Offshore Company: Siasat Licik Pemain Sepak bola Eropa Menghindari Pajak

  • Whatsapp

Sepakbola kini tak sekadar olahraga, tapi sekaligus industri. Maka wajar saja kalau sifat-sifat industrialisme juga ada di sepak bola. Mulai dari jual-beli hingga pajak. Selain mendapatkan gaji, pesepakbola juga harus membayar pajaknya ke negara tempatnya memperoleh gaji tersebut.

Di lima kompetisi top Eropa, tarif pajak yang harus dibayarkan oleh pemain cukup beragam. Ligue 1 Prancis misalnya, pemain yang memperoleh gaji minimal 193 ribu euro atau sekitar Rp 3,2 miliar rupiah dan maksimal 1,28 juta euro atau Rp 21,6 miliar harus membayar pajak sebesar 45 persen. Sementara bagi yang bergaji di atas 1,28 juta euro dikenai pajak 75 persen.

Bacaan Lainnya

Contoh kasarnya begini, apabila mengacu dengan aturan tersebut, Neymar yang mendapat gaji 36,8 juta euro atau setara Rp 622,4 miliar bakal kena potongan pajak sebesar 75 persen. Jadi pendapatan bersih Neymar hanya di angka 9,2 juta euro atau Rp 155,6 miliar per tahun.

Sebelum dipotong pajak, gaji Lionel Messi di PSG adalah 40 juta euro atau setara Rp 676,6 miliar. Namun apabila dipotong pajak sebesar 75 persen, gaji La Pulga menjadi 10 juta euro atau sekitar Rp 169,4 miliar per tahun. Tapi itu hanya perhitungan kasar saja, sebab nyatanya Messi mendapat gaji bersih 35 juta euro Rp 592 miliar per tahun.

Sementara besarnya pajak di Bundesliga lebih sedikit. Bagi pemain sepak bola yang mendapat gaji di atas 250 ribuan euro atau Rp 4,2 milliar dikenai pajak 45 persen. Di Italia atau Serie A pajaknya jauh lebih kecil, para pemain yang bergaji di atas 75 ribu euro atau Rp 1,2 miliar akan dikenai pajak 43 persen.

Pajak para pemain di Liga Spanyol atau La Liga jauh lebih tinggi. Pemain yang bergaji di atas 300 ribu euro atau Rp 5 miliar mesti membayar pajak sebesar 52 persen. Lalu jika pendapatan pemain minimal 150 ribu euro atau Rp 2,5 miliar, besaran pajak yang harus dibayar sebesar 45 persen.

Pajak yang tinggi ini, mau tidak mau membuat para pemain sepak bola mencari celah untuk menghindarinya. Beberapa pemain bahkan ada yang berani menggelapkan pajak. Namun beberapa di antaranya memilih jalur offshore company. Apa itu?

Offshore Company

Ringkasnya, offshore company adalah badan perusahaan yang didirikan di luar negara tempat seseorang itu mendapatkan penghasilan. Badan usaha ini umumnya didirikan demi tujuan-tujuan tertentu. CEO Finex Consulting, Ferry Chandra Gunawan mengatakan kalau offshore company lazimnya digunakan dalam wealth management. Offshore company tidak terikat pada aturan negara tempat individu yang mendirikan badan usaha tersebut mendapat penghasilan. Namun disesuaikan dengan negara tempat didirikannya offshore company tersebut.

Konsep offshore company belakangan kerap dipraktikkan dalam industri sepak bola. Pemicunya tentu saja tarif pajak di negara tempat seorang pemain sepak bola mendapatkan gaji. Kalau tarif pajaknya tinggi, pesepakbola memilih untuk mengalihkan gajinya ke perusahaan yang didirikan di negara lain yang lebih ramah pajak.

Apakah offshore company ini masuk dalam penggelapan pajak? Tentu saja tidak. Bahkan pemain sepak bola yang memakai metode ini untuk menghindari pajak yang besar tidak bisa serta merta dipenjara. Karena mendirikan offshore company bukanlah tindakan ilegal dan itu sah-sah saja.

Jadi sistemnya gaji pemain ditransfer bukan ke rekening pribadinya, tapi ke perusahaan offshore company yang didirikan si pemain. Maka besaran pajak pun disesuaikan dengan negara tempat offshore company didirikan. Biasanya offshore company ini banyak didirikan di negara dengan tarif pajak rendah, seperti Panama, Uruguay, Irlandia, dan Swiss.

Pemain yang Pernah Memakai Offshore Company

Gelandang Chelsea N’Golo Kante pernah ditawarkan untuk dibayar melalui perusahaan lepas pantai atau offshore company di bawah naungan “NK Promotions”. Ada dugaan kalau Chelsea menekan N’Golo Kante agar pembayaran gaji pemain berpaspor Prancis tersebut melalui offshore company menyusul kepindahannya dari Leicester City.

Namun Kante menolak metode yang bisa membuat The Blues dan dirinya terbebas dari pajak. Mungkin Kante takut dosa kali. Four your information saja, di Inggris Raya tarif pajak nilainya 45 persen untuk pendapatan pemain di atas 150 ribu euro atau Rp 2,5 miliar. Sementara Cristiano Ronaldo berbeda.

Saat memperkuat Real Madrid, Cristiano Ronaldo mengalihkan gajinya ke sebuah perusahaan offshore company di Kepulauan Virginia, Britannia Raya untuk kemudian ditransferkan ke dua orang asal Irlandia yang mengelola perusahaan yang sudah ada sejak 2010 tersebut.

Ronaldo berhasil mengelabui kantor pajak Spanyol dengan menyembunyikan pendapatan riilnya. Tak tanggung-tanggung, nilanya sampai 14,7 juta euro pada 2011 dan 2014 atau Rp 248 miliar mengacu kurs sekarang. Otoritas pajak di Spanyol menuding kalau pemain asal Portugal itu melakukan penggelapan pajak. Kendati Ronaldo tetap berdalih kalau dirinya taat pajak.

Nasib serupa juga menimpa bintang FC Barcelona yang kini bermain untuk PSG, Lionel Messi. Sewaktu bermain di Blaugrana, berdasarkan laporan Panama Papers, Messi dan ayahnya mendirikan offshore company di Panama, bernama Mega Star Enterprises. Tak hanya itu, Messi juga mendirikan perusahaan di Belize dan Uruguay.

Messi dituduh menggelapkan pajak saat bermain di FC Barcelona sebesar 4,1 juta euro atau Rp 69,3 miliar kurs sekarang, dari pendapatannya untuk musim 2007 dan 2009. La Pulga bahkan nyaris dijatuhi vonis 21 bulan penjara. Namun karena tak cukup catatan dan Messi mengakui kalau perusahaan offshore company di Panama itu tidak aktif, hukumannya pun ditangguhkan. Akan tetapi Messi tetap harus membayar denda 2 juta euro atau Rp 33,8 miliar.

Walaupun legal, tapi perlu dicatat bahwa mendirikan offshore company yang tujuannya untuk menghindari pajak adalah perbuatan yang tidak etis. Hal itu menyangkut latar belakangan munculnya pajak itu sendiri. Messi dan Ronaldo tentu tahu mengenai hal itu.

Mereka pastilah membayar pajak di klub barunya. Messi pastinya memiliki klausul tertentu mengenai pajak, dan CR7 yang tentu sanggup membayar pajak ke otoritas Italia. Wong tarif pajak di Italia itu lebih sedikit dari Spanyol. Masa Ronaldo nggak mampu bayar?

Sumber referensi: 90min.com, cnnindonesia.com, fosterswiss.com, bisnis.com, en.as.com, bisnisbestfriend.co.id, irishtimes.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *