Diego Simeone telah membawa Atletico Madrid meraih prestasi luar biasa di era kepelatihannya. Meski tidak berhasil mempertahankan gelar juara La Liga musim ini, namun mereka dipastikan lolos ke Liga Champions untuk kali kesepuluh secara beruntun.
Bersama Simeone, Atletico Madrid berevolusi tidak lagi menjadi tim hore di La Liga maupun Eropa. Atletico dibangun oleh El Cholo dengan karakternya yang khas. Beberapa prestasi pun disabetnya selama kurun waktu 11 tahun ini. Bagaimana kisah Atletico bertransformasi bersama Simeone?
Daftar Isi
Sebelum Simeone Datang
Simeone adalah aktor pengangkat derajat Atletico. Sebelum dia datang, Los Rojiblancos hanyalah tim papan tengah di La Liga.
📊 L’Atlético de Madrid avant l’arrivée de Diego Simeone :
• 2000-01 – 4e de Segunda
• 2001-02 – 1er de Segunda
• 2002-03 – 12e
• 2003-04 – 7e
• 2004-05 – 11e
• 2005-06 – 10e
• 2006-07 – 7e
• 2007-08 – 4e
• 2008-09 – 4e
• 2009-10 – 9e
• 2010-11 – 7eEl Cholo. 👑👑👑 pic.twitter.com/4UCAlyySoj
— Atleti Francia 🇫🇷 (@AtletiFrancia) August 8, 2021
Setelah meraih gelar juara La Liga pada musim 1995/96, tim yang bermarkas di Wanda Metropolitano itu bukan lagi kandidat juara. Bahkan, di tahun 2000, mereka terdegradasi ke Divisi Segunda dan sempat bertahan selama 2 musim di sana sebelum kembali lagi ke La Liga.
Atletico Madrid 1995-1996
Atletico defied the odds and won the Spanish League and Cup double in 1995-96
Led upfront by Kiko & Penev with Simeone, Caminero and Pantic in midfield. Atletico finished 4pts clear of Valencia and beat Barcelona 1-0 in the Copa del Rey pic.twitter.com/h5hPKFJd6m
— 80s&90sfootball ⚽ 🇺🇦 (@80s90sfootball) November 10, 2021
Sejak promosi lagi pada tahun 2003, prestasi paling bagus Atletico hanya berada di posisi 4 La Liga bersama pelatih asal Meksiko, Javier Aguirre pada musim 2007/08 dan 2008/09. Padahal, saat itu Atletico diisi oleh penyerang tajam sekaliber Diego Forlan dan Sergio Aguero.
Atletico tak pernah disebut sebagai klub raksasa Spanyol. Di musim 2009/10 nama Atletico sebagai papan tengah terbukti ketika mereka bersama pelatih pengganti Sanchez Flores hanya duduk di peringkat 9 klasemen. Namun di tahun itu Atletico diantarkan Flores menjadi kampiun Europa League. Begitupun di musim berikutnya 2010/11, Atletico yang masih dilatih Flores hanya finish di urutan 7 La Liga, ditambah menjuarai UEFA Super Cup.
Namun, dari beberapa gelar yang didapat Atletico sebelum Simeone itu, tidak mampu mengubah citra Atletico sebagai klub papan tengah La Liga. Buktinya mendasar, pada pertengahan musim 2011/12, Los Rojiblancos sempat terpeleset hingga mendekati zona degradasi La Liga saat dilatih Gregorio Manzano, pelatih yang ditunjuk menggantikan Sanchez Flores karena dianggap gagal di La Liga.
Simeone Effect
Pada Desember 2011, Gregorio Manzano dianggap telah membawa Atletico Madrid dalam kehancuran. Atletico akhirnya memecat Manzano dan menunjuk mantan pemainnya, Diego Simeone menjadi pelatih utama.
Há exatos dez anos, o Atlético de Madrid demitia Gregorio Manzano, que foi o último treinador do clube antes da chegada do lendário Diego Simeone. pic.twitter.com/YIwDC3UoOk
— FutebolNews (@realfutebolnews) December 23, 2021
Curriculum Vitae Simeone yang hanya melatih tim-tim Argentina maupun di Eropa bersama Catania yang notabene medioker, tentu dipandang sebelah mata dan tidak terlalu diperhitungkan. Namun, perlahan Simeone mampu membuktikan kualitasnya.
Memulai di Vicente Calderon, Simeone dengan sentuhannya mampu membawa Atletico keluar dari papan bawah dan merangsek finish hingga urutan 5 La Liga.
Dengan gayanya yang khas, Simeone mulai diperhitungkan tatkala ia pada musim debutnya juga mampu memberikan gelar juara Europa League bagi Atletico. Benar-benar musim debut yang spektakuler bagi Simeone dan Atletico Madrid.
🗓 #OTD in 2011 Diego Simeone took charge of Atletico Madrid.
His success is undeniable…
LaLiga 🏆🏆
Copa del Rey 🏆
Europa League 🏆🏆
Spanish Super Cup 🏆
UEFA Super Cup 🏆🏆
UCL Runner-up 🥈🥈But now he faces his toughest challenge yet.
🎙 @andywest01 pic.twitter.com/rZcschSDJi
— Sport360° (@Sport360) December 23, 2021
Gaya Sepakbola Simeone
Diego Simeone telah berhasil mengubah cara pandang penggemar sepak bola di seluruh dunia terhadap Atletico Madrid sejak kedatangannya.
Dari segi permainan, Simeone sudah membawa aroma revolusi. Simeone yang dikenal dulu sebagai pemain tengah yang lugas dan cenderung keras dalam bermain, ditularkan kepada anak asuhnya di Atletico Madrid.
Gayanya yang selalu bersemangat di pinggir lapangan, mempunyai daya magis tersendiri bagi skuad Atletico di lapangan. Kedisiplinan dan kerja tim adalah dua kunci utama Simeone yang diterapkan secara terus-menerus sejak ia datang ke Vicente Calderon.
Atletico dikenal dengan strategi yang khas di sepakbola di bawah Simeone. Pola pakem ortodoks 4-4-2 Simeone berubah menjadi pola yang ultra defensive ketika bertahan. Strategi compact defense ala Atletico ini sekilas mirip dengan strategi parkir bus dengan menumpuk para pemain di tengah dan belakang, sedangkan para penyerangnya mau turun hingga lini belakang.
🚨NEW BOOK SET🚨
DIEGO SIMEONE DEFENDING AND ATTACKING TACTICS
Learn from one of the best coaches in the world with 111 Practices & Variations based on 196 Tactical Situations from Atlético Madrid’s 4-4-2
All the info here: https://t.co/46UMeUzp0E
⚽🎓⚽🎓⚽ pic.twitter.com/CfpldkjXrh
— SoccerTutor.com (@soccertutorcom) July 24, 2020
Trademark gaya melatih dan bermain ala Simeone itu mematahkan gaya sepakbola lainnya di Spanyol maupun Eropa. Tengok saja Tiki-Taka ala Barcelona yang mampu Simeone redam. Terbukti pada musim 2013/14 ketika Atletico melawan hegemoni Tiki-Taka Barcelona mereka bisa lolos menjadi juara La Liga. Gelar yang sekaligus didapatkan lagi oleh Atletico setelah terakhir di tahun 1996.
Gaya khas Simeone menjadi branding tersendiri bagi Atletico hingga detik ini. Atletico yang bertahan, keras, disiplin, dan pressing tinggi akan selalu terpatri dalam benak pendukung Atletico maupun penonton netral.
Prestasi Simeone
Sejak datang 2011 hingga sekarang, Simeone yang lebih memilih pada pendekatan pertahanan banyak dicemooh. Dinilai kurang atraktif dan cenderung membosankan. Namun itulah gaya tersendiri dan sah-sah saja dalam dunia sepakbola.
Sepakbola adalah olahraga hasil, itulah mungkin pendekatan Simeone selama ini di Atletico. Di mana tak peduli apa pun caranya yang penting hasil akhir, menang atau tidak, peringkat berapa, dapat juara atau tidak.
Sejak kedatangannya ke Atletico, Simeone terus mempertahankan Atletico sebagai tim papan atas, dan terus menargetkan juara tiap musimnya. Atletico, sejak kedatangannya sudah naik level yang dulunya hanya sebagai papan tengah, kini mereka sejajar dengan Madrid maupun Barca. Selain memenangkan La Liga lagi musim lalu, mereka telah finis di peringkat 3 besar setiap tahun selama kepemimpinannya.
Atlético didn’t finish in the top three of La Liga in the 10 seasons prior to Diego Simeone’s arrival.
Simeone’s 10 full seasons at the club:
3rd
1st
3rd
3rd
3rd
2nd
2nd
3rd
1st
3rd pic.twitter.com/nDpsau2DMq— B/R Football (@brfootball) May 22, 2022
Atletico telah dikembalikannya sebagai penghuni tetap 3 besar La Liga di musim 2012/13 sejak mereka terakhir kali menjadi 3 besar di tahun 1996. Tak hanya sukses di level domestik. Simeone juga mengubah wajah Atletico di daratan Eropa.
10 – Atlético de Madrid will play the Champions League for the 10th consecutive season, all with Diego Pablo Simeone 🇦🇷 as manager, after only doing so on three occasions in the previous 21 campaigns (1996/97, 2008/09 and 2009/10). Union. pic.twitter.com/Brfmfj9Yin
— OptaJose (@OptaJose) May 12, 2022
Tak tanggung-tanggung, Simeone berhasil membawa Atletico hingga partai final Liga Champions. Walaupun Atletico harus kandas dari Real Madrid di 2 partai final musim 2013/14 dan 2015/16.
Hingga detik ini, Simeone bersama Atletico Madrid sudah mengemas 8 trofi, di antaranya 2 kali jadi juara La Liga, 2 kali juara Liga Europa, 2 kali juara Piala Super Eropa, Juara Copa del Rey, dan Juara Piala Super Spanyol. Sebuah pencapaian yang sudah selayaknya mengangkat nama Simeone sebagai legenda Atletico Madrid.
8 – Diego Pablo Simeone 🇦🇷 has recorded his eight title for @atletienglish: two @LaLigaEN (2014 & 2021), two Europa Leagues (2012 & 2018), two UEFA Super Cup (2012 & 2018), Copa del Rey (2013) & Spanish Supercup (2014), more than any other Atlético’s manager ever. Legend#Atleti pic.twitter.com/YvYl4sZdsE
— OptaJose (@OptaJose) May 22, 2021
Masa Depan Simeone
Spekulasi tentang masa depan Simeone patut dipertanyakan. Ketika di sepakbola sekarang cenderung hasil akhir yang buruk akan berkorelasi pada evaluasi kepelatihan. Banyak orang memberi kritik pedas pada juru taktik asal Argentina itu, namun Atletico Madrid sama sekali tak peduli. Tak ada tanda-tanda Simeone akan dipecat, bahkan malah sebaliknya.
Berdasarkan data yang dilansir L’Equipe, Diego Simeone adalah pelatih dengan bayaran paling tinggi di Dunia. Simeone mendapatkan gaji sebesar 43,2 juta euro atau sekitar Rp 747,8 miliar tiap tahunnya. Gaji Simeone itu bahkan lebih tinggi dari yang diterima Pep Guardiola.
Pep yang dari musim ke musim berhasil membawa Citizens merajai Liga Inggris, hanya mendapatkan gaji 22,6 juta euro atau sekitar Rp 392,9 miliar. Banyak orang heran dengan keberanian Atletico yang menjadikan Simeone sebagai pelatih dengan bayaran tertinggi di Dunia.
Highest paid managers in Europe’s Top 5 leagues:
1️⃣ Diego Simeone: €43.2m
2️⃣ Pep Guardiola: €22.6m
3️⃣ José Mourinho: €17m
3️⃣ Jürgen Klopp: €17m
5️⃣ Zinedine Zidane: €16.8m✍️ L’Équipe pic.twitter.com/FuX88lH90a
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) March 22, 2021
Mungkin berkat gaji itulah Simeone dengan senang hati tetap bertahan. Atau justru, rasa cintanya kepada Atletico Madrid lah yang membuatnya bertahan. Well, Simeone dengan berbagai pencapaiannya sejak 2011 mampu mentransformasi Atletico menjadi klub top Eropa. Dan itu mungkin akan berlangsung lama, ketika kepercayaan Atletico dan Simeone tak terbatas.
Diego Simeone has just signed a new contract with Atletico Madrid until June 2024. Agreement completed, official statement confirms. ⚪️🔴 #Atleti
He joined Atléti 10 years ago, 2011. 👇🏻📸 pic.twitter.com/TqHPfve7kH
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) July 8, 2021
Sumber Referensi : sportskeeda, bbc, firstpost, thesportsman


