Tahun 2009, ketika Paolo Maldini memutuskan menggantung sepatunya, orang mengira trah Maldini di AC Milan akan mengikutinya pensiun. Tidak ada Maldini berikutnya. Habis sudah sosok bek tangguh yang begitu setia membela satu klub selama 24 tahun.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Maldini yang pensiun 13 tahun lalu itu, kembali lagi. Tentu, kaki Maldini tak sekuat 32 tahun lalu ketika menekel lawan. Melakukan sapuan bersih yang membuat lawan tak pernah punya siasat untuk melewatinya.
Toh, ia kembali juga bukan untuk menjadi pemain, apalagi pelatih. Lebih dari itu, Maldini kembali dengan menjadi direktur teknik. Meski, sebetulnya ia tak perlu khawatir akan pupusnya generasi Maldini di AC Milan.
Sebab, kalaupun si sulung, Christian Maldini terdampar ke Serie C. Maldini masih memiliki Daniel Maldini, yang notabene masuk ke skuad AC Milan. Tak main-main, Daniel Maldini menjadi komponen penting dalam skuad AC Milan yang merebut scudetto. Hal yang membuat Paolo Maldini tersenyum, dan mendiang Cesare Maldini bahagia di sana.
Daftar Isi
Membangun AC Milan yang Hancur
Nurani Paolo Maldini barangkali tersentuh melihat AC Milan remuk. Sebelum ia masuk, kondisi AC Milan tengah porak-poranda. Kas AC Milan juga sangat sakit. Hal itu lantaran pemilik AC Milan sebelumnya, Li Yonghong tak sanggup membayar utang.
Utang yang gagal dibayar, bikin AC Milan terpuruk. Hal itu makin bertambah parah akibat pembelian mereka yang kacau. Pemain mahal tapi kebermanfaatannya minim justru yang datang. Sebut saja Andre Silva, Mateo Musacchio, dan silakan milanisti menyebutkan sisanya.
#SekilasBolanet Massimiliano Allegri RESMI dipecat AC Milan! Mauro Tassotti sementara menjadi caretaker. pic.twitter.com/TOox2eKlYN
— Bola (@Bolanet) January 13, 2014
Puncaknya, kehancuran Casciavit pada Januari 2014. Di mana kala itu, il Diavolo Rosso berada di peringkat ke-10 Serie A. Massimiliano Allegri yang ketika itu jadi pelatih, langsung diganti Clarence Seedorf. Dari sini kecacatan AC Milan makin melebar. Bukan karena Seedorf, tapi lebih kepada manajemen yang busuk.
Sampai Elliott Management Corporation datang mengambil alih kepemilikan tahun 2018. Elliott Management akhirnya mencoret Li Yonghong dari pemegang saham mayoritas AC Milan. Dari sini Rossoneri mulai merajut kisah manisnya kembali.
Paolo Maldini Ditunjuk
Segera setelah Elliott Management masuk, Maldini ditarik ke AC Milan. Ia ditunjuk menjadi direktur olahraga. Awalnya, Maldini tak bisa leluasa dalam mengatur AC Milan. Posisinya yang hanya direktur olahraga, dan Gattuso, mantan rekan setimnya yang menjadi pelatih, membuat Maldini tangannya seperti terikat.
Krzysztof Piątek seharga 35 juta euro (Rp548 miliar) dari Genoa adalah pembelian pertama Maldini. Dan itu menuai kegagalan. Namun, kegagalan membeli pemain bukan perkara serius. Itu masih lumrah, karena Maldini masih meraba bagaimana membangun kembali AC Milan.
Tahun 2019, Paolo Maldini ditunjuk jadi direktur teknik. Jabatannya itu, membuat Maldini lebih leluasa menentukan siapa pemain yang bakalan masuk. Namun, Maldini merasa pekerjaannya itu tidaklah mudah.
🎙️ Paolo #Maldini to #Sky: “Summer 2019, when I called #Massara, #Boban and a few players. This year, having had a year like last year, I started with the idea of going for the #Scudetto. It was an opportunity and now we are here to enjoy it’. pic.twitter.com/Nzj94pbeyY
— Milan Posts 🏆🇮🇹 (@MilanPosts) May 22, 2022
Ia kerap merasa tidak aman dalam melakukan negosiasi dengan agen dan klub. Hal itu sangat wajar. Karena Maldini yang sebelumnya bekerja sama dengan Franco Baresi dan Alessandro Costacurta di lini belakang, harus memulai kerja sama dengan orang yang berbeda, dan dengan peran yang berbeda pula.
Maldini tak ambil pusing. Ia berpikir bahwa kegiatannya itu bisa meningkatkan kualitasnya. Maldini menganggap pekerjaannya yang sekarang sebagai pembelajaran. Lagipula, pemain mana yang tidak mau memberi sumbangsih lebih untuk klub yang sangat dicintainya?
Jitu Memilah Pemain
“Saya menemukan apa yang harus saya katakan dan apa yang mesti tidak saya katakan,” kata Maldini.
Jabatannya yang baru tersebut menuntut Maldini untuk lebih peka terhadap perkataan orang lain. Menuntut sang mantan bek legendaris untuk lebih cakap dalam melakukan negosiasi.
Disamping ia juga harus cerdik dalam memilah pemain yang bakal direkrut, dan pemain mana yang harusnya disingkirkan. “Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub,” kata Sir Alex Ferguson. Dan Maldini tahu betul akan hal itu.
Beban gaji yang besar, membuat AC Milan melanggar aturan financial fair play (FFP) musim 2019/20. Hal itu bikin Casciavit gagal tampil di Europa League. Elliott Management datang untuk membenahi segalanya di AC Milan, termasuk masalah beban gaji.
Maka, selain Paolo Maldini yang jadi direktur teknik, Elliott Management juga menunjuk Ivan Gazidis sebagai CEO. Gazidis lah yang bakal berkolaborasi dengan Paolo Maldini. Ivan Gazidis membuat neraca keuangan Rossoneri kembali seimbang.
Sementara Paolo Maldini, bergerak di bursa transfer. Namun, Maldini dalam merekrut pemain tidak sporadis. Ia memperhitungkan betul agar beban gaji AC Milan tak membengkak. Untuk itulah ia mempersilakan Donnarumma dan Hakan Calhanoglu cabut dari il Diavolo Rosso.
🚨 Investcorp are set to totally confirm Paolo Maldini and Ricky Massara in their posts in the sporting area of Milan. Gazidis’ contract expires in November and his future remains to be seen
[@SkySport] pic.twitter.com/uSrpFaHvbi
— CHAMPIONS OF ITALY 🏆 (@MilanEye) April 28, 2022
Beban Gaji Berkurang, Pilihan Pemain Tepat
Laporan Calciomercato menunjukkan, Maldini berhasil mengurangi beban gaji Rossoneri. Musim ini, media olahraga Italia itu memastikan tidak ada dari empat tim teratas Serie A dan para pemimpin lima liga top Eropa, yang memiliki beban gaji lebih rendah dari AC Milan.
Musim ini, Maldini berhasil menurunkan beban gaji Casciavit hingga di angka 80 juta euro (Rp1,2 triliun). Sebelumnya, pada musim 2018-19, beban gaji Rossoneri mencapai 125 juta euro (Rp1,9 triliun). Pengurangan beban gaji, tak lalu membuat skuad AC Milan buntung.
Maldini mengerti, bahwa untuk membangun kembali AC Milan dibutuhkan pemain yang tepat, bukan pemain yang mahal. Maka dari itu, ia memberikan lampu hijau pada pembelian Ismael Bennacer, Theo Hernandez, Franck Kessie, hingga Rafael Leao.
Nama-nama yang disebut tadi, harganya tak sampai 30 juta euro (Rp469 miliar). Dengan tambahan Ante Rebic yang dipinjam dari Eintracht Frankfurt, skuad AC Milan siap dibangun kembali. Namun, Marco Giampaolo yang jadi pelatih tak bisa mewujudkan impian para fans.
Theo Hernandez 🇫🇷🚄 x Rafael Leão 🇵🇹🏄♂️
• 16 Goal 🎯
• 13 Assists 🤝The best left side in the world! 🌏🏆 pic.twitter.com/brxHjpLTOJ
— III Campioni d’Italia 19 🏆🖤♥️ (@Semprista) May 18, 2022
Sampai kedatangan Stefano Pioli pada Oktober 2019. Dari sini kolaborasi Pioli, Gazidis, dan Paolo Maldini terjalin mantap. Amunisi lain datang dari sosok Zlatan Ibrahimovic yang dianggap sudah tua, tapi justru diberikan ruang oleh Maldini.
Berbuah Manis
Musim pertama penunjukkan Pioli tidak terlalu mengesankan kendati finis di peringkat 6. Akan tetapi, Maldini masih memberikan kepercayaan pada Pioli. Musim berikutnya penampilan AC Milan makin menanjak, sampai akhirnya menutup musim 2020-21 di peringkat kedua.
Casciavit kembali ke Liga Champions setelah sekian lama. Sementara, pemain-pemain yang didatangkan Maldini dan Pioli mulai memperlihatkan kualitasnya. Ibrahimovic yang sudah tua ternyata masih sanggup menginspirasi lini serang il Diavolo Rosso.
Bennacer, Theo, Kessie, dan Leao perlahan menyentuh performa terbaiknya. Pioli tahu betul bagaimana agar pemain-pemain yang didatangkan Maldini bisa berguna. Hal ini tidak akan terjadi kalau komunikasi antara Maldini dan Pioli tak terjalin baik.
Kedatangan Simon Kjaer, Saelemaekers, Brahim Diaz, dan Sandro Tonali bikin skuad AC Milan makin paripurna. Hebatnya, tanpa harus berurusan dengan beban gaji yang tinggi. Dan lebih hebatnya lagi, langkah-langkah itu berbuah scudetto.
AC Milan legend Paolo Maldini seeing of his son Daniel Maldini going to lift the scudetto is a sight✨ pic.twitter.com/ZwlL0R7mbT
— Mixed 🍁 Feelings (@Mayorhgee) May 22, 2022
Jika Didier Deschamps menjuarai Piala Dunia saat ia menjadi pelatih dan pemain. Maka, seorang Paolo Maldini mengoleksi 8 gelar Serie A, saat ia menjadi pemain dan direktur teknik.
Paolo Maldini membuktikan bahwa trah Maldini di Rossoneri belum habis. Buktinya, di musim ini saja, sudah ada dua Maldini yang mengangkat trofi Serie A. Bagaimanapun, Maldini berhasil merebut hati milanisti di seluruh negeri. Tetaplah bisa dicintai, Maldini!
Sumber referensi: Internationalchampionscup, CBSSports, FeatureFootball, TheAthletic, Rossoneriblog, Bleacherreport, Sempremilan, Regista


