Penantian Panjang Ivan Toney untuk Membela Timnas Inggris

spot_img

Panggilan pertama Ivan Toney ke Timnas Inggris jadi bukti bahwa kita tak boleh menyerah pada mimpi yang sudah kita gantung di depan mata. Selama hidupnya, Toney belum pernah mencicipi laga internasional bersama Inggris di segala jenjang usia. Dan kini, striker Brentford itu memiliki peluang untuk melakoni debut internasionalnya kala The Three Lions menghadapi Italia di San Siro akhir September nanti. 

Pemanggilan Toney ke timnas Inggris ini juga menciptakan sejarah bagi Brentford. Kali terakhir pemain dari tim berjuluk The Bees ini dipanggil ke Timnas Inggris terjadi pada tahun 1939 atau 83 tahun yang lalu. Bertengger di urutan keempat sebagai pencetak gol terbanyak Liga Inggris telah membuka kesempatan Toney untuk membela Inggris.

Kontribusi Toney bersama Brentford lah yang membuat Gareth Southgate akhirnya memanggil Toney untuk membela Timnas Inggris. Apalagi Marcus Rashford sedang diterpa cedera. Sementara Inggris, membutuhkan amunisi untuk melakoni UEFA Nations League.

Perjuangan di Sepakbola Inggris

Ambisi Ivan Toney untuk membela Timnas Inggris dimulai saat ia direkrut oleh tim Premier League, Newcastle United. Pada tahun 2015, ketika Toney masih berusia 19 tahun, The Magpies mengangkutnya dari tim League Two, Northampton Town dengan mahar sekitar 500 ribu pound atau setara Rp8,5 miliar. Kepindahan ini meningkatkan kepercayaannya untuk bisa membela timnas.

Ironis, di tahun pertama bersama The Magpies, ia gagal menembus skuad utama racikan Steve McClaren. Tak mudah bagi Toney yang masih berusia muda untuk bersaing dengan Aleksandar Mitrovic dan Papis Cisse guna mengamankan pos di lini depan. Alhasil Toney hanya memainkan dua laga yang masing-masing hanya berdurasi lima menit di Premier League musim 2015/2016.

Waktu Ivan Toney di Newcastle lebih sering dihabiskan dengan menjalani masa peminjaman ke klub Ligue One, macam Barnsley dan Shrewsbury. Sesekali ia juga bermain untuk tim muda Newcastle United. Namun, beberapa staf kepelatihan merasa dilema. Mereka menganggap Toney terlalu bagus apabila dimainkan di U-23, tapi dianggap belum siap untuk bersaing di tim utama.

Penampilan terbaiknya semasa menjalani peminjaman terjadi saat ia dipinjamkan ke Scunthorpe United musim 2017/2018. Toney mencetak 8 gol dari 16 pertandingan League One. Namun, itu tak cukup bagi The Magpies. Setelah tiga tahun yang gitu-gitu aja, Newcastle akhirnya menjual Toney ke Peterborough dengan bandrol 390 ribu euro (Rp5 miliar).

Bersama Peterborough lah kepercayaan diri Toney mulai terbangun sehingga performanya kian membaik. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan oleh pelatih Peterborough kala itu, Steve Evans. Selama dua musim membela Peterborough, Toney hampir tak tergantikan di lini depan. Dari 94 laga yang ia mainkan, ia telah mencetak 49 gol dan 16 assist untuk klub League One itu.

Diselamatkan Brentford

Asa Ivan Toney untuk berkarir di kasta tertinggi kembali dihidupkan oleh salah satu tim kuat kasta kedua Liga Inggris saat itu, Brentford. Didatangkan pada awal musim 2020/21, Ivan Toney langsung nyetel dengan skuad asuhan Thomas Frank. Lain halnya dengan Newcastle, Brentford tahu betul bagaimana memaksimalkan potensi Ivan Toney.

Bersama Brentford, Ivan Toney menjelma sebagai seorang pemimpin. Ia selalu mencetak gol-gol penting yang bisa meningkatkan kepercayaan rekan-rekannya. Termasuk gol penalti kala melawan Bournemouth di semifinal dan ke gawang Swansea di final play off promosi ke Liga Inggris.

10 juta pound (Rp171 miliar) yang dikeluarkan oleh Brentford seakan terlalu murah apabila melihat performa Toney di musim pertama. Pemain yang berusia 26 tahun itu mencetak 33 gol dalam satu musim 2020/21. Catatan itu bahkan jadi rekor jumlah gol terbanyak dalam satu musim Championship, sebelum akhirnya dipecahkan oleh Aleksandar Mitrovic musim lalu.

Seakan memang dilahirkan untuk berlaga di kasta tertinggi, 33 gol Ivan Toney juga membantu Brentford mengamankan satu tiket promosi ke Premier League musim 2021/22 untuk pertama kalinya sejak 74 tahun terakhir. 

Tipikal Permainan Ivan Toney

Lantas bagaimana Toney bisa semoncer itu? Nah, Thomas Frank mungkin jadi sosok yang membuat Newcastle merasa menyesal telah menjualnya. Pelatih asal Denmark itu paham betul bagaimana cara menggunakan Toney yang bertipikal target man di depan gawang.

Di bawah asuhan Thomas Frank, Brentford bermain dengan formasi 3-5-2. Toney dan Bryan Mbeumo memimpin di lini depan. Dua striker ini memiliki peran yang berbeda. Mbuemo mengambil peran yang lebih luas, dengan memanfaatkan kecepatan dan skill olah bolanya untuk membongkar pertahanan lawan. Sedangkan Ivan Toney lebih bermain menggunakan otak. Ia pemain yang pandai memancing bek lawan dan menemukan ruang di kotak penalti.

Meski seorang target man, Toney bukanlah pemain yang malas. Ia juga sering terlibat dalam build up serangan yang dibangun oleh Brentford. Musim lalu saja, ia memiliki statistik 6,6 aksi menyerang per 90 menit dengan tingkat keberhasilan di angka 46,15%. 

Toney juga akan sedikit turun untuk membantu membangun serangan, tapi ketika ia melepaskan bola, Toney dengan cepat membaca pergerakan bek lawan dan menemukan ruang kosong untuk menerima bola dengan nyaman di kotak penalti. Jadi tak heran apabila Mbuemo beranggapan bahwa cara bermain Toney tak jauh berbeda dengan Harry Kane.

Toney juga merupakan striker yang kuat baik di darat maupun di udara. Ia sangat piawai menahan bola dengan kekuatannya. Toney sesekali menggunakan kekuatan fisik dan kecepatan kaki untuk melindungi bola dari tekel lawan, dan diakhiri dengan umpan progresif ke rekan satu tim yang sudah membuka ruang.

Kesempatan Pun Datang

Performa Toney yang terus meningkat dalam tiga musim terakhir membuat dirinya jadi perhatian berbagai pihak terutama pelatih Inggris, Gareth Southgate. Dilansir Daily Mail, karena Toney tahu sedang dipantau oleh Southgate, ia bahkan menolak panggilan Timnas Jamaika demi menanti panggilan dari Southgate. Diketahui, Toney memang memiliki darah Jamaika dari sang Ibu.

Sebetulnya, Ivan Toney belum masuk rencana Southgate karena Inggris masih memiliki striker berpengalaman lain macam Marcus Rashford yang mulai menunjukan peningkatan performa di bawah asuhan Ten Hag. Namun, cedera otot Rashford membuka peluang Toney. Nama striker Brentford itu muncul sebagai pengganti Rashford.

Peran striker pelapis bagi Harry Kane di Inggris masih terbuka. Tammy Abraham dari AS Roma mungkin jadi yang terdepan untuk menggantikannya suatu saat nanti. Namun, Toney memiliki peluang besar untuk memukau Southgate di pertandingan UEFA Nations League nanti. 

Setiap menit di laga kontra Italia dan Jerman akan sangat berharga bagi Toney. Jika berhasil membuat Southgate puas, bukan tidak mungkin Toney bisa mendapatkan tempat di tim yang menuju Qatar akhir tahun ini.

Sumber: The Athletic, Daily Mail, The Mag, Manunitedanalys, Tribalfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru