Penantian Panjang Puasa Gelar? Tunjuk Mourinho Jadi Pelatih!

spot_img

Begitu mendengar nama Jose Mourinho pasti langsung terbersit di kepala yakni gelar. Atau mungkin ada sebagian yang terbersit arogan, sombong, parkir bus dan lain-lain, itu sah-sah saja sih sebenarnya. Memang orang Portugal yang satu ini banyak menyita perhatian khalayak sepakbola.

Sosok kontroversial yang satu ini baru-baru ini memecahkan rekor sebagai pelatih yang bisa menjuarai semua gelar turnamen di Eropa, mulai dari Champions League, Europa League dan yang terakhir Conference League. Namun, ia ternyata juga menyimpan rekor lain yakni sebagai dewa penolong bagi tim-tim yang sudah lama menantikan gelar juara.

Chelsea 50 tahun

Seusai memenangi Liga Champions bersama Porto pada 2004, Mourinho ditunjuk bos baru Chelsea, Abramovich untuk mengawal proyek pembangunan Chelsea sebagai manajer menggantikan Ranieri. Saat baru mendarat di London ia langsung memicu kehebohan dengan menyebut dirinya “The Special One” di konferensi pers pertamanya di Chelsea.

Dicintai sekaligus dibenci, Mourinho adalah embusan angin segar yang membuat persaingan papan atas Liga Inggris jadi seru. Saat itu, MU dan Arsenal sedang kuat-kuatnya dengan berbagai perseteruan Ferguson dan Wenger.

Chelsea adalah klub kaya baru yang dalam catatan sejarah terakhir kali menjadi juara liga di musim 1954/55. Saat kompetisi masih bernama Liga Divisi Satu Inggris. Artinya sudah lama Chelsea tidak lagi merasakan indahnya gelar juara Liga Inggris. Di musim 2004/05, Mourinho datang dengan segudang harapan bagi publik Stamford Bridge akan kenangan indah 1955.

Benar saja. Musim pertamanya bersama Chelsea, dengan bantuan dana segudang, The Special One kembali menjadi kampiun Liga Inggris. Betapa bahagianya fans Chelsea ketika itu mengakhiri puasa gelarnya selama hampir 50 tahun.

Inter 45 Tahun

Ketika Mourinho pindah ke Inter pada musim 2008/09, Inter dihadapkan pada pencarian gelar mereka di Eropa yang sudah lama diimpikan sejak 45 tahun silam. Ketika terakhir kali Inter menjuarai kompetisi Eropa, yakni di Liga Champions musim 1964/65.

Mei 1965, Inter Milan terakhir kali memantapkan masa kejayaan mereka atau banyak orang mengenalnya dengan sebutan “La Grande Inter” dengan mengalahkan Benfica pada final Liga Champions. Sebelumnya, Inter di musim 1963/64 juga sudah menjadi kampiun Liga Champions dengan mengalahkan Real Madrid di final.

Masa kejayaan Inter tak pernah kembali terulang di Liga Champions.Tahun 1967 dan 1972 meskipun mereka kembali ke babak final, namun mereka takluk oleh Celtic dan Ajax.

Penantian panjang itu pun akhirnya datang juga. Butuh waktu hampir 45 tahun penantian untuk kembali juara di kancah Eropa. Inter, bersama Mourinho menjuarai Liga Champions dengan mengalahkan Bayern Munchen di final pada musim 2009/10. Masa kejayaan kedua Inter itu banyak orang menyebutnya sebagai “La Modern Grande Inter“. Sekali lagi, Mourinho membuktikan bahwa dirinya The Special One. Apalagi pada musim 2009/10, ia juga meraih Treble bersejarah bersama Inter.

Madrid 18 tahun

Setelah meraih Treble bersama Inter, Mourinho memutuskan pindah ke Real Madrid. Madrid yang sudah bergelimang trofi Eropa dan gelar liga sudah tentu bukan lagi menjadi tantangan bagi Mourinho.

Akan tetapi, pada waktu itu Madrid sedang dilanda krisis trofi gelar domestik, yaitu Copa Del Rey. Sebelum Mourinho datang pada 2010/11, Madrid sudah tak lagi meraih Copa del Rey. Edisi 1993 ketika mengalahkan Real Zaragoza adalah trofi Copa del Rey terakhir Real Madrid. Meski hanya sekadar piala domestik, tapi tidak mendapatkannya selama 18 tahun, tentu bisa membuat klub sekelas Real Madrid terhina.

Los Galacticos benar-benar mendapat Copa del Rey lagi setelah Mourinho mengambil alih tim. Bahkan tak butuh waktu lama. Hanya dalam semusim pertamanya, Mourinho sudah bisa membuat fans bersorak mengiringi trofi Copa del Rey yang sudah lama mereka nantikan.

Pertama Kali Dalam Sejarah Manchester United

Setelah perjalanannya di tanah Matador, Mourinho mencoba peruntungan lagi di Inggris bersama klub lamanya, Chelsea. Namun, sebentar ia lalu membelot ke Manchester United pada musim 2016/17.

Pada musim pertamanya, Mourinho yang ditunjuk menggantikan Van Gaal di MU dihadapkan pada kompetisi Eropa kasta kedua, yaitu Europa League atau dulu disebut Piala UEFA. MU mau tidak mau harus bertanding di kompetisi itu imbas tidak lolosnya MU ke Liga Champions ketika dipegang Van Gaal.

Usut punya usut, gelar Europa League itu adalah salah satu gelar yang belum pernah didapatkan oleh setan merah selama mereka menjadi sebuah klub. Di mana Liga Champions, Liga Inggris, Piala FA, Piala Liga, Piala Winners semuanya sudah ada di lemari Old Trafford.

Europa League ini menjadi tantangan tersendiri bagi Mourinho untuk mendapatkannya. Dan benar saja, ia akhirnya mendapatkan itu setelah di final membungkam Ajax Amsterdam. Baru semusim di MU ia sudah merebut gelar yang menjadi kepingan yang hilang untuk melengkapi gelar MU.

Dan anehnya juga, mungkin itu adalah trofi terakhir yang didapat MU. Pasalnya hingga sekarang MU tak mampu persembahkan trofi lagi sejak kepergian Mourinho. Pertanyaan yang sama bagi fans MU, mau jaminan dapat gelar lagi? Segera tunjuk Mourinho, bukan malah Ten Hag.

Roma 61 Tahun

Setelah pergi dari United di 2018 akhir, Mourinho akhirnya menyebrang ke London Utara untuk bergabung bersama Tottenham Hotspurs. Ia di Spurs tercatat dari musim 2019/20 sampai akhirnya dipecat pada April 2021. Ia dipecat beberapa hari menjelang Spurs yang dibawanya tampil di final Piala Liga. Mourinho jikalau saja tidak dipecat mungkin bisa jadi membawa pulang trofi bagi penantian panjang Spurs sejak terakhir kali menjuarai Piala Carling pada 2008.

Namun, itu dianggap angin lalu bagi Mou. Akibat pemecatannya ia banyak dianggap sudah habis tajinya. Karirnya makin menurun ketika diminta menukangi AS Roma, klub Italia yang sudah lama tak mendulang prestasi apa-apa baik di domestik maupun Eropa.

Mourinho bergabung di Roma pada musim 2021/22 menggantikan Paulo Fonseca. Ia dihadapkan pada pembuktian untuk bisa mengakhiri puasa gelar Serigala Roma. Roma yang baru dibangunnya itu secara mengejutkan mampu tampil dominan di ajang Conference League. Walaupun cuma turnamen kasta ketiga Eropa, namun ini adalah edisi perdana.

Publik Roma sudah lama memimpikan gelar juara mampir ke Olimpico. Terakhir kali Roma juara 14 tahun yang lalu ketika di 2008 mereka meraih Coppa Italia bersama Spalletti. Di kompetisi Eropa jangan ditanya lagi, Roma terlalu lama puasa gelar hingga 61 tahun lamanya. Terakhir kali Roma mendapatkan gelar Eropa yakni pada Oktober 1961. Ketika itu Roma mengalahkan Birmingham City untuk memenangkan gelar Inter Cities Fairs Cup.

Akhirnya penantian panjang itu berakhir, 14 tahun tanpa trofi, dan 61 tanpa gelar Eropa mampu dipatahkan The Special One. AS Roma berhasil menyabet gelar Conference League pada tahun 2022 setelah di final mengalahkan Feyenoord.

Itu membuktikan bahwa Mourinho benar-benar terlahir bak dewa penolong. Beberapa kenangan indah serta penantian panjang klub akan sebuah gelar berhasil ia wujudkan, baik di Chelsea, Inter, Madrid, MU, maupun terakhir di Roma. Lantas, selanjutnya siapa lagi?

https://youtu.be/6B-ScemLOJ0

Sumber Referensi : bbc, bleacherreport, thesportsman, livesoccertv, mirror

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru