OTW Eropa? Sosok Penting Dibalik Perkembangan Fulham

spot_img

Berada di pusat kota London nan mewah, sebuah klub tertua di Inggris lahir. Tahun 1897 menjadi saksi berdirinya Fulham, klub yang bermarkas di Craven Cottage. Stadion yang sayang kalau dilewatkan kalau berkunjung ke London, karena orisinalitasnya di tengah era modern seperti sekarang.

Tapi kalau bicara klub asal Kota London beberapa dekade ke belakang, yang identik tentu klub besar macam Arsenal maupun Chelsea. Fulham sendiri sering dianggap jadi klub rendahan.

Kok bisa begitu? Buktinya saja mereka sering naik turun kasta dalam satu dekade terakhir. Akan tetapi tunggu dulu, di musim ini kondisi Fulham berbeda. Baru saja promosi musim lalu, mereka kini bahkan sedang membayangkan apakah ia bisa lagi masuk ke zona Eropa.

Kedatangan Shahid Khan

Jauh sejak tahun 2013, sebenarnya Fulham sudah memiliki gelagat perubahan. Ya, tepat di mana seorang bernama Shahid Khan mengakuisisi The Cottagers dari miliarder Mesir, Al Fayed. Milyarder berdarah Pakistan itu telah mengakhiri masa pengabdian Al Fayed bersama Fulham selama 16 tahun lamanya.

Pebisnis yang kumisnya mirip “Pak Raden” itu tercatat membeli Fulham dengan harga sekitar 200 juta pounds. Siapa sih Shahid Khan sebenarnya? Ia adalah pebisnis bidang otomotif yang terkenal di AS. Ia juga tercatat dalam Forbes pada tahun 2013 sebagai “American Dreams”, yakni deretan orang-orang terkaya di AS.

Pemilik Fulham yang dulunya sempat bekerja jadi tukang cuci piring itu, mengakuisisi Fulham dengan banyak harapan. Salah satunya agar Fulham bisa meraih prestasi yang lebih baik daripada pemilik sebelumnya.

Juara Piala Intertoto dan Final Europa League 2010

Maklum, di bawah Al Fayed, Fulham pernah diantarkannya sukses di kancah Eropa. Masih ingat ketika Fulham di tahun 2010 pernah masuk Final Europa League?

Sebuah catatan sejarah dan pencapaian yang fantastis bagi Fulham di masa Al Fayed. Ketika itu Fulham bersama pelatih lokal, Roy Hodgson dan pemain macam Clint Dempsey, Damien Duff, maupun Bobby Zamora. Namun sayang, The Cottagers belum bisa menggondol gelar itu karena kalah atas Atletico Madrid.

Selain di Europa League, jauh sebelumnya mereka juga pernah meraih mahkota Piala Intertoto. Masih di zaman Al Fayed, tepatnya yakni di musim 2002/03. Ketika itu Fulham meraihnya di zaman pelatih Chris Coleman dan pemain macam Van Der Sar, maupun Louis Saha, kala mengalahkan Bologna di Final.

Fulham Terdegradasi

Dengan standar yang tinggi di Eropa bersama Al Fayed itulah, yang menjadikan Shahid Khan tak mau kalah saing. Untuk itu dengan kekayaannya ia bermaksud jor-joran mendatangkan beberapa pemain baru. Di musim pertamanya, ia memecahkan rekor transfer klub senilai 12,5 juta pounds untuk striker Yunani Konstantinos Mitroglou dari Olympiakos.

Tak puas dengan pemain, dari segi pelatih pun dirombak. Martin Jol yang dianggap kurang sukses memimpin, diberhentikan dan digantikan dengan mantan asisten Sir Alex Ferguson, Rene Meulensteen. Tak puas lagi dengan hasil Rene, mantan pelatih yang sukses di Jerman Felix Magath pun ditunjuk menggantikan Rene.

Nahasnya dari semua usaha itu, hasilnya nol besar. Fulham malah jadi tim pesakitan dan akhirnya terdegradasi. Tentu sebuah pencapaian buruk yang mencoreng nama sang pemilik baru. Konsistensi Fulham selama 14 tahun di Liga Inggris berakhir sudah.

Atas dasar itu, Shahid Khan banyak dikritik termasuk oleh pendahulunya Al Fayed. “Saya harap sekarang dia belajar. Dia adalah orang yang kaya. Dia juga punya klub sepakbola lainnya di Amerika dan mengerti tentang sepakbola,” ujar Al Fayed kepada Sky Sports.

Promosi Dan Jadi Tim YoYo

Sampai akhirnya Fulham di bawah kepemilikan Shahid Khan dibawanya lagi promosi ke Liga Inggris pada musim 2017/18. Menurut Khan, inilah saatnya ia unjuk gigi kembali dengan membuktikan bahwa Fulham masih mampu bersaing lagi di Liga Inggris.

Untuk itu ia kembali bergegas membobol brankas kopernya untuk dihambur-hamburkan di bursa transfer. Fulham di musim baru Liga Inggris 2018/19, jadi tim promosi yang “wah” secara pembelian pemain. Tak kurang 78 juta pounds mereka kucurkan untuk mendatangkan para pemain macam Jean Michael Seri, Mitrovic, Andre Schurrle, hingga Ryan Babel.

Namun hasilnya seperti pengulangan. Fulham kembali terjebak dalam kejamnya persaingan Liga Inggris. Mereka pasrah, uang yang sudah dihambur-hamburkan sekian banyaknya itu berakhir dengan degradasi.

Fulham setelah itu tak ubahnya dikenal hanya sebagai klub “yoyo”. Bagaimana tidak? Mereka dalam lima musimnya sejak 2017/18, mengalami dua kali degradasi dan tiga kali promosi.

Fulham Kini Berbeda

Nah di musim 2022/23 ini kondisi Fulham berbeda. Bak sebuah kejutan, dari tim “yoyo”, Fulham sekarang hingga Februari 2023 masih bertengger di 6 besar klasemen Liga Inggris.

Sebuah harapan tentu kini hadir di publik Craven Cottage. Timnya diharapkan untuk tidak lagi sebagai tim “yoyo”. Mereka bagaimanapun rindu “bertahan” di Liga Inggris, maupun bermimpi lagi mentas di Eropa.

Nah, setelah dirinci tentang apa yang salah selama ini dari Fulham ketika jadi tim “yoyo’, adalah pola perekrutan yang ceroboh. Tak dipungkiri anak Shahid Khan, yakni Tony Khan yang ditunjuk sebagai kepala perekrutan sejak 2016, mengaku baru belajar di bursa transfer.

Kini Toni Khan sudah makin matang soal perekrutan pemain maupun pelatih. Komprominya dengan pelatihnya sekarang Marco Silva pun berjalan lancar. Bisa dianggap, hal itu sebagai salah satu buah kesuksesan Fulham bisa bertahan seperti musim ini.

Hal itu dikatakan Tony Khan sendiri kepada The Athletic. Ia mengatakan bahwa ia sekarang bersama CEO Alistair Mackintosh lebih bekerja dengan menggunakan data. Seperti apa yang dilakukan sistem Moneyball di Brentford. “Kami memiliki database yang luas. Secara umum, setiap pemain yang kami bawa telah memiliki standar database ini,” kata Khan

Bukan cuma data, kepercayaannya kepada keahlian Marco Silva dalam memetakan kebutuhan prioritas tim juga menjadi kunci. Khan tidak lagi khawatir Fulham bernasib seperti Watford ketika dipegang Marco Silva. Silva menurut Khan, memiliki visi yang jelas dan masuk akal bagi klub.

Buah pengamatan database dari Tony Khan, ditambah analisis dari Marco Silva, musim ini Fulham banyak mendatangkan pemain yang langsung bisa berpengaruh pada kinerja tim. Contohnya saja Issa Diop, Bernd Leno, Joao Palhinha, Willian, maupun Andreas Pereira.

OTW Ke Pentas Eropa?

Dengan hasil yang dicapai, Shahid Khan pun setidaknya bisa sedikit tersenyum. Tinggal konsistensi yang ditunggu dari Fulham. Perjalanan memang masih panjang, dan semua bisa terjadi. Tapi paling tidak dengan perkembangan Fulham yang sudah terbukti sampai saat ini, sulit rasanya melihat mereka jadi tim “yoyo” lagi musim ini.

Bahkan Khan kini sedang merencanakan siasat agar bisa tembus ke level Eropa seperti pencapaian Al Fayed dulu. Dengan jebloknya Chelsea maupun Liverpool, musim ini mungkin adalah kesempatan yang tepat bagi tim macam Fulham, Brentford, maupun Brighton untuk saling sikut berebut kompetisi Zona Eropa.

Sumber Referensi : thesportsman, dailymail, theathletic

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru