Pedro Rodriguez: Dibentuk Guardiola, Dibuang Mourinho, Kini Andalan Sarri

spot_img

Bernama lengkap Pedro Rodriguez Ledesma, talenta berkebangsaan Spanyol yang satu ini dikenal sebagai bentukan dari Pep Guardiola sejak digembleng di La Masia. Namun siapa sangka perjalanan karier sepakbolanya sempat berliku hingga sekarang. Kini di masa senjanya, Pedro belum memutuskan pensiun karena bertemu dengan seorang pelatih yang membuatkan nyaman bermain sepakbola.

Dipromosikan Pep

Pemain yang lahir di Kota Tenerife ini sudah sejak usia 17 tahun dipilih untuk masuk salah satu akademi terbaik Spanyol, La Masia pada 2004. Namun, itu terbilang terlambat. Karena teman seumurannya seperti Lionel Messi mulai merintis karier di level senior.

Namun Pedro di La Masia bertemu orang yang tepat. Ya, ia adalah Pep Guardiola. Pedro digembleng oleh Pep sejak di Barca B. Pedro ketika itu satu angkatan dengan Sergio Busquets.

Tapi kemudian, Pep di musim 2008/09 dipromosikan sebagai pelatih Barca senior menggantikan Frank Rijkaard. Beruntung bagi Pedro, ia bersama Busquets adalah beberapa pemain Barca B yang dipromosikan Pep ke skuad senior Barca.

Namun tak begitu saja Pedro masuk sebagai starter. Ia harus mengantre dahulu menjadi pemain cadangan. Pasalnya ketika itu lini depan Barca masih ada pemain macam Henry, Eto’o, dan Messi. Menurut Transfermarkt, di musim debutnya Pedro hanya tampil 14 kali saja dengan mencetak 1 assist.

Namun yang paling diingat Pedro di musim debutnya adalah merasakan laga final Liga Champions. Meskipun dirinya ketika itu baru masuk di menit 90+2 menggantikan Iniesta. Menurut Pedro itu adalah pengalaman yang tak terlupakan.

Kepercayaan Pep Kepada Pedro

Cerita di balik perjalanan karier Pedro di Barcelona tak luput dari kepercayaan Pep Guardiola. Musim 2009/10, Pedro awalnya mengira ia harus bersabar lagi untuk masuk sebagai starter di skuad Barcelona karena kedatangan Zlatan Ibrahimovic.

Namun Pedro tak patah arang. Ia terus berjuang dan berlatih keras agar dipercaya sebagai salah satu andalan Pep di lini depan Blaugrana. Terbukti berkat kerja kerasnya tersebut, Pep percaya menempatkan Pedro menjadi salah satu sayap utama bersama Messi untuk menopang Ibrahimovic. Pedro berhasil menjawab kepercayaan Pep dengan mengoleksi 23 gol dan 9 assist dari 52 laga di musim 2009/10.

Pada musim 2010/11, Pedro awalnya juga khawatir kalau tempatnya akan digusur pemain baru seperti David Villa maupun Ibrahim Afellay. Namun tetap saja Pep masih percaya pada kemampuannya. Pedro masih dipertahankan sebagai trisula El Barca. Kali ini bersama Messi dan David Villa.

Hal yang spesial di musim tersebut bagi Pedro adalah menjuarai Liga Champions sebagai pemain inti. Bahkan satu golnya sangat berarti bagi kemenangan 3-1 Barca atas MU di Wembley.

Kemunduran Pedro

Namun pada musim 2011/12, performa Pedro mulai menurun sejak kedatangan pemain baru seperti Alexis Sanchez dan Cesc Fabregas. Strategi baru Pep yang tidak lagi mengandalkan sisi sayap turut berdampak bagi Pedro.

Waktu itu Pep lebih menggunakan pola false nine yang diperankan bergantian antara Messi dengan Fabregas. Kemunduran Pedro itu terbukti karena pada musim 2011/12 ia hanya 48 kali bermain dan hanya cetak 13 gol. Penurunan drastis di musim sebelumnya, di mana ia mencetak 22 gol dari 53 penampilan.

Apalagi ketika Pedro ditinggal Pep pada tahun 2012. Pedro tampak kehilangan. Sebenarnya beberapa kali Pedro juga ditawari untuk hengkang dari Camp Nou. Namun kata Pedro, hatinya sudah terlanjur cinta kepada Barca.

Namun kesetiaan Pedro tersebut harus dibayar dengan kenyataan bahwa Barca terus mendatangkan bintang baru di lini depan. Neymar datang tahun 2013, belum lagi kedatangan Luis Suarez pada tahun 2014. Kegemilangan trisula Messi-Suarez-Neymar (MSN) membuat Pedro makin tersingkir.

Bertemu Mourinho Di Chelsea

Tepat pada tahun 2015 pasca Barcelona meraih treble winner bersama Enrique, Pedro akhirnya memutuskan untuk meninggalkan klub kesayangannya tersebut. Ia kemudian mencoba peruntungan di Liga Inggris bersama Chelsea. Menurut Pedro, kedatangannya ke Chelsea selain daya tarik Kota London, ajakan dari temannya Fabregas, juga karena adanya sosok Jose Mourinho.

Namun apa yang terjadi di musim debutnya bersama The Blues? Pedro merasa kesulitan dan mengaku susah beradaptasi soal fisik dan atmosfer permainan Liga Inggris yang punya intensitas tinggi. Ditambah pula ia harus beradaptasi dengan taktik pragmatis milik Mourinho.

Gelar Bersama Maurizio Sarri

Untung saja Mourinho tak lama melatih Chelsea. The Special One dipecat di pertengahan musim 2015/16. Namun hal tersebut tak serta merta membawa angin segar bagi Pedro. Pelatih The Blues berikutnya seperti Guus Hiddink maupun Antonio Conte juga tak membuat Pedro makin bersinar.

Dilansir Express, pada fase tersebut Pedro bahkan sempat curhat kepada teman dekatnya Fabregas bahwa ia tak lagi betah bersama The Blues dan ingin segera hengkang. Namun ketika Maurizio Sarri datang ke Chelsea pada musim 2018/19, Pedro kembali bangkit performanya.

Sebagai pelatih yang berpendekatan menyerang dan suka mengandalkan sayap, Pedro banyak menerima manfaatnya. Pedro pada musim tersebut jadi salah satu pemain andalan Sarri di sisi sayap serang sebelah kanan, bergantian dengan Willian.

Bukti kesuksesan Pedro bersama Sarri ditunjukan dengan sumbangsihnya meraih gelar Europa League di Baku, Azerbaijan. Ketika itu satu gol Pedro mampu menenggelamkan Arsenal 4-1.

Pedro terbukti sudah kadung cocok dan nyaman bersama Sarri. Namun sayang, nasib berkata lain. Sarri didepak oleh Chelsea pada musim 2019/20 dan digantikan oleh Frank Lampard. Di era Frank Lampard, Pedro kembali terpinggirkan.

Pedro hanya dipercaya Lampard bermain sebanyak 23 kali pada musim 2019/20. Jauh dibanding di masa Sarri yang mencapai 53 laga. Terlebih musim 2020/21, Chelsea banyak kedatangan serdadu lini depan baru seperti Ziyech, Werner, maupun Havertz.

Didepak Mourinho Di Roma

Alhasil salam perpisahan pun disampaikan oleh Pedro kepada publik Stamford Bridge pada tahun 2020. Pedro yang sudah berusia 33 tahun ketika itu akhirnya hengkang dari Chelsea dan mencoba peruntungannya di Serie A bersama AS Roma. Faktor pelatih Roma saat itu yang berpendekatan menyerang, Paulo Fonseca jadi salah satu alasan Pedro mau gabung Roma.

Terbukti, bersama Fonseca, Pedro menemukan sentuhannya kembali. Pedro kerap dipercaya mengisi pos sayap serang Giallorossi selama 40 kali di semua kompetisi. Musim debut Pedro tersebut Roma juga sempat mencapai semifinal Europa League.

Namun perjalanan Pedro di Il Lupi tak semulus yang dibayangkan. Ia kembali bertemu dengan Jose Mourinho pada musim 2021/22. Kita tahu Pedro susah berkembang bersama Mourinho ketika dulu di Chelsea.

Benar saja, hal yang tak mengenakan pun kembali terjadi. Pedro bahkan diasingkan sejak pramusim oleh Mourinho. Dilansir BBC, Pedro mengakui kalau Mourinho sama sekali tidak menginginkannya dan benar-benar akan mendepaknya dari AS Roma.

Nyaman Bersama Sarri Di Usia Senja

Pedro pun menyimpan dendam pada Mourinho. Ia tak tanggung-tanggung berani pindah ke rival utama Roma, yakni Lazio pada musim 2021/22. Di Lazio ia dengan senang hati ditampung oleh Maurizio Sarri. Reuni mereka berdua di Biancoceleste akhirnya berbuah manis, bahkan hingga sekarang.

Lazio dengan taktik menyerang ala Sarri yang mengandalkan sayap mampu membuat Pedro kembali jadi andalan. Pedro masih dipercaya Sarri sebagai sayap andalan bersama Felipe Anderson maupun Mattia Zaccagni.

Meski gelar belum ia raih bersama Sarri di Lazio, kenyamanan jadi hal yang paling penting bagi pemain yang sekarang sudah menginjak usia 36 tahun tersebut. Prestasi terbaik Pedro bersama Sarri di Lazio adalah membawa klub ibukota Italia itu jadi runner-up Serie A musim 2022/23.

Well, perjalanan panjang pemain underrated bernama Pedro Rodriguez Ledesma ini tampaknya cukup berliku. Dari anak emas Guardiola, dilepeh Mourinho, hingga di masa senjanya menemukan kenyamanan bersama Sarri. Dan, entahlah kapan ia akan pensiun.

Sumber Referensi : skysports, thesefootballtimes, bleacherreport, transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru