Kehebatan Luis Nani Yang Tidak Semua Bisa Memahami

4 min read

Kehebatan Luis Nani Yang Tidak Semua Bisa Memahami

Tak peduli apa yang dibicarakan orang lain. Mereka selalu punya celah untuk menjadikan kelemahanmu sebagai topik pembicaraan. Yang terpenting, kalian hanya perlu memenuhi tanggung jawab dan tidak lari dari tugas yang sudah diberikan.

Sejak kecil, sama seperti kebanyakan orang sukses di dunia, Luis Nani, bintang sepak bola asal Portugal, hidup dalam garis kemiskinan. Ia yang merupakan putra dari pasangan imigran dari Afrika, sudah hidup tanpa belai kasih sayang sejak balita. Ayahnya pergi entah kemana. Sementara ibunya, diketahui pergi meninggalkannya ke Belanda hingga pada akhirnya tak pernah lagi tampakkan muka.

Nani, bersama saudaranya, diasuh oleh adik dari ibunya. Beruntung sekali dia bisa punya bibi yang terus mendukungnya untuk mencapai cita. Harapan dan kasih sayang yang menggantikan peran orang tuanya menjadi sebuah cerita indah, tentang bagaimana seorang anak yang akan menjadi pria, tumbuh menjadi seorang yang penuh talenta.

Nani, sedari kecil memang sudah hidup dengan berbagai rintangan. Ia tak punya mainan selain si kulit bundar. Untuk makan saja, dirinya harus berbagi dengan yang lain. Jatah beberapa suapan dalam seharinya sudah dianggap mewah olehnya.

Namun begitu, ia tak akan pernah menyerah untuk mencapai asa melalui permainan favoritnya.

Nani yang tinggal di wilayah permukiman kumuh di Amadora, pinggiran Lisbon, terus memompa bakat sepakbolanya. Dari sinilah, harapan itu mulai nampak. Kehidupannya sedikit membaik, apalagi setelah sang kakak mendaftarkannya ke sebuah akademi sepak bola bernama Real Massama. Di usia yang masih tergolong muda, Nani bermain sangat leluasa. Hingga pada akhirnya, bakatnya dipantau oleh salah satu akademi sepak bola terbaik di dunia, Sporting Lisbon.

Pada tahun 2003, ia masuk ke akademi tersebut, setelah salah seorang sahabatnya resmi bergabung dengan salah satu klub terbaik di dunia. Bersama akademi Sporting, permainan Nani berkembang begitu pesat. Masa perjuangan nya di Sporting Lisbon juga penuh dengan tantangan. Ia harus menempuh jarak yang tidak dekat dari rumahnya. Belum lagi, Nani harus menyadari bahwa ia “dipaksa” menimba ilmu di salah satu klub yang merupakan pesaing tim favoritnya. Seperti diketahui, Nani dan kakaknya merupakan penggemar berat FC Porto.

Namun begitu, Nani tak pernah menampik jika ia mendapatkan nspirasi dari seorang Luis Figo yang merupakan jebolan akademi Sporting Lisbon. Oleh karena itu, ia bisa sedikit berbangga karena dirinya bisa mengikuti jejak sang pemain idola.

Tak butuh waktu lama bagi Nani untuk masuk ke tim utama. Dua tahun pasca direkut oleh akademi Sporting, Nani menjadi salah satu bagian dari pemain muda terbaik hasil dari akademi tersebut. Nani mengawali debut di partai Liga Champions Eropa untuk kemudian memainkan laga di kompetisi liga.

Dua tahun tampil bersama tim senior, Nani sukses sumbangkan Piala Portugal untuk tim profesional pertamanya. Karena dianggap sebagai salah satu pemain muda paling bertalenta, Nani lalu digaet oleh Manchester United pada tahun 2007, dimana ia mengikuti jejak sahabatnya, Cristiano Ronaldo.

Kepindahannya menuju Old Trafford sempat membuat seisi stadion bergema. Namanya terus dilantangkan. Para penggemar percaya bahwa mereka kini punya pemain hebat asal Negeri Samba Eropa.

Namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan.

Nani yang sebenarnya punya talenta luar biasa terus berada dalam bayang-bayang Cristiano Ronaldo. Ia menjadi pemain yang terus dibandingkan dengan rekan senegaranya. Padahal, secara pribadi, keduanya punya hubungan kerabat yang amat baik. Namun, pengaruh dari luar selalu memberi persepsi berbeda. Nani dianggap tak lebih hebat dari Ronaldo, dan mau tidak mau, ia memang harus menerima hambatan tak tertahankan, yaitu menjadi pihak yang disingkirkan.

Nani cenderung diremehkan dan dianggap tidak lebih hebat dari yang dibayangkan. Apalagi setelah kepergian sahabatnya ke Real Madrid, kepercayaan dirinya seolah menghilang. Nani yang punya kualitas jempolan memang berhasil sumbangkan berbagai gelar, termasuk Liga Primer Inggris. Namun dampak yang diberikannya kepada tim membuat penggemar semakin lantang beranggapan bahwa ia memang tak sehebat Ronaldo.

Meski bergabung dengan salah satu klub terbaik pada masanya, Nani tak pernah menganggap keberadaanya di MU sebagai sebuah peristiwa besar. Ia justru tak ingin semua hal yang ada di MU dibesar-besarkan. Ia menyesal, terutama saat kursi kepelatihan tim asal Inggris berpindah tangan.

Terbuang, mungkin itulah kata yang tepat ditujukan kepada Nani. Ia yang pada akhirnya pergi dari Old Trafford dan malang melintang ke berbagai klub di dunia, membeberkan kekecewaannya telah menandatangani kontrak bersama MU. Seperti diketahui, kedatangan David Moyes dan Louis van Gaal usai pengunduran diri Sir Alex Ferguson, malah membuat Nani semakin kehilangan kharisma.

Memperpanjang kontrak pada tahun 2013 justru menjadikannya sebagai seorang yang telah melakukan kesalahan.

“Saat itu seharusnya jadi momen terbaik dalam hidupku, tapi justru itu menjadi buruk. Setelah menandatangani kontrak, kalian asti berpikir semua orang akan berdiri di belakang dan menolongmu,”

“Namun kemudian kalian bertemu dengan lawan. Perasaan putus asa datang di saat seperti itu. Tentunya, cedera juga menimpaku. Itu adalah momen yang buruk. Itu sesuatu yang membuat ku benar-benar jatuh dan sangat kecewa,” kata Nani (via The Guardian)

Dengan deretan trofi yang akan selalu terpajang, dan torehan 40 gol dalam 230 pertandingan, Nani terus lanjutkan perjalanan. Sempat dipinjamkan ke klub masa kecilnya, Sporting Lisbon, Nani tak lagi miliki dampak yang mengesankan. Hanya semusim berada disana, Nani lalu putuskan pergi ke Fenerbahe sebelum akhirnya mentas di La Liga bersama dengan Valencia.

Pada tahun 2016, ia resmi tampil dihadapan para penggemar tim kelelawar. Valencia memang bukan klub kerdil. Mereka punya sejarah besar dan reputasi terbaik sebagai salah satu penantang gelar. Namun saat itu, raihannya tak lebih dari klub yang masih berada dalam masa jaya-jayanya, Atletico Madrid. Mereka juga masih berada dalam fase yang sangat sulit untuk mengejar dua tim raksasa Eropa disana.

Bersama Valencia, Nani yang tampil dalam 25 penampilan liga pun tak mampu berbuat banyak. Ia hanya mampu membawa klub yang bermarkas di Estadio Mestalla bercokol di tangga ke 12.

Namun begitu, Nani tetaplah Nani. Dia merupakan seorang pemain agresif yang punya kemampuan luar biasa. Dia punya tendangan akurat, skill hebat, dan tentunya talenta yang sama sekali tak bisa dianggap ringan.

Meski berstatus sebagai pemain yang kehilangan arah, ia mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi Portugal di gelaran Piala Eropa 2016. Hal ini jelas bukan kebetulan dan tidaklah mengejutkan. Pasalnya, sekali lagi, Nani merupakan pemain dengan bakat mumpuni dan layak mendapat pujian yang begitu tinggi.

Ia berhasil masuk sebagai salah satu pemain penting timnas Portugal, selain Ronaldo. Ditengah gelagat Ronaldo yang wajahnya masih memerah karena punya ambisi yang begitu tinggi, nama Luis Nani datang sebagai pendingin. Ia seolah menjadi pihak yang melantangkan kalimat, “Portugal adalah permainan tim”. Disana ada nama-nama hebat lainnya seperti Ricardo Quaresma, atau setidaknya pemain muda berbakat kala itu Renato Sanches.

Nani tampil percaya diri di gelaran tersebut. Ia mencetak satu gol ke gawang Hungaria dan menjadi penyelamat Portugal di pertandingan melawan Kroasia. Di pertandingan melawan Wales, ia juga menjadi salah satu malaikat penyelamat tim samba Eropa. Belum lagi kontribusinya di laga-laga lain. Nani yang berhasil membawa Portugal ke partai final pun pada akhirnya sukses membawa serta piala Eropa ke tanah kelahiran.

Keterampilan dalam membawa bola, tipu daya, serta menciptakan peluang di area mematikan, menjadi ciri khas dari pemain yang kerap melakukan selebrasi tak tertahankan.

Setelah menjadi raja di Eropa, Nani lalu lanjutkan perjalanan ke Lazio. Ia diplot sebagai pengganti Keita Balde. Namun sayang, kehebatannya lagi-lagi tak dianggap megah. Namanya tenggelam hingga tak terasa usianya sudah tak lagi muda. Sempat kembali lagi ke Sporting Lisbon, Nani kini mentas di persepakbolaan Amerika.

Kaki-kakinya yang seolah kenyang dengan sepak bola Eropa kini digunakan untuk merangkai asa di Negeri Adidaya.

Nani, yang namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu bakat terbaik dunia, kini berstatus sebagai pemain Orlando City yang bermarkas di Stadion Exploria.

Kisah Cinta Unik Alvaro Morata: Dari DM Instagram Sampai Ke…

Cinta memang penuh misteri. Terkadang, kita tidak pernah menduga darimana cinta datang menggoda. Bagi para pemain sepakbola, kisah cinta mereka juga tak jarang memberi...
Garin Nanda Pamungkas
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *