Berada di pusat kota London nan mewah, sebuah klub tertua di Inggris lahir. Tahun 1897 menjadi saksi berdirinya Fulham, klub yang bermarkas di Craven Cottage. Stadion yang sayang kalau dilewatkan kalau berkunjung ke London, karena orisinalitasnya di tengah era modern seperti sekarang.
Tapi kalau bicara klub asal Kota London beberapa dekade ke belakang, yang identik tentu klub besar macam Arsenal maupun Chelsea. Fulham sendiri sering dianggap jadi klub rendahan.
Kok bisa begitu? Buktinya saja mereka sering naik turun kasta dalam satu dekade terakhir. Akan tetapi tunggu dulu, di musim ini kondisi Fulham berbeda. Baru saja promosi musim lalu, mereka kini bahkan sedang membayangkan apakah ia bisa lagi masuk ke zona Eropa.
On 13th July 2013 Shahid Khan came to Craven Cottage to announce his purchase of Fulham & to effect a handover from owner of 16 years Mohamed Al Fayed. https://t.co/LhVDeqGv3S #FulhamOnThisDay #ffc pic.twitter.com/cQ4yO9MBqY
— Fulham Focus (@Fulham_Focus) July 13, 2018
Daftar Isi
Kedatangan Shahid Khan
Jauh sejak tahun 2013, sebenarnya Fulham sudah memiliki gelagat perubahan. Ya, tepat di mana seorang bernama Shahid Khan mengakuisisi The Cottagers dari miliarder Mesir, Al Fayed. Milyarder berdarah Pakistan itu telah mengakhiri masa pengabdian Al Fayed bersama Fulham selama 16 tahun lamanya.
25 years since Al Fayed bought Fulham Football Club ⚫️⚪️
— Fulhamish (@FulhamishPod) May 29, 2022
🗓️ 𝐎𝐓𝐃 | 1997 pic.twitter.com/dsWMlpWDVg
Pebisnis yang kumisnya mirip “Pak Raden” itu tercatat membeli Fulham dengan harga sekitar 200 juta pounds. Siapa sih Shahid Khan sebenarnya? Ia adalah pebisnis bidang otomotif yang terkenal di AS. Ia juga tercatat dalam Forbes pada tahun 2013 sebagai “American Dreams”, yakni deretan orang-orang terkaya di AS.
Shahid Khan has emerged as the 66th richest man in the US in forbes list of 900 wealthiest Americans. According to report, khan ha a net worth of $7.8 billion.He also owns NFL’s Jackson ville Jaguars which he bought in 2012 and Fulham Football Club in 2013.#NFL‘s #US #pakistan pic.twitter.com/8mtvV39wxx
— Voice of Pakistan (@voppkofficial) September 14, 2020
Pemilik Fulham yang dulunya sempat bekerja jadi tukang cuci piring itu, mengakuisisi Fulham dengan banyak harapan. Salah satunya agar Fulham bisa meraih prestasi yang lebih baik daripada pemilik sebelumnya.
Juara Piala Intertoto dan Final Europa League 2010
Maklum, di bawah Al Fayed, Fulham pernah diantarkannya sukses di kancah Eropa. Masih ingat ketika Fulham di tahun 2010 pernah masuk Final Europa League?
Fulham in the Europa League Final
— Classic Football Shirts (@classicshirts) February 15, 2021
Who remembers when Roy Hodgson’s Fulham made it all the way to the final of the Europa League in 2010?
This is the away shirt that was seen in the final when they unfortunately lost to Atletico Madrid thanks to an ET winner from Diego Forlan. pic.twitter.com/8ZybNkmgyp
Sebuah catatan sejarah dan pencapaian yang fantastis bagi Fulham di masa Al Fayed. Ketika itu Fulham bersama pelatih lokal, Roy Hodgson dan pemain macam Clint Dempsey, Damien Duff, maupun Bobby Zamora. Namun sayang, The Cottagers belum bisa menggondol gelar itu karena kalah atas Atletico Madrid.
Selain di Europa League, jauh sebelumnya mereka juga pernah meraih mahkota Piala Intertoto. Masih di zaman Al Fayed, tepatnya yakni di musim 2002/03. Ketika itu Fulham meraihnya di zaman pelatih Chris Coleman dan pemain macam Van Der Sar, maupun Louis Saha, kala mengalahkan Bologna di Final.
A REMINDER:
— Football Remind (@FootballRemind) December 18, 2017
Here is the Fulham team shortly after they had defeated Bologna over two legs in the 2002 Intertoto Cup.
Junichi Inamoto scored a second leg hat trick as Fulham entered the UEFA Cup for the first time in their history. pic.twitter.com/cDUVVhkMcz
Fulham Terdegradasi
Dengan standar yang tinggi di Eropa bersama Al Fayed itulah, yang menjadikan Shahid Khan tak mau kalah saing. Untuk itu dengan kekayaannya ia bermaksud jor-joran mendatangkan beberapa pemain baru. Di musim pertamanya, ia memecahkan rekor transfer klub senilai 12,5 juta pounds untuk striker Yunani Konstantinos Mitroglou dari Olympiakos.
It’s a new chapter for #Fulham. Written by Mr. Khan and co. Welcome to Fulham Football Club Konstantinos Mitroglou!! pic.twitter.com/ewUALAOY4S
— FulhamTexas (@FulhamTexas) January 31, 2014
Tak puas dengan pemain, dari segi pelatih pun dirombak. Martin Jol yang dianggap kurang sukses memimpin, diberhentikan dan digantikan dengan mantan asisten Sir Alex Ferguson, Rene Meulensteen. Tak puas lagi dengan hasil Rene, mantan pelatih yang sukses di Jerman Felix Magath pun ditunjuk menggantikan Rene.
4. Where are they now? Fulham’s relegated side from the 2013/14 season – https://t.co/VhLX8gbmmR
— Squawka (@Squawka) September 24, 2018
Manager: Felix Magath pic.twitter.com/b3iiHWM9rb
Nahasnya dari semua usaha itu, hasilnya nol besar. Fulham malah jadi tim pesakitan dan akhirnya terdegradasi. Tentu sebuah pencapaian buruk yang mencoreng nama sang pemilik baru. Konsistensi Fulham selama 14 tahun di Liga Inggris berakhir sudah.
Atas dasar itu, Shahid Khan banyak dikritik termasuk oleh pendahulunya Al Fayed. “Saya harap sekarang dia belajar. Dia adalah orang yang kaya. Dia juga punya klub sepakbola lainnya di Amerika dan mengerti tentang sepakbola,” ujar Al Fayed kepada Sky Sports.
Promosi Dan Jadi Tim YoYo
Sampai akhirnya Fulham di bawah kepemilikan Shahid Khan dibawanya lagi promosi ke Liga Inggris pada musim 2017/18. Menurut Khan, inilah saatnya ia unjuk gigi kembali dengan membuktikan bahwa Fulham masih mampu bersaing lagi di Liga Inggris.
Untuk itu ia kembali bergegas membobol brankas kopernya untuk dihambur-hamburkan di bursa transfer. Fulham di musim baru Liga Inggris 2018/19, jadi tim promosi yang “wah” secara pembelian pemain. Tak kurang 78 juta pounds mereka kucurkan untuk mendatangkan para pemain macam Jean Michael Seri, Mitrovic, Andre Schurrle, hingga Ryan Babel.
Namun hasilnya seperti pengulangan. Fulham kembali terjebak dalam kejamnya persaingan Liga Inggris. Mereka pasrah, uang yang sudah dihambur-hamburkan sekian banyaknya itu berakhir dengan degradasi.
Fulham setelah itu tak ubahnya dikenal hanya sebagai klub “yoyo”. Bagaimana tidak? Mereka dalam lima musimnya sejak 2017/18, mengalami dua kali degradasi dan tiga kali promosi.
🥳 Fulham are promoted! 🥳
— BBC Sport (@BBCSport) April 19, 2022
They have beaten Preston 3-0 to secure a return to the Premier League.#bbcefl #bbcfootball
Fulham Kini Berbeda
Nah di musim 2022/23 ini kondisi Fulham berbeda. Bak sebuah kejutan, dari tim “yoyo”, Fulham sekarang hingga Februari 2023 masih bertengger di 6 besar klasemen Liga Inggris.
Sebuah harapan tentu kini hadir di publik Craven Cottage. Timnya diharapkan untuk tidak lagi sebagai tim “yoyo”. Mereka bagaimanapun rindu “bertahan” di Liga Inggris, maupun bermimpi lagi mentas di Eropa.
Nah, setelah dirinci tentang apa yang salah selama ini dari Fulham ketika jadi tim “yoyo’, adalah pola perekrutan yang ceroboh. Tak dipungkiri anak Shahid Khan, yakni Tony Khan yang ditunjuk sebagai kepala perekrutan sejak 2016, mengaku baru belajar di bursa transfer.
Tony Khan: ‘I don’t want Fulham to be a yo-yo club, I want us to be a yo club’
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) May 3, 2022
⚪️ How he ‘begged’ Mitrovic to stay
⚫️ Says #FFC have learnt from mistakes like signing injured players
⚪️ Money available to strengthen squad
⚫️ Would have loved to have kept Carvalho
📝 @DTAthletic
Kini Toni Khan sudah makin matang soal perekrutan pemain maupun pelatih. Komprominya dengan pelatihnya sekarang Marco Silva pun berjalan lancar. Bisa dianggap, hal itu sebagai salah satu buah kesuksesan Fulham bisa bertahan seperti musim ini.
Hal itu dikatakan Tony Khan sendiri kepada The Athletic. Ia mengatakan bahwa ia sekarang bersama CEO Alistair Mackintosh lebih bekerja dengan menggunakan data. Seperti apa yang dilakukan sistem Moneyball di Brentford. “Kami memiliki database yang luas. Secara umum, setiap pemain yang kami bawa telah memiliki standar database ini,” kata Khan
Bukan cuma data, kepercayaannya kepada keahlian Marco Silva dalam memetakan kebutuhan prioritas tim juga menjadi kunci. Khan tidak lagi khawatir Fulham bernasib seperti Watford ketika dipegang Marco Silva. Silva menurut Khan, memiliki visi yang jelas dan masuk akal bagi klub.
“We deserve to be there.” ⚪
— Sky Sports News (@SkySportsNews) February 16, 2023
Can Marco Silva’s Fulham secure a European place this season? 🌍 pic.twitter.com/8B6XaglAkd
Buah pengamatan database dari Tony Khan, ditambah analisis dari Marco Silva, musim ini Fulham banyak mendatangkan pemain yang langsung bisa berpengaruh pada kinerja tim. Contohnya saja Issa Diop, Bernd Leno, Joao Palhinha, Willian, maupun Andreas Pereira.
OTW Ke Pentas Eropa?
Dengan hasil yang dicapai, Shahid Khan pun setidaknya bisa sedikit tersenyum. Tinggal konsistensi yang ditunggu dari Fulham. Perjalanan memang masih panjang, dan semua bisa terjadi. Tapi paling tidak dengan perkembangan Fulham yang sudah terbukti sampai saat ini, sulit rasanya melihat mereka jadi tim “yoyo” lagi musim ini.
Marco Silva has Fulham dreaming of European football 13 years after they reached the Europa League final… the Cottagers have put their yo-yo days behind them and are flying in the Premier League
— 𝔸𝕝-𝕙𝕒𝕛𝕚 𝕀𝕤𝕞𝕒𝕚𝕝 (@Alfaenshe) February 13, 2023
via https://t.co/tRYG0AuBDk https://t.co/CoQEKwp4Xj
Bahkan Khan kini sedang merencanakan siasat agar bisa tembus ke level Eropa seperti pencapaian Al Fayed dulu. Dengan jebloknya Chelsea maupun Liverpool, musim ini mungkin adalah kesempatan yang tepat bagi tim macam Fulham, Brentford, maupun Brighton untuk saling sikut berebut kompetisi Zona Eropa.
Sumber Referensi : thesportsman, dailymail, theathletic


