Paolo Rossi: Antara Prestasi dan Kontroversi

spot_img

Bicara tentang sepak bola Italia tak hanya menyoal tentang barisan pemain bertahan terbaik yang pernah ada. Negeri Pizza memang begitu terkenal dengan kumpulan tembok raksasa di depan gawang. Namun jangan salah, dibarisan penyerang, disana juga pernah diisi nama yang mampu kejutkan dunia.

Sedikit menarik ke balakang, atau tepat pada 23 September 1956, lahirlah seorang pria bernama Paolo Rossi. Paolo Rossi dikenal sebagai salah satu bomber terbaik di Italia bahkan dunia. Pergerakannya pernah membuat tim sekelas Brasil terhempas, dan skuat penuh talenta sekaliber Jerman Barat terhenti langkahnya.

Paolo Rossi, yang kini telah berusia 63 tahun merupakan mantan pemain yang memulai karir di Juventus. Kala itu, pada musim 1972/73, Rossi masuk ke tim utama La Vecchia Signora. Namun sayang, meski berhasil masuk ke skuat utama Juve, ia tidak benar-benar bisa kembangkan bakat disana.

Ia memainkan laga debutnya di kompetisi Coppa Italia, dan setelahnya, karir sang bomber cenderung tak terarah. Ia lebih sering duduk diruang perawatan akibat cedera. Demi menyelamatkan karir, Paolo Rossi akhirnya dipinjamkan ke Como.

Pada musim 1975/76, Rossi memulai debut Serie A bersama Como. Diawal kedatangannya ke Como, Rossi yang sejatinya beroperasi di lini serang lebih sering dimainkan di posisi sayap. Ia memang kerap mendapat kesempatan. Akan tetapi, kran gol nya sangat minim.

Lalu, perjalanannya menuju Vicenza membuat segalanya lebih bermakna. Berkompetisi di Serie B tak membuat Rossi tenggelam. Ia justru berhasil kembangkan bakat dan perlahan temui cahaya. Karirnya mulai membaik disana. Ia sedikit temui asa dan langkahnya dalam membawa bola bisa lebih tertata. Pasalnya, harapan mulai tampak nyata.

Menjadi sebuah hal positif bagi Rossi ketika putuskan hengkang ke Vicenza. Pasalnya, ia sukses membawa klub tersebut promosi ke Serie A setelah menjadi jawara di kompetisi Serie B. Selain memenangi kompetisi Serie B, Rossi pada saat itu juga sukses menasbihkan diri sebagai pencetak gol terbanyak berkat torehan 21 gol.

Vicenza barangkali menjadi musim terbaik Rossi sebagai seorang penyerang sejati. Karena setelah berhasil membawa klub tersebut menjadi jawara Serie B, dimana ia juga berstatus sebagai pencetak gol terbanyak, Rossi tampil menggila di kompetisi kelas atas Italia.

Tak tanggung-tanggung, ketajaman yang dimiliki diteruskannya di kompetisi Serie A. Meski disana bercokol nama-nama penyerang kelas wahid termasuk Paolo Pulici di Torino, Rossi muncul sebagai pencetak gol terbanyak Serie A dengan torehan 24 gol. Sebuah angka yang cukup gila bagi seorang pendatang dari kompetisi kelas dua. Hebatnya, ia sukses membawa klub yang bisa dibilang telah membesarkan namanya bercokol di posisi kedua klasemen akhir.

Ia telah mencatat sejarah dengan menjadi salah satu penyerang terbaik Italia yang berhasil menjadi top skor di dua musim secara beruntun, dari Serie B hingga Serie A.

Berkat penampilan gemilangnya ini, sudah bisa terlihat hal apa yang akan dilakukan timnas Italia. Ya, kala itu, Gli Azzuri yang terus memantau bakat sang striker langsung memanggil pemain asal Prato itu untuk bergabung dengan skuat tim nasional. Tak sampai disitu, Rossi juga langsung dimasukkan kedalam skuat Azzuri yang bakal berlaga di turnamen Piala Dunia 1978.

Di gelaran akbar tersebut, Rossi berhasil mencetak tiga gol. Bukan hal buruk bagi seorang penyerang yang hadir dari Serie B untuk kemudian membuat kejutan di Serie A.

Namun sayang saat kembali bersaing di kompetisi Serie A, Rossi harus kembali temui cedera. Hasillnya, klub yang dibelanya dengan sangat luar biasa itu harus rela turun kembali ke kompetisi kelas dua. Dalam hal ini, Perugia tak mau ketinggalan dalam memanfaatkan bakat Rossi. Mereka yang telah melihat pembuktian sang pemain langsung mengirimkan tawaran dan mengajaknya bergabung dengan klub yang bermarkas di Stadio Renato Curi.

Akan tetapi, meski masih menikmati karir sebagai seorang striker handal, Paolo Rossi harus kembali menutup diri. Kali ini, bukan masalah cedera yang beberapa kali menghampirinya, namun karena sebuah skandal yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah sepak bola.

Paolo Rossi berhasil mencetak 13 gol untuk Perugia dan bahkan mengantarkan klub tersebut melaju hingga babak 16 besar Piala UEFA. Nahas, ia dituduh terlibat dalam sebuah skandal bernama Totonero.

Skandal Totonero sendiri merupakan skandal perjudian atau pengaturan skor yang terjadi di kasta Serie A dan Serie B. Skandal ini terungkap pada 23 Maret 1980 oleh Guardia di Finanza, seorang polisi keuangan Italia, setelah dua pemilik toko Roma, Fabio Trinca dan Massimo Cruciani, menyatakan bahwa beberapa pemain sepak bola Italia “menjual” pertandingan sepak bola untuk mendapatkan uang.

Para tokoh utama dalam skandal ini adalah Milan, Lazio, Perugia, Bologna, Avellino yang main di Serie A, serta Taranto dan Palermo yang berkutat di kompetisi Serie B.

Paolo Rossi yang diduga terlibat dalam skandal itupun mendapat hukuman berupa ditangguhkan selama tiga tahun, meski pada akhirnya dikurangi menjadi dua melalui setelah mengajukan banding.

Rossi begitu kaget saat namanya masuk kedalam skandal memalukan tersebut. Ia tidak bisa masuk ke dalam skuat Italia yang berjuang di turnamen Piala Eropa tahun 1980. Meski banyak media yang memberitakan keburukannya, Rossi mengaku kalau ia tidak pernah terlibat dalam skandal tersebut.

Setelah namanya tercatat dalam sejarah skandal sepak bola Italia, Paolo Rossi seolah ingin membuktikan kalau dirinya lebih layak dikenang sebagai legenda, bukan pemain yang akrab dengan sebuah skandal perjudian.

Rossi yang kala itu dipanggil dengan sebutan Si Anak Hilang oleh Juventus membuat kejutan dengan berhasil masuk ke skuat Italia yang tampil di ajang Piala Dunia 1982. Banyak sekali rakyat Italia yang menolaknya. Mereka tidak ingin ada seorang “penjahat” yang mewakili Italia di level Internasional. Namun pelatih Enzo Bearzot tetap pada pendiriannya. Ia tetap akan membawa Rossi ke Spanyol untuk lakoni laga akbar, meski semua tahu bahwa eks pemain Perugia itu tidak pernah menyentuh bola selama dua tahun.

Bearzot yang memasukkan nama Rossi dengan alasan tidak ada penyerang lain setajam Rossi kala itu sukses membuat sejarah. Benar saja, ucapan yang keluar langsung dari mulut Bearzot menjadi bukti bahwa Rossi layak dihomati, ketimbang harus mendapat cap pemain kontroversi.

Beban berat yang berada dipundak Rossi berhasil ditopangnya dengan sangat baik.

Meski Rossi banyak diserang media setelah Italia hanya lolos fase grup 1 dengan status runner up, penyerang luar biasa itu membuktikannya di babak selanjutnya. Di fase grup kedua, tekanan Rossi semakin menjadi setelah Italia berada dalam satu lingkup dengan Brasil dan Argentina. Gli Azzuri jelas tidak difavoritkan, dan tentunya, nama Rossi telah disiapkan para pembuat berita sebagai pemain yang lekat dengan stigma negatif.

Tapi belum juga pena disiapkan, Rossi perlahan mampu membuktikan kalau ia memang layak dihormati. Diluar dugaan Italia mampu menang 2-1 atas Argentina dan 3-2 atas Brasil. Tiga gol ke gawang Brasil merupakan hasil karya Rossi, yang akhirnya membuat Italia masuk fase knock-out sebagai juara grup.

Tak sampai disitu saja, Rossi sukses menjadi pahlawan setelah memborong dua gol Italia yang dilesatkan ke gawang Polandia di fase gugur. Semua mulai percaya dengan “sang pendosa”.

Hingga tepat pada akhirnya di partai puncak, Jerman Barat sudah menanti dengan skuat mumpuni.

Pada Minggu 11 Juli 1982 di Stadion Santiago Bernabeu Madrid, sebuah pertandingan terakbar kala itu menjadi 90 menit yang paling diingat oleh Paolo Rossi. Sundulannya jadi pembuka pesta atas Karl-Heinz Rummenigge dan kawan-kawan. Rossi menjadi inspirasi skuat Italia untuk menangkan gelar. Hasil akhir 3-1 terpampang di papan skor, rasa pesimis berbalik menjadi sukacita.

Kontroversi yang sempat terbalut dalam diri Rossi, kini telah menjadi sebuah prestasi yang membuat namanya memang layak dihormati. Selain membawa trofi ke Negeri spagetti, Rossi juga berhasil menjadi pemain dengan torehan gol terbanyak di ajang ini.

Setelah tuntaskan misi di gelaran Piala Dunia, karir Paolo Rossi cenderung stabil. Ia yang membela Juve selama empat tahun berhasil sumbangkan gelar Serie A hingga Liga Champions Eropa. Setelahnya, ia putuskan hengkang ke Milan dan mengakhiri karir bersama Hellas Verona.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru