Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Pemain Sepakbola

  • Whatsapp
Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Pemain Sepakbola
Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Pemain Sepakbola

Tak bisa dipungkiri bahwa kesehatan mental turut berpengaruh dalam kehidupan. Tak terkecuali untuk para pemain bola. Kesehatan mental punya peran yang tak kalah penting dalam perjalanan karir pesepakbola itu sendiri, di luar skill.

Dalam sejarah sepak bola sendiri, ada sejumlah tragedi yang menimpa para pemainnya terkait isu kesehatan mental.

Bacaan Lainnya

Dua diantaranya adalah tragedi kematian Robert Enke dan Gary Speed. Keduanya mengakhiri hidup karena menderita depresi. Enke, penjaga gawang asal Jerman, menyudahi hidupnya pada 10 November 2009 lalu. Sementara Speed, gelandang asal Wales, menyusul dua tahun kemudian, tepatnya pada 27 November 2011.

Jika Enke maupun Speed lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Berbeda dengan Adriano Leite. Sang striker Brasil itu juga pernah alami depresi berat, namun ia tidak sampai bunuh diri. Hanya saja ia mengalami degradasi performa sampai akhirnya pensiun dini.

Dilansir dari healthline, depresi diklasifikasikan sebagai gangguan mood. Hal ini dapat ditandai dengan perasaan sedih, kehilangan, atau kemarahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, mereka yang mengalami depresi biasanya memiliki beberapa gejala :

  1. Kehilangan energi
  2. Perubahan nafsu makan
  3. Gangguan tidur (bisa berlebihan, bisa juga kurang dari lama tidur biasanya)
  4. Cemas
  5. Menurunnya kemampuan berkosentrasi
  6. Ketidakmampuan membuat keputusan
  7. Rasa tidak tenang
  8. Perasaan tidak berguna
  9. Bersalah atau putus asa dan
  10. Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri

Untuk itu, agar tidak terjadi kasus-kasus seperti Robert Enke maupun Gary Speed, maka setiap pemain harus punya kesehatan mental yang baik. Karena kesehatan mental ini juga sangat penting untuk meningkatkan performa.

Memang tidak banyak laporan soal gangguan mental yang terjadi pada pemain sepakbola. Tidak seperti laporan cedera fisik yang hampir akan selalu ditemukan setiap harinya, laporan mengenai kasus kesehatan mental memang masih jarang. Meski begitu, bukan berarti pemain sepakbola memiliki kondisi mental yang baik.

Masalah depresi dan kesehatan mental memang telah menjadi ancaman serius dalam dunia sepakbola. Baik pemain yang masih aktif maupun yang sudah pensiun pun turut menderita akibat hal ini. Riset yang dilakukan oleh asosiasi pesepakbola profesional, FIFPro, pada 2013 menunjukkan hal tersebut.

Dari 826 pesepakbola yang didata oleh FIFPro, sebanyak 38 persen pemain aktif dan 35 persen pemain non-aktif mengaku mengidap gejala kesehatan mental serius. Rata-rata dari mereka (masih dan pernah) berlaga di kancah teratas liga-liga top Eropa, serta ikut membela timnas masing-masing.

Pada tahun 2015, FIFPro melakukan penelitian terhadap 540 pemain sepak bola profesional di 5 negara, dan hasilnya menunjukkan, bahwa:

43 persen pemain di Norwegia menunjukkan gejala kecemasan atau depresi dan 74% menunjukkan pola makan yang buruk. 33% pemain di Spanyol mengalami gejala gangguan tidur. Sementara itu, di Finlandia, Prancis, dan Swedia, peristiwa kehidupan dan ketidakpuasan karir dikaitkan dengan kesusahan, kecemasan/depresi, konsumsi alkohol, dan pola makan yang buruk.

“Gejala yang berhubungan dengan depresi dan kecemasan sangat umum di kalangan pemain sepak bola profesional,” kata  Vincent Gouttebarge, Direktur Medis FIFPro.

Temuan dasar yang didapatkan tim peneliti FIFPro sendiri menyatakan bahwa pemain yang bermasalah dengan mentalnya mengalami sejumlah gejala. Gejala itu antara lain kesulitan tidur (23 persen pemain dan 28 persen mantan pemain), stres (15 persen pemain dan 18 persen mantan pemain), hingga kecanduan minuman beralkohol (9 persen pemain dan 25 persen mantan pemain).

Dalam dunia sepakbola, banyak faktor yang dapat menjadi penyebab munculnya gejala depresi. Beberapa penyebab tersebut antara lain: Tuntutan untuk selalu menang, ketidakjelasan masa depan, kehilangan kesempatan bermain, persaingan antar pemain yang tidak sehat, cedera berkepanjangan, kegagalan merengkuh trofi, tekanan dari manajemen, suporter, dan media, hingga masalah di luar sepakbola. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi pemantik depresi.

Selain itu, masa-masa pramusim disebutkan menjadi periode saat para pemain mulai merasakan tekanan yang berpotensi menjadi depresi. Saat itulah para pemain mulai memikirkan kontrak, masa depannya, dan hal lain yang menguras emosi, terutama bagi pemain muda.

Terkait masalah kesehatan mental, para pemain memang harus berani membuka suara di hadapan publik. Hal ini bertujuan agar orang lain, setidaknya keluarganya sendiri tahu bahwa dirinya menderita depresi dan penyakit mental lainnya. Pemain Tottenham Hotspur, Danny Rose, merupakan salah satu pemain pertama yang secara terbuka mengangkat masalah mental yang dialaminya. Rose mengakui bahwa dirinya didiagnosis menderita depresi.

Untuk menangkal kesehatan mental yang dialami para pemain, berbagai upaya terus dilakukan. Salah satunya yang dilakukan asosiasi sepak bola Inggris pada ajang final piala FA tahun 2020 kemarin. Final Piala FA 2020 berganti nama menjadi Heads Up FA Cup Final. Hal itu dilakukan sebagai kampanye peningkatan kesadaran kesehatan mental.

Pergantian nama itu disampaikan Presiden FA, Pangeran William. FA bekerja sama dengan organisasi amal Heads Together yang bergerak di bidang penanganan kesehatan mental di Inggris. Maskapai Emirates, yang merupakan sponsor utama Piala FA, juga menyampaikan dukungan atas keputusan penggantian nama final Piala FA tersebut.

“Kami senang dan terhormat bisa mendonasikan hak penamaan Piala FA serta menggunakan platform ini untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu penting ini,” kata Pemimpin Eksekutif Emirates, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum.

Lalu bagaimana cara pencegahan terhadap pemain yang alami gangguan mental, dalam hal ini depresi. Pencegahannya dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dan tingkatan.

Misalnya, federasi sepakbola, mereka dapat membuat kebijakan agar setiap klub memiliki psikiater atau psikolog. Selain itu, pihak klub wajib menciptakan suasana kerja yang kondusif dan memperhatikan kesehatan pemain baik secara fisik maupun psikis. Para staf dapat pula berkontribusi dengan saling memberi perhatian kepada pemain secara optimal.

Pihak lain yang bisa berkontribusi menekan angka kasus gangguan mental yang dialami pemain adalah suporter dan media. Kedua pihak tersebut jangan sampai memberitakan seorang pemain dengan narasi yang sangat buruk, yang dapat memicu tekanan psikis pemain. Baik suporter dan media harus ikut membantu meningkatkan kesadaran pentingnya kesehatan mental bagi pesepakbola. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *