Pemain Ini Menyesal Gara-Gara Pindah ke Premier League

spot_img

Para pemain yang telah merampungkan kepindahannya ke klub baru biasanya akan merasa lega dan bahagia. Alasanya pun beragam, ada yang bahagia karena mendapat lebih banyak menit bermain, ada juga yang mendapat gaji lebih besar di level klub yang lebih tinggi pula.

Klub baru seharusnya membantu pemain mewujudkan mimpinya. Namun, semua transfer tak selamanya memberikan kebahagiaan pada sang pemain. Sejumlah pemain justru menyesali kepindahan mereka, terutama ketika pindah ke Liga Inggris, liga paling kompetitif di Benua Biru. 

Di Premier League, pemain-pemain anyar ini malah frustasi lantaran mendapat berbagai persoalan di dalam dan di luar lapangan. Lantas siapa saja pemain yang menyesal setelah pindah ke Premier League itu?

Alexandre Pato

Mungkin banyak Football Lovers yang lupa bahwa Alexandre Pato pernah bermain Premier League. Ya, Pato pernah bermain untuk Chelsea pada tahun 2016. Pato sempat menyandang status sebagai bakat terbaik yang dimiliki Brazil dan AC Milan. Namun kemajuan karirnya terhambat oleh cedera berkepanjangan.

Kepindahannya ke Chelsea merupakan transfer yang mengejutkan, lantaran saat itu ia hanya bermain untuk Corinthians. Namun, sebagai pemain profesional, Pato tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berharap dengan pindah ke Chelsea, ia bisa kembali bermain di level Eropa.

Pato pindah ke Chelsea dengan status pinjaman pada Januari tahun 2016. Namun, ia hanya membuat dua penampilan bersama The Blues. Ironisnya, setelah melakoni 6 bulan masa peminjaman ia tak kunjung dipermanenkan. 

Dilansir Daily Star, Pato kecewa dengan keputusan Chelsea. Ia tak menyangka setelah menjalani peminjaman, mereka tak mempermanenkannya. Padahal Pato merasa telah berlatih cukup baik bersama The Blues. Ia tak akan pernah mengambil tawaran itu jika ia tahu bahwa ia hanya akan dimainkan sebanyak dua kali.

Sebastian Haller

Sebastian Haller bergabung ke West Ham United dari Frankfurt dengan memecahkan rekor transfer klub. Pemain Pantai Gading itu dibeli The Hammers dengan harga 45 juta pound (Rp814 miliar) pada 2019 lalu. Namun, angka itu jadi beban tersendiri bagi Haller.

Kesepakatan ini tak berjalan baik untuk pihak mana pun. West Ham gagal mendapatkan striker haus gol, sedangkan Haller gagal membuktikan diri untuk mencapai level permainan yang layak dihargai 45 juta pound. 

Dilansir Talksport, Haller pernah mengungkapkan bahwa ia merasa frustasi dengan performanya bersama The Hammers. Meski sesekali mencetak gol indah, ia hanya mencetak 14 gol dari 54 pertandingan bersama klub. 

Musim 2020/2021 Ajax pun datang menyelamatkan karir Haller. Bersama sang juara Eredivisie itu, ia kembali menemukan ritme golnya dan menganggap West Ham sebagai pembelajaran dalam karirnya.

Angel Di Maria

Angel Di Maria didatangkan Manchester United dari Real Madrid pada tahun 2014. United rela merogoh kocek sebesar 75 juta euro (Rp1,1 triliun) untuk pemain sayap asal Argentina itu. Namun, ia hanya bertahan semusim sebelum memutuskan untuk hengkang ke PSG.

Performa Di Maria sebenarnya tak buruk-buruk amat di Manchester. Umpan-umpan dan gol-golnya kerap membantu klub. Salah satunya ketika menyumbang umpan manis pada gol salto Juan Mata, yang kala itu membuat publik Anfield terdiam.

Namun, pemakai nomor punggung 7 itu dianggap tak mampu menyesuaikan intensitas permainan sepakbola Inggris. Belum genap setahun membela United, ia menyepakati transfer dengan PSG. Di Maria juga mengakui bahwa ia tidak pernah tertarik untuk bergabung dengan United. 

Dikutip Mirror, Di Maria berkata, “Saya memulai dengan baik, tapi kemudian saya memiliki masalah dengan manajemen, saya mulai dicadangkan, dan rumah saya dirampok. Itu semua membuat saya ingin keluar dari sana secepat mungkin.” Konon kebenciannya terhadap United pun masih ada hingga sekarang.

Radamel Falcao

Selain Di Maria, Radamel Falcao juga demikian. Setelah menunjukan performa impresif bersama Atletico Madrid dan AS Monaco, ia didatangkan MU dengan status pinjaman pada tahun 2014.

Kesepakatan ini jadi pertaruhan bagi kedua belah pihak. United harus menerima sang pemain yang baru saja pulih dari cedera ligamen, dan Falcao harus bersaing dengan nama-nama besar seperti Wayne Rooney dan Robin Van Persie.

Falcao pun gagal. Ia hanya mencetak 4 gol dari 26 pertandingan bersama United. Dilansir Manchester Evening News, Falcao kecewa lantaran tak mendapat menit bermain yang cukup di MU. Kurangnya waktu bermain mempengaruhi kepercayaan dirinya. Ia merasa semuanya berjalan salah di Manchester.

Bergabungnya Falcao ke Chelsea pada musim berikutnya justru kian memperkeruh situasinya di Inggris. Bermain di Chelsea membuatnya semakin menyesal pernah bermain di Premier League.

Alvaro Morata

Alvaro Morata memang pernah bermain untuk klub-klub top Eropa seperti Real Madrid, Atletico Madrid, dan Juventus. Namun, periodenya di Inggris bersama Chelsea bisa dibilang menjadi masa terkelam baginya.

Didatangkan dari Real Madrid, Morata sempat konsisten mencetak 6 gol di 6 pertandingan awalnya bersama Chelsea. Namun ia hanya mencetak 3 gol di sisa pertandingan musim 2017/2018. Morata hanya 18 bulan di Inggris. Kran gol yang kian mampet membuatnya sepakat menjalani masa pinjaman ke Atletico Madrid pada Januari 2019. 

Dilansir Express, Morata sempat frustasi setelah dikeluarkan dari skuad utama dan hanya duduk di bangku cadangan dalam beberapa pertandingan. Morata bahkan sempat menyatakan bahwa ia menyesal pergi dari Madrid demi bergabung dengan Chelsea.

Cenk Tosun

Sebelum Cenk Tosun bergabung dengan Everton, kepiawaiannya mencetak gol di Besiktas membuatnya digadang-gadang bakal menjadi Robert Lewandowski versi Turki. Namun, setelah ia memutuskan untuk bermain di Inggris bersama Everton pada tahun 2017, gol-golnya mulai surut.

Tosun tak pernah mencetak lebih dari 5 gol dalam semusim bersama Everton. Menjalani dua musim yang buruk, akhirnya Tosun dipinjamkan ke Crystal Palace pada musim 2019/2020. Sialnya, bermain di Palace justru melengkapi penderitaannya, hanya bermain sebanyak 5 kali, ia justru mengalami cedera ligamen yang cukup parah.

Alhasil musim berikutnya ia kembali ke Everton, klub yang sudah tak menginginkannya lagi. Dilansir Planet Football, cedera ACL mengganggu performa Tosun di lapangan. Kini ia hanya bisa menyesali keputusannya. Mungkin jika ia tetap bermain di Besiktas, ia mampu terus mencetak gol dan bisa membela Timnas Turki.

Renato Sanches

Setelah meraih penghargaan Golden Boy pada tahun 2016, Renato Sanches mulai menarik minat besar dari klub-klub seperti Manchester United hingga Bayern Munchen. Namun, si bocah ajaib itu lebih memilih Bayern Munchen ketimbang Manchester United.

Sayangnya Sanches tak menemukan performa terbaiknya bersama Bayern. Akhirnya sang pemain dipinjamkan ke Inggris bersama Swansea City. Agak aneh memang, Bayern memilih Swansea menjadi klub yang mereka harap bisa mengembalikan performa Sanches.

Sejak pertandingan pertamanya di Premier League, Sanches gagal membuat fans The Swans terkesan. Ia hanya tampil dalam 15 pertandingan bersama Swansea, yang hampir semuanya ia mulai dari bangku cadangan.

Kepindahannya ke Swansea hanya memperburuk citranya sebagai pemain sepakbola. Dilansir Daily Mail, kepindahan Sanches ke Swansea ternyata bukan kemauannya. Ia terpaksa melakukannya. Dan ia menyesali waktu-waktunya di Inggris bersama Swansea.

Sumber: Daily Star, Planetfootball, SportAdda, DreamteamFC, Transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru