PSSI boleh berencana, tapi Kuwait yang menentukan. Rencana besar menghadirkan Timnas Kuwait ke Surabaya pada FIFA Matchday September nanti harus pupus di tengah jalan. Tanpa arah dan tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba batal aja gitu. Kabar ini diungkapkan langsung oleh Ketua PSSI, Erick Thohir.
Kabar ini jelas menghadirkan rasa kecewa, bukan hanya bagi pemain yang sudah menanti ujian penting, tetapi juga bagi ribuan suporter yang berharap menyaksikan atmosfer laga internasional di Gelora Bung Tomo. Namun, di balik kekecewaan itu, ada kecurigaan yang muncul di benak Erick. Mantan Presiden Inter Milan itu merasa ada yang tak beres di balik keputusan mendadak ini.
Erick curiga ada sabotase yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab. Sebab, tak seperti biasanya hal ini terjadi. Indonesia sedang naik daun. Harusnya banyak tim yang mengantre untuk uji ketangkasan. Tapi, Kuwait malah PHP. Apakah dugaan Erick soal sabotase itu benar adanya?
Daftar Isi
Sepihak
Yang mungkin kalian belum tahu, Federasi Sepakbola Kuwait membatalkan agenda ini secara sepihak. Sebab, tak ada pemberitahuan atau peringatan sebelumnya. Dan inilah yang membuat situasi menjadi kurang elegan. Tanpa pemberitahuan, tiba-tiba surat pembatalan sudah di meja Erick Thohir, di saat persiapan hampir 80%.
Padahal laga melawan Kuwait telah diumumkan secara publik oleh PSSI sejak jauh hari. Harga tiketnya pun sudah muncul. Yang paling murah ada Rp75 ribu dan yang termahal mencapai Rp250 ribu. Laga ini menjadi bagian dari agenda FIFA Matchday di Surabaya bersama Lebanon. Dua laga tersebut diharapkan jadi persiapan Indonesia menjelang pertarungan sebenarnya di Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Tindakan sepihak ini tentu memunculkan rasa kecewa, karena menunjukkan kurangnya koordinasi profesional dari pihak Kuwait. Dampaknya bukan hanya pada timnas Indonesia yang kehilangan satu lawan berkualitas untuk menguji kekuatan, tetapi juga pada publik sepak bola nasional yang sudah menanti-nanti dan mungkin sudah membeli tiketnya.
Erick Thohir dan kolega pun harus memutar otak. Sebab, Timnas Indonesia butuh dua lawan dari Timur Tengah karena bakal menantang Timnas Arab Saudi dan Irak di Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Menghadapi lawan sesama negara Timur Tengah dapat membantu Indonesia untuk menakar lawan di ronde 4.
Dugaan Sabotase
Keputusan yang mendadak membuat Erick Thohir sedikit curiga. Mengutip dari Bola.com, ini adalah rencana yang sudah tersusun rapi. Agak aneh jika Kuwait tiba-tiba mengundurkan diri. Erick Thohir tidak menutup mata terhadap kejanggalan yang muncul dari pembatalan mendadak Kuwait.
Sebab, tak seperti biasanya. Indonesia cukup kesulitan untuk mencari lawan tanding di edisi September kali ini. Erick curiga ada unsur sabotase atau intervensi tertentu yang membuat Kuwait tiba-tiba menarik diri dari agenda uji coba ini.
Kecurigaan ini beralasan karena Indonesia bukan satu-satunya yang jadi korban. Di periode yang sama, Kuwait juga membatalkan laga uji coba melawan Uni Emirat Arab. Namun, yang membuat situasi ganjil adalah timnas Indonesia yang justru paling dirugikan, mengingat laga di Surabaya sudah disiapkan matang-matang.
Bagaimana tidak? laga ini akan dimainkan dalam jangka waktu kurang dari sepuluh hari lagi. Erick menyebut bahwa federasi harus waspada terhadap kemungkinan ada pihak luar yang sengaja mencoba mengganggu persiapan Skuad Garuda. Meski begitu, belum ada bukti yang cukup. Ini masih bersifat dugaan sementara. Erick pun menegaskan PSSI tidak akan larut dalam drama ini. Fokus utama tetap menjaga ritme persiapan tim.
Kemungkinan-Kemungkinan
Tapi, apa yang sebenarnya terjadi pada Kuwait? Karena belum ada konfirmasi atau penjelasan lebih lanjut dari pihak federasi, muncul beberapa spekulasi yang menyebabkan hal ini terjadi. Masalah internal kabarnya masih jadi salah satu potensi masalah utama di tubuh federasi sepakbola Kuwait.
Dilansir Kuwait Times, pasca laga kontroversial menghadapi Irak pada tahun lalu, kondisi federasi tidak stabil. Laga itu dimainkan di tengah suhu ekstrim yang mencapai lebih dari 40 derajat celcius. Di luar itu, terdapat banyak suporter kelaparan, kehausan hingga pingsan lantaran tidak bisa masuk stadion meski sudah membeli tiket. Sementara lainnya masuk tanpa tiket.
Kejadian ini memicu protes publik. Federasi Sepakbola Kuwait kemudian menanggapi dengan menangguhkan sekretaris jenderal dan kepala hubungan masyarakat, lalu pengurus federasi mundur secara massal. Insiden ini menciptakan periode transisi struktural yang cukup kacau. Dan perkiraannya, masih kacau hingga sekarang.
Lalu, ada dugaan persiapan tim yang kurang. Sebab, bukan hanya laga melawan Indonesia saja yang dibatalkan. Kuwait sedang berada dalam masa transisi pelatih dan perombakan skuad. Mereka baru saja menunjuk Helio Sousa sebagai pelatih anyar pada 31 Juli kemarin. Maka dari itu mereka diduga tidak cukup siap untuk tampil di laga uji coba internasional.
Kemungkinan lain adalah soal pertimbangan logistik dan finansial. Bagi Kuwait, bertandang ke Indonesia bukanlah agenda murah. Perjalanan melintasi benua, biaya akomodasi tim nasional, transportasi, hingga keamanan merupakan pos pengeluaran yang besar. Mengingat federasi mereka sedang berada dalam situasi transisi pasca-pengunduran diri massal, alokasi anggaran bisa saja terhambat atau bahkan dibekukan sementara.
Sikap PSSI
Namun, itu masih bersifat asumsi belaka. Lebih baik, kita menunggu konfirmasi lebih lanjut dari Kuwait. Itu juga kalau mereka nggak ghosting ya. Jika sudah kadung begini, gimana respons PSSI? Erick Thohir selaku ketua meminta seluruh elemen yang terlibat tetap tenang dan fokus pada persiapan pertandingan.
Meski demikian, Erick menegaskan bahwa PSSI tidak akan tinggal diam menghadapi pembatalan sepihak yang dilakukan Kuwait. Sebagai presiden federasi, ia menilai sikap Kuwait merupakan bentuk pelanggaran etika dalam hubungan antar federasi. Karena itu, Erick menyatakan akan segera meminta klarifikasi langsung dari federasi sepakbola Kuwait.
Tak berhenti di situ, PSSI juga menimbang opsi untuk melaporkan kasus ini ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Tujuannya bukan semata mencari hukuman bagi Kuwait atau cari perhatian sama yang berkuasa di Asia. Tetapi agar ada kejelasan prosedur dan kepastian hukum dalam menjaga integritas kalender FIFA Matchday.
Cari Lawan Baru?
PSSI juga tak hanya mengeluh dan meminta kejelasan ke AFC, tapi juga akan segera mencari solusi cepat dari persoalan ini. Salah satu yang sedang dicoba adalah mencari lawan baru untuk mengisi ruang yang ditinggalkan Kuwait. Kabarnya, dengan pertimbangan waktu yang mepet, negara Asia Tenggara bakal jadi target.
Namun, komposisi skuad dan kualitas tim sangat dipertimbangkan. Menurut beberapa sumber yang ada, Vietnam jadi negara yang berpotensi menggantikan Kuwait. Sejauh ini, Indonesia sudah beberapa kali berhadapan dengan Vietnam dalam dua tahun terakhir. Dari laga-laga tersebut, PSSI merasa Vietnam bisa jadi lawan yang merepotkan.
Selain Vietnam, negara ASEAN yang layak buat ngelawan Indonesia ya paling Thailand. Malaysia? Mereka sombong. Udah diajak malah nolak. Di sisi lain, cukup sulit jika ingin tetap menghadapi tim Timur Tengah. Mereka sudah mengatur agenda tanding sendiri. Oman misalnya. Mereka akan ikut serta di turnamen CAFA yang dimulai sejak akhir Agustus hingga awal September. Yordania pun demikian.
Sudah lolos putaran final Piala Dunia 2026, mereka akan menjajal kekuatan Rusia dan Republik Dominika di jeda internasional Bulan September. Kalau ngotot melawan tim Timur Tengah sih paling dapetnya Palestina. Mereka tanggal 8 September main sama Malaysia. Kayaknya bisa ya tanggal lima mampir dulu ke Surabaya. Masa sama saudara sendiri nggak mau bantu?
Sumber: Bola, Bolasport, Detik, Kuwait Times


