Sorotan tertinggi dalam dunia sepakbola pasti ditujukan kepada para pemain yang berperan penting terhadap kesuksesan tim atau negara mereka masing-masing. Tetapi jangan lupakan satu sosok yang menyatukan mereka semua di lapangan, yakni seorang pelatih. Tak bisa dipungkiri, pujian juga patut diberikan kepada mereka.
Namun, siapakah yang terbaik? Barangkali kalau di sektor pemain, kita memiliki nama-nama macam Lionel Messi atau Kylian Mbappe. Sementara di jajaran pelatih, mungkin kita sepakat dengan satu nama, yakni Pep Guardiola. Mengapa demikian?
Daftar Isi
Egois, Namun Cerdik Dalam Membangun Tim
Sama halnya dengan pelatih-pelatih lainnya. Josep Guardiola Sala merupakan mantan pesepakbola profesional. Dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di generasinya, Pep adalah gelandang kreatif dan berbakat secara teknis. Dia tergabung dalam dream team Barcelona asuhan Johan Cruyff.
Setelah pensiun sebagai pemain, Guardiola menjadi pelatih Barcelona B. Di tahun 2008 barulah Pep ditunjuk untuk menggantikan Frank Rijkaard sebagai pelatih kepala di tim utama El Barca. Dan dari situ reputasinya sebagai pelatih hebat dimulai.
Pep memulai karier melatih di Barcelona, untuk kemudian ia terbang ke Jerman dan melatih tim raksasa Bayern Munchen. Kini ia tengah merajut kesuksesan bersama tim Liga Inggris, Manchester City. Pep Guardiola dikenal sanggup membangun sebuah tim dengan komposisi terbaik untuk 3-5 tahun ke depan.
Meski memilih pemain yang bagus tampak mudah, ini memerlukan kejelian dan keputusan yang tepat. Guardiola paham betul pemain-pemain mana yang bisa menunjang skemanya. Karena pada dasarnya, pemain terbaik akan muncul apabila mereka bisa menggabungkan skill dengan kecerdasan dalam mencerna informasi yang disampaikan oleh sang pelatih.
Dalam memilih pemain, Guardiola tak jarang egois. Pelatih berpaspor Spanyol itu hanya mau pemain yang diinginkannya, titik! Bahkan saking egoisnya, Pep tak jarang menyingkirkan pemain pilarnya sendiri seperti Yaya Toure, Joe Hart, sampai Ronaldinho.
Meningkatkan Kualitas Pemain
Pep juga dikenal memiliki kemampuan mengembangkan setiap pemain yang dia latih. Bukan hanya cocok dengan sistem permainannya, tetapi juga tumbuh sebagai individu yang luar biasa. Mungkin semua pelatih bisa melakukan ini, karena secara teori pelatih hanya menginginkan pemainnya bisa bermain sesuai dengan keinginannya. Namun, Pep lebih dari itu.
Banyak contoh pemain-pemain yang kemampuannya meningkat pesat ketika ditangani oleh Pep Guardiola. Salah satunya Sergio Busquets di Barcelona. Gelandang flamboyan tersebut bisa dibilang sebagai salah satu warisan terbesar Pep Guardiola untuk tim Catalan itu.
Guardiola mempromosikan Busquets di musim pertamanya sebagai manajer Barcelona. Saat itu Pep mengorbitkan sang pemain berdasarkan penampilannya yang menarik perhatian di tim cadangan Barcelona. Busquets membayar kepercayaan ini dengan serangkaian penampilan luar biasa dalam beberapa tahun. Gelandang asal Spanyol itu bahkan menyingkirkan Yaya Toure dari skuad utama Pep Guardiola.
Selain itu, ada Phil Foden di Manchester City. Foden adalah salah satu talenta muda paling menarik dalam masa kepelatihan Pep Guardiola di Manchester City. Sang pemain telah berkembang menjadi pemain kelas dunia di bawah asuhan mantan manajer Bayern Munchen tersebut. Meski masih muda, Foden mampu memimpin lini depan City dan menampilkan permainan yang enak ditonton.
Bahkan pemain sekaliber Lionel Messi juga mengakui Pep Guardiola sebagai sosok yang berperan penting dalam perkembangannya di Barcelona. “Dia istimewa dalam cara dia melihat sesuatu, mempersiapkan pertandingan dan berkomunikasi dengan para pemain,” kata Lionel Messi.
Kemampuan Adaptasi
Indikator selanjutnya adalah kemampuan beradaptasi dari Pep Guardiola. Banyak yang mengatakan kalau ia sukses karena melatih tim-tim besar saja. Namun, jika tak diimbangi dengan kecerdasan dalam membangun tim dan kemampuannya dalam beradaptasi dengan sistem dan intensitas liga yang berbeda-beda, mungkin ia tak seperti sekarang.
Tanpa perlu menyebutkannya satu per satu, banyak pelatih yang gagal meski menukangi tim dengan materi pemain bintang lima. Mereka gagal karena berbagai faktor dan salah satunya adalah adaptasi. Sama seperti kemampuan pemilihan timnya, kemampuan beradaptasi Pep dengan kompetisi baru, tim baru, bahkan dalam sebuah pertandingan terbilang luar biasa.
Pindah dari kompetisi yang terbilang minim pesaing macam Bundesliga ke Liga Inggris yang terkenal dengan persaingan ketat tak membuat Pep ciut nyali. Ia hanya membutuhkan dua musim untuk menaklukan Inggris. Gelar pertamanya bahkan ia peroleh dengan torehan 100 poin yang luar biasa musim 2017/18.
Adaptasi strateginya pun sangat baik. Tak jarang kita melihat tim Pep Guardiola mampu menang meski sempat tertinggal lebih dulu. Itu karena ia bukan tipe pelatih yang hanya terpaku dengan satu skema bermain. Ia akan mengubah strateginya jika diperlukan.
Meski ini relatif umum, Pep melakukannya lebih baik daripada kebanyakan pelatih lain. Itu dibuktikan dengan poin per game selama satu musim yang tak pernah lebih rendah dari 2,05. Jauh lebih baik dari Carlo Ancelotti yang pernah mencatatkan 1,4 poin per game.
Menciptakan Pelatih Lain
Mungkin ada beranggapan kalau Carlo Ancelotti masih yang terbaik karena bisa menaklukan lima liga top Eropa. Namun, Pep Guardiola barangkali jadi pelatih yang paling berpengaruh. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pelatih-pelatih muda yang terinspirasi oleh gaya bermainnya.
Sebut saja macam pelatih muda yang kini menangani Bayern Munchen, Julian Nagelsmann. Ia menyebut Pep sebagai sumber inspirasinya. Nagelsmann juga mengaku kerap mengamati cara bermain tim asuhan Pep Guardiola, baik saat masih di Barcelona maupun Bayern Munchen.
Bahkan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong pun mengakui bahwa Pep Guardiola jadi salah satu kiblatnya dalam meramu taktik. Menurutnya banyak pelajaran yang bisa diambil dari gaya melatih Pep Guardiola. Tak hanya soal taktik, Shin Tae-yong juga mempelajari karakter dari manajer Manchester City tersebut.
Selain menginspirasi, Pep juga jadi pelatih yang mampu menghasilkan pelatih-pelatih hebat lain. Sebut saja Xavi Hernandez yang kini membawa Barcelona di papan atas La Liga, Mikel Arteta yang sempat menjadi asistennya di City, kini memimpin klasemen Liga Inggris bersama Arsenal, hingga yang terbaru mantan anak asuhnya, yakni Vincent Kompany yang sedang berusaha membawa Burnley kembali ke kasta tertinggi sepakbola Inggris.
Prestasi
Yang terakhir adalah soal prestasi. Meski belum menghadirkan trofi Internasional seperti Didier Deschamp atau Vicente del Bosque, Pep Guardiola tetaplah pelatih yang tak kurang pencapaiannya. Pelatih berusia 52 tahun itu tak pernah keluar dari zona Liga Champions di klasemen liga. Terburuk pernah di peringkat tiga saat melakoni musim pertamanya di Manchester City.
Selain itu, karir Pep juga bergelimang trofi. Pep Guardiola telah meraih 32 trofi bergengsi termasuk dua trofi Liga Champions dan tiga UEFA Super Cup selama menukangi tiga tim berbeda yakni Barcelona, Bayern Munchen dan Manchester City. Ia juga pernah meraih dua kali gelar pelatih terbaik dunia pada tahun 2008 dan 2010.
Sumber: SI, Goal, Guardian, World Soccer Talk, Sportskeeda, BRfootball


