Menyedihkan! Pemain Bintang Ini Paling Sering Gagal di Final

spot_img

Kegagalan sebagaimana keberhasilan adalah sebuah keniscayaan, tak terkecuali dalam sepakbola. Seorang pemain bintang sekalipun tidak akan mudah untuk lepas dari kegagalan. Bahkan beberapa di antara mereka mesti menelan pil pahit kegagalan lebih dari sekali.

Sudah berjuang sekuat tenaga, tapi di partai puncak Tuhan berkehendak lain. Si pemain bintang gagal, jatuh tersungkur, lunglai, dan hanya bisa melihat rivalnya mengangkat trofi. Nah, berikut ini adalah daftar menyedihkan para pemain bintang yang paling sering gagal di final. Siapa saja mereka?

Paolo Maldini

Paolo Maldini bisa dibilang legenda AC Milan pilih tanding. Sampai-sampai keberadaan dan kesetiaannya di Rossoneri, melahirkan kredo “Maldini adalah Milan, dan Milan adalah Maldini”. Ayah dari Daniel Maldini telah mengumpulkan banyak trofi selama ia berseragam Rossoneri.

Setidaknya, Maldini sudah mendapatkan 26 trofi secara keseluruhan. Walaupun itu ia raih hanya di satu tim saja. Namun, prestasi berkilauan anak dari Cesare Maldini itu tak menutup kemungkinan bahwa dia juga pesepakbola biasa. Pesepakbola yang tak bisa lepas dari kegagalan.

Maldini mengumpulkan lima kali catatan kegagalan di partai final. Tiga ketika bersama AC Milan, dan dua sisanya ketika membela panji-panji Gli Azzurri. Kendati Maldini berhasil merengkuh tiga trofi Liga Champions, tapi ironisnya ia juga gagal di tiga final Liga Champions.

Il Capitano gagal pada final Liga Champions 1993 ketika AC Milan dikalahkan Marseille. Lalu, pada 1995 Maldini kembali merasakan kekalahan setelah Milan ditekuk Ajax, dan terakhir ketika Liverpool berhasil mengandaskan AC Milan pada final 2005.

Sementara di kancah internasional, Maldini gagal membawa Italia meraih juara di dua ajang yang berbeda. Pertama, ketika Italia kalah di final Piala Dunia 1994 dari Brazil lewat adu penalti. Kedua, saat Italia takluk dari Prancis pada Piala Eropa 2000.

Gonzalo Higuain

Pemain yang kini memperkuat Inter Miami di MLS sejatinya pemain hebat. Ia banyak meraih trofi, termasuk 3 Serie A, 3 La Liga Santander, 1 Europa League saat memperkuat Chelsea, dan mengangkat Piala Copa del Rey bersama punggawa Real Madrid tahun 2011.

Higuain juga sejatinya adalah pemain yang sangat aktif. Ia setidaknya telah bermain di 692 pertandingan untuk semua klub yang ia bela. Maka wajar saja, kalau Gonzalo Higuain termasuk salah satu pemain terbaik yang pernah dilahirkan Argentina.

Namun, perjalanan Higuain dalam kariernya tak selamanya manis. Higuain meratapi dirinya di lima final sepanjang kariernya. Ia gagal tiga kali di final saat menjalani tugasnya bersama para punggawa Argentina. Itu pun di dua kompetisi yang berbeda.

Satu ketika Albiceleste takluk atas pasukan Der Panzer di final Piala Dunia 2014. Lalu, ketika Argentina kalah di dua final Copa America, yaitu pada tahun 2015 dan 2016. Yang menyedihkan, ketika gagal di tim nasional, Higuain dianggap sebagai pecundang.

Banyak orang menyalahkan Higuain atas kegagalan Argentina di final Piala Dunia. Higuain juga dicibir karena gagal mengeksekusi penalti ketika Argentina kalah dari Chile di final Copa America 2015 melalui adu penalti.

Gianluigi Buffon

Gianluigi Buffon pernah membawa Italia juara di Piala Dunia 2006. Ya, Buffon memang sosok kiper hebat di muka bumi ini. Bahkan di planet lain, tidak ada kiper yang sehebat Buffon. 23 gelar sudah ia kantongi, antara lain bersama Parma, Paris Saint-Germain, Juventus, dan Timnas Italia.

Buffon selalu memenangkan hampir semua jenis trofi. Liga domestik, piala domestik, sampai Piala Dunia. Namun, Buffon selalu gagal di Liga Champions yang sangat ia inginkan.

Tak hanya itu, Buffon juga tak pernah sekalipun menjadi juara Euro bersama Timnas Italia. Pada 2012 sebetulnya Buffon punya kesempatan untuk menggamit trofi Piala Eropa. Tapi sayang, Italia justru menelan kekalahan telak 4-0 atas Spanyol.

Pada ajang Liga Champions, Buffon kalah di tiga final. Tahun 2003, ketika Juventus kalah melalui adu penalti melawan AC Milan. Lalu, pada tahun 2015 ketika Juventus tak bisa membendung keperkasaan trio MSN Barcelona.

Dan terakhir, pada 2017 ketika Real Madrid dengan mudah menghajar La Vecchia Signora 4-1. Total Buffon kalah di lima final. Tiga di UCL, satu di EURO, dan pada 2019 ketika PSG takluk atas Stade Rennais di Coupe de France.

Arjen Robben

Arjen Robben telah menunjukkan seberapa hebat dia di masa lalu. Kecepatannya, penetrasinya, dan umpan serta tembakannya begitu aduhai. Namun, tak peduli bagaimana hebatnya Robben. Pesepakbola tetaplah pesepakbola.

Kegagalan sudah pasti akan menyergap pria yang pernah mengikuti ajang lari marathon itu. Kekuatannya, kehebatannya, keahliannya betapapun nggak bisa membantunya untuk terhindar dari kegagalan di enam final yang berbeda.

Arjen Robben gagal di dua final Liga Champions yang berbeda. Itu pada tahun 2010 saat dikalahkan Inter-nya Jose Mourinho, dan tahun 2012 saat Chelsea melumat Bayern Munchen. Namun yang paling menyakitkan bagi Robben adalah tahun 2010.

Sebab di tahun tersebut, selain gagal membawa Bayern Munchen juara Liga Champions, Robben juga tidak berhasil membawa Belanda juara Piala Dunia. Khusus yang kedua, Robben barangkali akan menyesali dirinya sendiri.

Apalagi saat menghadapi Spanyol di Afrika Selatan, ia gagal memanfaatkan dua peluang di mulut gawang. Sedangkan tiga final sisanya ketika Die Roten gagal di tiga final DFB Pokal berturut-turut, dari tahun 2013 sampai 2015.

Mason Mount

Barangkali Mason Mount adalah pemain paling muda yang masuk ke daftar memalukan ini. Yup, Mount termasuk talenta muda berbakat dan cerdas dari Inggris saat ini. Kualitasnya di lini tengah Chelsea pun cukup memadai.

Beragam gelar sudah ia raih bersama pasukan The Blues, termasuk satu trofi Piala Dunia Antarklub dan satu trofi Liga Champions Eropa. Hanya saja, Mount yang masih cukup belia itu, di umurnya yang baru 23 tahun sudah kehilangan enam final di sepanjang kariernya sampai hari ini.

Uniknya, entah kutukan atau bagaimana, kegagalan Mount di enam final tersebut terjadi di Stadion Wembley. Yang teranyar ketika Chelsea gagal meraih juara Piala FA dan Piala Carabao Cup 2022, oleh satu tim yang sama: Liverpool.

Semua kekalahan itu bermula tahun 2019. Ketika Mount gagal di final play off Championship saat berseragam Derby County. Lalu, Mount juga gagal di final Piala FA 2020 dan 2021.

Tahun 2020 Chelsea kalah dari Arsenal 2-1, sedangkan setahun berselang The Blues kalah 1-0 atas Leicester City. Kegagalan Mount di Wembley berlanjut ketika Timnas Inggris kalah di final EURO 2020 ketika ditaklukkan Italia melalui babak penalti.

Lionel Messi

Apa yang ada di pikiran kamu ketika mendengar nama Messi? Lincah, cerdas, hebat, tangguh, Ballon d’Or. Semua hal-hal baik melekat pada sosok La Pulga. Namun, di antara daftar hal baik tentang pria Argentina yang sering disebut GOAT itu, ia tetap tak bisa lepas dari kegagalan.

Bahkan Messi punya catatan buruk dengan selalu kalah di sembilan final. Kekalahan final yang banyak itu, membuat Messi acap kali diragukan. La Pulga setidaknya sudah gagal di empat final saat membela Albiceleste.

Messi gagal mempersembahkan Piala Dunia 2014. Lalu di tiga final Copa America tahun 2007, 2015, dan 2016, Messi tak bisa berbuat banyak dan Argentina kalah lagi. Sementara itu, saat membela Barcelona, Lionel Messi kehilangan lima finalnya.

Messi bersama Blaugrana kalah di final Piala Super Eropa 2006, Copa del Rey 2011, dan tiga Piala Super Spanyol pada tahun 2012, 2015, dan 2017.

Javier Mascherano

Rekan senegara Lionel Messi, Javier Mascherano malah lebih menyedihkan lagi. Pria yang pernah memperkuat West Ham itu total kalah di 11 final. Walaupun di sisi lain, Mascherano memiliki kualitas yang bisa diandalkan, dengan koleksi gelar di lemarinya.

Sebanyak 11 kekalahan itu enam di antaranya di level klub, dan lima sisanya di level internasional. Adapun Mascherano pernah mengalami kegagalan di final saat berseragam tiga klub yang berbeda: satu di River Plate, satu di Liverpool, dan empat lagi di Barcelona.

Mascherano telah kehilangan Piala Copa Sudamericana 2003 saat berseragam River Plate. Ia juga kehilangan gelar Liga Champions 2007 saat Liverpool kalah dari AC Milan. Mascherano juga gagal membawa Barcelona juara di Copa del Rey 2011.

Tiga Piala Super Spanyol, pada tahun 2012, 2015, dan 2017 juga gagal ia persembahkan untuk Blaugrana. Terakhir di level tim nasional, Mascherano gagal membawa Albiceleste juara Piala Dunia 2014, serta empat Copa America di tahun 2004, 2007, 2015, dan 2016.

https://youtu.be/zjOcBqIwCJE

Sumber referensi: FadeAwayWorld, OhMyGoal, Marca, Sportszion, LatinAmericanPost

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru