggantikan Frank Rijkaard di tahun 2008, Guardiola langsung menuai sukses di FC Barcelona. Selama periode 2008 hingga 2012, ia berhasil mempersembahkan 14 trofi untuk klub yang membesarkan namanya semasa bermain dulu. Rekor tersebut membuatnya menjadi pelatih tersukses dalam sejarah Blaugrana.

Selama 4 musim di Camp Nou, semua gelar prestisius ia menangkan. Yang paling prestisius tentu saja 2 trofi Liga Champions di musim 2009 dan 2011. 2 trofi UCL dalam kurun waktu 3 musim adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa pada saat itu.

Saat ditangani Pep Guardiola, Barcelona seperti tim yang sangat sulit ditaklukkan. Mengusung gaya bermain dengan penguasaan bola dan umpan cepat, taktik Pep banyak dijuluki sebagai tiki-tika. Meski begitu, ia sendiri benci label tersebut.

“Saya benci semua operan itu, semua tiki-taka itu. Itu sangat sampah dan tidak ada tujuan. Anda harus mengoper bola dengan niat yang jelas, dengan tujuan untuk masuk ke gawang lawan. bukan tentang passing demi itu. Jangan percaya apa yang orang katakan. Barรงa tidak melakukan tiki-taka! Ini benar-benar dibuat-buat! Jangan percaya sepatah kata pun!โ€ kata Pep Guardiola dikutip dari The Telegraph.

3 Musim di Bayern Munchen, Pep Guardiola Gagal Mempersembahkan Trofi Liga Champions

Usai di Barcelona, Pep Guardiola rehat semusim sebelum kembali melatih Bayern Munchen di musim 2013/2014. Ia dikontrak selama 3 musim. Selama periode itu, kompetisi Bundesliga seolah jadi milik Bayern. 7 trofi berhasil ia persembahkan untuk The Bavarians, termasuk 3 trofi Bundesliga secara beruntun.

Sayangnya, selama menangani Bayern Munchen, Pep Guardiola gagal memenangi Liga Champions. Selama 3 musim beruntun, ia selalu terhenti di babak semifinal. Padahal, berbagai eksperimen sudah Pep terapkan di FC Hollywood, termasuk mengubah skema permainan menjadi tiki-taka dan merekrut pemain bintang seperti Xabi Alonso, Thiago Alcantara, hingga Robert Lewandowski.

Pep Guardiola dan Pengeluaran Borosnya di Manchester City

Selesai di Bayern, Pep kemudian direkrut oleh Manchester City di musim 2016/2017. Bersama Txiki Begiristain, direktur of football Manchester City yang juga rekannya semasa di Barcelona, Pep punya banyak kuasa terhadap kebijakan tim, termasuk pembelian pemain yang sesuai dengan gaya taktiknya.

Akan tetapi, meski sudah belanja hingga 215 juta euro, Pep gagal mempersembahkan satupun trofi di musim pertamanya bersama The Citizens. Kritikan dan hujatan menghujaninya. Apalagi, di Liga Champions yang ia idam-idamkan, Pep hanya berhasil mengantar Manchester City hingga babak 16 besar, jauh dari pencapaian Manuel Pellegrini di musim sebelumnya yang mencapai babak semifinal.

Tak puas dengan skuad yang ada, Pep kembali mengutak-atik skudnya di musim berikutnya. Sejumlah pemain didatangkan, seperti Aymeric Laporte, Ederson, Kyle Walker, Benjamin Mendy, dan Bernardo Silva. Semua pembelian tersebut menelan biaya 317,50 juta euro dan jadi rekor pembelian terbanyak Pep Guardiola selama menukangi Manchester City.

Hasilnya memang terlihat. The Citizens mulai berkuasa di kancah domestik. Selama 4 musim terakhir, 3 gelar juara Premier League, 1 trofi Piala FA, 2 trofi Community Shield, dan 4 gelar juara EFL Cup berhasil diraih. Namun, tujuan sesungguhnya dari Sheikh Mansour membayar mahal Pep Guardiola bukanlah untuk sekadar menjadi penguasa di tanah Inggris.

Tak lain dan tak bukan, tujuan Sheikh Mansour membeli Manchester City dan menyuntikkan dana yang nyaris tak terhingga adalah demi menjadikan The Citizens penguasa Eropa. Untuk itulah, Pep Guardiola didatangkan dan dibayar mahal. Namun seperti yang kita tahu, selama 5 musim masa baktinya di Etihad Stadium, Pep Guardiola belum berhasil membawa The Citizens meraih trofi Liga Champions pertamanya.

Padahal, Pep Guardiola tercatat sudah membuat Manchester City mengeluarkan biaya lebih dari 800 juta euro untuk berbelanja pemain baru selama 5 musim terakhir. Angka tersebut masih sangat mungkin bertambah mengingat The Citizen tengah dalam pembicaraan transfer dengan Jack Grealish dan Harry Kane.

Menurut penuturan Fabrizio Romano, Aston Villa sudah setuju untuk melepas Jack Grealish ke Manchester City dengan mahar 100 juta poundsterling. Jika transfer tersebut terealiasi, Pep Guardiola diperkirakan sudah menghabiskan 918 juta poundsterling untuk membeli 35 pemain baru semenjak ia bergabung dengan Manchester City pada tahun 2016.

Rekor pembelian tersebut juga membuat Guardiola sebagai pelatih terboros di dunia. Tentu, rekor pembelian tersebut masih sangat mungkin untuk bertambah dan akan menyentuh lebih dari 1 miliar poundsterling apabila transfer Harry Kane dari Spurs terealisasi di musim ini.

Manchester City dan Pep Guardiola nyaris mengakhiri perburuan trofi Liga Champions pertama mereka di musim lalu. Setelah dalam 3 musim sebelumnya selalu gagal melewati babak perempat final, Raheem Sterling dkk. akhirnya mencapai babak final Liga Champions musim 2020/2021.

Sayang, perjalanan luar biasa mereka harus kandas di hadapan Chelsea asuhan Thomas Tuchel. The Citizens kalah tipis 0-1 di laga final yang diadakan di Porto, 29 Mei lalu. Kekalahan itu berbuah kritikan tajam dan dijadikan pembenaran oleh beberapa pihak bahwa uang tak bisa membeli trofi.

Namun, masalah Pep Guardiola di Manchester City tak hanya eksperimennya yang menghabiskan banyak uang saja. Ada masalah lain yang membuat mantan pelatih Barcelona itu masih gagal untuk kembali memenangi UCL sejak terakhir kali meraihnya di 2011 silam.

Pep Guardiola dan Perilaku Overthinking-nya yang Merugikan

Masalah itu adalah kebiasaan buruk Pep Guardiola yang kerap overthinking. Mengutip dari alodokter.com, overthinking ialah istilah untuk perilaku memikirkan segala sesuatu secara berlebihan yang dipicu oleh kekhawatiran akan suatu hal, baik masalah sepele hingga masalah berat.

Kekalahan atas Chelsea di final Liga Champions musim lalu telah membangkitkan kembali dugaan bahwa Guardiola terlalu memikirkan banyak hal sebelum pertandingan, khususnya pertandingan-pertandingan besar yang krusial.

Pep akan sangat terfokus pada calon lawannya dan sibuk mengeksploitasi kelemahannya. Bahkan kabarnya, Pep tak bisa tenang bila belum mengetahui kelebihan dan kelemahan lawannya. Akibatnya, ia kerap mengubah skema dan pola permainan tim yang sudah tersusun rapi di laga-laga krusial.

Seperti di laga final Liga Champions kemarin. Mengutip dari SkySports, dalam 60 pertandingan musim lalu, Manchester City hanya sekali tidak diperkuat Rodri atau Fernandinho. Namun, di laga final melawan Chelsea, Pep justru mencadangkan keduanya dan memasang Ilkay Gundogan yang merupakan top skor The Citizens musim itu sebagai gelandang bertahan. Hasilnya bisa ditebak, skema mereka tumpul dan laga berakhir dengan kekalahan.

Eksperimen serupa tak hanya terjadi di musim lalu. Di musim-musim sebelumnya, penyebab Manchester City selalu tumbang di laga krusial Liga Champions juga berasal dari keputusan mendadaknya yang sangat berisiko.

Seperti di perempat final Liga Champions 2020. Manchester City yang sudah terbiasa bermain dengan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, mendadak mengubah formasinya menjadi 3-1-4-2 hanya untuk menghadapi Olympique Lyon. Hasilnya fatal! The Citizens kandas 1-3 dan tak punya kesempatan membalas karena pertandingan tersebut hanya digelar satu leg saja.

Sudah banyak mantan anak asuh dan rekannya yang mengungkap kebiasaan buruk Pep Guardiola tersebut. Menariknya, dalam sebuah wawancara, Pep pernah membantah hal tersebut. Namun, pengakuan Arjen Robben berikut ini bisa langsung membantah klaim Pep Guardiola.

“Dia maniak sepak bola. Dia bisa meneleponmu jam 3 pagi untuk membicarakan taktik. Dia selalu memikirkan sistem baru,โ€ kata Arjen Robben dikutip dari Marca.

Serupa dengan Robben, Domenec Torrent yang pernah bekerja sebagai asisten Pep Guardiola dari 2007 hingga 2018 juga membenarkan perilaku overthinking mantan bosnya. Jangkan laga penting, melawan tim medioker saja Pep kepikiran setengah mati dan sering menempatkan dirinya di bawah tekanan.

Sudah banyak rekan, mantan anak asuh, dan pengamat sepak bola yang berpesan kepada Pep Guardiola untuk berhenti berpikir berlebihan soal sebuah pertandingan. Realitasnya, perilaku overthinking-nya menjadi boomerang baginya, khususnya di kompetisi Liga Champions Eropa.

Apa yang terjadi dengan Pep Guardiola menjadi bukti bahwa takada manusia yang sempurna. Termasuk Pep dengan perilaku overthinking-nya, setiap orang bisa berbuat kesalahan. Meski sudah belanja super mahal dan punya sederet eksperimen yang masih belum juga berhasil di Liga Champions bersama Manchester City, Pep Guardiola tetaplah salah satu pelatih terbaik di dunia.

Walau dihujani kritik dan dicap boros, Pep menunjukkan satu hal positif kepada kita bahwa ia masih belum menyerah untuk kembali mengejar trofi Liga Champions yang ia idam-idamkan.

โ€œHidup adalah bagaimana Anda bangkit lagi dan musim depan kami akan mencoba lagi,โ€ kata Guardiola dikutip dari Washingtonpost.

***
Sumber Referensi: The Telegraph, SportBible, Marca, Transfermarkt, Washingtonpost, DailyMail, Coachesvoice.

Pos terkait