Tidak salah kalau kita menyebut markasnya Arsenal tempat ngumpulnya para talenta hebat, tidak jauh berbeda dengan klub raksasa lainnya di Liga Inggris. Baik ketika Arsenal mendiami Highbury maupun sudah pindah Emirates Stadium.
Para pemain keluar-masuk ke sebuah klub juga hal yang lumrah. Tak sedikit pemain yang hengkang dari Arsenal. Akan tetapi, dari sekian banyak pemain yang dijual Arsenal, ada yang semestinya tidak dijual.
Entah itu karena bakatnya yang bisa sangat moncer di tim lain. Baik karena si pemain adalah sosok vital di klub. Atau bisa juga karena ketika menjual sang pemain itu, Arsenal jadi kesulitan memperoleh penggantinya. Berikut ini para pemain yang seharusnya tidak dijual oleh Arsenal.
Daftar Isi
Cesc Fabregas
Cesc Fabregas digadang-gadang sebagai calon bintang Arsenal di masa depan. Tepat ketika pemain Spanyol itu bikin Arsene Wenger terkesan. Fabregas sangat berbakat secara teknis dan mengesankan secara fisik. Fabregas mewarisi kekuatan Patrick Vieira, Emmanuel Petit, dan Gilberto Silva.
Kemampuannya bermanuver di lini tengah tak mungkin kita pertanyakan lagi. Fabregas bahkan menjadi satu-satunya pemain termuda yang bisa mencetak gol untuk Arsenal. Dia mencetak gol di ajang Piala Liga menghadapi Blackburn Rovers pada 25 Agustus 2004, saat usianya masih 17 tahun tiga bulan dan 21 hari.
Fabregas mewarisi kapten Arsenal dari William Gallas pada November 2008. Ia pada saat itu menjadi kapten termuda Arsenal, karena usianya masih 21 tahun. Dengan cepat Fabregas mengkapling hati para penggemar Arsenal.
Sampai tatkala Arsenal keok di final Piala Liga 2011 menghadapi Birmingham. Fabregas pergi ke Spanyol merapat ke Barcelona. Tiga tahun bersama Blaugrana, Fabregas mencicipi dilatih Pep Guardiola, Tito Vilanova, dan Tata Martino.
Arsenal punya peluang mendatangkan lagi Fabregas. Tapi Wenger tidak mau mendatangkan kembali pemain yang sudah dijual. Namun, keputusan itu harus dibayar mahal karena Fabregas justru menyebrang ke klub rival, Chelsea.
Bersama klub London Barat, Fabregas justru meraih banyak trofi. Sang playmaker memperoleh dua trofi Liga Inggris dan Piala FA sebagai pemain Chelsea. Ironisnya, ia memegang trofi Europa League saat Chelsea mengalahkan Arsenal pada 2019.
So Cesc Fabregas left Arsenal on 15th August 2011, years later he ended up at Chelsea, played Europa League buh left mid-way, signed for Monaco on Jan 11th 2019 buh still got a Europa League winners medal & Arsenal still doesnt have a Europa League trophy. What a JOKE of a club😂 pic.twitter.com/Zbr4qS3Rif
— Pirate™ (@PirateMulwana) May 31, 2019
Serge Gnabry
Serge Gnabry dibeli dari Stuttgart U17 pada 2011. Namun Gnabry hanya bermain di tim U21 Arsenal. Ia mengemas 38 laga dan mencetak 12 gol di sana. Catatan itu mengesankan Arsene Wenger. Tapi ketika dipanggil ke tim senior, Gnabry tak mendapat tempat.
Ia justru dipinjamkan ke West Bromwich Albion, di mana Tony Pulis gagal memaksimalkan kualitasnya. Gnabry kembali ke Arsenal, tapi setelah lima tahun berstatus pemain The Gunners, Gnabry hengkang. Dia sekali lagi tak mendapat tempat.
🇩🇪 Serge Gnabry simply belongs at Arsenal pic.twitter.com/ONP4i5cXaM
— Gooner Chris (@ArsenalN7) July 5, 2022
Gnabry cuma memainkan 18 laga dan hanya mengemas sebiji gol saja. Pada 31 Agustus 2016, Gnabry memilih kembali ke Jerman. Werder Bremen menebusnya 5 juta euro (Rp81,8 miliar), harga yang relatif kecil. Sebab ketika pindah ke Bayern Munchen, Gnabry makin melejit dan membuat publik London Utara kecewa klub menjualnya dulu.
Publik Emirates jengkel karena klub menjual bakatnya dengan harga yang murah. Namun, Wenger berdalih sebelum dijual ke Bremen perpanjangan kontrak sudah ditawarkan. Tapi Gnabry menolaknya.
Ashley Cole
Wenger pernah punya pemain vital seperti Ashley Cole. Dia terlibat dalam skuad Invincible Arsenal. Cole juga menyumbang trofi Piala FA dan Community Shield. Tapi Arsenal justru membiarkannya pergi, ketika mereka sejatinya memiliki kesempatan untuk memperbarui kontraknya.
Diam-diam Chelsea sudah menawarkan kesepakatan gaji senilai 120 ribu pounds per pekan. Seandainya Arsenal tidak tarik ulur kontrak Cole, ia bisa saja tak jadi hengkang. Apalah hendak dikata, Arsene Wenger gagal mempertahankan Ashley Cole.
Cole pindah ke Chelsea pada 2006. Setelah kehilangan Ashley Cole, Arsenal sulit mencari penggantinya. Dilansir The Sun, Arsene Wenger mengakui penjualan Ashley Cole merupakan kesalahan besar. Cole meninggalkan Arsenal dengan torehan 228 kaps, 9 gol, 23 asis, 40 kartu kuning, dan 2 kartu merah.
Ashley Cole on moving to Chelsea from Arsenal: “It was a tough decision to make at the time, but I was eager to get going. I’d played with Frank and Terry with England, Cole, Bridge and I liked that mentality. They had won the league back to back and I wanted to be part of it” pic.twitter.com/qLrKKfxBWw
— The Blues (@TheBlues___) July 27, 2019
Wojciech Szczesny
Arsenal pernah punya kiper yang namanya sulit ditulis, Wojciech Szczesny. Kiper Polandia itu bergabung sejak 2006. Tapi Szczesny mulai dengan memperkuat tim U18. Kariernya di Arsenal penuh dengan peminjaman seperti ke Brentford dan AS Roma.
Namun, Szczesny pernah menjadi andalan Arsene Wenger. Hingga suatu ketika Wenger mengetahui bahwa Szczesny merokok di ruang ganti. Dia pun dijual ke Juventus pada 2017. Kelak penjualan Szczesny ternyata membuat fans Arsenal kecewa.
Of course he reached his potential when he left ….
— 💂🏾♀️ (@Hypxrvenom) April 18, 2020
Kala Szczesny merayakan ulang tahunnya yang ke-30 pada 2020, para gooners menunjukkan kekecewaan atas penjualan sang kiper. Banyak menyayangkan kenapa Szczesny dijual dan mempertahankan Petr Cech yang sudah habis masanya.
Kekesalan itu makin membuncah karena setelah dari Arsenal, Szczesny justru makin berkembang pesat. Szczesny pergi dari Emirates dengan meninggalkan 181 kaps, 194 kebobolan, dan 72 clean sheets.
Robin van Persie
Arsenal seperti ketiban untung saat Robin van Persie menunjukkan perkembangannya setelah didatangkan dari Feyenoord tahun 2004. Betapa tidak? Pria berharga 4,5 juta euro (Rp73,6 miliar) kala itu menjadi mesin gol tak terbantahkan Meriam London.
Salah satu buktinya, Van Persie adalah pemain Arsenal yang menjadi top skor Liga Inggris musim 2011/12 dengan 38 gol. Tapi setelah musim itu, Arsenal justru melepas Van Persie ke Manchester United. Tidak ada alasan pasti mengapa dia ditendang dari Emirates.
Van Persie: “I was the captain (at Arsenal), top scorer and we came third that year. But just sometimes you feel you need a challenge, a new adventure. If I hurt people, I’m sorry. But that’s me. I made that decision and I stand by it.” pic.twitter.com/kyYViLGDlG
— CaughtOffside (@caughtoffside) May 23, 2019
Namun, dilansir The Guardian, Wenger bilang tidak ada pilihan selain menjual Van Persie. Di sisi lain, Van Persie menduga Arsenal sudah bosan padanya. Dilansir 90 Minutes, Van Persie juga menilai Arsenal hanya terobsesi pada uang.
Van Persie muak karena klub tak bisa memberinya trofi Liga Inggris. Walaupun klub menunjukkan catatan golnya, tapi Van Persie tetap hengkang. Benar saja. Setelah merapat ke MU, Van Persie memperoleh trofi yang diinginkannya.
Di satu sisi, Wenger masih sulit menerima kenyataan menjual The Flying Dutchman. Arsenal juga ternyata sulit menerima kepergiaan Van Persie. Buktinya pemain yang dibeli MU itu sampai diberikan guard of honour segala saat kembali ke Emirates, tapi sebagai pemain United. Ngenes banget nggak, sih?
Throwback to Robin van Persie receiving a Guard of Honour from Arsenal after winning the league @Persie_Official 😅 #MUFCpic.twitter.com/BX0T40PV0i
— UnitedReds (@UnitedRedscom) December 20, 2022
Olivier Giroud
The Gunners menemukan permata pada Olivier Giroud. Pemain yang sukses mengantarkan Montpellier juara Ligue 1 itu dibeli Arsenal tahun 2012. Waktu Giroud menjadi pemain yang memenuhi kebutuhan striker Arsenal.
The Gunners, di musim kedatangannya sedang kekeringan penyerang. Dan benar saja, Giroud menjadi mesin gol Arsenal. Musim 2012/13, Giroud mengemas 34 gol di Liga Inggris. Namun seiring waktu, Giroud justru mengalami penurunan performa.
Arsenal top-scorers in all competitions by season:
— afcstuff (@afcstuff) January 31, 2018
2012/13: Walcott – 21 goals.
2013/14: Giroud – 22 goals.
2014/15: Alexis – 25 goals.
2015/16: Giroud – 24 goals.
2016/17: Alexis – 30 goals.#afc pic.twitter.com/GLRv5hiMKU
Ketika performanya menurun, Yaya Sanogo memberi alternatif. Meski pemain itu tak sepadan dengan pengalaman Giroud. Sayangnya, Giroud justru berkali-kali tak masuk Starting XI Wenger. Dia seolah tersisih dari sana.
Hingga pada 2018, Giroud justru menyebrang ke Chelsea. Arsenal kemudian bertemu dengan Chelsea di final Europa League. Saat itu, Giroud yang menyimpan dendam pada Arsenal, ingin melampiaskannya.
Giroud’s Goal vs Arsenal in the 2019 Europa League Final from pitch-side 😍 pic.twitter.com/f5rHy53xw7
— Retro (@CFCRetro) July 7, 2022
Di laga itu, Giroud tuntas melampiaskan dendamnya. Pemain Prancis itu turut membobol gawang The Gunners dalam kemenangan 4-1 di Azerbaijan. Kasihan sekali ya, Arsenal?
Nah, selain nama-nama sebenarnya ada satu nama lagi yang seharusnya tidak dijual. Dia adalah Thierry Henry. Kepergian sang juara dunia itu mengubah tujuan klub dari yang semula penantang gelar menjadi penantang empat besar saja.
Sumber: Mirror, TribalFootball, FL, TheSun, DailyMail, TheGuardian, GoonerNews, 90Min, FI, BR


