Ancaman Bangkrut yang Selalu Menghantui Tim-tim di Liga Italia

  • Whatsapp

Baru saja menjuarai Serie A, Inter Milan justru mengalami kenestapaan yang menyakitkan. La Beneamata nyaris mencatatkan sejarah sebagai klub di Italia yang bangkrut persis ketika baru saja meraih scudetto. Inter harus mengalami kondisi finansial yang menyesakkan.

Pemegang saham Inter, Suning Grup dilanda krisis ekonomi. Akibatnya, saat Antonio Conte, sang allenatore Inter meminta dana untuk memperkuat La Beneamata, dana itu tak kunjung dikucurkan. Justru Suning Grup berencana menjual sejumlah pemain pilar. Hal itu yang membuat Antonio Conte memilih menyerahkan surat pengunduran ke manajemen klub.

Bacaan Lainnya

Itu bukan omong kosong. Sebab, Inter memang betul-betul menjual para pemain terbaiknya. Sebutlah sosok Romelu Lukaku yang kini berseragam Chelsea, dan Achraf Hakimi yang kini justru memperkuat PSG. Setelah itu, keuangan Inter pun kembali stabil. Apalagi semenjak mendapat kucuran dana sebesar Rp 4,8 triliun dari perusahaan asal Los Angeles, Oaktree Capital.

Kemujuran yang diterima Inter tak juga diterima Chievo Verona. Klub yang menghuni Serie B, dan sempat menduduki posisi delapan di tangga klasemen musim lalu itu dinyatakan bangkrut. Ironisnya, hal itu bertepatan dengan peringatan 20 tahun Chievo Verona promosi di Serie A.

Chievo Verona resmi dedepak dari Liga Calcio (kompetisi profesional yang menaungi Serie A dan B). The Flying Donkey harus turun ke Serie D dan memulai lagi dari awal akibat krisis keuangan yang menyebabkan tim tidak sanggup membayar pajak. Padahal Chievo Verona bukanlah tim yang sembarangan.

Ia boleh disebut sebagai klub miskin atau klub kecil. Namun The Flying Donkey adalah klub yang sudah teruji keuletannya dalam menghadapi segala macam situasi. Stefano Pioli pernah membawa Chievo Verona ke puncak tertinggi Serie A pada musim 2010/2011. Pelatih yang kini melatih AC Milan itu berhasil membuat Chievo Verona menyusup di antara klub kaya dan besar di Italia.

Kini itu hanya seperti kenangan belaka. Pergulatan 17 musim di liga top Italia remuk begitu saja. Chievo Verona harus memulainya lagi dari Serie D, kompetisi amatir di Italia. Posisi mereka di Serie B digantikan oleh tim yang sebenarnya terdegradasi, Cosenza.

Menambah Daftar Panjang Tim Italia yang Bangkrut

Kemerosotan Chievo Verona menambah daftar panjang nestapa tim-tim di Italia. Tahun 2019, Palermo lebih dulu bangkrut lantaran lagi-lagi krisis finansial. Tim penghasil pemain bintang seperti Edinson Cavani, Javier Pastore, dan Paulo Dybala itu harus terdepak ke kasta terendah di Italia, Serie D.

Bukan hanya Palermo, sebelum itu juga berderet tim-tim Italia yang mengalami kebangkrutan. Setahun sebelum Palermo dinyatakan bangkrut, klub asal Italia lainnya, Bari dan Cesena juga mengalami nasib serupa.

Selain gagal masuk ke Serie A usai bertekuk lutut di hadapan Citadella di babak penyisihan. Dua klub itu wajib melupakan hasratnya untuk bertemu Cristiano Ronaldo yang kala itu baru saja berseragam Juventus. Keduanya harus dibuang ke Serie D. Nasib mereka setali tiga uang dengan yang pernah dialami Parma tiga tahun sebelumnya.

Klub-klub di Italia dan kebangkrutan itu ibarat dua roda sepeda motor. Selalu saja beriringan. Terhitung sejak Fiorentina menjadi pelopor klub Italia yang bangkrut pada 2002, sampai 2018 sudah ada 153 kesebelasan di Italia yang mengalami keterpurukan. Ya kalau ditambah Bari, Cesena, Palermo, dan Chievo Verona, itu berarti 157 tim Italia mengalami gulung tikar dan terpaksa direset ulang.

Saban tahun, Italia boleh dibilang tidak pernah absen dalam menyumbang klub-klub bangkrut. Reggina, Mestre, Akragas, Modena, Andria, sampai Vicenza adalah tim-tim yang pernah menyentuh titik terendah dunia sepak bola. Tim-tim tersebut pun mesti bersiasat agar paling tidak terhindar dari pembubaran.

Beruntung Modena tak sampai bubar. Mereka hanya terpental di Serie D. Sementara nasib mujur dialami Vicenza yang memilih merger dengan klub Serie C lainnya, Bassano Virtus. Ajaibnya, setelah merger Vicenza berhasil menjuarai Coppa Italia 1997. Sedangkan Modena yang turun ke Serie D justru berhasil naik level ke Serie A di musim 2002/2003 setelah penantian selama 38 tahun.

Mengapa Ancaman Bangkrut Menghantui Tim-tim di Italia?

Apalah hendak dikata, di tengah gemerlap penuh pesona Liga Italia, beberapa tim justru megap-megap. Mereka mesti bertahan antara bangkrut atau melanjutkan kompetisi. Krisis finansial tak bisa dipungkiri sebagai salah satu biang keladi bangkrutnya tim-tim di Italia.

Bagi tim besar mungkin masalah finansial ini tidaklah begitu berarti. Contohnya saja Inter Milan. La Beneamata sempat diprediksi bakal bangkrut usai menjuarai Serie A. Namun karena memiliki pemain yang harganya fantastis, Inter bisa menyiasati hal itu dengan menjual para pemain mahal.

Belum lagi, status Inter sebagai klub besar bisa menjadi lahan basah bagi para pengusaha. Jadi tak mengherankan apabila Suning Grup mendadak miskin, saham Inter bakal beralih ke Oaktree Capital. Coba bayangin kalau Inter adalah klub miskin dan kecil? Mungkin Inter akan menemani Chievo Verona menyapa tim-tim amatir di Serie D.

Krisis finansial ibarat memedi yang menakuti klub-klub di Italia. Krisis finansial yang merata pada klub-klub di Italia ini diprediksi makin ganas sejak 2006. Skandal pengaturan pertandingan atau match fixing yang dilakukan tim-tim besar ternyata berdampak pada sepak bola di Negeri Pizza.

Skandal yang dikenal dengan calciopoli itu membuat tim-tim besar harus turun kasta. Juventus si pelaku utama kasus itu terbuang ke Serie B. Si Nyonya Tua terpaksa kehilangan para pemain bintang setelah Zlatan Ibrahimovic dan Fabio Cannavaro terpaksa pergi akibat skandal tersebut. Usai ditelusuri, skandal calciopoli juga menyeret tim lain, seperti AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina.


Lazio mendapat pengurangan tiga poin dan dilarang bermain di Piala UEFA 2006/2007; AC Milan mendapat pengurangan delapan poin Serie A Musim 2006/2007 dan 30 poin di musim sebelumnya; dan Reggina didenda 68 ribu pounds atau setara Rp 1,3 miliar kurs sekarang.

Skandal calciopoli itu memaksa tim-tim di Italia membangun ulang timnya. Dan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Reggina bahkan harus mengalami kebangkrutan dan turun di kasta terendah Liga Italia. Sementara itu tim-tim lain seperti AC Milan, Inter, dan AS Roma harus menghabiskan banyak uang untuk mendongkrak skuad.

Parahnya lagi, pada waktu itu, Italia sedang dalam krisis ekonomi. Hal itu semakin menyakitkan karena para pemain bintang ogah-ogahan bermain di Liga Italia. Akibatnya, tim-tim di Italia harus merogoh kocek paling dalam untuk mencari bakat-bakat muda, dan kalau mau mendatangkan pemain bintang harus membayar berkali-kali lipat dari harga si pemain, seperti Sullay Muntari, Cicinho, dan David Suazo.

Begitulah. Kebangkrutan menjadi semacam tradisi klub-klub di Italia. Mungkin saja ini masih akibat dari skandal calciopoli. Katakanlah seperti karma, tapi yang menderita adalah klub-klub kecil. Bagaimana menurutmu football lovers?

Sumber referensi: kumparan.com, sbnation.com, libero.id, tirto.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *