Format Baru Membuat Kompetisi Eropa Tak Lagi Menarik?

spot_img

Aransemen baru anthem Liga Champions yang menuai banyak kecaman seolah menjadi pertanda kompetisi elit ini akan kehilangan marwahnya. Tanda itu tampaknya akan terwujud dalam waktu dekat.

Perubahan format Liga Champions, juga dua kompetisi Eropa lainnya: Liga Eropa dan Liga Konferensi, membuat ketiganya tak lagi menarik. Pembicaraan mengenai kompetisi Eropa, yang bahkan akan berlangsung malam hari ketika naskah ini dibuat, tak ramai.

Mungkinkah ini format baru ini tak lagi menarik? Kita akan mengulasnya. Namun, sebelum itu jangan lupa subscribe dan nyalakan loncengnya agar tidak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven.

Berawal dari Liga Super Eropa

Sebelum Liga Champions, Liga Eropa, dan Liga Konferensi berganti format, muncul polemik bernama Liga Super Eropa. Tim-tim raksasa, termasuk Real Madrid dan Juventus terlibat dalam proyek ini. Presiden Real Madrid, Florentino Perez bisa dibilang orang yang mencetuskan idenya.

Jadi, ide Liga Super Eropa ini adalah mempertemukan tim-tim besar dalam sebuah kompetisi. Namun, rencana tim-tim besar mengadakan kompetisi sendiri dalam tajuk Liga Super Eropa dijegal oleh otoritas sepak bola tertinggi di Benua Biru.

UEFA berhasil menggagalkan rencana itu. Namun, tidak menyepakati Liga Super Eropa bukan berarti UEFA punya ide sendiri. Justru format terbaru kompetisi Eropa sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Liga Super Eropa. Salah satu yang paling mencolok adalah bertemunya tim-tim besar sejak fase pertama.

Format Baru

Format baru ini sudah dibahas UEFA sejak jauh-jauh hari. Komite Eksekutif UEFA sudah menyepakatinya pada 2021 lalu. Sang Presiden, Aleksander Caferin mengatakan bahwa format kompetisi Eropa yang mirip dengan Liga Super Eropa ini mendukung status dan masa depan permainan domestik di seluruh Eropa. Caferin, melalui situs resmi UEFA menekankan, bahwa performa di ranah domestik menjadi kunci kualifikasi.

Namun, dalam praktiknya dari segi pembagian pot, UEFA tak lagi menentukannya berdasarkan performa di liga domestik, melainkan ranking koefisien UEFA dari klub yang bersangkutan. Ambil contoh di Liga Champions. Jika musim lalu para juara grup selalu berada di pot satu, musim ini tidak.

Lihat saja, alih-alih berada di pot satu, juara Bundesliga, Bayer Leverkusen justru mendiami pot dua. Dari Bundesliga pot satu justru diisi Bayern Munchen, Borussia Dortmund, dan RB Leipzig yang memiliki koefisien lebih baik daripada Die Werkself.

Perkara format Liga Champions terbaru, kamu bisa menonton video Starting Eleven sebelumnya. Format itu juga dipakai di Liga Eropa dan Liga Konferensi. Kompetisi kasta kedua dan ketiga di Eropa itu juga menghilangkan format grup dan akan memakai format liga.

Sejumlah 36 tim akan bertarung di fase liga. Sama seperti Liga Champions, delapan tim teratas otomatis ke babak 16 besar. Sementara ranking 9 hingga 24 akan bertarung memperebutkan delapan tempat tersisa. Yang cukup menyebalkan dari format baru ini adalah tim yang berada satu pot bisa saling bertemu.

Banyak Pertandingan Besar yang Tidak Bernilai

Oleh karena itu, baru di fase liga dan pekan pertama saja, pertemuan antara tim-tim raksasa tak terelakkan. Misalnya, AC Milan bertemu Liverpool, final 2023 yang terulang, dan Arsenal yang sudah harus menghadapi juara Liga Eropa musim lalu.

Mungkin karena inilah Nasser Al-Khelaifi yang bahkan bekerja di UEFA gusar. PSG sudah harus harus bertemu tim macam Manchester City, Bayern Munchen, Arsenal, hingga Atletico Madrid di fase liga.

Memang pada akhirnya akan lebih banyak pertandingan besar yang tercipta akibat format baru ini. Bahkan kita tidak perlu menunggu fase gugur untuk menyaksikan partai akbar.

Perubahan format dari fase grup menjadi fase liga, ditambah tim yang berada di pot yang sama bisa bertemu, membuat kita bisa menyaksikan partai besar sejak minggu pertama kompetisi digelar. Hal ini tidak hanya terjadi di Liga Champions. Liga Eropa dan Liga Konferensi juga sama.

Di pekan pertama Liga Eropa, kita sudah akan disuguhkan laga semi big match antara Manchester United vs FC Twente. Lalu ada pula duel antara raksasa Liga Prancis, Lyon menghadapi Olympiakos, juara Liga Konferensi musim lalu. Di Liga Konferensi pekan pertama, tim Bundesliga, Heidenheim sudah harus menghadapi tim papan atas Liga Slovenia, Olimpija Ljubljana.

Di pekan pertama Liga Konferensi juga menyuguhkan laga antara juara Liga Denmark 2023, FC Copenhagen melawan juara Liga Polandia musim lalu, Jagiellonia Białystok. Sayangnya, partai-partai besar ini tak memiliki nilai di hadapan format baru.

Menang, kalah, maupun seri tak banyak mempengaruhi nasib tim-tim besar tadi. Lha gimana, wong formatnya saja liga? Jadi, kayak Arsenal menang atas Spurs di Liga Inggris di pekan-pekan awal, itu hanya akan menambah tiga poin, tidak membuat mereka menjuarai Liga Inggris atau terdegradasi.

Minim Laga Penting

Kesimpulannya begini, meski banyak menghadirkan laga Big Match, tapi laga itu tidak penting. Pengaruhnya di format liga tak seberapa, kecuali pertandingan-pertandingan akhir.

Liverpool kalah dari AC Milan atau sebaliknya di pertandingan pertama pun tidak masalah. Masih ada tujuh pertandingan lainnya. Kalau di format fase grup di Liga Champions musim lalu, kalah di laga pertama artinya kesempatan meraih poin tersisa lima. Belum lagi jika lawan satu grup yang lain meraih kemenangan.

Mental pasti akan terganggu. Lihatlah yang terjadi pada Manchester United di Liga Champions musim lalu. Minimnya laga penting bisa jadi membuat penonton malas untuk menyaksikan tiga kompetisi Eropa. Tidak semua orang mau begadang menyaksikan laga setiap malamnya.

Minim Kejutan

Kompetisi Eropa musim ini dengan format baru diprediksi minim kejutan. Format baru ini juga malah lebih banyak menguntungkan tim besar. Persaingan tentu saja hanya akan berkutat pada tim-tim yang di atas kertas diprediksi akan finis di delapan besar.

Tim-tim besar juga akan diuntungkan karena lebih banyak laga Big Match dan itu artinya lebih banyak uang yang masuk, khususnya dari penjualan tiket. Tapi apa artinya kompetisi kalau tanpa kejutan? Setiap musim, baik itu Liga Champions maupun Liga Eropa kerap menghadirkan kejutan.

Dengan format baru, tidak ada kesempatan bagi tim kecil untuk melangkah lebih jauh, demikian laporan BBC. Lihat saja jadwal tim Pot empat di Liga Champions. Mereka sudah harus bertemu tim-tim kelas kakap di fase liga. Pendatang baru Slovan Bratislava, misalnya, sudah harus menghadapi empat peraih gelar liga: City, Munchen, AC Milan, dan Atletico Madrid.

Tanpa Degradasi, Tidak Ada Ejekan

Di format baru ini, kompetisi Eropa juga tanpa degradasi. Jadi peringkat ketiga di Liga Champions tidak akan turun ke Liga Eropa. Pun peringkat tiga Liga Eropa tidak akan turun ke Liga Konferensi. Padahal inilah yang jadi daya tarik kompetisi Eropa.

Orang-orang menantikan mana tim yang akan terbuang ke Liga Eropa. Biasanya ini bisa jadi bahan ejekan atau banter antar penggemar. Format juga membuat kita tidak akan lagi disuguhkan tahayul semacam ini: Sevilla bermain di Liga Champions hanya untuk finis di peringkat ketiga dan menjuarai Liga Eropa.

Akun-akun meme sepak bola juga kehabisan bahan banter. Kita tak bisa lagi mengejek Manchester United atau tim-tim besar lainnya yang bermain di Liga Eropa dengan menyebutnya penghuni Liga Malam Jumat. Karena Liga Champions pun kini main di Malam Jumat. Liga Eropa malah sekarang tak mesti bermain di Malam Jumat.

Jadi, football lovers masih semangat buat mantengin kompetisi Eropa atau beralih ke Liga Indonesia yang konon lebih kompetitif dari Liga Inggris saja?

Sumber: TheGuardian, BBC, UEFA, BeSoccer, 90Min

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru