Istilah “abroad” di dunia sepak bola dalam negeri mungkin tidak cukup familiar. Karena biasanya abroad itu hanya untuk uang berkaitan dengan akademik. Padahal jelas, di sepak bola juga mengenal istilah abroad atau menimba ilmu ke luar negeri.
Seperti halnya di sektor akademik, dunia sepak bola juga tak bisa lepas dari abroad ini. Karena pemuda di Indonesia selain tertarik belajar di universitas ternama di luar negeri, juga ada yang tertarik menimba ilmu sepak bola di luar negeri.
Fenomena pesepakbola tanah air yang memutuskan untuk bermain dan mengembangkan karier sepak bolanya di luar negeri sebenarnya sudah sempat terjadi puluhan tahun lalu. Sosok almarhum Ricky Yacobi adalah pemain Indonesia yang pertama bermain di luar negeri.
Striker legendaris itu pernah mencicipi persaingan Liga Jepang bersama Matsushita, pada tahun 1988. Setelah itu ada nama Robby Darwis yang berkarier bersama Kelantan FA, klub di Liga Malaysia pada tahun 1989.
Untuk taraf Eropa, pesepakbola asli indonesia baru bisa mencicipi berkarir di klub Eropa pada pertengahan tahun 90-an. Kala itu, ada tiga punggawa timnas jebolan proyek PSSI Primavera berhasil mendapat kesempatan menjajal atmosfer kompetisi tertinggi Eropa.
Mereka adalah Bima Sakti, Kurnia Sandy, dan Kurniawan Dwi Yulianto. Mereka dinilai mampu bersaing di kompetisi Eropa setelah di uji dengan melakoni kompetisi Primavera. Turnamen yang ditujukan untuk pemain muda di Italia.
Aksi Kurniawan Dwi Yulianto @KDY_10 bersama @sampdoria_en saat Tour Asia 1994 di Hongkong.
KDY menggunakan no.punggung 17, masuk sebagai pemain pengganti dibabak ke-2, bermain bersama Atillio Lombardo, David Platt dkk yg dilatih Sven Goran Erikson.@IndoSamp @SerieA_Lawas pic.twitter.com/9iLX879AOh— গণপ্রজাতন্ত্রী বাংলাদেশ (@Mah5Utari) March 12, 2021
Daftar Isi
Mengapa Pesepakbola Indonesia Perlu Berkarier di Luar Negeri?
Untuk memiliki kemampuan guna menampilkan performa terbaik di level tertinggi, merumput di Liga lokal saja dirasa kurang bagi pesepakbola tanah air, apalagi kualitas Liga Indonesia masih kalah jauh dengan liga-liga top Benua Eropa. Jangankan Eropa, di level Asia atau bahkan Asia Tenggara saja, Liga Indonesia masih terbelakang.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa manajemen dan infrastruktur di liga luar negeri jauh lebih baik bila dibandingkan di Indonesia. Mereka lebih maju dan kerap melibatkan science football daripada science karate dalam meningkatkan performa tiap pemainnya.
Hal itu ironis, padahal Liga Indonesia memiliki peran penting dalam menyaring bakat-bakat daerah terbaik tanah air. Sebab pencarian bibit muda itu memang tugasnya klub lokal, baru kemudian Timnasnya mencomot, bukan sebaliknya.
Sebab itulah, salah satu cara terbaik mengembangkan bakat adalah dengan abroad. Soal izin tak perlu khawatir. ASEAN Economic Community (ASC) sudah lama menetapkan bahwa setiap individu yang terdaftar sebagai warga negara di lingkup Asia tenggara, bisa bekerja di belahan bumi mana pun tanpa terkecuali.
Maka pesepakbola tanah air pun memiliki kesempatan besar untuk mencicipi ketatnya persaingan kompetisi di negara lain guna menyerap ilmu yang tidak semuanya diajarkan di klub atau SSB di Indonesia.
Meningkatkan Mental Pemain
Pemain Indonesia, khususnya yang muda, memang lebih baik bermain saja di luar negeri. Pemain Indonesia menjadi terasing dan harus bersaing dengan pemain lain. Hal itu bisa meningkatkan mental para pemain.
Seperti yang tercermin dari sikap pemain asal Magelang jebolan program Garuda Select angkatan pertama yang sekarang bermain untuk Jong FC Utrecht.
🇮🇩 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗨𝘁𝗿𝗲𝗰𝗵𝘁, 𝗕𝗮𝗴𝘂𝘀 𝗞𝗮𝗵𝗳𝗶!
🇳🇱 Welkom in Utrecht, Bagus Kahfi!
📝 Meer over de komst van de talentvolle aanvaller uit Indonesië 👉 https://t.co/xRKapXo42L pic.twitter.com/TCqyFltimw
— FC Utrecht (@fcutrecht) February 5, 2021
Pada laga uji coba melawan Jong SC Heerenveen, walau tak mencetak gol, namun sikap kedewasaan Bagus Kahfi patut diacungi jempol.
Saat Bagus menguasai bola ia sempat mendapati tackle-tackle keras dari pemain Jong SC Heerenveen. Kembaran Bagas Kaffa itu sampai harus terjatuh akibat perlakuan kasar oleh pemain Jong SC Heerenveen tersebut.
Namun dirinya justru tidak menunjukan ekspresi marah, sebaliknya pemain Jong SC Heerenveen yang tidak diketahui namanya itu terlihat kesal dan menendang bola ke arah papan iklan.
Bekal Seumur Hidup
Memang benar secara statistik pemain muda yang berkarier di luar negeri, yang menjadi pemain pro bagaikan 1 banding 1000. Mereka juga tak mendapat jaminan akan selalu mendapat slot di setiap agenda Timnas Indonesia.
Namun, apa pun yang akan terjadi kedepannya paling tidak mereka yang pernah menimba ilmu di luar negeri, dapat membuka wawasan tentang sepak bola dan kehidupan pada umumnya.
Dengan memilih untuk berkarier di luar negeri, sejatinya para pesepakbola Indonesia telah mendapat modal yang besar guna menunjang masa depan karier persepakbolaan mereka.
Tak dapat dipungkiri dengan pengalaman yang mereka dapat selama tampil di liga asing, dapat meningkatkan potensi mereka baik dalam kemampuan individu maupun tim.
Prestasi Timnas yang Ikut Terkerek
Dengan semakin banyaknya pesepakbola Indonesia yang memutuskan untuk bermain dan menuntut ilmu di liga-liga luar, itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Timnas Indonesia. Pemain-pemain tadi bisa mempelajari budaya sepak bola dari negara-negara yang secara prestasi lebih maju.
Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong bahkan mendorong para pemain Timnas agar berkarier di luar negeri. Menanggung resiko tak masalah, yang penting pengalaman yang didapat bisa berharga. Toh, kalau ilmunya sudah dapat, prestasi Timnas Indonesia pelan-pelan juga bakal ikut terkerek.
Hanya Makan Nasi Kotak di Piala AFF 2020, Shin Tae-yong Khawatirkan Fisik Skuad Timnas Indonesia https://t.co/gEhJhqlngk pic.twitter.com/r341gjRad6
— KOMPAS TV (@KompasTV) December 28, 2021
Para pemain lain seharusnya meniru Witan Sulaeman, Asnawi Mangkualam, Egy Maulana Vikri, Yanto Basna, sampai Syahrian Abimanyu yang lebih dulu berkarier di luar negeri. Toh, Shin Tae-yong juga sudah memberi rekomendasi.
Nah, beberapa nama pemain Timnas Indonesia seperti Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga dikabarkan diminati oleh klub-klub Jepang dan Korea. Pemberitaan ini memicu respon positif dari Yoyok Sukawi selaku CEO Laskar Mahesa Jenar, Yoyok mensupport penuh jika ada anak asuhnya yang ingin melanjutkan karir sepakbolanya di luar negeri.
Tentu sikap seperti ini patut dicontoh oleh klub klub lain, karena memang tak bisa dipungkiri bahwa suatu kebanggaan tersendiri bagi klub tanah air jika ada pemainya yang diminati oleh klub klub papan atas Asia.
Jangan malah egois dan akhirnya justru mempersulit proses pengembangan karir pemain dengan alasan “klub masih membutuhkan jasanya”. semua dilakukan demi masa depan Timnas Indonesia!
Kita tunggu saja, semoga dua pemain itu dan kalau bisa yang lainnya juga bermain di luar negeri. Selain menimba pengalaman, bermain di luar negeri sedikit banyak bisa menghindari pemain dari masuk rumah sakit atau tempat fisioterapi.
Sumber: Indosport.com, VocketFC, Tempo.co


