Melakukan kesalahan adalah wajar. Yang tidak adalah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Itu sudah bukan kesalahan lagi, melainkan pilihan. Dan Chelsea, salah satu klub terbesar di London Barat memilih untuk terus melakukan kesalahan. Memang, kita belum akan menyaksikan apakah Chelsea keliru menunjuk Enzo Maresca.
Hanya saja, selama ini Chelsea berkali-kali keliru menunjuk pelatih. Sebagai klub besar, dengan basis massa yang juga besar, para pelatih kenamaan keluar-masuk Stamford Bridge. Dari sekian nama terdapat pelatih-pelatih yang semestinya tidak melatih The Blues.
Bisa karena prestasinya yang kurang sedap. Mungkin karena portofolio yang tak cemerlang. Atau, bisa jadi karena ia sebetulnya dibenci oleh para penggemar. Siapa saja para pelatih tersebut? Mari menerokanya satu per satu.
Daftar Isi
Graham Potter
Tentu saja Graham Potter wajib masuk daftar ini. Eks pelatih Brighton and Hove Albion itu dibujuk Chelsea setelah pemecatan Thomas Tuchel. Sulit dipahami mengapa Chelsea mengganti Tuchel, pelatih yang membawa trofi Liga Champions, dengan seorang Graham Potter.
Betul bahwa Potter adalah orang di balik konsistensi The Seagulls. Ia sanggup membuat tim tepi pantai itu bermain atraktif dan memesona. Namun, itu di Brighton. Menunjuk Graham Potter yang hanya berpengalaman di papan tengah untuk menukangi Chelsea yang bersaing di papan atas, ibarat menyuruh pengemudi odong-odong mengendarai Ducati untuk balapan di sirkuit Motegi.
Jelas hasilnya sangat mengecewakan. Hal yang membuat Potter tampak makin buruk adalah ia tak bisa memaksimalkan belanja besar-besaran di bursa transfer Januari. Chelsea pun hanya bisa berkutat di papan tengah. Sebelum akhirnya Potter dipecat pada April 2023.
Chelsea have SACKED Graham Potter ❌ pic.twitter.com/yQOXgRcmBJ
— GOAL (@goal) April 2, 2023
Frank Lampard
Frank Lampard adalah mantan pemain yang selalu dibanggakan oleh fans Chelsea. Ia mungkin layak disebut legenda. Tapi cukup sampai di situ saja. Lampard semestinya cuma dijadikan legenda dan ikon klub, tidak usah turun gunung menjadi pelatih.
Terbukti kan, ketika ia melatih, Chelsea sungguh nelangsa. Bahkan Lampard adalah pelatih dengan rata-rata poin per laga terendah di rezim Roman Abramovich, yakni 1,67 poin. Saat ditunjuk pertama kali pada 2019 silam, Lampard sebetulnya juga belum punya pengalaman yang layak untuk melatih The Blues.
Chelsea sacked Frank Lampard when he guided his team to R16 of Uefa champions league in 2020 then rehired him at quarterfinal of champions league to continue where he left😂😂 pic.twitter.com/7xORqH5Vil
— ꧁•⊹٭𝙷𝙰𝙱𝙸𝙱𝙸 𝙲𝙵𝙲٭⊹•꧂ 🫵🏽👨🏽🦱𓃵 (@bebsey_b) April 5, 2023
Kiprahnya di Derby County baru seumur jagung dan ala kadarnya. Itulah mengapa penunjukannya dipertanyakan. Namun, di musim 2019/20, ternyata Lampard mampu membawa Chelsea ke Liga Champions setelah finis di posisi keempat. Ia juga menelurkan para pemain seperti Reece James, Mason Mount, Tammy Abraham, hingga Fikayo Tomori.
Namun, cuma itu yang bisa ia lakukan. Dan sebagian orang tidak terkesan dengan itu. Bahkan Lampard akhirnya diberhentikan pada Januari 2021. Yang lucu, Chelsea justru menunjuk lagi Frank Lampard pada 2023 sebagai karateker setelah memecat Graham Potter. Dari 11 laga menukangi Chelsea musim itu, Lampard hanya meraih satu kemenangan.
Rafael Benitez
Rafael Benitez memang mengantarkan trofi Liga Eropa untuk Chelsea. Tapi kedatangannya menimbulkan polemik. Pelatih asal Spanyol itu mengambil alih sementara kursi pelatih pada musim 2012/13. Ia menggantikan Roberto Di Matteo yang populer di kalangan penggemar setelah membawa Chelsea juara Liga Champions.
ON THIS DAY 📸
Chelsea fans protest the appointment of Rafael Benitez as Chelsea manager (2012) #CFC pic.twitter.com/ME4gVKgfN0
— Chelsea Photos (@ChelseaInPhotos) March 5, 2024
Kehadiran Benitez sama sekali tak disambut senyum bahagia dari penggemar. Bahkan mereka cenderung apatis padanya. Para penggemar sentimen terhadap Benitez karena selama bertahun-tahun, ia menghabiskan waktunya untuk berseteru dengan Chelsea, terutama ketika tim ini dilatih Jose Mourinho.
Selain itu, ia juga mantan pelatih klub rival. Komentarnya yang menyebut Didier Drogba tukang diving juga memicu kemarahan fans. Singkatnya, selama menangani Chelsea, Benitez dihantui sentimen dari para fans. Itulah mengapa ia cuma melatih sebentar. Sesuatu yang sebetulnya mubazir, meski yah, untungnya bisa meraih satu trofi.
#OTD in 2013:
Ex-Liverpool manager Rafael Benitez wins the Europa League with Chelsea, beating Benfica 2-1 in the final. Fernando Torres scores the opening goal, with Yossi Benayoun and future Red Victor Moses picking up medals pic.twitter.com/xWm4z43Moq— Liverpool On This Day (@OnThisDayReds) May 15, 2024
Luiz Felipe Scolari
Chelsea mencapai final Liga Champions musim 2007/08 ketika dilatih Avram Grant. Tapi sang pelatih tidak melanjutkan kiprahnya di Stamford Bridge. The Blues justru menunjuk pelatih juara di Piala Dunia 2002, Luiz Felipe Scolari. Musim panas 2008 Scolari menandatangani kontraknya di The Blues, tapi ia tidak sanggup bertahan hingga ujung musim.
Tujuh bulan saja ia bertugas. Scolari digulingkan dari jabatannya walaupun tak terkalahkan di 12 laga pertamanya. Sebelum didepak, hasil buruk menimpa Scolari. Hanya meraih tiga kemenangan dalam sembilan laga di Premier League adalah noda yang sulit dibersihkan.
ON THIS DAY
Chelsea sack Luiz Felipe Scolari after seven months at Stamford Bridge (2009) #CFC pic.twitter.com/VoM4RmHfTo
— Chelsea Photos (@ChelseaInPhotos) February 9, 2024
Pelatih berjuluk “Big Phil” ini juga ternyata menyemai bibit permusuhan dengan para pemain. Didier Drogba, Nicolas Anelka, dan Michael Ballack kerap berselisih dengannya. Waktu itu, Scolari juga menggunakan penerjemah untuk menyampaikan taktik dan manajemen.
Jelas hal itu sangat menyulitkan. Situasi rumit menjerat Scolari. Ia pun didepak, dan Chelsea merekrut si ban serep bernama Guus Hiddink. Di tangan Hiddink, Chelsea menjuarai Piala FA 2009 dan hanya kalah sekali dalam 20 pertandingan.
FACT: On this day in 2009, Guus Hiddink became interim Chelsea manager. He went on to win the FA Cup with the Blues, becoming the second Dutch manager to win the trophy after Ruud Gullit. pic.twitter.com/n8CbcGPmvu
— Facts East Africa (@east_facts) February 16, 2020
Claudio Ranieri
Ingat tidak kalau Chelsea pernah dilatih Claudio Ranieri? Eranya di Stamford Bridge dimulai sebelum rezim Jose Mourinho. Bahkan sebelum taipan Rusia mengakuisisi Chelsea. The Tinkerman datang ke Chelsea pada September tahun 2000 setelah meninggalkan jabatannya di Atletico Madrid.
Sampai sekarang, Ranieri adalah manajer terlama Chelsea. Masa pemerintahannya dimulai dari tahun 2000 hingga 2004. Namun, terlama bukan berarti tersukses. Selama lebih kurang empat tahun menukangi Chelsea, tidak ada satu pun trofi yang dijambret Ranieri. Ya, tak satu pun!
In 2003, Hernán Crespo joined Chelsea from Inter Milan. Crespo went on to make over 70 appearances for the club, scoring over 20 goals and helped Chelsea win the Premier League and the FA Community Shield before leaving the club permanently in 2008. pic.twitter.com/6RhTlaNykK
— FOOTBALL TRIVIA 365 (@PlayFT365) December 26, 2021
Padahal di musim terakhirnya, Ranieri menghabiskan setidaknya 120 juta poundsterling atau sekitar Rp2,4 triliun kurs hari ini. Ketika itu, Chelsea mendatangkan para pemain mahal, seperti Hernan Crespo, Adrian Mutu, Claude Makelele, hingga Juan Sebastian Veron.
Meski belanja banyak, musim itu Chelsea terkapar di sana-sini. Di Premier League cuma finis di posisi kedua, kalah dari Arsenal. Sementara di Liga Champions, Chelsea memang menyingkirkan Arsenal dan melaju ke semifinal. Tapi AS Monaco yang perkasa yang perkasa tak mampu mereka atasi.
Kekalahan atas pasukan Didier Deschamps memperlihatkan kelemahan Chelsea di era Ranieri. Analis sepak bola David Platt sepertinya benar. Mengutip Planet Football, Platt bilang, membangun tim yang dapat memenangkan gelar dan mengarahkan tim untuk menuju gelar adalah dua hal yang berbeda. Ranieri cuma melakukan yang pertama.
#OnThisDay in 2004 Claudio Ranieri was sacked as @ChelseaFC manager. He brought Hernan Crespo, Frank Lampard & Claude Makelele to Stamford Bridge @CFC_ChelseaFC @henrywinter @Chelsea_FL @AboutChelsea_fc @tSHandJ @AbsoluteChelsea @CFCFoundation @stamford_bridge @CFCnews pic.twitter.com/ghk2ev2PFr
— Football On This Day (@ThreeLionsThen) May 31, 2022
Andre Villas-Boas
Sebelum dilatih Roberto Di Matteo, Chelsea kedatangan Andre Villas-Boas. Pelatih muda itu masuk menggantikan Carlo Ancelotti pada 2011. Ia punya hubungan erat dengan Chelsea sejak menjadi asisten Jose Mourinho. Musim sebelumnya Villas-Boas membawa Porto juara di Liga Eropa.
Prestasi itu menerjunkan harapan besar padanya. Di tangan pelatih asal Portugal itu, Chelsea berharap bisa memulangkan gelar Liga Champions. Tentu harapan yang berlebihan. Tidak ada seorang pun yakin Chelsea akan kembali menjuarai Liga Champions. Terlalu sulit, bung!
On this day: 2012 – Andre Villas-Boas was sacked as Chelsea manager. #cfcHeritage #Chelsea pic.twitter.com/U2eCRQqqWC
— Chad ⭐⭐ (@ChelseaChadder) March 4, 2023
Ketika Villas-Boas tiba, ia mengubah banyak aspek. Mulai dari personel hingga taktik. Garis pertahanan tinggi diterapkan. Gaya bermain ini disukai Roman Abramovich. Ketimbang bermain bertahan, Roman memang suka timnya menyerang. Villas-Boas memenuhi nafsu itu. Tapi tidak dengan hasilnya.
Chelsea-nya Villas-Boas betul bermain menyerang, tapi kalah 10 kali di 40 pertandingan menyebabkan kekacauan di tubuh klub. Apalagi Villas-Boas meninggalkan sang kapten John Terry di bangku cadangan. Kekalahan 0-1 atas West Brom di markas sendiri membuat nasibnya berada di ujung leher. Andre Villas-Boas pun dipecat di tengah musim.
https://youtu.be/0ohjuTvg3uM
Sumber: Sportskeeda, PlanetFootball, GiveMeSport, Eurosport, ESPN, BR


